Sabtu, 20 Oktober 2012

Kala Bandara Sibuk Ngurus Mati Listrik

Bandara Soetta (by Dewbar)
Oleh M Tahir Saleh


SENIN (24/9) pukul 3 sore, Anton, salah satu pegawai maskapai AirAsia di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng tampak serius.

Tugasnya sebagai Tim Leader In-flight Sevices Air Asia di salah satu bandara tersibuk di dunia itu membuatnya fokus karena dia mesti mengirim laporan ke Kuala Lumpur, Malaysia secepatnya.

Akan tetapi sejurus kemudian dirinya terkaget-kaget ketika pekerjaannya sore itu terganggu. “Saya sadar listrik mati, sistem jadi down. Jadi, berpindah ke manual, semenit kemudian nyala lagi [listrik],” katanya Selasa (25/9).

Senin (24/9), aktivitas Bandara Soe karno-Hatta yang dirancang oleh arsitek Prancis Paul Andreu itu sempat mengalami gangguan listrik. Kendati gangguannya hanya beberapa menit, dampaknya terjadi keterlambatan pesawat hingga 2 jam.

Kronologinya pada pukul 15.04 terjadi kedipan listrik sesaat, lalu pada pukul 15.07 terjadi kedipan kedua dan pada 15.08 terjadilah gangguan listrik. Semenit kemudian, genset dinyalakan sehingga alat produksi normal kembali. Pukul 16.06, listrik kembali nyala.

Kamis, 23 Agustus 2012

Eksotisme Karst Sungai Pute Maros

Pegunungan Karst, Maros, By Paulus Tandi Bone
Oleh M Tahir Saleh 

AWALNYA hanya rencana ke tempat wisata terkenal di Sulawesi Selatan, tepatnya ke Taman Wisata Alam Air Terjun Bantimurung, Kabupaten Maros. Jaraknya sekitar 40 km atau 60 menit dari Makassar, sekitar 30 menit dari Bandara Hasanuddin.

Tapi di tengah perjalanan, pemandu kami, fotografer Paulus Tandi Bone menantang kami berfikir ulang sebelum melanjutkan perjalanan.

“Sebelum ke Bantimurung mau nda ke dusun kecil menyusuri jalur sungai itu?" kata Paulus sambil menunjuk sungai di sisi kiri jalan, dekat sebuah jembatan. Namanya Sunga Pute, Ada beberapa perahu kecil tanpa awak bersandar di bibir sungai.

Ternyata jalur tempuh menuju Bantimurung itu juga melewati sebuah dusun kecil di wilayah Sungai Pute itu. Jalurnya searah menuju Pabrik Semen Bosowa di Maros milik keluarga Aksa Mahmud.

Kalau dari Makassar, perjalanan bisa ditempuh dengan mobil atau sepeda motor ke arah Kabupaten Maros. Bisa juga menumpang pete-pete semacam angkot di sana tetapi mesti lanjut dengan motor.

Memburu Investor di Ujung Pandang

Oleh M Tahir Saleh

SEPOTONG iklan di koran awal pekan ini menuntun Rudy menuntaskan kegalauannya mengenai apa itu reksa dana, produk investasi yang belum akrab di telinga sebagian masyarakat Sulawesi Selatan.

Maklum investasi yang berhubungan dengan istilah pasar modal ternyata belum banyak dipilih. Jangankan dipilih, membuat masyarakat tertarik dan berminat saja butuh sosialisasi intens apalagi soal reksa dana, saham, pasar modal, dan lainnya masih dinilai ‘mainan orang kaya’.

Karyawan DIVA Family Karaoke ini pun lantas mendatangi Hotel Aryaduta Makassar, tempat digelarnya Pameran dan Sosialisasi Reksa Dana yang diadakan pada 14 Juni 2012 sesuai dengan apa yang tertera dalam iklan itu.

Setidaknya pria 34 tahun itu menghampiri 12 stand manajer investasi (MI) yang menjadi sponsor acara hasil kerja sama Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) dan Kementerian Keuangan itu.

Kamis, 26 Juli 2012

Aroma Tak Sedap di Benteng Rotterdam

Fort Rotterdam, by Antara
Oleh M Tahir Saleh


LUKISAN Cornelis Speelman setengah badan terpajang di ruang utama Museum Lagaligo, Benteng Rotterdam Makassar. Gubernur Hindia—Belanda ke-14 ini nampak angkuh memegang tongkat komando ala bangsawan Belanda.

Cornelis ditemani foto lukisan enam gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai dari Ahmad Lomo (1966—1978), Andi Oddang (1978—1983) hingga gubernur yang akan maju dalam Pilkada Sulsel tahun depan, Syahrul Yasin Limpo, berkuasa sejak 2007.

Kurun waktu 345 tahun yang lalu, setelah penandatanganan Perjanjiaan Bongaya dengan Sultan Hasanuddin, Speelman mengganti nama Benteng Ujung Pandang menjadi Fort Rotterdam.

Itu terjadi tatkala Kerajaan Gowa jatuh ke tangan Belanda pada 18 November 1667 seperti tertulis dalam lembaran sejarah singkat benteng. Nukilan sejarah ini pun diceritakan oleh Rimba Alam A Pangerang dalam bukunya Sejarah Kerajaan di Sulawesi Selatan, terbitan 2009.

Entri Populer

Penayangan bulan lalu