Minggu, 22 Juli 2012

Ke mana mencari Raja Dana?

Akuisisi Benakat atas Astrindo tak kunjung tuntas
Oleh M Tahir Saleh

MISTERI masih menyelimuti PT Raja Dana Indonesia, perusahaan yang sekonyong-konyong muncul mengucurkan dana kepada PT Benakat Petroleum Energy Tbk untuk mengakuisisi PT Astrindo Mahakarya Indonesia.

Nama perusahaan investasi tersebut santer diberitakan sejak perusahaan ini memberi fasilitas pinjaman senilai total Rp300 miliar kepada Benakat, sebagai uang muka akuisisi PT Astrindo senilai US$600 juta.

PT Bursa Efek Indonesia mencatat Raja Dana memegang waran emiten pengembang properti PT Bakrieland Development Tbk sebesar 1,5 juta waran dan beralamat di Jalan Kapuk Raya Nomor 62 RT 002/003 Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.

Nomor telepon kantor perusahaan yang tercatat di situs Jakarta-citydirectory tersebut memang bisa dihubungi, namun tersambung dengan kantor notaris yang sudah 3 tahun menetap di Jalan Pluit Selatan Nomor 103 Jakarta Utara, bukan Raja Dana.

Senin, 09 Juli 2012

Panasnya Pangkep, Panasnya Tonasa

Unjuk rasa masyarakat Pangkep di kantor pusat PT Semen Tonasa
by Antarafoto
Oleh M. Tahir Saleh

BERTOPI merah, Bupati Pangkep Syamsuddin Hamid Batara berorasi di depan podium. Suaranya lantang menyerukan keadilan bagi masyarakat Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.

Dengan pengeras suara, alumnus Universitas Muslim Indonesia itu berorasi sekitar 10 menit di depan kantor pusat PT Semen Tonasa.

Ratusan massa menyimak khidmat sembari meneruskan pemboikotan jalan menuju pabrik Semen Tonasa di Jalan Poros Tonasa II, Desa Biringere, Kecamatan Bungoro, Pangkep, Senin 25 Juni 2012.

Foto Syamsuddin berorasi dengan pakaian linmas itu terpampang dihalaman utama sejumlah media lokal di Sulawesi Selatan (Sulsel) sepekan terakhir. Dia tak sendiri, aksinya diikuti oleh Ketua DPRD Pangkep, Wakil Ketua DPRD, anggota DPRD, sejumlah LSM, masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, para camat, lurah, dan sebagian besar PNS Pemkab.

Tuntutannya sederhana, tak muluk—muluk tapi primordial, menyerukan agar PT Semen Gresik Tbk sebagai pemegang 99,99% saham Semen Tonasa memasukkan dua orang putra daerah dalam susunan komisaris.

Semen Gresik adalah BUMN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham SMGR. Sahamnya dimiliki oleh pemerintah 51,01% dan masyarakat 48,99%.

Adapun Semen Tonasa yang berdiri 44 tahun lalu itu merupakan korporasi kebanggaan masyarakat Sulsel selain PT Semen Bosowa yang didirikan oleh keluarga Aksa Mahmud.

Ketika Semen Gresik menggelar rapat umum pemegang saham tahunan dan luar biasa (RUPST/LB) di Jakarta esoknya (26/6), perwakilan massa turut ‘memantau’ rapat itu meski akhirnya tuntutan tak diakomodir, kecewa.

Kelima komisaris baru adalah Idrus Paturusi (komut), Andi Herry Iskandar, Wahab Talaohu, Widodo Santoso, dan Ansyaad Mbai. Sebelumnya susunan komisaris dijabat Taslim Arifin (komut), Ansyaad Mbai, Andi Samad Tahir, Thariq Abudan, dan Abdul Muis Bakkidu.

“Pendapat daerah ada batasannya, semua sudah kami akomodir. Yang penting kalau soal daerah itu kami melihat secara umum Sulsel bukan hanya Pangkep,” kata Direktur Utama Semen Gresik Dwi Sutjipto dihubungi, Jumat (29/6).

Pihaknya juga sudah menyisihkan dana program sosial kemasyarakatan. Jumlahnya cukup besar. Bahkan perseroan sudah menjalin kerja sama dengan bupati, pernyataan ini menyiratkan Sang Bupati punya bisnis.

“Semua orang tahulah itu [bisnis bupati], kami selama ini sudah bekerja sama dengan baik,” tegasnya.
Data situs Semen Gresik menyebut pada 2 tahun lalu, dana tanggung jawab sosial Semen Gresik buat masyarakat mencapai Rp119,7 miliar terbagi atas Rp77,7 miliar untuk program kemitraan dan Rp42 miliar untuk bina lingkungan.

Di Semen Tonasa, total dana sosial mencapai Rp11,1 miliar (Rp4,3 miliar kemitraan dan Rp6,8 miliar bina lingkungan), jumlahnya lebih rendah dibandingkan dengan saudaranya; PT Semen Padang, sebesar Rp12,6 miliar (Rp9 miliar kemitraan dan Rp3,6 miliar bina lingkungan).

“Kinerja bagus juga berimbas pada CSR [program sosial masyarakat]. Dana CSR itu juga akan naik untuk masyarakat. Selain juga pajak kami terhadap Pemda kan meningkat jika kinerja bagus,” katanya.

Soal primordial, Dwi juga tak mengada—ada. Ansyaad orang Buton, Sulawesi Tenggara dan pernah menjabat Kapolda Sumatera Utara.

Di televisi, Ansyaad terkenal karena sering menjadi narasumber soal terorisme, sedangkan Idrus Paturusi—rektor Universitas Hasanuddin—juga perwakilan akademisi dan lahir di Makasar.

“Pak Andi [Andi Herry] paham Sulsel, Pak Ansyaad pengalaman soal keamanan di sini, dan orang sini. Pak Rektor juga sama, lahir di sini,” tegas Dwi lagi.

Akbar Faisal, anggota DPR RI Komisi II yang terpilih dari Sulsel II, menilai upaya yang dilakukan oleh bupati wajar. “Solusinya, apa salahnya sih ambil saja satu atau dua ditambah menjadi tujuh komisaris. Toh nama-nama yang diajukan dari Pangkep juga punya kapabilitas,” tegasnya.

Politisi Partai Hanura ini justru mempertanyakan dasar pemilihan dari komisaris Semen Tonasa itu.
“Saya bisa mengidentifikasi bahwa dasar pemilihan manajemen Semen Gresik terhadap komisaris itu apakah memang berdasarkan profesionalitas, tidak juga,” katanya.

Dalam rapat dengan parlemen, dua hari setelah aksi boikot itu, Menteri BUMN Dahlan Iskan menegaskan akan menempuh dua opsi; mengganti salah seorang komisaris asal Sulsel atau menambah komisaris baru, tapi gaungnya belum kedengaran sejauh ini.

Dirut Semen Tonasa Sattar Taba pun enggan berkomentar. Dipepet wartawan usai Rapat Koordinasi Pengurus Apindo Sulsel di Wisma Kalla pada 28 Juni, pria berambut putih ini menjahit mulutnya rapat—rapat.

“No Comment, no comment,” katanya.

Sattar hanya berkenan menjawab soal kinerja Semen Tonasa, bukan soal isu primordial itu.
“Saya no comment yah soal itu. Saya tidak akan memberikan komentar apa pun.”

Kepemilikan saham
Isu primordial atau kedaerahan ini sebetulnya satu dari sejumlah riak—riak di tubuh BUMN. Sebelumnya juga terjadi penolakan masyarakat lokal soal pergantian Dirut PT Timah Tbk, BUMN tambang di Provinsi Bangka Belitung.

Apakah ada bagi hasil usaha yang tidak sesuai, ada kepentingan lain dalam aksi ini, ataukah ini murni aspirasi masyarakat di Pangkep yang mengalami kekecewaan karena tanah dan gunung mereka digunduli untuk menjadi semen, sementara keuntungan perusahaan atau dividen disetor ke Semen Gresik?

Saya mencoba menemui Bupati Pangkep Syamsuddin di kediamannya untuk bertanya soal ini. Perjalanan dari Makassar ke Pangkep bisa mencapai lebih kurang 2,5 jam melalui jalur Daya—Maros, jalur yang sama untuk menuju Bandara Internasional Hasanuddin.

Perjalanan ini cukup berpeluh. Dari kejauhan mata memandang memang nampak tebing—tebing kekuningan yang mengandung batu kapur, gamping dan tanah liat sebagai bahan utama semen. Jalur ini juga melewati pabrik Semen Bosowa, arah air terjun Bantimurung, Kabupaten Maros.

“Kami tidak terima hasil RUPS, kami mau ada keterwakilan anak lokal, Orang—orang yang direkrut itu tidak kalah kemampuannya dengan orang sini. Di sini [Pangkep] ada 17 profesor, masa iyah tidak bisa?” tegasnya ditemui di Warung Hayati, sebuah warung kopi terkenal di Pangkep, Minggu (1/7).

Pihaknya mengancam akan memboikot kembali jika tak ada kata sepakat atas tuntutan itu. Syamsuddin membandingkan keadaan di Semen Padang yang mampu mengakomodir perwakilan tiga orang dari wilayah pabrik tersebut.

Soal isu bisnis yang dihembuskan, Syamsuddin mengakui menjalin bisnis distribusi untuk Semen Tonasa, tetapi sejak menjadi bupati, semua aktivitas bisnis tersebut sudah ditinggalkan.

“Bukan saya jadi bupati terus saya bisnis itu [distributor], saya bisnis itu sudah 20 tahun,” katanya.

“Itu profesional, bisa tanya kapan saya pernah meminta kemudahan? Pribadi jangan dong. Begini, setelah saya jadi bupati, semua sudah saya lepas, saya kasih ke anak—anak saya.”

Syamsuddin tak gentar dengan posisinya bahkan bertekad terus mengawal aspirasi masyarakat. “Saya bukan provokator, saya mengantar aspirasi masyarakat yang saya pimpin. Saya siap tanggung risiko karena saya sebagai pemimpin daerah tentu ada kewajiban dong.”

Keberanian Syamsuddin itu patut dihargai meski unjuk rasa adalah cara terakhir ketika negosiasi dan komunikasi tidak berjalan dengan baik atau gagal.

Perjuangan Pangkep mendapatkan jatah komisaris bagi putra daerah sebetulnya wajar meski konteknya terlalu kecil karena ada yang lebih besar seperti berupaya agar Pangkep atau Pemprov Sulsel bisa menjadi bagian dari pemegang saham. Opsi ini mungkin dilakukan karena induk usaha, Semen Gresik—yang digadang—gadang dirubah namanya menjadi PT Semen Indonesia dalam program holding BUMN semen—sudah tercatat di BEI menjadi perusahaan publik.

Andaikan Pemkab membeli saham Semen Gresik, tarolah misalnya 5% saja (atau 296,58 juta saham dari total saham beredar Semen Gresik 5,93 miliar saham) dengan harga saham per perdagangan siang 3 Juli 2012 di BEI Rp12.000 per saham, Pangkep mesti merogoh kocek hingga Rp3,55 triliun agar bisa punya 5% saham di induk usaha Semen Tonasa.

Tentu penjualan saham Semen Tonasa bukan hal yang mudah. Melihat kontribusi Semen Tonasa terhadap Semen Gresik cukup besar rasanya sulit saham Semen Tonasa akan dilepas apalagi labanya saat ini hampir mendekati Rp600 miliar dari 2004 sekitar Rp60 miliar.

Dari laporan keuangan Semen Gresik per 31 Maret 2012, aset Semen Tonasa bahkan mencapai Rp6,05 triliun bandingkan dengan aset Semen Padang Rp3,98 triliun. Artinya kontribusi aset Semen Tonasa mencapai 28% dari aset Semen Gresik yang menembus Rp21,42 triliun.

“Tidak akan dilepas saham Semen Tonasa. Karena selama ini kami berbisnis itu sinergi, bukan urus satu satu. Semua kami urus bersama. Ketiga perusahaan semen ini. Misalnya pada 2009—2010 terjadi perlambatan produksi Tonasa, kami bantu untuk pasokan batu bara,” tegas Dwi.

Soal saham ini Syamsuddin belum begitu tertarik membicarakannya. Dia hanya tetap fokus pada tuntutan awal, soal jatah komisaris. Setelah itu, dia meneruskan aktivitas merokoknya sore itu didampingi oleh ajudannya, Arisal Hasan dan sejumlah Provost berpakain sipil.

Di warung kopi itu Syamsuddin memang tak bekerja secara formal karena itu hari Minggu, tetapi kesibukan sebagai bupati tetap memaksanya bekerja membahas desain sebuah bangunan yang bakal dibangun di Pangkep.

Di tengah panasnya Pangkep siang itu, dia hanya memakai t-shirt putih, celana pendek dan kembali memakai topi abu, tetapi bukan topi merah yang digunakan saat orasi. (Mts/Yes)


Tulisan ini terbit di Harian Bisnis Indonesia, Rabu, 4 Juli 2012

Jumat, 18 Mei 2012

Duka di Bandara Halim

Ilustrasi Sukhoi, by merdeka.com
NIA SITI FATIMAH, 33 tahun, tak henti-hentinya mencubit tangannya sendiri, seakan ini sebuah mimpi. Istri dari Fazal Achmad, salah satu komisaris Indo Asia yang ikut terbang dalam pesawat naas Sukhoi Superjet 100 bersama kakaknya Ruli Dermawan ini seakan tak percaya.

Rasanya baru sehangat kuku dia bercengkrama dengan suami tercinta.  Tidak ada firasat apa—apa.

Ibu dari Caca, bocah 10 tahun itu hanya masih ingat malam terakhir sebelum Fazal berangkat mengikuti joy flight atas undangan PT Trimarga Rekatama—agen pesawat Sukhoi di Indonesia. Suaminya tampak romantis dan menatap terus, berbeda dari sebelumnya.

“Rasanya belum siap jika hidup sendiri. Suami saya baru pertama kali melakukan uji terbang dan saya sempat keberatan kalau dia ikut demo flight,” katanya tertunduk lesu.

Paginya, sebelum Fazal hendak berangkat pun Nia sebetulnya ingin ini sekali turut serta. Apa salahnya seorang istri ingin bersama suami, toh ini hanya demo penerbangan. Mungki itu fikiran Nia.

Tapi keinginannya kandas. Dari kejauhan pandangan mata, Fazal terakhir kali hanya melempar senyum ketika keluar dari pagar rumah mereka. Dan Rabu pagi itulah kesempatan terakhir bagi Nia melihat suami tercinta itu.

Fazal dan Ruli adalah dua dari 45 penumpang pesawat Sukhoi Superjet 100 yang diduga menabrak tebing Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, pada Rabu, 9 Mei 2012.

Bukan hanya Nia yang berduka, seluruh keluarga korban juga punya perasaaan sama; Kehilangan. “Saya menunggu tante saya Maria Marcella Dayu Larita, saya masih berharap tante saya selamat,” kata Kleopas Danang yang datang bersama dengan keluarganya.

Perlahan tapi pasti suaranya mulai menghilang dan terdiam. Maria adalah koordinator pramugari atau Chief Stewardess dari Sky Aviation, maskapai pertama yang menggunakan Sukhoi Superjet 100. Bekas pramugari terbaik Garuda Indonesia itu sempat memberitahu keponakannya bahwa akan ada joy flight Sukhoi.

Danang pun sempat merengek ingin ikut dalam rombongan joy flight. Namun seperti kisah Nia, Danang pun tak diperbolehkan Maria ikut karena memang sudah dijadwalkan membawa rombongan yang akan menguji penerbangan pertama.

Setelah peristiwa itu muncul di layar televisi, segala upaya komunikasi keluarga pun tak berbalas.

Dua hari setelah kejadian, puluhan keluarga korban yang menunggu perkembangan terbaru proses evakuasi di Bandara Halim Perdanakusuma juga tak kuasa menahan kesedihan. Tangis mereka tumpah. Di antaranya histeris saat melihat tayangan langsung televisi yang disediakan oleh Trimarga Rekatama di ruang tunggu terminal kedatangan.

Dan yang paling menyayat hati adalah tatkala helikopter yang membawa dua kantong mayat untuk pertama kalinya mendarat di landasan udara pada Sabtu pagi, 12 Mei 2012. Sebagian mungkin berfikir hanya mukzizat yang dapat menolong korban selamat mengingat kondisi Sukhoi yang sudah remuk.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Daryatmo mengatakan hingga Sabtu, sudah ada 16 kantong jenazah korban kecelakaan Sukhoi Super Jet 100 yang dievakuasi oleh Tim SAR dari Cijeruk, Jawa Barat.

Dari jumlah itu 15 di antaranya dilakukan melalui udara melalui helikopter, sedangkan satu kantong dilakukan melalui jalur darat. Kantong jenazah yang terakhir sampai di Lanud Halim pada pukul 17.05 WIB, Sabtu.

“Evakuasi melalui udara ditutup sementara dikarenakan hari gelap dan cuaca di Gunung Salak kurang bersahabat. Tapi bukan berarti Tim SAR berhenti mencari, kami terus melanjutkan tugas kami,” katanya.

Saat ini Pemerintah Indonesia dalam hal ini Komite Nasional Keselamatan Transportasi akan didukung oleh Pemerintah Rusia akan menginvestigasi secara cepat insiden tersebut. Pemerintah Rusia sudah mendatangkan dua tim masing—masing terdiri dari 41 dan 37 ahli dari Rusia guna membantu tim KNKT.

Pemerintah juga menegaskan pemberian asuransi kepada ahli waris korban dapat mengacu PM No.77/2001 yaitu ganti rugi korban meninggal dunia pesawat udara sebesar Rp1,25 miliar.

Dalam Pasal 3 beleid tersebut, disebutkan penumpang yang meninggal dunia di dalam pesawat udara karena akibat kecelakaan pesawat udara atau kejadian yang semata-mata ada hubungannya dengan pengangkutan udara diberikan ganti kerugian Rp1,25 miliar.

Sunaryo, Konsultan Trimarga Rekatama, meminta maaf atas nama perusahaan dan perwakilan Sukhoi di Indonesia terkait dengan insiden tersebut dan daftar manifest penumpang yang tidak valid. “Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas nama Trimarga dan representatif dari Sukhoi,” katanya.

Sunaryo tampak letih dengan pakaian safari yang tidak berubah sedikitpun dalam dua hari terakhir konferensi pers di Media Centre Terminal Kedatangan Bandara Halim. “Saya tidak bisa tidur,” katanya.

Tak ada yang menyangka pesawat super canggih buatan Rusia itu akan membawa petaka. Tentu dalam hal ini tak bisa saling menyalahkan siapa yang salah tetapi bagaimana peristiwa ini tidak terjadi lagi, membenahi otoritasi bandara dan infastruktur penerbangan Indonesia.

Tapi di tengah evakuasi Tim SAR, dari hati yang paling dalam seluruh keluarga korban tentu masih berharap sebuah keajaiban Tuhan bisa terjadi.


Terbit di harian Bisnis Indonesia 14 Mei 2012 dan www.bisnis.com 13 Mei 2012 dengan judul elegi di Rabu Pagi
Gambar: merdeka.com

Kamis, 03 Mei 2012

Aroma Batu Bara di Timah

Setelah 10 tahun mengabdi di perusahaan tambang batu bara milik negara PT Bukit Asam Tbk, Sukrisno ditunjuk memimpin perusahaan pelat merah  PT Timah Tbk, menggantikan Wachid Usman

Ilustrasi by Bisnis
Oleh M Tahir Saleh

WACHID USMAN terlihat santai saat itu. Selain bercerita tentang per ja lanannya memimpin PT Timah Tbk selama hampir 5 tahun, Wachid berbagi informasi tentang penggantian dirinya dari posisi tertinggi di BUMN timah tersebut.

“Soal pemilihan direksi, itu wewenang pemegang saham. Putra daerah juga punya kemampuan dan layak menjadi direksi,” katanya di Aston Soll Marina Hotel, Bangka, 16 April 2012 atau 3 hari sebelum rapat umum pemegang saham tahunan.

Pemerintah selaku pemegang saham mayoritas mengubah to tal jajaran direksi. Selain Sukrisno, Dadang Mulyadi, Purwijayanto, Ahmad Rosidi, Abrun Abubakar (sebelumnya sekretaris perusahaan Timah), dan Ahmad Subagja juga diangkat.

Wachid bergabung dengan perusa haan hasil merger tiga korporasi Belanda (Bangka Tin Winning Bedrijft, Gemeenschaappelijke Mijnbouw Maatschaappij Billiton, dan Singkep TIN Exploitatie Maats chappij) ini sejak 1982.

Dia diamanahi jabatan tertinggi di BUMN tersebut dalam rapat umum pemegang saham tahunan pada 17 April 2007. Dan tahun ini Wachid pun harus digantikan oleh Sukrisno setelah 30 tahun pengabdiannya.

Selama itu, kinerja Timah tak begitu moncer dan bisa dibilang naikturun. Sejak 2004, pendapatan terus naik, kecuali pada 2009 yang turun menjadi Rp7,71 triliun, dari posisi 2008 (Rp9,05 triliun), naik menjadi Rp8,34 triliun (2010), dan Rp8,75 triliun (2011).

Laba bersih juga kembang kempis. Sempat mencapai level laba tertinggi Rp1,78 triliun pada 2007, laba pun turun menjadi Rp1,34 triliun (2008), Rp313,75 miliar (2009), Rp947,94 miliar  (2010), dan tahun lalu Rp896,78 miliar.

Kinerja ini tak bisa dilepaskan dari gejolak harga komoditas. Tahun lalu, laba emiten berkode saham TINS ini juga merosot akibat penghentian sementara (moratorium) penjualan ekspor timah.

Selain faktor harga, faktor lain yang memengaruhi adalah tambang liar di luar tambang inkonvensional yang dibina Timah. Tambang liar ini menjamur di Bangka, menambang di wilayah area milik Timah, dan menjualnya kepada smelter swasta/asing.

Saat ini Timah menguasai hak penambangan timah seluas 522.460 hektare dengan 114 kuasa pertambangan (KP) baik di darat (onshore) maupun di laut (offshore) dengan wilayah operasi meliputi Bangka Belitung (Babel) dan Kepulauan Riau.

“Sebetulnya perlu koordinasi aparat sehingga tambang liar ini bisa diselesaikan. Ini sudah berlangsung lama, jadi mustahil jika aparat penegak hukum tak tahu, seluruh instansi mesti koordinasi bukan hanya Timah,” kata Kepala Humas Timah Wirtsa Firdaus.

Permasalahan
Persoalan tersebut masih mengganjal sampai sekarang, di samping permasalahan lain di antaranya tuntutan agar Timah lebih memperhatikan program sosial bagi masyarakat Babel, reklamasi sisa penambangan darat, dan konflik pertambangan.

Itulah yang akan dihadapi Sukrisno, pria berkumis kelahiran Sumenep, Jawa Timur sebagai direktur utama (dirut) baru, yang semula hanya menggeluti bisnis batu bara sebagai Dirut Bukit Asam (2006–2011).

Alumnus Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya ini memulai karir di Bukit Asam sebagai Direktur Operasi/Produksi (2001—2006) setelah bekerja di PT Semen Padang (1995-2001).

Sejak dia pimpin pada 2007, total produksi batu bara Bukit Asam naik dari 9,28 juta ton (2007) menjadi 13,5 juta ton (2011). Laba bersih juga terus naik. Tahun lalu, laba bersih BUMN ini mencapai Rp3,09 triliun, naik dari tahun sebelumnya Rp2,01 triliun.

Expertise di bisnis batu bara ini masih dia bawa ke Timah, dengan terlontarnya wacana penjajakan akuisisi tambang batu bara, meski lini bisnis utama PT Timah masih dari galian mineral logam tersebut.

Tahun lalu, pendapatan Timah dari batu bara turun menjadi Rp685,61 miliar dari Rp910,38 miliar, seiring dengan menyusutnya cadangan. “Kami berupaya perusahaan tetap tumbuh, inilah tugas kami, fokus tetap timah,” kata Sukrisno.

Analis PT OSO Securities Supriyadi menilai kinerja Sukrisno di Bukit Asam belum optimal karena terkendala infrastruktur. “Otomatis, produksi tidak optimal, nah apakah di Timah [akan] seperti itu? Lebih baik batasi produksi untuk mengerem ekspor, karena saat ini harga Timah patokannya bukan di Indonesia,” katanya dihubungi kemarin.

Menurut dia, PT Timah butuh dukungan pemerintah terkait dengan pengendalian ekspor guna menekan fluktuasi harga timah dunia. Maklum, patokan harga timah dunia masih di London, dan bukannya di Indonesia yang menjadi salah satu produsen utama.

Selain itu, perseroan harus fokus pada bisnis Timah di tambang lepas pantai (offshore), dan memastikan langkah tersebut sudah didukung jumlah cadangan riil yang memadai untuk menopang produksi.

Tahun ini emiten berkode TINS ini menargetkan produksi 50.000 metrik ton timah, dengan target moderat 40.000—45.000 ton. Selain itu, harga timah dunia diharapkan berada pada level US$23.000 per ton naik setelah anjlok pada US$19.000 per ton (2011).

Ini menjadi pekerjaan rumah mendesak bagi Sukrisno, bagaimana menggenjot kinerja produsen timah ini seperti ketika dia me mimpin Bukit Asam, agar tren bullish sektor batu bara bisa dirasakan juga di Timah oleh pemegang saham. (tahir.saleh@bisnis.co.id)

Tulisan ini terbit di Harian Bisnis Indonesia, Jumat 27 April 2012
Foto: Bisnis Indonesia



Entri Populer

Penayangan bulan lalu