Minggu, 09 Januari 2011

Asuransi Jaja Miharja


Antara Asuransi, Jaja Miharja, dan Jasa Raharja
Oleh M Tahir Saleh

DI SUATU siang yang terik, Jaja Miharja tiba-tiba terkaget setengah mati. Sedan putih bernomor B 234 yang ditumpanginya ujug-ujug terhenti lantaran di tengah jalan terjadi kecelakaan sepeda motor, persis di depan moncong mobilnya.

Belum habis kekagetannya tiba-tiba seorang perempuan muda berambut panjang membuat aktor dan penyanyi dangdut senior itu kembali bingung. “Tolong, tolong,…eh ada Jaja Miharja, tolong Bang ada kecelakaan, Cuma Jaja Miharja yang bisa nolong,” kata ibu muda itu sembari menarik tangan si aktor berlogat khas Betawi itu.

Jaja Miharja, yang ditarik-tarik tangannya kelimpungan. “Salah Bu salah Bu” tapi dia tak bisa melawan. Dia bingung menurut saja. Ternyata si wanita muda menyangka Jaja Miharja itu adalah Jasa Raharja, perusahaan asuransi milik pemerintah.

“Salah Bu, bujug dah, kalau kecelakaan hubungi Jasa Raharja, inget tuh Jasa R-a-h-a-r-j-a,” begitu timpalnya dengan logat Betawi seperti terekam dalam sebuah iklan promosi di salah satu televisi swasta nasional belum lama ini.

Iklan berdurasi 1 menit 2 detik itu begitu lucu, sederhana, dan amat mengena bagi masyarakat. Cerdik sekali PT Jasa Raharja (Persero) memakai komedian berusia 66 tahun itu sebagai icon perseroan dalam mensosialisikan perusahaan. Selain nama yang mirip, citra pelawak terkadang lebih ampu memudahkan masyarakat mencerap pesan ketimbang memakai artis pop.

Jasa Raharja memang saat ini getol bersosialisasi, mulai dari promosi di media elektronik, cetak, media luar ruang seperti billboard, spanduk, banner, dan lainnya hingga sosialiasi pintu ke pintu dari instansi ke instansi lain. Tak hanya itu, kampus, sekolahan, juga digarap baik di tingkat pusat maupun cabang.

Sosialisasi termasuk di dalamnya bagaimana menjaga keselamatan dalam bertransportasi dengan baik darat laut, dan udara sehingga dapat menekan angka kecelakaan transportasi yang masih tinggi saat ini.

Bahkan semangat spartan Timnas ketika melawan Malaysia pada ajang Piala AFF 2010 pada 29 Desember 2010 pun dimanfaatkan oleh Jasa Raharja Cabang DKI Jakarta dengan menggelar Nonton Bola Bareng. Yah, sambil menyelam minum air, sambil menyemangati Timnas sambil mensosialisasikan visi misi dan tugas pokok Jasa Raharja toh.

Dirut Jasa Raharja Diding Sudirdja Anwar ketika bercengkrama dengan wartawan menegaskan pihaknya tak akan berhenti dan terus berupaya mengadakan program-program yang dapat memberi pemahaman kepada pengendara atas pentingnya keselamatan diri.

Selayaknya demikian karena sosialisasi saja tidak akan cukup mengingat tingkat kecelakaan terus meningkat. Data Polda Metro Jaya mengungkapkan di Jabodetabek saja, angka kecelakaan lalu lintas 2010 meningkat 2,1% menjadi 7.487 kasus dari 2009 sebanyak 7.329 kasus. Belum lagi dihitung dengan wilayah lain, dan belum termasuk di laut dan udara.

Tingginya angka kecelakaan juga menjadi salah satu sebab jumlah pembayaran santunan Jasa Raharha terkerek menjadi Rp1,31 triliun per November 2010. Pada 2007, total santunan perseroan baru Rp530,4 miliar, lalu naik 94,3% menjadi Rp1,031 triliun pada 2008.

Pada 2009, santunan kembali terkatrol naik menjadi sebesar Rp1,363 triliun sehingga dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, jumlah santunan mencapai Rp4,73 triliun dengan didominasi oleh santunan meninggal dunia.

Jasa Raharja memang melindungi itu, karena sebagai BUMN, perusahaan hasil dari nasionalisasi sejumlah perusahaan milik Belanda pada 1960 ini diamanahkan mengelola program asuransi sosial sesuai dengan UU No.33/1964 junto PP No.171965 tentang Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang dan junto PP No.18/1965 tentang Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan.

Beleid ini mengamanahkan perseroan yang sudah berulang tahun ke-50 pada Januari 2010 itu menghimpun dana dari masyarakat untuk membayar santunan melalui dua sumber. Pertama iuran wajib (premi) dari setiap penumpang alat angkutan umum.

Kedua, pengutipan premi dari para pemilik kendaraan bermotor yang dibayarkan oleh pemilik kendaraan pada saat pendaftaran atau perpanjangan STNK setiap tahunnya.

Santunan naik

Berpegang pada misi melindungi masyarakat itulah manajemen Jasa Raharja pada Agustus 2010 juga sempat berjanji mengkaji kemungkinan menaikkan besaran santunan dan sumbangan wajib dana kecelakaan lalu lintas minimal sebesar 100%.

Rencananya, penaikan itu dapat terealisasi pada 2012 guna menyesuaikan inflasi dan kebutuhan hidup masyarakat.

Santunan sebelumnya memang sudah dinaikkan karena sejak terbit Permenkeu No.36/2008 tentang Besaran Santunan dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan dan Permenkeu No. 37/2008 tentang Besaran Santunan dan Iuran Wajib, santunan dari Jasa Raharja naik hingga 150%.
Saat ini nilai santunan meninggal untuk moda transportasi darat dan laut sebesar Rp25 juta, cacat tetap maksimal Rp25 juta, biaya rawatan maksimal Rp 10 juta, dan biaya penguburan Rp2 juta. Adapun santunan meninggal untuk moda transportasi udara sebesar Rp50 juta, cacat tetap maksimal Rp50 juta, biaya rawatan maksimal Rp25 juta, dan biaya penguburan Rp2 juta.

Nilai santunan selayaknya dinaikkan mengingat perlu ada upaya menyesuaikan dengan kebutuhan hidup masyarakat yang terus meningkat, ditambah dengan tingkat inflasi setiap tahun yang berbeda.

Oleh sebab itu, perseroan pada 2011 diharapkan mampu menggenjot lagi sosialiasi guna meningkatkan peran serta Jasa Raharja dalam membangun kesadaran publik terhadap keselamatan bertransportasi di Indonesia.

Begitu berjebah media bersosialisasi selain yang sudah dilakukan perseroan seperti menyediakan 200 bus untuk mudik khusus ketika Lebaran lalu dan mendirikan 140 pos pelayanan kesehatan gratis dan kerja sama dengan instansi Kepolisian, dan program lainnya. Itu tak cukup.

Media seperti Facebook, Twitter semestinya dapat dimanfaatkan dengan baik apalagi jika perseroan berkenan mengincar usia produktif yang terkadang masih senang ugal-ugalan di jalan raya. Sayangnya, informasi mengenai Jasa Raharja tidak komprehensif pada dua jejaring sosial yang ngetren ini.

Jasa Raharja juga semestinya menjaring mitra dengan perusahaan swasta yang punya andil besar terhadap pertumbuhan otomotif nasional di antaranya perusahaan pembiayaan.

Seiring upaya meningkatkan sosialisasi, pembinaan, pendidikan membangun kesadaran bertransportasi, satu misi pokok perseroan dalam mewujudkan pemberian jaminan sosial bagi masyarakat yang menjadi korban dari kecelakaan lalu lintas bisa diwujudkan dengan baik.

Di sisi lain, kinerja Jasa Raharja juga diharapkan positif sehingga produktivitas tercapai secara optimal demi kesinambungan perusahaan yang kini disokong oleh 28 kantor cabang dan 3 kantor perwakilan ini.

Diharapkan upaya tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dengan gencarnya sosialisasi keselamatan dalam bertransportasi. Setidaknya masyarakat bisa segera mengingat slogan dari Jaja Miharja dalam iklan tersebut. “Inget Jasa Raharja, bukan Jaja Mihaaarjaaa!”

Tak hanya mengingat, tapi terpatri di hati bahwa kita bersama perlu menjaga keselamatan diri dan orang lain demi kebersamaan.(mmh)
Tulisan ini rilis di www.bisnis.com, 30 desember 2010 dengan judul sama

Selasa, 04 Januari 2011

Asuransi Facebook


Perkenalkan, Asuransi FACEBOOK!!!
Oleh M Tahir Saleh

MARK Elliot Zuckerberg tidak kenal dengan Nur Hasan Kurniawan yang berasal dari Kudus, kabupaten terkecil di Jawa Tengah. Mark pun bukan agen dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) atau pengurus harian dari Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (ADPLK) di mana Nur Hasan beraktifitas.

Keduanya memang berparak, tapi mereka punya ghirah yang sama di bidang yang jauh berlainan. Mark, 26 tahun, dengan brilian mampu menciptakan jejaring sosial terhebat saat ini Facebook, sementara Nur Hasan, 37 tahun, tak mau kalah, semangatnya masih menggelora untuk mendorong sosialisasi industri DPLK secara nasional.

Si jenius Mark bulan ini [Desember 2010] ditahbiskan sebagai Person of the Year oleh majalah TIME seperti dikutip dari situs resmi majalah mingguan kenamaan di Amerika Serikat itu bulan ini. Bekas mahasiswa drop out dari Harvard University itu dianggap punya pengaruh signifikan selama 2010.

Penghargaan ini yang dulunya disebut Man of the Year diberikan kepada orang yang dianggap paling berpengaruh di dunia selama setahun dan tidak harus dalam cara yang positif.

Lalu apa hubungan Mark dengan DPLK apalagi Nur Hasan? Sebetunya Mark tak akan menyangka karya besarnya akan menjadi salah satu mesin paling ampuh di belantara jejaring sosial di dunia saat ini, pun Indonesia.

Facebook dan media jejaring sosial lainnya ternyata dinilai berpotensi digunakan oleh industri Asuransi, DPLK, dan multifinance untuk digunakan memasarkan produk dan faedah lainnya. Itu yang kini mulai disadari oleh pelaku industri keuangan.

“Potensi memasarkan produk DPLK melalui Facebook itu ada apalagi kami di ADPLK selalu mengedepankan bagaimana sosialisasi kepada masyarakat apa itu DPLK,” kata Nur Hasan yang juga Direktur DPLK Group Saving Manulife ini, awal pekan ini.

DPLK adalah program dana pensiun yang dibentuk oleh bank atau perusahaan asuransi jiwa untuk menyelenggarakan program pensiun iuran pasti bagi perorangan baik karyawan maupun pekerja mandiri.

Nur Hasan mengatakan pihaknya membuka mata atas kemajuan jejaring sosial dan akan menyesuaikan diri seiring dengan upaya dalam mendorong sosialisasi DPLK lewat situs. “Ada banyak program DPLK yang ada disitus bisa disosialisasikan dan simulasi lewat Facebook. Kami mengarah ke sana,” katanya.

Direktur Pengembangan Bisnis PT Mitra Integrasi Komputindo Didik Sunardi menilai betapa dahsyatnya pertumbuhan situs jejaring sosial a.l Facebook, Twitter, dan kawan-kawannya.

Menurut dia, besar potensi bisnis yang diraih jika perusahaan asuransi dan lembaga keuangan lainnya dapat memanfaatkan keunggulan jejaring sosial. “Setiap perusahaan yang bergerak pada pelayanan konsumen seperti asuransi dan dana pensiun harus melihat space media. Saat ini bukan lagi media konvensional, televisi dan radio tetapi ada media baru, social media,” katanya.

Keunggulannya, kata Didik, dengan media baru tersebut konsumen dapat langsung memberikan respon terhadap apa yang ditawarkan mengingat komunikasi jejaring berbasis dua arah atau narrowcasting bukan broadcasting sebagaimana media konvensional.

Didik benar. Di situs pemeringkat seperti Alexa, terpampang 500 situs paling tinggi diakses dan Facebook meraih posisi kedua setelah Google.com. Di Indonesia, awal pekan ini Alexa mencatat Facebook berada di urutan pertama dari 100 situs paling top disusul oleh Google.co.id dan Google.com.

Facebook bukan hanya urutan pertama di Indonesia tetapi Malaysia, Singapura, Turki, dan Filipina. Sayangnya belum ada data ditel terkait dengan berapa juta pengguna. Tapi jika mengetik kata “Facebook” lewat Google, terdapat 3,8 milar. Bandingkan dengan “Twitter” sebanyak 2,2 miliar, kata “Asuransi” sebanyak 12,5 juta, dan sebanyak 41.500 kata untuk kata “multifinance”.

Sebatas promosi
Dirut PT Asuransi Jiwasraya Hendrisman Rahim mengamini analisis ini. Pihaknya bahkan sudah ancang-ancang menyiapkan sistem informasi guna mendukung pemasaran lewat Facebook. Tidak hanya promosi tetapi simulasi dan keunggulan lainnya.

“Saya kira harus kami lakukan ya, karena kalau engga bisa ketinggalan. Kami sudah siapkan mengenai itu [jejaring sosial],” katanya.

Memang ada beberapa institusi yang mulai memasarkan diri tetapi baru sebatas sebatas promosi a.l Dana Pensiun Pertamina, Dana Pensiun Danareksa, Dana Pensiun BNI, dan Asuransi Jiwa Tugu Mandiri.

Bahkan Facebook digunakan oleh PT Asuransi Jiwa Bakri (Bakrie Life) untuk mengkampanyekan tagline “Gagal bayar bukan berarti tidak ada jalan keluar”.

Sayangnya, meski sudah banyak yang promosi, Didik menilai industri asuransi dan dana pensiun secara umum belum begitu memahami dampak dari media sosial mengingat masih terkendala prioritas bisnis. Seharusnya, katanya, tahun depan promosi dan simulasi produk bisa dituntaskan sehingga pemasaran jauh lebih mudah.

Sederhananya, katanya, dengan promosi lewat jejaring sosial, agen asuransi atau tenaga pemasaran DPLK dapat dinaikkan menjadi penasehat keuangan atau financial advisor.
“Yang paling berat adalah perubahan berifikir wah nanti ide diambil perusahaan lain karena ada keterbukaan dan lainnya.

Kalau seluruhnya komplit, ide brilian Mark tak hanya digunakan untuk main-main oleh sebagian masyarakat Indonesia tapi dengan Facebook bisa membantu Nur Hasan dan industri DPLK dan asuransi secara umum untuk lebih memberi makna dalam menentukan jaminan hari tua dan bisnis risiko. Dan bisa saja kedua bisa saling mengenal jika suatu saat Mark tertarik jadi peserta DPLK? (mts/ln)


Tulisan ini dirilis dari www.bisnis.com, 29 Desember 2010
Foto: www.time.com

Selasa, 14 Desember 2010

Debt Collector Multifinance


Ada Preman di Multifinance
Oleh M. Tahir Saleh

SEBUAH mobil patroli polisi bernomor 71300-VII tanpa awak terparkir di depan halaman Blok B-34 Ruko Cempaka Mas Jakarta pada siang Jumat pekan lalu.

Di belakangnya, kantor cabang PT Oto Multiartha tiga lantai itu nampak rusak berat dan dililiti garis kuning polisi.

Sekitar lima orang satuan pengaman juga masih nongkrong berjaga sambil minum kopi. Di depan halaman kantor, orang-orang lalu lalang, kaca-kaca kantor berserakan, pintu dan jendela penyek, dan isi kantor perusahaan pembiayaan asal Jepang itu terlihat transparan dari luar pascaamuk massa pada Kamis 9 Oktober 2010, pekan lalu.

Pertikaian itu bermula dari penarikan mobil kredit Oto Multiartha sebagai lembaga pembiayaan kepada konsumen yang notabene anggota dari organisasi masyarakat (ormas), Forum Betawi Rempug (FBR). Tak terima diperlakukan kasar, massa ormas pun menyerbu kantor.

Sebaliknya, di tempat terpisah belasan kilometer dari Cempaka Mas, tepatnya di Kampung Bojong Menteng RT05 RW07 No.55 Kecampatan Rawa Lumbu, Bekasi Timur, Siti Nurbaya, seorang konsumen sebuah perusahaan pembiayaan yang berafiliasi dengan bank masih memendam sakit hati ketika ditagih dengan cara-cara preman.

Siti Nurbaya yang punya kredit motor Honda Vario dan sudah mengantongi fotocopy bukti kepemilikan kendaraan bermotor (BPKB) karena sudah membayar 24 kali dari total 35 kali itu akhirnya mengadu ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

“Saya sudah bangkrut usaha tapi tidak ada kompromi dari pihak leasing. Kalau mau narik motor, langkahi dulu nenek-nenek ini,” ujarnya sambil menangis di rumah kontrakannya minggu pagi. Siti sendiri mengontrak rumah dua petak itu dengan harga Rp200 ribu per bulan.

Peristiwa serangan kantor Oto Multiartha dan kekalutan hati Siti Nurbaya bukan hal baru di industri pembiayaan. Bahkan Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) mencatat sekitar 40 multifinance terancam berkonflik dengan oknum tertentu yang melindungi konsumen nakal. Catatan harian YLKI, sekitar 15 pengaduan kredit kendaraan terjadi.

Di satu sisi, pebisnis menuduh konsumen berlindung di bawah ketiak preman saat menunggak, di sisi lain konsumen juga sakit hati dan marah kepada multifinance yang memperlakukan mereka layaknya orang jahat dengan memakai jasa preman.

Menanggapi hal ini anggota Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menilai lazim penggunaan tenaga luar perusahaan dalam menagih kredit, bukan hanya bank, multifinance, tetapi bisnis keuangan lainnya.

“Hanya saja nagih-nya yah baik-baik, tapi kalau nagihnya tidak etis tanpa kompromi maka itu tidak mengindahkan hak konsumen,” katanya akhir pekan lalu.

Kepala Divisi Pengaduan dan Hukum YLKI Karunia Asih Rahayu menambahkan memang terjadi multifinance memakai jasa pihak ketiga, tetapi konsumen juga punya hak penyelesaian secara patut dan manusiawi.

“Kalau dia lancar membayar cicilan motor selama satu tahun dan kemudian karena satu dan lainnya telat bayar dua bulan yah jangan langsung ditarik dulu dong, diomongin baik-baik,” katanya.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Wiwie Kurnia membenarkan sebagian multifinance mentransfer pengelolaan piutang macet kepada pihak ketiga di mana hal tersebut lazim dilakukan di berbagai negara, khususnya pada bisnis keuangan.

Menurut Wiwie, permasalah yang terjadi selama ini murni karena transaksi kredit. Sayangnya, katanya, masih banyak terjadi di lapangan persoalan tersebut dibawa ke ranah luar bisnis oleh pihak lain sehingga bermasalah dan berimbas pada konflik dan bentrokan.

Kan sebetulnya sederhana bahwa hal ini terjadi kepada konsumen bermasalah bukan konsumen baik-baik dan itu hanya 1,63% dari konsumen kami.

Perketat regulasi
Guna menghindari persoalan yang selama ini terjadi, YLKI mengusulkan perlu adanya standardisasi penarikan kendaraan yang dikeluarkan oleh Biro Pembiayaan dan Penjaminan Bapepam-LK Kementerian Keuangan. Hal itu mengingat posisi konsumen yang selalu dilemahkan dengan perjanjian tertulis oleh multifinance.

“Belum jelas aturan. Seenaknya saja perusahaan menarik kendaraan tanpa ada standardisasi kapan misalnya 3 bulan atau berapa lama karena. regulasi lemah,” kata Karunia Asih.

Ketua Bapepam-LK Ahmad Fuad Rahmany Fuad mengatakan selama ini multifinance semestinya memang menerapkan strategi pemasaran yang baik dengan memperhatikan kualitas konsumen. Hal tersebut guna mengindari permasalahan tunggakan yang berujung pada bentrokan dengan oknum-oknum tertentu dapat dihindari.

Namun Wiwie menegaskan masing-masing perusahaan memiliki standar tersendiri dalam memilih konsumen. Selain itu tingkat kredit bermasalah (non performing-loan/NPL) industri pada level 1,63% menunjukkan standar multifinance sudah baik.

“Kalau regulator terlalu jauh mengatur operasional tiap multifinance, itu akan mengambat pertumbuhan industri. Jangan silau, masih ada 98,4% konsumen baik baik yang merasa terbantu dengan adanya perusahaan pembiayaan.,” katanya.

Jika persoalan preman dalam multifinance baik dalam persepsi konsumen maupun pelaku usaha tidak diselesaikan secara baik maka ke depan bisa jadi bentrokan kembali terulang dan ada Siti Nurabaya-Siti Nurbaya lainnya yang makin sakit hati.

Tulisan ini terbit di Harian Bisnis Indonesia edisi Senin, 13 Desember 2010
Gambar: www.tribun-medan.com

Sabtu, 04 Desember 2010

Konser Dewa Budjana


Budjana, Pertahankan Idealisme Bermusik
Oleh M Tahir Saleh

DEWA BUDJANA muncul di tengah redupnya lampu panggung Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta. Berbalut batik lengan buntung, ia berjalan perlahan ke depan stage sembari meramu lentingan gitarnya malam itu, 1 Desember 2010.

Ia menunduk, seperti memejamkan mata sambil tetap berdiri memainkan melodi lagu Dreamland untuk membuka konser tunggal keduanya itu. 

Di depannya, sekitar 300 penonton seperti terbius kenikmatan melodi lewat instrumen yang diciptakannya lima tahun lalu itu.

Belum tuntas Dreamland mengiris jiwa penonton, di belakangnya muncul berbarengan enam pemain pendukung konser--Sandy Winarta penggebuk drum, Shadu Shah Chaidar pembetot bass, Dandy Lasahido pada keyboard, Saat peniup suling, Jalu G Pratidina pada perkusi dan paling anggun di atas panggung malam itu, Irsa Destiwi pada piano—semakin menambah syahdunya Dreamland.

Budjana memang pandai memilih intro pembuka tanpa prolog, tanpa kata, yang ada hanya harmoni. Tapi tentu saja penampilannya malam itu kontras saat ia memetik senar bersama Gigi atau personil Trisum yang dibentuknya bersama Balawan dan Tohpati.

Sekali lagi ia masih terdiam dan melanjutkan lagu kedua dengan sedikit jeda lewat Dancing Tears lalu disusul instrumen menghentak lewat Lalu Lintas. Lagu ini paling lama digubahnya 23 tahun silam. Di lagu berdurasi lebih dari 8 menit itu, Budjana mengganas dengan sentuhan agak rock meski banyak memberi porsi kepada Sandy Winarta dan Dandy Lasahido berimprovisasi.

Saking semangatnya, snare drum Sandy pun jebol saat mengiringi. Tapi konser jalan terus dan Budjana akhirnya buka mulut.

“Terimakasih, eh..selamat malam, selamat datang di Salihara. Jadi kali ini saya membawakan lumayan banyak lagu, mudah-mudahan engga bosen ya, ” salamnya disertai tawa penonton.

Tak lama, ia mulai kebut lewat lagu keempat dan kelima melalui Lost Paradise dan Kromatiklagi. Di lagu keenam, Bunga Yang Hilang, ia ganti gitar akustik merah dari sebelumnya Parker Saraswati.

Praktis malam itu Budjana membawakan 18 lagu dari empat album yang pernah dia rilis, Nusa Damai (1997), Gitarku (2000), Samsara (2003), dan Home (2006). Gitaris kelahiran 30 Agustus 1963 itu juga menampilkan dua lagu baru yang rencananya akan dirilis pada Januari mendatang, Dawaiku dan Gangga.

Konser ini sebetulnya dipadati begitu banyak penonton. Bahkan tiket jauh-jauh hari sudah ludes. Total tiket duduk 216 tapi panitia pun menambah 40 tiket lesehan dan menambah layar besar buat tontonan gratis di luar Teater Salihara.

Di bangku penonton, nampak beberapa musisi seperti Dwiki Dharmawan, Ita Purnamasari, bassis Adi Dharmawan, gitaris Agam Hamzah, Piyu Padi, Baron yang merupakan rekannya di Gigi dulu, dan gitaris /rif Ovy. Sayangnya konser dengan tiket Rp50.000 itu dilarang mengambil gambar atau video.

Di luar itu secara keseluruhan dari repertoir yang dibawakan selama sekitar 2,5 jam itu terasa sekali warna world music, dicampur etnis khususnya Bali di beberapa komposisi instrumental. Budjana apik memberi rasa nyaman di telinga orang awam sekali pun dengan nada-nada jazz yang ramah atau alunan nada kontemplatif.

Ia, setidaknya masih bertahan pada idealismnya saat ini di tengah kepungan arus musik mainstream belakangan ini, pun musik yang dimainkan bersama Gigi. Misalnya pada lagu ke 12, Dedariku, terdengar begitu mistis tapi manis.

Musisi Adi Dharmawan yang hadir malam itu menilai Budjana makin dewasa, konsisten, dan bisa berdiri di atas dua kaki. Antara industri dan non-industri atau idealisme itu sendiri. “Gua fikir salah satu solusi terbaik untuk orientasi untuk musik di Indonesia itu menjaga idealisme dan pasar tadi, dan Budjana melakukan itu,” katanya usai konser.

Sayangnya, lanjut Adi, terkadang hasilnya kurang optimal karena ketidakfokusan pada dua hal tersebut. “Gua bukan mengatakan kurang bagus, cuma memang sesuatu itu kan perlu fokus, apapun betuknya, tetapi apa yang dilakukan Budjana ini salah satu untuk menjembatani perkembangan musik di Indonesia, sangat baik,” tuturnya.

Shadu Shah, bassis berusia 21 tahun itu bahkan begitu menikmati menjadi pengiring Budjana. “Aku kaya main di tempat lain, lagunya Om Budjana itu semakin kita pikirin semakin terasa, Om Budjana sendiri bawa pemain di panggung juga enak,” kata putra musisi jazz Idang Rasjidi ini.

Setidaknya di tengah arus musik Indonesia yang semakin melayu dan sederhana belakangan ini, Budjana masih bertahan dengan genre musiknya sendiri, teknik permainan, dan corak bunyi gitar yang berkarakter kuat. 

Dan seperti kata Piyu Padi, kedewasaan bermusik Budjana antara idealisme dan industri ini mampu memadukan itu menjadi seni. “Keren,” kata Piyu sambil nyelonong pergi.


Tulisan ini adalah versi panjang dari features saya di Harian Bisnis Indonesia edisi Sabtu 4 Desember 2010 "Pertahankan idealisme bermusik".
Foto by komunitas salihara

Entri Populer

Penayangan bulan lalu