Jumat, 14 November 2014

LAKSANA HOTEL DI UDARA


cessna.com
Tingginya harga sewa jet pribadi dan helikopter membuat layanan transportasi udara ini baru bisa dinikmati kalangan kelas atas

Oleh M. Tahir Saleh

EMPAT tahun lalu, Denon Prawiraatmadja bersama mitranya mengakuisisi saham Kura Kura Aviation milik orang asing. Sejak 2002, perusahaan itu melayani carter pesawat bagi turis ke Pulau Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah. Setelah dibeli, dia mengubah nama maskapai tak berjadwal ini menjadi Whitesky Aviation pada 2010.

Background saya arsitek, saya juga punya bisnis IT, tapi saya coba aviasi. Enggak ada alasan khusus, cuma ini menantang, apalagi peluangnya besar ketimbang bisnis airline berjadwal,” kata Denon yang kini menjabat Direktur Utama PT Whitesky Aviation ketika ditemui di kawasan Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin pekan lalu.

Saat ini Whitesky punya tiga layanan: evakuasi medis atau medical evacuation (medivac), foto udara, dan VIP. Perseroan juga masuk lini logistik khusus di Papua. Jumlah armadanya delapan, terdiri dari 3 unit Cessna 402B, 2 unit helikopter Bell 429, dan 3 unit Bell 407. Tiga Cessna dan satu helikopter milik sendiri, sisanya titipan karena model bisnis air charter biasanya pemilik pesawat juga bermitra dengan operator. Investasi tentu banyak, apalagi mengacu data situs Aircraftcompare, satu unit Bell 429 dipatok antara US$4,9-5,4 juta (sekitar Rp54 miliar), sedangkan Bell 407 US$2,6 juta.

Potensi jasa carter cukup tinggi seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang mendorong peningkatan kelas menengah. Penyelenggaraan berbagai konferensi, seminar, serta pameran nasional dan internasional pun menjadi katalis positif. Umum diketahui bahwa figur publik seperti pesepakbola David Beckham bersama istrinya Victoria Beckham, Christiano Ronaldo, dan pembalap Valentino Rossi, juga menyewa pesawat jet pribadi ketika datang ke Indonesia. Beckham dan istrinya pernah menyewa Embraer Legacy 600 dengan rute Singapura, Yogyakarta, hingga Bali. Penyanyi Christina Aguilera juga menyewa jet untuk keliling Asia. Momen pemilu pun jadi ajang menjaring klien meski menyewa pesawat bagi pengusaha, pejabat, politisi memang menjadi satu kebutuhan, bukan sekadar prestise. Sudah bukan rahasia umum bila nama-nama seperti Prabowo Subianto, Jusuf Kalla, Oesman Sapta, dan Aburizal Bakrie juga dikenal memiliki jet pribadi.Sebetulnya layanan ini—VIP, tourism, medivac, logistik—termasuk kategori general aviation atau segmen penerbangan di luar militer dan nonmaskapai berjadwal komersial.

desainic.com
Menurut General Aviation Manufacturers Association (GAMA), tahun lalu tersebar 360.000 armada general aviation di dunia—termasuk helikopter—dan 209.000 unit berbasis di Amerika. GAMA mengungkapkan tipikal owner jet pribadi rata-rata berpenghasilan US$9,3 juta per tahun, aset bersih US$89,3 juta, mayoritas berusia 57 tahun, dan 70% pria.
Selain Whitesky, menurut data Indonesia National Air Carrier Association (INACA), terdapat 20 perusahaan penyedia carter pesawat jet di Tanah Air, di antaranya PT Ekspres Transportasi Antarbenua (Premiair), PT Airfast Indonesia (Airfast), PT Indonesia Air Transport Tbk, dan PT Enggang Air Service (OSO Jet). Saking menggiurkannya bisnis ini, perusahaan taksi Blue Bird Group juga dikabarkan tengah menjajaki konsep bisnis air taxi atau taksi udara berbasis helikopter.

Dalam situs resminya, OSO Jet didukung 1 unit Embraer Legacy 600, 1 unit Cessna Citation VII, 5 unit Cessna Grand Caravan, dan 1 helikopter Agusta AW 109SP. Caravan yang harganya berkisar US$1,75 juta—data Aircraftcompare—memang cocok untuk melayani penerbangan ke wilayah terpencil. “Harga sewa Caravan per jam US$1.750, Legacy US$8.500, dan Cessna dengan kapasitas tujuh penumpang sewanya US$5.500 per jam,” kata Syafei Hadi, Senior Marketing Executive OSO Jet, pekan lalu. Soal harga sewa sangat tergantung jenis pesawat, tapi lazimnya tak berbeda jauh antar-operator. Sebab itu, peningkatan layanan menjadi kunci mengingat sifat layanannya lebih pribadi sehingga kualitas mesti nomor wahid. Maskapai berjadwal seperti Lion Air juga kepincut masuk ke segmen ini sejak Juni 2012 melalui Bizjet. Jasa mereka melayani penerbangan ke Kalimantan, Sulawesi, hingga Singapura dengan pesawat Hawker berkapasitas tujuh kursi.

Ketatnya kompetisi tak membuat nyali Denon surut. Dia yakin peluang bisnis masih besar untuk digali, terlebih segmen ini masih ketinggalan dibandingkan dengan maskapai berjadwal. Salah satu kendala pertumbuhan ialah daya beli masyarakat. Whitesky, katanya, sebetulnya tidak mengkhususkan klien kaya, tapi disebut layanan VIP karena butuh kocek tebal untuk menyewa pesawat jet atau heli. Sebagai perbandingan, harga sewa Bell 407 di Amerika US$1.200 per jam atau sekitar Rp13 juta. Jadi dengan kapasitas enam orang, mereka bisa patungan masing-masing sekitar Rp2 juta, ini terjangkau bagi yang butuh transportasi udara darurat. Namun di Tanah Air, sewanya menembus US$3.000 per jam, tak masuk akal buat kantong orang biasa. Tapi soal kenyamanan tak diragukan, apalagi setelah menengok interior helikopter Bell 429 milik Whitesky yang didesain hanya untuk empat orang—konfigurasi yang sengaja dibuat senyaman hotel.

Ada tiga penyebab sewanya selangit. Pertama, kurs rupiah terhadap dolar Amerika masih terlalu tinggi: sekitar Rp11.000. “Harapannya, siapa pun presiden terpilih, jangan memikirkan penguatan rupiah dalam jangka pendek, tapi jangka panjang,” ujar Denon. Kedua, bahan bakar. Pemerintah mendorong penggunaan avtur lokal lewat penyedia tunggal Pertamina, tapi praktiknya biaya-biaya lain muncul dalam komponen fuel. “Malah ada biaya kerja sama provider [PT Angkasa Pura], yakni biaya konsesi atau throughput. Padahal kami tak gunakan itu, tapi memakai kendaraan agar avtur masuk ke pesawat, ini kan biaya tinggi,” tegasnya. Ketiga, kurangnya perhatian pemerintah.

Bila Indonesia belum mampu menjelma sebagai produsen ulung pesawat seperti Boeing dan Airbus, mestinya negara mendorong maskapai lokal agar mampu bertaraf dunia. Mimpi itu mestinya bukan milik pengusaha semata, melainkan juga pemerintah. “Kalau pemerintah punya mimpi yang sama maka dia akan mendukung dengan regulasi, bea masuk, dan insentif,” katanya. “Pajak suku cadang di Singapura 0%, Malaysia 0%, Filipina 0%. Di sini, mau dikenakan pajak sparepart. Sudah beli pesawat dari luar, ada biaya pengiriman, sampai sini dipajakin lagi.” Sebab itu, Denon berharap pemerintah bukan hanya soal bea, tapi juga berkomitmen mendukung aviasi dalam negeri. Apalagi ASEAN Open Sky di depan mata. Belum lagi belakangan ini beberapa maskapai berjadwal juga tak mampu bertahan. Contohnya Batavia Air, Tiger Mandala, Pacific Royale, dan Sky Aviation.

Denon yang juga Ketua Penerbangan Tidak Berjadwal INACA menyambut baik rencana masuknya sejumlah perusahaan dalam lini bisnis carter pesawat. Akan tetapi, dia menekankan perusahaan terkait harus sadar betul mengenai perawatan dan suku cadang pesawat. Tak ada kompromi soal sparepart pesawat karena berbeda dengan transportasi darat. “Kalau bawa mobil lalu akinya habis, saya pinggirin, beres. Tapi pesawat enggak bisa: aki habis, listrik mati, yah jatuh. Mindset harus berubah.” Hal lain yang juga mesti diperhatikan ialah SMS alias safety management system. Salah satunya ketentuan mengenai batas maksimal jam terbang pilot. “Pilot pesawat tidak bisa disuruh kejar target.” Bagi Denon, kompetisi yang terbentuk di pasar bakal menyehatkan industri carter pesawat. □

Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 21 Juli 2014

MEMANJAKAN MATA DAN TELINGA

bang-olufsen.com
Merek kondang dari Denmark ini menjadi simbol audio-visual bagi kalangan superpremium

Oleh M. Tahir Saleh

DARI semua merek elektronik, ada satu yang menarik perhatian Soetikno Soedarjo ketika kuliah di luar negeri, yakni Bang & Olufsen. Bersama mitranya di Mugi Rekso Abadi (MRA) Group, Soetikno lalu mengajukan waralaba atas brand yang fokus pada televisi dan pengeras suara itu. Tak disangka, penawaran mereka diterima dan Bang & Olufsen Indonesia kemudian hadir pada Juli 2001 di bawah bendera PT Sarana Elektrindo Utama, anak usaha divisi ritel dan luxury MRA.

Sejak sekolah di Amerika, ayah dan teman-temannya suka sekali dengan Bang & Olufsen [B&O]. Mereka approach untuk ambil franchisee dan dapat,” kata Putri Soedarjo, putri pertama Soetikno saat ditemui di Jakarta, pekan lalu. Kini, Putri menjabat sebagai Kepala Divisi Retail & Lifestyle Sarana Elektrindo.

Keputusan menjadi terwaralaba ini bisa dibilang cukup berani lantaran saat itu krisis global belum pulih dan masih terasa di Indonesia. Apalagi produk B&O yang membidik segmen superpremium—konsumen di atas premium dengan harga supermahal—belum tentu laris di sini. “Pertimbangannya lumayan berani menurut saya karena kala itu [2001] pasar belum segitu ready daripada sekarang,” ujar Putri. Namun, insting bisnis Soetikno sebagai CEO MRA Group dan rekan-rekannya jitu karena konsumen superpremium nyatanya tak terpengaruh krisis. Kalau Ferrari, Rolls-Royce, atau Lamborghini menjadi ikon superpremium di sektor otomotif, B&O menawarkan kenikmatan di segmen audio-visual. Brand ini kuat dalam gaya, desain, kelas, dan harganya sangat tinggi, tapi sebanding dengan kualitas yang ditawarkan.

Sebetulnya menjual brand kelas atas bukan hal baru bagi MRA. Sebelumnya mereka telah menghadirkan Bvlgari, merek global asal Italia yang lahir pada 1884 dan fokus pada perhiasan, jam, aksesori luks, hingga hotel dan resor. “Pada 1997 MRA juga menjadi wakil Harley-Davidson di sini. Saat ini Harley is doing very well, tapi saya tahu banget rasanya ketika krisis nge-push Harley. Jadi, saat ambil B&O kayaknya sudah enggak takut lagi ambil high brand,” kata perempuan 29 tahun ini.

Bagi Putri yang sebelumnya bekerja sebagai analis di Northstar Pacific, butuh strategi pemasaran mumpuni guna menangani merek luks macam B&O. Pasalnya konsumennya kelas atas: direktur utama, eksekutif, hingga pemilik perusahaan. Tipe seperti itu tidak lagi mempermasalahkan harga, tapi kualitas dan nilai prestisemeski barang-barang andalan B&O hanya dipajang di rumah seperti televisi, home theatre, dan speaker.

Produk-produknya dijual di Indonesia dengan mata uang dolar Singapura di dua toko resmi di Plaza Indonesia dan Pacific Place, Jakarta. Harganya berkisar antara S$15.000-40.000 atau setara Rp140-375 juta (dengan asumsi kurs Bank Indonesia S$1=Rp9.374). Mereka juga menyasar segmen anak muda dengan merilis produk entry level yang disebut B&O Play seperti earphone, iPod dock, dan speaker portabel dengan kisaran harga S$400-3.000. “Speaker terlaris A8 dipatok sekitar Rp20 juta, A9 Rp35 juta, dan earphone mini sekitar Rp2,5 juta paling murah,” kata Eunike A. Sentosa, Manajer Pemasaran dan Komunikasi Sarana Elektrindo.

Secara harga, pesaing yang hampir seimbang dengannya adalah oewe, perusahaan asal Jerman; sedangkan dalam hal kualitas, B&O mengklaim teknologi mereka belum bisa disamai. Dari perspektif konsumen, kompetitornya B&O adalah Samsung dan Bose, merek asal Amerika. “Produk kami lumayan long-lasting dalam hal siklus, bahkan A8 sejak tiga tahun lalu sampai sekarang masih best selling,” kata Putri.

Tingginya harga memang dipengaruhi kualitas produk, material, dan kuatnya brand. Selain itu, B&O merupakan perusahaan Eropa yang relatif kecil—sekitar 2.000 karyawan—dan biaya tenaga kerja di Denmark juga tinggi. Beoworld, situs komunitas B&O, menjelaskan bahan yang mereka gunakan pun lebih mahal, desain produknya dibuat agar punya rentang usia panjang—10 tahun. Contohnya BeoVision Avant 55 inci, TV UltraHD pertama yang diklaim bisa bergerak. Tak hanya menyelaraskan sudut pandang, tapi dudukan TV ini pun bisa membuat posisinya agak maju untuk menyesuaikan jarak menonton ideal. Itu yang membuat sejumlah pengguna puas. “Para tamu kami sangat menikmati TV baru, kualitas suara mengagumkan, jernih, keluar langsung dari layar. Mereka yang membawa pemutar MP3 bisa mendengarkan musik lewat speaker televisi B&O,” kata Fred Huerst, Manajer Umum Grand Hyatt, Berlin, dikutip dari situs resmi perseroan.

Desainnya bagus, cuma sangat mahal. Hanya saja ada produk yang beberapa kali tidak reliable sebagai barang premier,” kata David Erza-Evans, salah satu konsumen, kepada Bloomberg Businessweek Indonesia. David yang bekerja sebagai produser televisi memiliki peranti B&O untuk sistem telepon rumah yang dibelinya di London seharga US$1.000. “Problem merek elektronik kelas atas ialah mereka tidak punya dana besar untuk litbang,” katanya menjelaskan.

Selama ini konsep pemasarannya mengusung pendekatan personal karena servis tak bisa disamakan antara satu pembeli dan lainnya. “Ada juga konsumen yang ingin beda, misalnya home theatre, maunya speaker lain di luar paket. Ya, kami ikutin seleranya. Tapi, yang penting bagi staf penjualan ialah pengetahuan produk,” kata Gregorius Gelson, Manajer Operasi Sarana Elektrindo sambil mempersilakan menjajal speaker dan home theatre B&O yang sangat memanjakan mata dan telinga dengan tampilan dan dentuman suara mengagumkan.

Penjualan tak hanya melalui toko resmi, pemasar B&O juga menyambangi rumah calon pembeli guna mengetahui desain rumah dan menerka produk yang sesuai. Ada pula pembeli yang mendelegasikan arsitek atau desainer interior sendiri untuk berkonsultasi. Promosi via iklan di majalah kelas atas juga ditempuh, namun tidak lewat online shop sebagaimana merek superpremium lain. “Kayaknya kalau customer beli speaker harganya S$20.000, enggak lewat internet deh,” kata Putri.

Hingga saat ini kontribusi B&O terhadap MRA belum signifikan, meski tetap menguntungkan. Dibanding divisi otomotif MRA (Ferrari, Maserati, Abarth, dan Harley), B&O memang masih kalah. Tahun ini perseroan mencoba fokus kembali ke produk inti, yaitu televisi dan speaker. Hanya saja, ekspansi B&O Play tetap dilakukan dengan kerja sama konsinyasi atau titip barang di sejumlah gerai lainnya.

Sejumlah kota menjadi incaran ekspansi, seperti Bali dan Surabaya, tapi tak dimungkiri membuka toko baru butuh dana besar. Sebagai terwaralaba, biaya promosi dianggarkan sekitar 5-7% dari penjualan. Di tengah potensi kelas atas yang terus bertambah, perseroan kini menghadapi tantangan soal kompetisi harga karena produk B&O di Asia Tenggara—seperti Singapura—tak dikenakan pajak. “Kelas menengah di Indonesia naik terus. Riset McKinsey membuktikan bahwa orang kita (Indonesia), dibandingkan negara Asia lainnya, paling percaya sama Band. In brand we trust,” ujar Putri.

Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 21 Juli 2014

TEH WARISAN SANG TABIB

Ini bukan obat, tapi minuman berkhasiat obat karena mampu memperbaiki tubuh dari dalam. Hanya saja masih ada persepsi negatif

Oleh M. Tahir Saleh

ALKISAH, Kaisar Inkyo di Jepang menderita sakit. Seorang tabib bernama Kombu dari Korea menyembuhkan kaisar dari sembelit akut dengan memberi ramuan teh. Padahal, saat itu (414 SM) banyak tabib gagal menyembuhkan kaisar. Untuk menghormati si tabib, ramuannya dinamai Kombu-Cha atau Teh Kombu—dalam bahasa China dan Jepang, cha artinya teh. Sejak itu, teh ini menyebar ke penjuru dunia.

Para pedagang mengirim teh ini lewat rute Timur Tengah setelah pertama kali masuk ke Rusia dan Eropa Timur. “[Teh] hadir sebagai konsekuensi tak terelakkan dari Perang Dunia II, karena makanan langka,” tulis situs Kombuchay.com, produk teh kombucha dari Yordania. “Ada beberapa versi sejarah teh ini. Ada yang bilang dari Manchuria, Jepang, dan Korea. Tapi, saya lebih percaya versi terakhir [tabib],” kata Arsenius Sutandio, pebisnis Indokombucha, produk teh kombucha asal Bandung, pekan lalu.

Belakangan ini teh kombucha menjadi tren masyarakat urban di Tanah Air meski sudah ribuan tahun menjadi minuman kesehatan di dunia—di Swedia terdapat Swedish Kombucha dan di Ohio ada Raw Kombucha. Teh ini sebenarnya nama internasional untuk kultur (budidaya) berwujud gelatin atau agar-agar yang terdiri dari koloni bakteri positif dan ragi sebagai bahan dasar. Kombucha bukan Jamur, tapi disebut SCOBY (symbiotic culture of bacteria and yeast), sekumpulan bakteri dan ragi membentuk struktur selulosa dan hidup bersama secara simbiotik. Belum ada istilah yang pas sehingga masyarakat terbiasa menyebutnya sebagai “jamur”.

Lantaran kombucha hidup di air dan perlu gula sebagai makanan, sering kali kombucha dimasukkan dalam air teh manis. Selama kultur berada di dalam teh manis, gula dimakan ragi dan menghasilkan alkohol. Lalu alkohol diproses oleh bakteri positif dan menghasilkan sembilan jenis asam dan enzim. Hasilnya: teh manis ini berubah rasa menjadi asam-manis, bersoda, dan dinamakan sebagai teh kombucha. Setelah saya cicipi, rasanya memang asam, agak semriwing di lidah seperti bersoda, tapi segar. Barangkali yang mengganggu itu baunya.

Di Indonesia, produk teh ini tersebar di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan Bandung. Salah satu produsennya bernama Arsenius. Pria 40 tahun yang akrab disapa Arsen ini memproduksi bibit kombucha dan tehnya melalui merek Indokombucha. Awalnya tak ada niat karena dia kuliah manajemen informatika dan bekerja sebagai staff IT. Pada 2002, seorang kawan mengenalkan kombucha, dan pada 2008 dia membuat blog dan menulis artikel tentang kombucha.

Berbekal info dari dunia maya, dia sadar ternyata bibit kombucha bisa dijual lewat iklan-iklan gratis. Sayangnya artikel kombucha berbahasa Indonesia sangat sedikit, jauh ketimbang di Amerika yang sudah populer. Bahkan produk kombucha dijual di supermarker besar dan menjadi minuman artis-artis Hollywood. Arsen kemudian berhenti bekerja pada Desember 2011 dan 100% terjun berbisnis kombucha. “Potensi kombucha di Indonesia sangat besar! Ini tambang emas yang sama sekali belum digarap!” kata ayah satu anak berusia tujuh tahun itu.

Manfaat utama teh ini ialah detoksifikasi atau membuang racun dari dalam tubuh, melancarkan pencernaan, mempercepat regenerasi sel, serta meningkatkan daya tahan tubuh dan fungsi organ dalam. Setelah racun dibuang, regenerasi sel berjalan baik, daya tahan tubuh naik, dan fungsi organ dalam membaik. Begitu banyak penyakit yang bisa dilawan oleh tubuh. “Teh ini bukan obat, tapi minuman yang berkhasiat obat karena bisa memperbaiki tubuh dari dalam,” katanya. “Banyak testimoni dari mereka yang sembuh, mulai dari jerawat, flu, sembelit, rematik, asam urat, maag akut, hingga kista, tumor, diabetes, dan kanker payudara.”

Setelah minum 14 hari, minggu lalu saya check up di Penang, hasilnya radang serviks saya sembuh,” kata Titien, konsumen teh ini di Jakarta. “Ibu mertua saya maag akut, semua obat diminum. Tak ada hasil, lemes seperti orang ngidam, muntah-muntah, selalu pakai jaket, kaos kaki, enggak bisa kena angin. Setelah minum dua kali sehari, alhamdulillah,” timpal Eem, konsumen Indokombucha di Semarang.

Namun, dua catatan yang perlu dijelaskan ialah beredar informasi bahwa kombucha berbahaya bagi mereka yang punya imunitas rendah. Faktanya, kata Arsen, itu bukan efek samping, melainkan efek dari detox: feses berwarna hitam dan berminyak; keringat berbau; pusing, perut sakit, badan lemas, jerawat, dan lainnya. “Tapi efek ini biasanya hanya 3-7 hari dan tak semua mengalami ini, tergantung banyaknya racun dan daya tahan tubuh. Setelah efek detox selesai, tubuh terasa ringan dan nyaman.” Ada pendekatan berbeda antara metode medis barat dan TCM (traditional chinese medicine). “Ada black campaign dari pihak farmasi yang menyebut kombucha punya efek samping berbahaya, mengakibatkan kematian, dan belum ada uji klinis. Padahal di balik semua itu, mereka mematenkan kombucha sebagai salah satu produk obat dan juga kosmetik.”

Kendala lain, yakni keraguan teh ‘jamur’ kombucha yang merupakan hasil fermentasi—proses pengolahan dengan mikroba—dan mengandung alkohol. “Isu teh ini haram tidak benar. Makin lama proses fermentasi, gula pertama kali habis dimakan ragi; lalu alkohol juga habis dimakan bakteri. Yang tersisa adalah rasa asam,” kata Arsen. Pihaknya sudah meneliti kandungan alkohol dari tiga usia fermentasi yang berbeda di lab Universitas Pasundan, Bandung, yakni usia satu minggu, satu bulan, dan tiga bulan. Hasilnya, kandungan alkohol hanya 0,87%, 0,33% dan 0,11%, di bawah batas MUI 1%. “Saya belum ke MUI karena keterbatasan dana. Infonya MUI masih mempelajari proses fermentasi kombucha. Tapi, kami punya sertifikat Dinas Kesehatan.”

Saya belum meneliti teh ini, tapi info dari rekan memang ada alkohol, mirip dengan teh cider [minuman hasil fermentasi sari buah apel dan mengandung alkohol 0,94%],” kata Prof. Evy Damayanthi, dari Departemen Gizi Masyarakat IPB. Selama ini dia meneliti manfaat teh hijau dan teh hitam yang berfungsi meningkatkan penurunan kadar glukosa darah. “Bagi saya bukan soal kadar, tapi ada atau tidak alkoholnya.”

Tak bisa dimungkiri, banyak kaum muslim yang belum bisa membedakan antara alkohol, etanol (komponen utama alkohol), dan minuman beralkohol. Berdasarkan kutipan Fatwa MUI No.4/2003 tentang Pedoman Fatwa Produk Halal, minuman yang termasuk kategori khamar—minuman keras—adalah yang mengandung etanol (C2H5OH) minimal 1%. Hingga kini, MUI belum menerima pengajuan dari produsen kombucha. “Saya juga belum tahu apa sudah diajukan kehalalannya,” kata Aminuddin, Anggota Komisi Fatma MUI. Meski kadar etanolnya di bawah 1%, bukan berarti menghilangkan kewajiban sertifikasi ke LP-POM MUI. “Salah, tidak seperti itu ketentuan MUI tentang masalah alkohol. Harus dibaca secara utuh fatwa MUI. Menurut saya harus tetap [diajukan] ke MUI,” tegasnya.

Ahmad Sarwat, ulama sekaligus dosen Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, dalam ulasan yang dikutip situs Indokombucha.com, menilai bila mengacu pada fatwa MUI, memang ada maksimal kandungan alkohol yang ditoleransi. “Pendekatan LP-POM memakai persentase kandungan alkohol, sebenarnya itu bagian dari ijtihad menetapkan apakah suatu minuman itu khamar atau bukan. Sah-sah saja. Kalau kembali pada orisinalitas fikih, ukuran sesungguhnya bukan kadar. [Tapi] sesuai dengan kaidah: ‘Setiap yang memabukkan adalah khamar’,” katanya. □

Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 14 Juli 2014

TEST DRIVE: TANGGUH NAN STABIL

Subary XV, photo by kompas.com
Menguji keandalan teknologi symmetrical all-wheel drive di beberapa varian mobil Subaru
 
Oleh M. Tahir Saleh
 
TEGANG. Itulah yang dirasakan saat mobil Subaru Forester XT mulai menjajal lintasan dengan kemiringan ekstrem atau side ramp. “Ayo pelan-pelan gas, coba maju lagi, tahan...,” teriak navigator Subaru dari luar. Seketika, mobil ini benar-benar miring sekitar 40 derajat ketika perlahan melewati lintasan. Si pengemudi tampak kikuk, takut mobilnya terjungkir karena kian landai. Tapi, tiga penumpang di dalam mobil santai saja.

Lintasan side ramp hanya satu dari empat simulasi medan yang disediakan oleh PT TC Subaru, distributor resmi Subaru di Indonesia untuk menguji teknologi symmetrical all-wheel drive (SAWD) pada varian Subaru XV dan Forester. Tiga medan uji coba lainnya: cross rollers yang menggambarkan jalanan berlubang, shell pits yang menyimulasi jalanan rusak parah, dan slip rollers sebagai gambaran jalanan berlumpur. Empat rintangan itu mencerminkan kondisi jalan yang sering ditemui di jalanan Indonesia.

Mulai 27-29 Juni, pabrikan mobil asal Jepang ini menggelar Subaru All-Wheel Drive Challenge terbuka untuk umum di pelataran Tribeca Park, Central Park, Jakarta Barat. Inilah kali pertama Subaru menyelenggarakan tantangan serupa di Tanah Air, setelah sebelumnya digelar di Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Taiwan. Keempat lintasan tersebut didesain agar pengemudi dan penumpang bisa merasakan teknologi SAWD yang terdiri dari mesin Boxer dan all-wheel drive. Dengan inovasi itu, traksi atau tarikan diklaim menjadi tak terputus, stabilitas terjaga, dan kendali kendaraan di berbagai kondisi pun lebih baik.

Setelah hanya memandang beberapa peserta tantangan dari kejauhan, saya dan fotografer akhirnya mendapat kesempatan mengetes setangguh apa armada Subaru. Kami memilih Forester XT 2.0 XT automatic, mobil sport utility vehicle (SUV) warna abu-abu yang sudah diperkenalkan di Indonesia International Motor Show tahun lalu. (Disediakan pula varian lain untuk mengetes empat rintangan itu, yakni Subaru XV warna oranye yang dipatok Rp380 juta.) Saat masuk, interiornya ciamik meski tak begitu mewah untuk ukuran mobil yang dibanderol Rp528 juta on the road. Tampilan interior Forester didominasi warna hitam. Ruang geraknya cukup lega untuk ukuran SUV dengan kursi yang nyaman. Setelah celingak-celinguk, kami mulai menjajal mobil ini.

Pada rintangan pertama, side ramp, mobil melaju perlahan. Roda depan mulai naik ke rintangan, roda kanan belakang menggantung. Tapi, mobil tetap merayap stabil karena ditunjang teknologi SAWD. Pihak Subaru mengklaim mobil kompetitor berisiko terguling bila melaju dengan tingkat kemiringan 40-45 derajat. Perlu kehati-hatian menginjak rem karena dengan kemiringan seperti itu, agak tegang juga. “Kalau enggak benar cara belok dan ngegas berlebihan, bisa-bisa nyungsep,” kata kawan memperingati.

Selanjutnya mobil menuju rintangan kedua, slip rollers. Di sini, Forester dijajal seberapa tangguh melewati jalanan licin berkubang air, slip atau tidak. Simulasi pertama ketika roda depan tersangkut putaran licin, bersamaan dengan roda belakang. Mobil tanpa sistem SAWD bisa stagnan bila melewati rintangan ini. Simulasi kedua yakni empat roda mobil terjebak di spot licin, tapi mobil bisa keluar dari spot tersebut tanpa goyang. Slip rollers menyimulasikan jalanan berlumpur yang bisa mengakibatkan ban mobil slip. Komponen ban yang dibuat lebih keras dan tebal cukup tangguh di berbagai medan.

Dua rintangan lain menguji bagaimana suspensi Subaru ketika menaklukkan jalanan berlubang dan medan jalan yang rusak parah. Namun akselerasi Forester saat melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan sepi belum sempat dirasakan lantaran kesempatan terbatas. Setidaknya empat simulasi itu bisa menggambarkan setangguh apa mobil yang didukung mesin DOHC 16-valve horizontally opposed-empat silinder Subaru Boxer ini.

Merek ini memang dikenal dengan produk-produknya yang andal dan berteknologi tinggi di Asia, Eropa, dan Amerika. Subaru adalah divisi otomotif dari Fuji Heavy Industries, perusahaan manufaktur alat transportasi. Pada 1972, Subaru menjadi pabrikan pertama di dunia yang memproduksi mobil AWD dan pelopor mobil station wagon (biasa disebut minivan) di Jepang. Selain Forester dan XV, tipe lain di antaranya BRZ, Exiga, Impreza, Legacy, dan Tribeca. Jaringan distribusi di bawah Motor Image—anak usaha Tan Chong International Limited—mencapai 10 negara, sayangnya pabrik untuk distribusi di Tanah Air masih berada di Malaysia. Tahun ini, perseroan menargetkan penjualan mencapai 2.000 unit di Indonesia setelah tahun lalu naik empat kali lipat dari 2012. “Kami yakin dapat mencapai angka itu sampai akhir tahun. Kami menggelar AWD Challenge agar lebih banyak masyarakat yang mengenal Subaru dan keunggulan teknologinya,” kata Tjahjadi Nirjana, Deputy General Manager Sales TC Subaru.

Marcus Lim, General Manager TC Subaru, menambahkan Subaru merupakan satu-satunya mobil yang memiliki penggerak empat roda di seluruh line-up dibandingkan dengan kompetitor. “Stabilitas kontrol jauh lebih baik, akselerasi lebih. Intinya kami berbeda dengan brand lain, symmetrical system bisa menjawab apa yang diinginkan pengemudi di Indonesia,” ujarnya pekan lalu. Merek ini tidak menyasar pasar multi purpose vehicle (MPV), tapi SUV. Soal kelemahan, Lim diplomatis. “Saya pikir semua brand punya kekurangan, tapi kami unggul dibanding yang lain. Anda bisa cek kompetitor. Intinya selain teknologi, safety menjadi hal utama karena kita tahu di Indonesia orang belum terlalu teredukasi soal keselamatan.” □

Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 07 Juli 2014

Entri Populer

Penayangan bulan lalu