Tampilkan postingan dengan label Info Populer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Populer. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 November 2014

70 TAHUN PUTU WIJAYA

Perenungan Seorang Budayawan

“Mas Putu, bagi saya, bukan sastrawan, aktor, dan sutradara. Beliau adalah budayawan.” –Butet Kartaredjasa, aktor

Oleh M. Tahir Saleh

TUBUH seniman besar ini tak lagi tegap. Dia berjalan perlahan ke panggung sambil dipapah putra lanangnya, Taksu Wijaya. Masih dengan topi baret putih dan kemeja batik, Putu Wijaya menampilkan salah satu monolognya berjudul Merdeka bagi hadirin yang datang pada peluncuran buku Bertolak dari yang Ada, Kumpulan Esai untuk Putu Wijaya 70 Tahun di Serambi Salihara, Jumat pekan lalu.

Putu dan Taksu, by Sarasvati
Saat bermonolog sembari duduk, suaranya masih lantang—tidak ditelan fisiknya yang lemah. Retorika, diksi, dan intonasinya begitu kuat seperti masa muda dulu, walau harus diakui agak terbata-bata dalam beberapa kalimat. Hadirin pun tersihir oleh penampilan sastrawan, aktor, pelukis, dramawan, dan sineas ini.

Merdeka ditulis pada 1981 di Jakarta, bercerita tentang seseorang bernama Merdeka yang ingin mewarisi segala apa yang dimiliki almarhum ayahnya. Bahkan Merdeka ingin mewarisi alat vital sang ayah yang terkenal berprinsip antikemubaziran. Merdeka adalah satu dari sekian banyak gubahan seniman asal Bali bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya ini. Monolog lain bertajuk Babi (1979), Iri (1978), Kalau Boleh Memilih Lagi (1978), Memek (2001), Pian (1979), dan Kemerdekaan (1995). Judul-judulnya pendek, isinya kadang di luar nalar, penuh kritik sosial, keterkejutan, cukup berani—terutama dalam pemilihan kata yang mampu disuguhkan dengan baik tanpa vulgar.

Bagi Putu, memasuki usia 70 tahun pada 11 April lalu merupakan titik balik untuk mengevaluasi apa yang telah dia karyakan selama ini. “Usia 70 tahun, saya harus membuat evaluasi,” katanya malam itu. Seluruh karyanya—dari teater, puisi, monolog, cerpen, hingga lukisan—berangkat dari dua prinsip: bertolak dari yang ada dan teror mental.

Malam itu Putu merayakan ulang tahun bersama para undangan dari berbagai kalangan. Perayaan ini bak penanda kelahiran kedua Putu setelah sebelumnya terserang sakit. Bukan hanya seniman Butet Kertaredjasa, Sapardi Djoko Damono, Ikranegara, Goenawan Mohamad, Seno Gumira Adjidarma, dan Iwan Abdurrahman yang datang; hadir pula Menteri BUMN Dahlan Iskan dan mantan Jaksa Agung Abdul Rachman Saleh. Putu mengundang pakar, seniman, pengamat, dan para sahabat untuk menulis esai. Sayang, buku yang disponsori oleh Djarum Foundation, Pentas Grafika, Salihara, dan Galeri Indonesia Kaya ini hanya dicetak dalam jumlah terbatas. Tidak dijual, hanya disumbangkan ke perpustakaan pusat-pusat kebudayaan. Selain peluncuran buku, acara ini juga diisi dengan pementasan tiga naskah karya Putu: Bila Malam Bertambah Malam, Hah, dan Jpret—oleh Teater Mandiri.

Dalam berkarya, hampir semua sejawatnya mengakui bahwa seniman pendiri Teater Mandiri ini pribadi yang fokus. Goenawan Mohamad, pendiri majalah Tempo, memandang Putu sebagai pribadi yang sangat cuek, cenderung tak peduli sekitar, tapi mampu fokus dan mencurahkan perhatian pada kerja kreatif. “Dia tak pernah berhenti mencipta, termasuk saat antre menunggu panggilan dokter,” kata Goenawan. Putu mengakuinya. Suatu ketika, saat masih menjadi wartawan Tempo, Putu bahkan tetap menulis meski ayahnya baru saja berpulang. “Ketika sedang menulis laporan tentang diskotek, kakak saya menelepon: ayah saya meninggal. Saya tunda air mata, saya andaikan tak ada yang terjadi. Setelah laporan selesai, saya baru pulang memasuki duka.”

Di mata Dahlan Iskan, Putu adalah senior yang pendiam, tapi produktif. Berkat Putu-lah, Dahlan tertarik nonton teater. “Sebagai wartawan pemula saya kagum, kok ada seniman Indonesia yang mendapat kesempatan mempelajari teater di New York. Pasti hebat dia!” kata Dahlan. Maka ketika berkesempatan ke New York, sasarannya menonton teater di Broadway. Saat Putu sakit, bekas Dirut PLN ini berusaha ikut mencari dokter terbaik agar sang seniman kembali pulih.

Aktor Butet Kertaredjasa pun bersyukur sastrawan-aktor-sutradara Putu Wijaya bukan sejenis calo minyak bumi yang berpenghasilan Rp300 miliar per hari. “Berapa tuh sebulannya? Setahunnya? Lha kalau sampai seorang Putu penghasilannya macam itu, sangat berbahaya saat mewujudkan kredo keseniannya.” Bila itu terjadi, properti teater bakal berganti menjadi tas jinjing Hermes, sepatu bermerek, dan aktor-aktornya mendadak bertubuh tambun karena timbunan lemak. Untung saja tidak, sebab bagi Butet yang dilakoni Putu adalah sebuah ikhtiar menyiapkan manusia yang bisa membaca dan berani mengoreksi diri, apakah sekadar manusia atau sudah menjadi manusia dalam arti sebenarnya. “Pada keberhasilan ini, Mas Putu, bagi saya, bukan sastrawan, aktor, dan sutradara. Beliau adalah budayawan.”

Iwan, by Republika
Lain lagi dengan Iwan Abdulrachman. Mantan personil grup Bimbo ini memandang Putu sebagai seniman dengan tingkatan atau maqom tinggi. Putu rela ke Bandung berboncengan naik Vespa tua dari Jakarta, menginap di emper Gedung Asia Afrika hanya untuk mewawancarai Iwan bersama grupnya yang tergabung dalam Pencinta Lagu Universitas Padjajaran. Putu jualah yang jauh-jauh datang ke tengah hutan di kaki Gunung Burangrang untuk menyambangi Iwan. “Jangankan hadir bertatap muka, baru ingat sosoknya saja, beliau sudah sangat memberi arti kepada saya.”

Malam itu, dua lagu dimainkan oleh Iwan untuk Putu. Dua tembang indah dengan petikan gitar, menandai sebuah perenungan usia 70 tahun. Semoga ini tak sekadar menjadi selamatan ulang tahun, tetapi menjadi titik kontemplasi juga bagi generasi muda karena gagasan dan pikiran Putu Wijaya berperan penting dalam proses berbudaya bangsa. “Jangan bersedih Mas Putu, hidupmu tak sia sia,” begitu Iwan menutup lagunya. □

Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 21 April 2014

DI BAWAH BAYANG-BAYANG PAK HARTO

Movie capture by the marketeers
Para narasumber dalam film Words of Generation membandingkan kehidupan era Presiden Soeharto dan periode pascareformasi, apakah lebih enak?

Oleh M. Tahir Saleh

“Piye kabare, enak zamanku toh?” Begitu kata mendiang Presiden Soeharto dengan senyum khasnya. Sapaan imajiner dalam gambar yang kerap ditempel di belakang bak truk-truk besar ini bisa dibilang cermin kegelisahan masyarakat.

Publik gerah dengan tingginya harga sembako, susahnya mencari pekerjaan dan membuka usaha, korupsi menjamur, dan biaya pengobatan yang tak terjangkau. Ekspresi kebosanan ini seolah membuat mereka ingin kembali ke zaman Pak Harto yang memimpin negeri ini selama 32 tahun. Masyarakat juga kerap membandingkan perekonomian era Orde Baru dengan era setelah Reformasi 1998.

Gambaran ini pula yang tampak dalam film dokumenter besutan Xia Lee dan Amanda Mooney berjudul Words of Generation. Dalam film produksi perusahaan public relations Edelman ini, 10 orang saksi era Reformasi 1998—dengan latar belakang berbeda—bicara soal negara ini dalam perspektif mereka. Maka yang terjadi adalah kejujuran, penyajian fakta sesungguhnya. “Kami ingin memperlihatkan pandangan kepada masyarakat seperti apa sebenarnya kondisi Indonesia di mata mereka,” ujar CEO Edelman Indonesia Stephen Lock.

Words of Generation merupakan proyek Edelman di berbagai negara dari China, Malaysia, Singapura, Vietnam, hingga India. Pandangan penduduk di tiap negara dieksplorasi dengan latar isu berbeda. Di Indonesia, mengambil tema dimulainya reformasi setelah kejatuhan Soeharto.

Ada tujuh video dalam film ini: Work, Consume, Connect, Love, Play, Explore, dan Dream. Tapi tak semua judul diputar dalam gelaran nonton bareng pada 25 Maret di Plaza Senayan, Jakarta. Film yang bisa diakses online tersebut berusaha memotret kehidupan pribadi lewat wawancara berdasarkan tujuh tema tadi dengan perspektif masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Sepuluh narasumber dalam film itu adalah generasi yang lahir pada rentang 1975-1985. Memang tidak mewakili semua, tapi setidaknya generasi yang merasakan Reformasi 1998 ketika huru-hara anti-China dan kejatuhan rezim Soeharto terjadi. “Kehidupan di Indonesia ini, ya morat-marit. Kau tengoklah, semrawut, yang kaya tambah kaya. Lebih enak zaman Soeharto, tapi bedalah. Zaman Soeharto bercakap dikit diculik,” kata Ardinal (31), salah satu narasumber film.

Narasumber lainnya, Alfin Budi Pramono (36), mengatakan para mantan aktivis 1998 yang kini menjadi anggota dewan pun sama saja dengan apa yang mereka demontrasikan dulu kala masih mahasiswa. “Itu yang saya sayangkan,” kata Alfin. “Pemerintahan yang sekarang sudah dua periode, tapi justru rupiah terpuruk,” kata pegawai swasta ini. Hendy Hermawan (37), staf teknologi informasi, memandang kepemimpinan seperti Soeharto masih dirindukan. “Soeharto cara mikirnya jelas, santun, ngomongnya soleh dan tidak berapi-api. Tapi kroni-kroninya sering bawa nama dia, lalu dia dijatuhkan. Kroni-kroninya kini ingin berkuasa,” katanya. “Kita butuh pemimpin model Soeharto yang tidak klemer-klemer.”

Generasi ini juga mengusung pemimpin idaman, yakni Joko Widodo, Prabowo Subianto, dan Jusuf Kalla. “Impian mereka bila ditarik garis merahnya sama: mereka memprioritaskan anak-anak agar kelak bisa menikmati pendidikan dan kehidupan lebih layak daripada saat ini,” kata tim produksi Mario Patrick.

Boni Triana, sejarawan dari majalah Historia, menilai kerinduan era Pak Harto bukan ingin membalikkan keadaan. “Sejarah itu berulang, tapi kondisinya tak bisa sama. Ini cuma untuk merestorasi kekuasaan segelintir orang untuk memanfaatkan ingatan publik sehingga orang ingin kembali,” katanya. Ketika Orde Baru, publik akan bilang Orde Lama lebih enak. Sebaliknya ketika era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, publik menilai lebih baik zaman Orde Baru dan begitu seterusnya. “Zaman Soeharto bisa jadi korupsi sedikit, tapi kebebasan pers dikekang.”

Shafiq Pontoh, konsultan perencanaan strategi dan pelopor Gerakan Indonesia Berkebun dan Ayah ASI, yang turut hadir dalam bedah film itu menganggap paradigma kehidupan era dahulu lebih enak tak semuanya benar. Itu ditegaskan pula dalam film karena barang-barang masih terbeli walau harganya konstan naik. Memang kalimat bernada penyesalan dan ratapan kerap muncul, tapi baginya lebih enak zaman sekarang. “Zaman Soeharto enggak enak banget, enggak ada Whatsapp, enggak ada Twitter.” Pesan film ini sampai, tapi sayangnya agak membosankan ditonton lama karena hanya berbentuk wawancara, tanpa visualisasi huru-hara. □

Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 07 April 2014

BUKU: MENCURI HATI PELANGGAN

Buku ini menjawab pertanyaan mengapa ada perusahaan yang bisa menjual tiga kali lebih mahal, tapi justru menjadi rebutan pelanggan

Oleh M. Tahir Saleh

Hendrik Ronald memulai bukunya dengan cerita pengunduran dirinya sebagai manajer di bridal terbesar di Indonesia. Dia lalu kembali ke Pekanbaru untuk mengurus sebuah hotel tua berumur 25 tahun. Jauh sebelumnya, dia ingat pernah memukul kecoak dengan tangan karena saking banyaknya serangga di hotel uzur itu.

Tugasnya berat lantaran status tanah hotel juga bukan milik sendiri. Namun lima tahun kemudian, tekadnya ketika memimpin rapat perdana hotel itu menjadi kenyataan. Mereka meninggalkan hotel lama dan pindah ke hotel bintang tiga yang baru dengan suasana garden nan manis. Dalam dunia bisnis, katanya, ada dua tipe manajer: autocratic yang mementingkan hasil dan democratic yang mementingkan hubungan antarmanusia. “Dulu saya tipe autocratic. Saya tak peduli. Bila harus teriak, ya teriak, yang penting kerjaan selesai. Namun, hasil yang diinginkan ternyata tak datang dengan sendirinya,” tulis Hendrik.

Makin lama dia menyadari bahwa hanya lewat pendekatan manusialah hasil positif bisa datang. Dia pun belajar menjadi pengelola manusia yang baik. “Saya mulai membangun kultur dan hasil baik pun membanjiri. Kami punya 56 kamar di sana. Saat ramai kami bisa menolak sampai 200 kamar dalam sehari. Itu luar biasa karena biasanya menolak 20 kamar saja sudah hebat banget.”

Ternyata hal utama yang dia terapkan ialah bagaimana memberi pelayanan prima (service excellent) dan menjadi budaya. Hasil baik muncul bila kita lebih dulu melayani staf, atasan harus duluan melayani. Servis prima itu berdampak besar menguatkan bisnis—dan berpotensi menurunkan pamor pesaing. Itulah yang dituangkan dalam buku berjudul The Power of Service, Bagaimana Cara Menjual 3 Kali Lebih Mahal dan Pelanggan Justru Berebut terbitan Gramedia Pustaka Utama.

Layanan prima itu yang membedakan mengapa ada perusahaan obral harga malah ‘mati’ di pasaran. Sudah promo pontang-panting, tapi tak jua berhasil. Ada pula yang menjual dengan harga modal, tapi tetap saja sepi pembeli. Namun, ada bisnis yang memasarkan harga standar, bahkan tiga kali lipat lebih mahal, tapi justru menjadi rebutan pelanggan. Sebenarnya bagi pelanggan, faktornya bukan harga melainkan nilai atau value. “Pelanggan dengan senang hati akan membayar lebih asal mereka mendapat value yang sangat banyak. Value itu servis atau unsur manusia,” kata Hendrik.

Dalam buku setebal 309 halaman terbitan 2013 ini, Hendrik yang juga seorang certified firewalk & breakthrough instructor dari TDW Institute dan belajar dari pelatih ulung Tung Desem Waringin ini memaparkan lima bab: customer contact, service mindset, service design, service recovery, dan terbaik di dunia. Contoh-contoh dalam buku ini begitu sederhana, mudah dicerna, tapi menohok. Kekurangannya barangkali desain yang terlalu resmi dan kaku, ilustrasi yang hitam putih, serta ketiadaan indeks.

Pada bab customer contact, dia mencontohkan bagaimana seorang konsultan dipanggil membenahi perusahaan perkapalan dengan tingkat kesalahan supertinggi. Setelah dipelajari, dia mengusulkan mengubah nama panggilan karyawan, pekerja kasar yang biasa dipanggil “trucker” diubah menjadi “craftsman”, artinya kurang lebih orang yang punya keahlian tertentu. Hendrik heran mengapa banyak perusahaan melabeli karyawan baru dengan “trainee”, disuruh memakai baju putih, dan langsung diminta melayani tamu. Harapannya, kalau mereka membuat kesalahan tamu akan mahfum. “No! Kalau belum pantas, jangan disuruh menghadapi tamu. Tak perlu membuat mereka malu dan akhirnya menodai citra perusahaan,” kata pria yang belajar langsung dari Ron Kaufman, guru servis terbaik di dunia.

Contoh lain bagaimana seorang bapak dibuat malu karena membawa makanan sendiri untuk anaknya ketika makan di restoran. Si manajer restoran berpatokan pada standard operating procedure (SOP) yang justru seakan-akan menjadi alasan mengusir pelanggan. Jangan sampai ketidakmampuan dalam membuat SOP membuat pelanggan bak seorang kriminal. Banyak contoh riil, tapi dekat dengan keseharian yang menarik disimak: mulai dari perang harga, produk pamungkas, kesan pertama, hingga soal servis itu pilih kasih. Buku ini pun kaya dengan ilustrasi kartun satir yang menambah daya pikat dan membuat kita tak sadar senyum-senyum sendiri. □

The Power of Service, Bagaimana Cara Menjual 3 Kali Lebih Mahal dan Pelanggan Justru Berebut, Oleh Hendrik Ronald, PT Gramedia Pustaka Utama, 2014

Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 31 Maret 2014

DRUM PENGGEBUK OTAK

Terapi Drum Circle, by Abcdreams.ca
Sebuah riset mengungkapkan, 70% karyawan di Indonesia merindukan pemimpin yang bisa menumbuhkan kepercayaan

Oleh M. Tahir Saleh

“ADA yang pernah belajar musik?” tanya Gilang Ramadhan, drummer ternama Indonesia, di depan sekitar 160 orang yang hadir di balairung lantai dua main lobby The Grand Hyatt Jakarta, Rabu pekan lalu. Hanya tiga orang mengacungkan jari. Kembali dia bertanya, adakah yang ingin belajar musik saat masih kecil. Kali ini 20 orang mengangkat tangan.

Tak puas, drummer jebolan Hollywood Professional School, Amerika, ini bertanya lagi, “Siapa yang tiap hari mendengarkan musik? Saat pertanyaan ini dilontarkan, hampir semuanya mengangkat tangan. Mereka mengakui menikmati alunan musik di tengah aktivitas pekerjaan sehari-hari.

Tiga pertanyaan ini diberondong Gilang sebelum memulai aksi bersama band-nya saat memperkenalkan Drum Circle di depan para eksekutif perusahaan dalam gelaran ‘The Leaders Forum’. Forum ini hasil kerja sama Nelson Buchanan and Oostergard (NBO Group), lembaga konsultasi leadership berbasis di Singapura, dan Rotary Club of Jakarta Menteng.

Gilang Ramadhan, by drummerterbaikindonesia.com
Ketika Gilang mempertontonkan Drum Circle, hadirin tampak sangat antusias. Didampingi band pengiring yakni Rheza Akbar (26), Andika (24), dan Rizki (27) yang memukul djembe—salah satu alat musik perkusi—suami aktris Shahnaz Haque ini tidak langsung menggebuk drum. Dia melangkah ke depan panggung dan interaktif dengan peserta bak motivator ulung.

Seluruh peserta—ada 16 meja bundar, satu meja terdiri dari 10 kursi—lebih dahulu dibagikan rebana, gendang pipih bundar yang biasa digunakan kasidah. Rebana itu akan dipukul sesuai dengan irama ketukan dan aba-aba dari Gilang di atas pangggung. Instruksi diberikan dengan sebuah perumpamaan nada dari aktivitas sehari-hari. Dua aktivitas dipilih menjadi perintah: ‘gosok gigi’ dengan ketukan drum ‘dugdugdug dugdugdug’ tempo cepat, sementara aktivitas ‘menarik kursi di meja kerja’ diiramakan dengan ketukan ‘dug dug dug dug dug dug’.

Di atas panggung, Gilang memberi komando. Bila kedua tangannya ke atas, pukulan rebana para peserta harus lantang. Kalau tangannya di dada, tabuhan rebana mulai dipelankan. Lalu jika tangannya ke bawah, suara tepakan rebana makin lembut, dan apabila tangan dikepalkan, peserta berhenti memukul. Setelah peserta lancar, kendali mentor diambil alih oleh Rheza dan Gilang pun kembali ke drum. Dia menggebuknya dengan sangat apik, membuat suasana makin harmonis. Peserta pun merasakan semangatnya. “Musik itu juga disiplin, leadership, team work, dan engagement,” kata pendiri Gilang Ramadhan Studio Band dan Drum Institute (GRDI) yang kini memiliki 15.000 murid di Indonesia ini.

Drum Circle bisa dibilang terapi atau metode baru dalam meningkatkan etos kerja karyawan. Seperti namanya, Drum Circle dilakukan dengan bermain alat musik pukul (perkusi), termasuk drum dan djembe, secara berkelompok dengan mengikuti ketukan seorang mentor, dalam hal ini drummer. Harmonisasi irama dari drum dan alat perkusi lain dinilai bisa meningkatkan konsentrasi. Efeknya, empat hal yakni kedisiplinan, team work, leadership, dan rasa keterikatan karyawan (engagement) bisa terdorong.

Dalam perusahaan, karyawan cenderung bekerja dengan ritme dan arah berbeda-beda, dan ini memicu penurunan produktivitas. Padahal, mereka berada dalam satu tim yang sama. Penelitian NBO Group Leadership Survey 2014 bahkan menguak fakta mencengangkan: kebanyakan responden karyawan di Indonesia kehilangan kepercayaan dari bawahan kepada atasan atau sebaliknya. “Kami menemukan bahwa lebih dari 70% responden di Indonesia mengatakan mereka sangat butuh pemimpin yang bisa menumbuhkan rasa percaya,” kata Michelle Miranda, Executive Trainer PT NBO Indonesia.

Survei kepemimpinan dari NBO itu dihasilkan dari penelitian dengan sebaran demografi responden mulai dari Singapura, Indonesia, Malaysia, Hong Kong, Taiwan, hingga Amerika. Tapi, tiga negara menyumbang responden terbanyak yakni Singapura (35%), Indonesia (34%), dan Malaysia (21%)—mayoritas dari sektor industri, keuangan, dan layanan konsumen. Belum ada data detail berapa jumlah responden dalam survei ini. Di Indonesia, kebutuhan terhadap trust mencapai 73%, disusul perlunya komunikasi yang efektif (66%), dan pemimpin yang bisa membangun tim yang efektif (63%). Di Singapura kepercayaan juga menjadi urutan teratas dalam hal kepemimpinan.

Di Amerika, Eropa, dan Australia, metode Drum Circle banyak dipakai perusahaan kelas dunia yang tergabung dalam Fortune Top 500 Companies. Melalui terapi ini, sisi kreatif dan potensi karyawan bisa distimulus, ujung-ujungnya bisa memperbaiki kinerja. Salah satu musisi berpengaruh dalam Drum Circle ialah drummer asal Inggris, Carl Palmer. “Di Amerika sebenarnya sudah lama, di sini belum. Pertama kali kami mulai 2010, tapi naik turun. Tahun ini akhirnya kami seriuskan,” kata Rheza, salah satu anggota band Gilang Ramadhan.

by Londondrumcircle
Di Indonesia, metode ini masih asing. Barangkali Gilang menjadi drummer pertama yang memperkenalkan program ini dalam dunia kerja. “Iya, ini inisiatif saya,” katanya usai demo Drum Circle berdurasi 30 menit itu. Setelah malang melintang menyosialisasikan Drum Circle, Gilang akhirnya digandeng NBO Indonesia dan PMC Teamindo. “Sudah presentasi sana sini akhirnya program itu jadi. Kami gandeng Mas Gilang, kami melihat metode ini sangat bagus,” kata Chief Operating Officer NBO Indonesia Andry Lie.

Sitti Syahleena Ramadhani, Humas NBO Indonesia, mengatakan persoalan ketidakpercayaan karyawan itulah yang menjadi landasan program Drum Circle. Lingkungan yang kolaboratif diyakini bisa membantu karyawan memperkuat rasa percaya, mengurangi tingkat stres, dan menyalurkan emosi melalui aktivitas yang positif dan kreatif. Penggunaan ritme-ritme repetitif itu bersifat menenangkan sehingga program itu baik guna menyalurkan emosi dan dorongan dalam diri menjadi kegiatan positif. “Kami harapkan tingkat trust ini bisa menjadi lebih kuat,” kata Sitti.

Untuk bisa memanfaatkan program tersebut, satu perusahaan mengucurkan dana sekitar Rp2 juta per peserta—tergantung parsial atau paket yang disediakan. Tapi jika ingin lebih murah atau di bawah Rp1 juta, jumlah peserta mesti ditambah lagi. Perusahaan tentu bebas memilih program yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Drum Circle begitu asyik, itu yang tampak di ruangan dan dirasakan oleh para peserta. “Kebetulan tim kami lagi membangun tim kolaborator. Kami rencananya akan coba Drum Circle ini, menarik sekali ya,” ujar Herry Putranto, Asisten Manajer Divisi Learning Development PT Agro Harapan Lestari (Grup Goodhope), usai mengikuti Drum Circle siang itu.

Metode ini sangat menarik, berbeda dengan metode pelatihan lain yang biasanya lewat verbal. Tapi tentu yang namanya pelatihan, motivasi, atau training biasanya punya faedah jangka pendek. Keluar dari pelatihan, karyawan cenderung kembali ke kondisi semula. Ini yang coba dihindari dan disadari oleh Gilang dan timnya. Oleh karena itu, metode Drum Circle juga bakal ditambah dengan sejumput inovasi guna memperkaya program. Setidaknya, dengan kombinasi otak kanan dan otak kiri melalui Drum Circle ini kinerja karyawan bisa ditingkatkan. □

ISU YANG DIBUTUHKAN DALAM KEPEMIMPINAN
Singapura
Pemimpin yang memberikan kepercayaan 62%
Pemimpin yang membangun tim efektif 59%
Pemimpin dengan komunikasi yang efektif 56%

Indonesia
Pemimpin yang memberikan kepercayaan 73%
Pemimpin yang membangun tim efektif 66%
Pemimpin dengan komunikasi yang efektif 63%

Malaysia
Pemimpin dengan komunikasi yang efektif 73%
Pemimpin yang bertransformasi 68%
Pemimpin yang membangun kepercayaan 66%

Sumber: NBO Group Leadership Survey 2014
Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 03 Maret 2014

SINDROM ABS, ASAL BOS SENANG

By gambarlucu.org
Bersikap ramah di kantor itu penting, asal jangan ‘cari muka’

Oleh M. Tahir Saleh


REI (29) uring-uringan di kantor belakangan ini. Bukan lantaran dibebani setumpuk tugas, melainkan ulah rekan kerjanya. Sebutlah namanya Dono (37). Pria yang menjabat sebagai manajer itu kerap dianggap sebagai 'penjilat'. Pernah di hadapan direktur utama, sikap Dono sangat profesional seakan-akan semua tugas berhasil dikerjakan.

Faktanya, tak satu pun tugasnya selesai. “Dia malah minta anak buahnya yang ngerjain sampai ke urusan yang seharusnya dia handle,” ujar Rei, karyawan sebuah perusahaan multinasional di Tangerang, Banten, Senin pekan lalu.

Celakanya lagi, si bos tak tahu-menahu tingkah Dono di belakang. Belum ada yang punya nyali melapor ke bos. Suatu ketika, salah satu staf Dono melakukan kesalahan karena memang belum ada briefing atau arahan singkat darinya. Staf itu lalu ditegur oleh direksi. “Si Dono di depan direksi bilang, ‘Iya, kamu kan udah saya bilangin.’ Terus dia bilang lagi ke direksi, ‘Udah saya bilang seperti itu, Pak.’ Itu contohnya,” kata Rei dongkol.

Dalam meniti karier, ada saja karyawan macam Dono di sebuah perusahan—tentu dengan tujuan jabatannya naik, karier cemerlang. Lagi-lagi atasan tak bisa hanya mendiamkan dan menerima begitu saja laporan dari bawahan, perlu ada klarifikasi agar informasi tidak sepihak. Tentu saja karyawan yang ingin meningkatkan karier perlu bekal, tapi bukan mengandalkan koneksi, selalu menjadi yes man, atau suka mencari muka (carmuk) di depan bos.

A.M. Lilik Agung, fasilitator dan mitra pengelola lembaga LA Learning menceritakan kisah dua karyawan sebuah perusahaan. Kisah ini untuk menggambarkan bagaimana cara terbaik dalam meningkatkan karier tanpa perlu nampang di depan atasan.

Kedua sahabat, Arman dan Anto, berkawan sejak sama-sama kuliah di sebuah universitas di Yogyakarta. Usai lulus, mereka merantau untuk mengembangkan karier masing-masing. Setelah 10 tahun berkarier, Arman menjabat supervisor di perusahaan pembiayaan, sedangkan karier Anto melesat. Kinerja tiga tahun sebagai area manager yang mengesankan membuat Anto disiapkan menjadi vice president yang membawahi tiga area manager, dia bertanggung jawab langsung kepada direktur operasional. “Mengapa karier Anto bisa naik sangat cepat, sementara Arman biasa-biasa saja? Padahal, keduanya dari kampus yang sama dengan tingkat kecerdasan juga sama?” tanya Lilik.

Ternyata, sikap profesional ketika bekerja menjadi perbedaannya. Bagi Arman bekerja itu identik dengan target yang diberikan perusahaan, sementara Anto memandang pekerjaannya sebagai sebuah panggilan. “Karena panggilan, dia memberikan yang terbaik buat pekerjaannya,” kata Lilik.

Secara konsep, lanjutnya, ada empat sikap yang layak disebut profesional paripurna. Pertama, karakter terpuji. Karakter ini selalu bersinggungan dengan etika dan moralitas. Layak disebut profesional bila tingkah laku seseorang berpatokan pada etika. “Moralitasnya nyaris tanpa cacat sehingga ketika orang berhubungan dengannya, rasa saling percaya dapat terjalin dengan erat,” kata Lilik yang malang melintang sebagai instruktur di banyak perusahaan ini.

Kedua, kompetensi atau penguasaan mendalam atas tanggung jawab pekerjaan. Ketiga, kesungguhan hati dalam bekerja. “Kaum profesional selalu bertanggung jawab terhadap pilihannya. Ketika ia bertanggung jawab, dapat dipastikan ia punya kesungguhan hati untuk terlibat di dalamnya.” Kaum profesional ini terlibat dan menjadi contoh peran bagi anak buah dan karyawan lain. Keempat, ketangguhan menuntaskan apa yang menjadi tanggung jawabnya. “Ibarat pendaki gunung, sebelum mencapai puncak, ia tidak akan menyerah,” kata Lilik yang menulis setidaknya 12 buku di antaranya Jumping to the Next Curve dan Spiritual Leadership ini.

Cherry Riadi Lukman, konsultan senior Experd—lembaga konsultasi pengembangan SDM yang berdiri sejak 1989, juga memberi beberapa wejangan bagaimana meningkatkan karier. Selain meningkatkan performa, dia menekankan beberapa hal yang perlu dihindari, misalnya jangan ‘menjilat’ atasan. Trik ini bisa tampak bila seorang karyawan mulai mencari-cari atau lebih parah lagi membeberkan kesalahan rekan kerja kepada atasan untuk mencari muka. “Yang lebih baik itu performa, itu yang membuat manajemen tertarik dan menyarankan kita dipromosikan,” kata Cherry yang juga menyarankan karyawan terus meningkatkan kapasitas diri.

Seorang karyawan mesti proaktif, jangan cuma memberikan ide, tapi upayakan turut terlibat juga. Berilah umpan balik atau feedback kepada atasan. Ketika atasan mampu menangani suatu permasalahan, coba ungkapkan kalimat apresiasi (tak perlu berlebihan) yang bisa membuat si bos sadar bahwa keputusannya tepat dan berpengaruh.

Menurut Cherry, karyawan harus tetap fokus dalam bekerja dan memberikan hasil terbaik. Prestasi kerja itu bisa mendukung keseimbangan kehidupan kantor dengan kehidupan keluarga. Sikap profesional bisa diwujudkan dengan melakukan lebih dari yang ditugaskan sehingga atasan terkesan. Tapi, dengan catatan tugas tersebut dilakoni dengan memahami kemampuan dan tidak memaksakan diri.

Karyawan juga jangan kerap mengeluh soal kantor, jangan terlalu sering meminta maaf yang berakibat tampak lemah di hadapan si bos. Ketahuilah dulu masalah atau kesalahan, lalu memperbaiki diri. Jangan juga sering masuk ke ruangan bos dengan setumpuk masalah, bukan solusi. Sebaiknya juga hindari merespons sesuatu dalam keadaan emosi, tunggu sampai emosi mereda.

Membangun komunikasi dengan atasan bisa juga dengan tidak asal bertanya—menanyakan hal yang sudah tahu jawabannya. Ada baiknya tanyakan pada diri sendiri dulu, apakah jawaban atasan bakal sama atau tidak. “Pengembangan diri, diskusi dengan atasan, bangun komunikasi, cari feedback. Itu bisa menjadi masukan yang baik,” kata Cherry. “Kalau kita sudah dipercaya atasan, enggak perlu jilat-jilat. Kalau ada temen yang suka jilat, tugas kita tidak melakukan hal serupa, dong.” □


ILUSTRASI
Kasus pertama: Dalam satu tim ada kesalahan dari rekan kerja, bagaimana memberitahu dia, tapi tidak menjatuhkan dia di depan atasan. “Mungkin perlu ada yang diperbaiki dari tugas kita, jadi kita sama-sama cari tahu letak salahnya di mana.”

Kasus kedua: Seorang staf mendapat teguran dari bos, tapi dia memang belum mendapat arahan dari atasannya langsung. Sebaiknya staf itu punya argumen kuat untuk menceritakan keadaan sebenarnya. “Maaf Pak/Ibu, sepanjang pengetahuan saya, saya belum mendapat briefing apa pun dari Bapak/Ibu.”

Kasus ketiga: Kinerjanya biasa saja malah cenderung flat, tapi kariernya mengilap; kinerjanya baik, sosial baik, tapi tak mendapat respons atasan. Jangan-jangan atasan terpengaruh dengan informasi sepihak (negatif) atas diri Anda. “Maaf Pak/Ibu, sekadar sharing, menurut Bapak/Ibu apa yang perlu saya perbaiki untuk meningkatkan kinerja saya?”


Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 03 Maret 2014

Jumat, 14 November 2014

JANGAN ADA DUSTA DI ANTARA KITA

Sejumlah siasat ditempuh pria untuk menutupi penghasilan dari istrinya, benih-benih percekcokan rumah tangga mulai ditanam

Oleh M. Tahir Saleh

TAK banyak pria yang sangat terbuka soal penghasilan tiap bulan kepada istrinya. Alasannya macam-macam, entah karena sang nyonya agak pelit atau memang suami ingin hura-hura tanpa dikekang berlebihan. Salah satunya Dedi (38). Pria yang sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan swasta ini memang membeberkan total gaji bulanan kepada sang istri, tapi dia sedikit menutupi pendapatan lain-lain yang diterima dari sejumlah proyek di luar kantor.

Namanya juga usaha, kadang-kadang istrinya curiga bila dia membeli gadget baru padahal uang di tangan istri sudah menipis. “Yah, kalau gaji buka-bukaan, tapi kalau honor dari proyek enggak dibuka. Masak saya harus merengek ke bini kalau mau beli sesuatu?” kata Dedi yang ditemui di Stasiun Sudirman, Jakarta, pekan silam. Pria, katanya, mesti punya duit cadangan untuk menyiasati keperluan mendadak, agar dapur tetap ngebul. “Buat jaga-jaga saja, dana taktis.”

Berbeda dengan Dedi, Rahmad (35)—karyawan swasta di bilangan Blok M, Jakarta Selatan—malah terang-terangan membuka total gaji tiap bulan yang dia terima. Sepeser pun tak ditutupi. “Kartu ATM juga dipegang istriku,” katanya sembari menunjukkan isi dompetnya. “Terbuka itu penting. Tapi yah saya jadi susah beli apa-apa, hehehe.” Keterusterangan itu bukan keharaman bagi rumah tangga Rahmad yang kini sudah dikarunia seorang putra berumur 21 bulan ini. Saking transparan, dia malah tak mau tahu lebih detail gaji istrinya yang bekerja di sebuah firma hukum di Jakarta. “Sama sajalah, istri ‘kan pengelola keuangan.”

Seorang kawan menuturkan, bahtera rumah tangganya yang dibina tiga tahun lalu terancam hancur. Penyulutnya, sang suami enggan blak-blakan soal keuangan, termasuk bonus dari kantor. Bunga (28), sebut saja begitu, baru tahu kalau tiga tahun terakhir bonus mengalir ke kantong suaminya. “Aku dikasih tahu teman kantornya.”

Uang memang sensitif. Ihwal ini pula yang ditengarai menjadi alasan banyak perceraian menimpa figur publik, salah satunya kemelut rumah tangga pesepak bola Markus Horison dan artis Kiki Amalia yang berujung perceraian pada Juni tahun lalu. Keuangan juga menjadi hal sensitif yang acap kali menjadi kekhawatiran kaum pria di belahan dunia seperti kajian situs keluarga YourTango.com. Selain itu, ada enam hal lain yang juga ditakutkan para pria: prestasi, kehilangan pekerjaan, menjadi tua, kesehatan, seks, dan menjadi ayah yang baik. “Ya, wanita memang bekerja dan ikut berkontribusi, tapi mayoritas pria bilang masalah keuangan ialah tanggung jawab mereka,” tulis YourTango.

Sebetulnya dalam UU No.1/1974 tentang Perkawinan gamblang menyebutkan, suami wajib melindungi istri dan memberikan semua keperluan hidup sesuai dengan kemampuan dan istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya. Tetapi, ya itu tadi, keterbukaan masih ‘mahal’ di Indonesia.

Lisa Soemarto, by Kencomm Id
Lisa Soemarto, perencana keuangan dari AFC Financial, beberapa kali menemui konsultasi persoalan cuan ini dalam keluarga. Tapi Lisa memandang ketertutupan suami itu dari sudut pandang positif. “Mungkin kalau suami punya income lumayan besar, dia enggak mau duitnya ludes sama istrinya. Jadi ada beberapa income yang tidak dipaparkan,” kata Lisa di Jakarta, Senin (10/2). “Kini banyak pria punya usaha sampingan, itu kurang dibuka.”

Menurut Lisa, alasan lain suami tidak terus terang soal honor sampingan biasanya lantaran ingin menyimpan dana cadangan bagi keluarga bila ada keperluan mendesak. Hanya saja, keputusan menutupi gaji tentu punya ekses negatif terhadap keluarga. Pertama, jika honor sampingan itu ditutupi, suami bisa leluasa memakai uang tanpa kendali. Kedua, ketidaktransparan itu berpotensi mengganggu keharmonisan rumah tangga. Lisa—yang bersama Aidil Akbar mendirikan AFC Financial—sudah delapan tahun menggeluti profesi financial planner. Sebagai ibu dua anak yang sudah dewasa, Lisa fokus menangani klien wanita yang berperan sebagai ‘menteri keuangan’ keluarga.

Untuk menghindari benih percekcokan, pasangan hidup sebaiknya saling terbuka, meminjam judul lagu Dewi Yull dan Broery Marantika, ‘Jangan Ada Dusta di Antara Kita’. Poin ini yang coba ditekankan oleh Ahmad Gozali, pendiri lembaga konsultan independen Zelts Consulting dan penulis buku Habiskan Saja Gajimu (2013). Menurutnya, ada dua kategori sifat tertutup: melebih-lebihkan gaji atau mengurangi pendapatan riil. Siasat melebihkan rezeki biasanya muncul karena ego suami atau istri yang ingin tampil sebagai sumber pendapatan terbesar; sedangkan siasat mengurangi besaran gaji dipicu karena sang nyonya boros.

Tapi, sifat tertutup yang kedua ini punya dampak negatif karena belanja pria sering tak terkendali. “Sebaiknya tetap terbuka, kalau menutupi gaji nanti ada potensi masalah yang jauh lebih besar,” kata Gozali. Persoalan besar yang dimaksud ialah masalah ketidakpercayaan. Konflik ini bisa masuk lebih dalam pada hubungan pernikahan. Memang ada lelaki yang berupaya menutupi gajinya lantaran ingin saving dana buat orangtua kandungnya. Tapi, semestinya keterbukaan bisa menggerakkan hati istri untuk membantu suami mengirim uang kepada orangtua. “Cara seperti ini bakal jadi masalah, curiga. Bukankah lebih baik ajak istri (ikut) bantu? Si istri pun akan senang,” katanya. “Kalau suami merahasiakan, akhirnya dia yang pusing sendiri.”

Masalah finansial baginya timbul lantaran hubungan pernikahan yang tidak baik, komunikasi tak lagi asertif. Baik Lisa maupun Gozali pun berharap, keterusterangan wajib dijunjung dalam pernikahan dan manajemen keuangan pria. Dengan begitu, istri juga termotivasi mengelola keuangan suami dengan lebih bijak. Sebelum menikah kesepakatan ini sebaiknya sudah dibicarakan oleh pasangan sebelum melangkah ke jenjang berikutnya. Kerahasiaan terkadang memicu kebanyakan perempuan memilih menapaki karier sendiri, atau masuk ke bisnis jualan online agar punya uang dari hasil keringatnya.

Bagi Lisa, idealnya dana memang disimpan dalam satu wadah. Meskipun itu rekening istri, dalam pengelolaannya harus digabung. “Kecuali kalau suami sudah memiliki income yang cukup untuk meng-cover seluruh pengeluaran dan income dari istri tidak diperhitungkan dalam keuangan keluarga,” kata Lisa. □

Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 17 Februari 2014

Entri Populer

Penayangan bulan lalu