Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 November 2014

70 TAHUN PUTU WIJAYA

Perenungan Seorang Budayawan

Mas Putu, bagi saya, bukan sastrawan, aktor, dan sutradara. Beliau adalah budayawan.” –Butet Kartaredjasa, aktor

Oleh M. Tahir Saleh

TUBUH seniman besar ini tak lagi tegap. Dia berjalan perlahan ke panggung sambil dipapah putra lanangnya, Taksu Wijaya. Masih dengan topi baret putih dan kemeja batik, Putu Wijaya menampilkan salah satu monolognya berjudul Merdeka bagi hadirin yang datang pada peluncuran buku Bertolak dari yang Ada, Kumpulan Esai untuk Putu Wijaya 70 Tahun di Serambi Salihara, Jumat pekan lalu.

Putu dan Taksu, by Sarasvati
Saat bermonolog sembari duduk, suaranya masih lantang—tidak ditelan fisiknya yang lemah. Retorika, diksi, dan intonasinya begitu kuat seperti masa muda dulu, walau harus diakui agak terbata-bata dalam beberapa kalimat. Hadirin pun tersihir oleh penampilan sastrawan, aktor, pelukis, dramawan, dan sineas ini.

Merdeka ditulis pada 1981 di Jakarta, bercerita tentang seseorang bernama Merdeka yang ingin mewarisi segala apa yang dimiliki almarhum ayahnya. Bahkan Merdeka ingin mewarisi alat vital sang ayah yang terkenal berprinsip antikemubaziran. Merdeka adalah satu dari sekian banyak gubahan seniman asal Bali bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya ini. Monolog lain bertajuk Babi (1979), Iri (1978), Kalau Boleh Memilih Lagi (1978), Memek (2001), Pian (1979), dan Kemerdekaan (1995). Judul-judulnya pendek, isinya kadang di luar nalar, penuh kritik sosial, keterkejutan, cukup berani—terutama dalam pemilihan kata yang mampu disuguhkan dengan baik tanpa vulgar.

Bagi Putu, memasuki usia 70 tahun pada 11 April lalu merupakan titik balik untuk mengevaluasi apa yang telah dia karyakan selama ini. “Usia 70 tahun, saya harus membuat evaluasi,” katanya malam itu. Seluruh karyanya—dari teater, puisi, monolog, cerpen, hingga lukisan—berangkat dari dua prinsip: bertolak dari yang ada dan teror mental.

Malam itu Putu merayakan ulang tahun bersama para undangan dari berbagai kalangan. Perayaan ini bak penanda kelahiran kedua Putu setelah sebelumnya terserang sakit. Bukan hanya seniman Butet Kertaredjasa, Sapardi Djoko Damono, Ikranegara, Goenawan Mohamad, Seno Gumira Adjidarma, dan Iwan Abdurrahman yang datang; hadir pula Menteri BUMN Dahlan Iskan dan mantan Jaksa Agung Abdul Rachman Saleh. Putu mengundang pakar, seniman, pengamat, dan para sahabat untuk menulis esai. Sayang, buku yang disponsori oleh Djarum Foundation, Pentas Grafika, Salihara, dan Galeri Indonesia Kaya ini hanya dicetak dalam jumlah terbatas. Tidak dijual, hanya disumbangkan ke perpustakaan pusat-pusat kebudayaan. Selain peluncuran buku, acara ini juga diisi dengan pementasan tiga naskah karya Putu: Bila Malam Bertambah Malam, Hah, dan Jpret—oleh Teater Mandiri.

Dalam berkarya, hampir semua sejawatnya mengakui bahwa seniman pendiri Teater Mandiri ini pribadi yang fokus. Goenawan Mohamad, pendiri majalah Tempo, memandang Putu sebagai pribadi yang sangat cuek, cenderung tak peduli sekitar, tapi mampu fokus dan mencurahkan perhatian pada kerja kreatif. “Dia tak pernah berhenti mencipta, termasuk saat antre menunggu panggilan dokter,” kata Goenawan. Putu mengakuinya. Suatu ketika, saat masih menjadi wartawan Tempo, Putu bahkan tetap menulis meski ayahnya baru saja berpulang. “Ketika sedang menulis laporan tentang diskotek, kakak saya menelepon: ayah saya meninggal. Saya tunda air mata, saya andaikan tak ada yang terjadi. Setelah laporan selesai, saya baru pulang memasuki duka.”

Di mata Dahlan Iskan, Putu adalah senior yang pendiam, tapi produktif. Berkat Putu-lah, Dahlan tertarik nonton teater. “Sebagai wartawan pemula saya kagum, kok ada seniman Indonesia yang mendapat kesempatan mempelajari teater di New York. Pasti hebat dia!” kata Dahlan. Maka ketika berkesempatan ke New York, sasarannya menonton teater di Broadway. Saat Putu sakit, bekas Dirut PLN ini berusaha ikut mencari dokter terbaik agar sang seniman kembali pulih.

Aktor Butet Kertaredjasa pun bersyukur sastrawan-aktor-sutradara Putu Wijaya bukan sejenis calo minyak bumi yang berpenghasilan Rp300 miliar per hari. “Berapa tuh sebulannya? Setahunnya? Lha kalau sampai seorang Putu penghasilannya macam itu, sangat berbahaya saat mewujudkan kredo keseniannya.” Bila itu terjadi, properti teater bakal berganti menjadi tas jinjing Hermes, sepatu bermerek, dan aktor-aktornya mendadak bertubuh tambun karena timbunan lemak. Untung saja tidak, sebab bagi Butet yang dilakoni Putu adalah sebuah ikhtiar menyiapkan manusia yang bisa membaca dan berani mengoreksi diri, apakah sekadar manusia atau sudah menjadi manusia dalam arti sebenarnya. “Pada keberhasilan ini, Mas Putu, bagi saya, bukan sastrawan, aktor, dan sutradara. Beliau adalah budayawan.”

Iwan, by Republika
Lain lagi dengan Iwan Abdulrachman. Mantan personil grup Bimbo ini memandang Putu sebagai seniman dengan tingkatan atau maqom tinggi. Putu rela ke Bandung berboncengan naik Vespa tua dari Jakarta, menginap di emper Gedung Asia Afrika hanya untuk mewawancarai Iwan bersama grupnya yang tergabung dalam Pencinta Lagu Universitas Padjajaran. Putu jualah yang jauh-jauh datang ke tengah hutan di kaki Gunung Burangrang untuk menyambangi Iwan. “Jangankan hadir bertatap muka, baru ingat sosoknya saja, beliau sudah sangat memberi arti kepada saya.”

Malam itu, dua lagu dimainkan oleh Iwan untuk Putu. Dua tembang indah dengan petikan gitar, menandai sebuah perenungan usia 70 tahun. Semoga ini tak sekadar menjadi selamatan ulang tahun, tetapi menjadi titik kontemplasi juga bagi generasi muda karena gagasan dan pikiran Putu Wijaya berperan penting dalam proses berbudaya bangsa. “Jangan bersedih Mas Putu, hidupmu tak sia sia,” begitu Iwan menutup lagunya. □

Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 21 April 2014

BUKU: MENCURI HATI PELANGGAN

Buku ini menjawab pertanyaan mengapa ada perusahaan yang bisa menjual tiga kali lebih mahal, tapi justru menjadi rebutan pelanggan

Oleh M. Tahir Saleh

Hendrik Ronald memulai bukunya dengan cerita pengunduran dirinya sebagai manajer di bridal terbesar di Indonesia. Dia lalu kembali ke Pekanbaru untuk mengurus sebuah hotel tua berumur 25 tahun. Jauh sebelumnya, dia ingat pernah memukul kecoak dengan tangan karena saking banyaknya serangga di hotel uzur itu.

Tugasnya berat lantaran status tanah hotel juga bukan milik sendiri. Namun lima tahun kemudian, tekadnya ketika memimpin rapat perdana hotel itu menjadi kenyataan. Mereka meninggalkan hotel lama dan pindah ke hotel bintang tiga yang baru dengan suasana garden nan manis. Dalam dunia bisnis, katanya, ada dua tipe manajer: autocratic yang mementingkan hasil dan democratic yang mementingkan hubungan antarmanusia. “Dulu saya tipe autocratic. Saya tak peduli. Bila harus teriak, ya teriak, yang penting kerjaan selesai. Namun, hasil yang diinginkan ternyata tak datang dengan sendirinya,” tulis Hendrik.

Makin lama dia menyadari bahwa hanya lewat pendekatan manusialah hasil positif bisa datang. Dia pun belajar menjadi pengelola manusia yang baik. “Saya mulai membangun kultur dan hasil baik pun membanjiri. Kami punya 56 kamar di sana. Saat ramai kami bisa menolak sampai 200 kamar dalam sehari. Itu luar biasa karena biasanya menolak 20 kamar saja sudah hebat banget.”

Ternyata hal utama yang dia terapkan ialah bagaimana memberi pelayanan prima (service excellent) dan menjadi budaya. Hasil baik muncul bila kita lebih dulu melayani staf, atasan harus duluan melayani. Servis prima itu berdampak besar menguatkan bisnis—dan berpotensi menurunkan pamor pesaing. Itulah yang dituangkan dalam buku berjudul The Power of Service, Bagaimana Cara Menjual 3 Kali Lebih Mahal dan Pelanggan Justru Berebut terbitan Gramedia Pustaka Utama.

Layanan prima itu yang membedakan mengapa ada perusahaan obral harga malah ‘mati’ di pasaran. Sudah promo pontang-panting, tapi tak jua berhasil. Ada pula yang menjual dengan harga modal, tapi tetap saja sepi pembeli. Namun, ada bisnis yang memasarkan harga standar, bahkan tiga kali lipat lebih mahal, tapi justru menjadi rebutan pelanggan. Sebenarnya bagi pelanggan, faktornya bukan harga melainkan nilai atau value. “Pelanggan dengan senang hati akan membayar lebih asal mereka mendapat value yang sangat banyak. Value itu servis atau unsur manusia,” kata Hendrik.

Dalam buku setebal 309 halaman terbitan 2013 ini, Hendrik yang juga seorang certified firewalk & breakthrough instructor dari TDW Institute dan belajar dari pelatih ulung Tung Desem Waringin ini memaparkan lima bab: customer contact, service mindset, service design, service recovery, dan terbaik di dunia. Contoh-contoh dalam buku ini begitu sederhana, mudah dicerna, tapi menohok. Kekurangannya barangkali desain yang terlalu resmi dan kaku, ilustrasi yang hitam putih, serta ketiadaan indeks.

Pada bab customer contact, dia mencontohkan bagaimana seorang konsultan dipanggil membenahi perusahaan perkapalan dengan tingkat kesalahan supertinggi. Setelah dipelajari, dia mengusulkan mengubah nama panggilan karyawan, pekerja kasar yang biasa dipanggil “trucker” diubah menjadi “craftsman”, artinya kurang lebih orang yang punya keahlian tertentu. Hendrik heran mengapa banyak perusahaan melabeli karyawan baru dengan “trainee”, disuruh memakai baju putih, dan langsung diminta melayani tamu. Harapannya, kalau mereka membuat kesalahan tamu akan mahfum. “No! Kalau belum pantas, jangan disuruh menghadapi tamu. Tak perlu membuat mereka malu dan akhirnya menodai citra perusahaan,” kata pria yang belajar langsung dari Ron Kaufman, guru servis terbaik di dunia.

Contoh lain bagaimana seorang bapak dibuat malu karena membawa makanan sendiri untuk anaknya ketika makan di restoran. Si manajer restoran berpatokan pada standard operating procedure (SOP) yang justru seakan-akan menjadi alasan mengusir pelanggan. Jangan sampai ketidakmampuan dalam membuat SOP membuat pelanggan bak seorang kriminal. Banyak contoh riil, tapi dekat dengan keseharian yang menarik disimak: mulai dari perang harga, produk pamungkas, kesan pertama, hingga soal servis itu pilih kasih. Buku ini pun kaya dengan ilustrasi kartun satir yang menambah daya pikat dan membuat kita tak sadar senyum-senyum sendiri.

The Power of Service, Bagaimana Cara Menjual 3 Kali Lebih Mahal dan Pelanggan Justru Berebut, Oleh Hendrik Ronald, PT Gramedia Pustaka Utama, 2014

Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 31 Maret 2014

Jumat, 14 November 2014

BUKU: JURUS MEMIMPIN SI 'RAJA SEMEN'

Direktur Utama Semen Indonesia ini membagi pengalamannya mengatasi pelbagai tekanan. Hasilnya, lahir holding BUMN semen yang diklaim menjadi perusahaan semen terbesar di Asia Tenggara

Oleh M. Tahir Saleh

BUNUH Tresdi. Bunuh Dwi,” pekik sejumlah provokator yang menolak paket direksi baru PT Semen Padang. Teriakan ini disambut dukungan para karyawan Semen Padang usai mendengar pidato Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2003.

Momen perayaan yang digelar di kantor Semen Padang itu malah menjadi ajang demonstrasi penolakan direksi baru. Dwi yang dimaksud tak lain adalah Dwi Soetjipto, direktur litbang yang kemudian diangkat menjadi direktur utama melalui RUPSLB pada 12 Mei tahun itu. Adapun Tresdi atau Tresdi Arma ialah direktur produksi yang baru.

Kisruh itu makin memanas. Semen Padang menolak menjadi anak usaha PT Semen Gresik Tbk. (kini bernama PT Semen Indonesia Tbk.) dan meminta pemisahan diri. Sebagai perusahaan semen tertua di Indonesia (didirikan pada 1910) melekat perasaan ‘lebih tua dan enggan berada di bawah kendali Semen Gresikperusahaan semen yang diresmikan mendiang Presiden Soekarno pada Agustus 1957.

Kendati diangkat sebagai orang nomor satu di BUMN itu, Dwi ibarat public enemy di Padang. Dia diboikot tak boleh masuk ke kantor. Bersama tim, mereka terpaksa berkantor di Hotel Pangeran kamar 537, di pusat Kota Padang untuk menjalankan perusahaan. Strateginya merangkul para ‘pendemo’ akhirnya berhasil empat bulan kemudian. Dia mampu membalikkan keadaan dan merengkuh kepercayaan karyawan, meski sempat diremehkan. “Ini dirutnya penakut ya?” kritik seorang komisaris yang heran karena setelah demo tiga bulan tak ada yang dibawa ke polisi.

Kisah ini menjadi salah satu epos dalam Road to Semen Indonesia: Transformasi Korporasi Mengubah Konflik Menjadi Kekuatan yang ditulis oleh Dwi sendiri. Dia menuturkan pengalamannya hingga memimpin perusahaan induk (holding) semen BUMN, yakni Semen Indonesia. Buku terbitan Kompas pada 2014 ini tebalnya mencapai 318 halaman. Anda bisa membaca nukilan kisah tadi pada bab kedua.

Peluncuran buku ini digelar di Balai Kartini, Jakarta, pada 4 Februari. Selain Dwi, hadir pula sejumlah pembicara. Antara lain Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan, Kepala BKPM Mahendra Siregar, Direktur Utama Thang Long Cement Johan Samudra, Direktur Utama Bukit Asam Transpacifik Rudiantara, Direktur Pemasaran Semen Padang Benni Wendry, dan Direktur Keuangan Semen Gresik Sunardi Prionomurti.

Di depan hadirin, Dahlan memuji habis Dwi yang dianggap mampu menjalankan amanah dengan baik. Selain dikenal mahir bela diri silat, jebolan Doctor Strategic Management Universitas Indonesia ini ternyata pandai ‘bermain silat’ dalam memimpin perusahaan. Maksudnya, dia mampu menghindari segala tekanan saat berada di ‘kursi panas’. Tekanan datang dari segala penjuru: atasan, masyarakat, tokoh-tokoh, hingga politisi. Dengan kemampuannya tersebut, api yang berkobar selama membangun industri semen nasional bertaraf global akhirnya padam.

Tiga perusahaan semen yang kental dengan nuansa primordialismeSemen Padang, Semen Gresik, dan PT Semen Tonasa—akhirnya bertransformasi di bawah holding Semen Indonesia. Mereka tumbuh sebagai BUMN multinasional dengan mengakuisisi perusahaan semen Vietnam. “Inilah transformasi korporasi fenomenal yang dilakukan oleh Dwi Soetjipto, Direktur Utama Semen Gresik yang kini menjadi Semen Indonesia,” kata Dahlan dalam prakatanya.

Selain alur cerita menarik, Dwi juga mengutip kisah kejatuhan dan kisah sukses CEO atau perusahaan sebagai pelajaran bagi semua pucuk pimpinansiapa pun bisa belajar dari kegagalan dan keberhasilan. Cerita bangkrutnya Kodak akibat tak ada inovasi (hal. 108); kisah sukses transformasi IBM (hal. 150); dan cerita Ingar Skaug, CEO Wilhelmsen, perusahaan logistik terintegrasi terbesar di dunia (hal. 66) bisa menjadi ibrah. Buku ini pun dilengkapi daftar pustaka, galeri foto, dan indeks.

Teori-teori manajemen yang biasa dipakai untuk menganalisis sebelum mengambil keputusan juga menyempil dalam buku ini—meskipun ini terkesan kaku dan tampak seperti buku manajemen yang berat. Namun, secara garis besar buku ini mengisahkan perjalanan Dwi selama memimpin BUMN semendari Semen Padang hingga Semen Indonesia. Konflik dan tantangan kerap mewarnai perjuangannya membawa BUMN semen menjadi world class engineering company.

Ada dua jurus yang dia tekankan dalam memimpin perusahaan: sinergi dan inovasi. Sinergi itu baik dilakukan dengan tim yang dibentuk maupun dengan tim pendukung lain, sementara inovasi mutlak ditempuh kalau tidak mau ‘mati’. Seorang pemimpin tak bisa hanya sekadar duduk di kursi nyaman dan hangat, tapi harus berani menanggung risiko atas jabatan yang dipegang.

Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 17 Februari 2014

Kamis, 08 Maret 2012

The Brain Charger

Novel perdana Pizaro

KAWAN saya, Pizaro, akhirnya merilis novel perdananya “The Brain Charger”. Bisa dibilang lebih dari setahun dia menanti, sampai akhirnya dia memberi kabar bahwa bukunya sudah terbit.

“Novel gw dah terbit Her, cover-nya mantab,” begitu pesan singkatnya. Saya memintanya menginfokan di facebook, penasaran juga bagaimana wujud buku itu. Pizaro adalah kawan satu kampus, satu fakultas, dan satu jurusan Bimbingan Konseling di UIN Jakarta.

Kalau ingat masa-masa kampus, tertawa bersama, saling mengejek, kongkow, dan tentu diskusi di kosan yang penat dan sempit buat saya terharu sekaligus bangga dia bisa menjadi penulis muslim yang cukup brilian, meski ketika disanjung dia merendah diri. “Masih jauh kawan dan terus belajar,” katanya.

Sebelum beli bukunya di Islamic Book Fair 2012, simak dulu sinopsis berikut ini:

“Pasar Ciputat mendadak Ramai. Sebuah mayat mahasiswi terbaik ditemukan pada posisi mengenaskan. Satu petunjuk disisakan pelaku hanyalah tiga huruf bertuliskan ”MDR” dan angka 42. Seminggu kemudian, kampus Islam terbesar di Indonesia itu kembali dibuat geger. Ghefira Maylana Fasha, mahasiswa terbaik tahun 2006, ditemukan terbunuh. Di kaki kiri mahasiswi jurusan Kimia itu ditemukan tiga kata bertulis: Zweifel, Zweitracht, Zwitter. Ia terkubur di taman Fakultas Sains dan Teknologi yang didalamnya tertera relief Sudamanda, sebuah gambar ritual penyembahan Pagan pada era Dewi Isytar di Babilonia Kuno yang sarat dengan dunia numerologi.

Akan tetapi mahasiswa cantik memang banyak, tapi mahasiswi yang membedah kasus mutilasi dengan insting psikoanalisis hanyalah Anisatu Lexa Meteorika. Satu-satunya Mahasiswa ITB yang sengaja pindah ke kampus Islam hanya untuk membuktikan apakah Tuhan itu ada? Ironisnya, baru saja pindah ia sudah menjadi mahasiswa terbaik dan berkesimpulan Tuhan itu absurd. Ya persis seperti umpatan kaum Freudian pada umumnya. Baginya Tuhan,tuhan, dan TUHAN itu relatif. Mau ditaruh dimana saja huruf vokal itu tetap saja ilmu Tuhan adalah profan. “Tuhan sudah mati dan yang membunuhnya adalah kita,” kata Anisa menukil Nietszhe didepan mahasiswa Fakultas Dakwah yang menjadikan Sayyid Quthb sebagai idolanya.

Kasus mutilasi ini akhirnya mengundang sekolompok mahasiswa untuk memecahkannya. Mereka melihat jejak pembunuhan ternyata menyimpan sederetan kode-kode angka kuno yang menantang untuk dipecahkan. Mereka harus bertarung dengan waktu. Pelaku mengincar setiap mahasiswa terbaik di tiap tahunnya. Dan ironisnya, mereka adalah target seterusnya untuk dimutilasi. Padahal mereka belum juga usai melawan liberalisme pemikiran kampus demi mewujudkan sebuah cita: Membangun Peradaban!

Ya benturan peradaban yang akhirnya mempertemukan Anisatu Lexa sebagai mahasiswa liberal dengan Rizki yang begitu hanif. Jarak ideologi mereka bagaikan Madinah dan Argentina. Rizki adalah mahasiswa muslim yang begitu tawadhu sedangkan Anisa adalah dosen Psikologi pertama di kampus meski baru semester tiga.

“Bolehkah jika aku jatuh hati kepada seorang pria alim, baik, jujur? Kendati aku hanya sanggup berjilbab sebelum sampai garis finish: Tidak panjang, tidak lebar, terlebih longgar. Membiarkan poniku mencuri-curi keluar diterpa angin dan tidak ada manset mengelilingi gelangan tanganku,” ujar Anisa di dalam hati.

Selamatkah mereka dari incaran mutilasi? Betulkah kampus Islam adalah target mistisisme kuno di Indonesia? Apakah orang pintar mesti bahagia? Dikemas dengan bahasa mengalir dan mudah dicerna, novel ini akan membawa pembaca pada petualangan menegangkan dan sarat pengetahuan. Dari dunia numerologi, sains, psikologi hingga pergulatan cinta antara seorang hamba dengan TuhanNya. Dramatis. Menegangkan. Selamat menahan napas!

__Endorsment___

Serumit apapun suatu pemikiran, namun jika disajikan dalam bentuk novel, maka wacana itu akan lebih enak untuk dibaca. Novel The Brain Charger menunjukkan bagaimana kepiawaian penulisnya, bahkan bisa menjadi ikon bagi tren novel ilmiah seperti Roman Falasafi-nya Ibn Thufail. Saya terfikir suatu saat akan ada yang mengangkat novel ini ke layar lebar. (Prof. Abdul Mujib, Guru Besar Psikologi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Sebuah novel atraktif dan menarik. Pembaca tidak akan dibawa pada cerita melankolis dan picisan, melainkan pada dunia pemikiran yang menarik dan kritis. Penulisnya yang adalah juga alumni UIN Syarif Hidayatullah seolah sedang melakukan oto kritik terhadap kampus yang telah membesarkan dan memberikannya ilmu. Sayang sekali bila pembaca melewatkan untuk membacanya. (Tiar Anwar Peneliti INSISTS)

Novel yang cukup apik dan kreatif ini mengajak kita untuk masuk ke dalam dunia misteri yang penuh teka-teki dan sarat dengan pengetahuan. Menceritakan pencarian panjang seorang perempuan feminis keturunan Jepang namun ateis dalam menemukan kembali cinta dan Tuhannya. Novel ini merupakan bentuk kegelisan dari penulisnya atas fenomena sekulerisasi dan liberalisasi dalam dunia pendidikan akhir-akhir ini. Trimanto (Penasehat Forum Lingkar Pena Depok).

Selasa, 28 Oktober 2008

Info buku

Telah Terbit! (Beli sendiri ga boleh minjem)he2
THREE CUPS OF TEA
Greg Mortenson & David O. Relin
Hikmah 2008
666 hlm


Seorang pendaki gunung, Greg Mortenson, dibawa nasib ke pegunungan Karakoram yang gersang di Pakistan setelah gagal mendaki puncak K2, gunung tertinggi kedua di dunia. Tersentuh oleh keramahan penduduknya, dia berjanji untuk kembali dan membangun sebuah sekolah.

Three Cups of Tea berisi mengenai kisah pemenuhan janji tersebut, beserta hasilnya yang mencengangkan. Ya, selama satu dekade berikutnya, Mortenson telah membangun tak kurang dari lima puluh satu sekolah—terutama untuk anak-anak perempuan—di lingkar terluar daerah terlarang rezim Taliban. Kisahnya adalah sebuah petualangan seru sekaligus kesaksian akan kekuatan semangat kemanusiaan.

“Mencekam dan memesona, dengan penggambaran memikat baik tentang kekerasan maupun persahabatan yang terdengar mustahil. Buku ini akan menawan hati banyak pembaca.”
—Publishers Weekly

“Menggetarkan… bukti bahwa seorang biasa, dengan kombinasi karakter dan kemauan yang tepat, bisa benar-benar mengubah dunia.”
—Tom Brokaw, mantan penyiar NBC

“Misi Mortenson begitu menakjubkan, pendiriannya tak tergoyahkan, wilayah yang digarapnya begitu eksotis dan perhitungan waktunya pun tepat.”
—The Washington Post

“... mengandung amat banyak hal tentang kesalahan Amerika di Afghanistan.”
—The New York Review of Books

“Pembaca yang tertarik pada sudut pandang baru tentang kebudayaan serta usaha pembangunan di Asia Tengah akan menyukai cerita luar biasa tentang perintis kemanusiaan ini.”
—Booklist

Minggu, 30 Maret 2008

RESENSI BUKU Mereka Bilang, Saya Monyet

MEREKA BILANG ”elo” MONYET (siapa?)

karya Djenar Maesa Ayu, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002, 145 hal.
By taher heringguhir
Buku kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet ! (selanjutnya disingkat MBSM) adalah cerpen perdana Djenar Maesa Ayu (gue da pernah ketemu sih, yah orangnya cerdas, cantik ga kaya judul di atas, juga ngerokok) yang diterbitin sama PT.Gramedia Pustaka Utama.

Dalam buku ini Djenar nyajiin 11 cerpen (9 diantaranya udah dimuat di media cetak nasional ) dengan judul yang menarik pembacanya antara lain: Mereka Bilang, Saya Monyet !, Lintah, Durian, Melukis Jendela, SMS, Menepis Harapan, Waktu Nayla, Wong Asu, Namanya…, Asmoro, dan Manusya dan Dia. Kebanyakan dari 11 tema cerpen yang tertera, Djenar lebih banyak bercerita tentang hal ikhwal anak-anak remaja (sangat remaja) yang tidak bahagia dalam keluarga karena tak ada perhatian dari orang tuanya (yah klasik sih temanya, tentang kemunafikan, atau berkisar tentang pelecehan seksual oleh orang tua dalam keluarga dan lingkungan,[1] sekaligus Djenar mengekspos gimana respon atau pun ekses dari si korban pelecehan

Yang unik dalam ni cerpen (MBSM), orang-orang munafik digambarin kaya hewan aneh, simak deh:
kebutuhan saya untuk buang air kecil semakin mendesak. Saya mnegetuk pintu kamar mandi pelan-pelan, tidak ada jawaban tidak ada suara air dan tidak ada suara mengedan. Saya mendengar desahan tertahan. Desahan itu berangsur diam. Saya mengintip lewat lubang kunci bersaman dengan pintu dibuka dari dalam. Sepasang laki-laki dan perempuan keluar dari kamar mandi Yang laki-laki lantang memaki “dasar binatang! Dasar monyet ! Gak punya otak ngintip-ngintip orang!”. Seharusnya saya menghjar laki-laki berkepala buaya dan berekor kalajengking itu…”. (h.3)

Kreatif banget ide diksinya, gue ga tau deh dapet dari perjalana hidup dia sendiri atau orang lain. Yang jelas realitanya terkadang binatang jauh lebih ”manusiawi” dan manusia seringkali berkelakar layaknya ”binatang”, ini tesis yang gue tangkep. Saya” dalam cerpen ini dapat ngelepasin diri dan memberi perlawanan atas suasana kemunafikan yang ditemuinya. Menarik membaca cerpen ini karena dengan penghayatannya Djenar mampu ngegambarin sosok-sosok munafik yang sejatinya memang terhampar di depan mata kita. Kalo Djenar ga ngasih symbol karakter dalam cerpen MBSM mungkin cerpen ini ga akan dapat membangun komunikasi yang akrab dengan pembaca kali ya.

Selanjutnya Djenar mendedahkan kegetiran seorang remaja yang jadi korban kebuasan laki-laki pacar ibunya. Coba baca “Lintah” deh. Digambarin secara karikatural bahwasanya si ibu memelihara lintah yang berubah bentuk lalu membelah dirinya menjadi banyak ular, kemudian lintah itu berhubungan intim dengan sang ibu . Setelah itu lintah menggerayangi dan memperkosa si “saya”.

“ Ular itu menyergap, melucuti pakaian saya, menjalari satu persatu lekuk tubuh saya. Melumat tubuh saya yang belum berbulu dan bersusu, dan menari-nari di atasnya memuntahkan liur yang setiap tetesnya berubah menjadi lintah……” .(h.17)

Tema seks kembali dihadirkan Djenar dalam “Namanya…”, tokoh yang bernama “memek” merasa malu dengan namanya sehingga perasaan ini kemudian diluapkan dengan berbagai rencana yang tentu saja ga lepas dari namanya sendiri, ya menjual diri demi posisi yang diinginkan. “Tuhan tidak tidur……Tuhan pasti maklum”. (h.100)

Dalam dua judul cerpen di atas baik “Lintah” maupun “Namanya..”, tentu aja Djenar belum mampu ngelepasin diri dari trend “sastra telanjang” – meminjam istilah Damhuri Muhammad[2] - di mana menghadirkan sebuah paradoks bagi pembaca, satu sisi dapat “meresahkan” (bila dibaca oleh anak di bawah umur, gue adza ”puyeng”) sekaligus cerpen ini menjanjikan sebuah daya tarik dan “kenikmatan”. Tapi sayang juga sih, karena karena udah terlanjur gunain nama tokoh “memek” maka dengan sendirinya cerpen ini ga terlalu “menggigit” di akhir cerita (endingnya), karena udah kebaca. Jujur, gue agak risih juga baca judul ini, ga nyangka sebuah kata yang agak ”tabu” coba diakrabkan di telinga kita semua.

Trend sastra perempuan yang kian “bertelanjang” udah ngeguncang dunia kepenulisan kreatif (terutama penulisan prosa—cerpen dan novel) dan sekaligus jadi penanda muncul suatu genre sastra baru yang lebih “berani” dan “terbuka” buat “ngerangsang” minat dan apresiasi sastra pada umumnya. Ketelanjangan yang nyaris jadi mainstream dalam “Saman” dan “Larung”-nya Ayu Utami, Tujuh Musim Setahun-nya Clara Ng, Ode untuk Leopold-nya Dinar Rahayu, Swastika mya Maya Wulan (kenapa semuanya cewek ya?, waduh apa cewek lebih volak meneriakkan kelemahannya atau keperkasaannya kan wilayah seks?). Oleh karenanya sebagian pengamat sastra yang agak sentimentil justru memplesetkan estetika (cara ucap) baru tersebut menjadi estetika “saru” (jorok) karena tanpa malu-malu menggumbar kata-kata yang dulu dianggap tabu menjadi kata-kata yang ordinary saja.[3]

Yang juga menarik bagi gue pas ngebaca cerpen berbentuk SMS, unik, lucu, dan mungkin baru kali ini ada cerpenis yang memadukan kisah skandal percintaan (kisah yang biasa) melalui SMS yang tentu saja mirip dengan apa yang tertera di LCD HP/layar handphone, dilengkapi dengan nomor telepon dan waktu terkirim. Juga cerpen “Manusya dan Dia”, “Manusya” adalah gambaran emosi, nafsu yang cenderung memberontak dan liar, sedangkan “Dia” adalah hati nurani yang selalu mengontrol ke-ego-an manusia. “Manusya” selalu kesal dan ga senang dengan kehadiran “Dia” yang selalu ikut campur akan hedonisme yang dilakukan “Manusya”.

Pada cerpen “Durian” Djenar lalu melukiskan tokoh “Hyza” sebagai seorang korban dalam menafsiran imajinasi (mimpi). Dia sibuk antara keinginan memiliki “Durian” – yang berasal dari mimpinya - dan upaya nahan dirinya biar ga makan tu durian, kalo dia ngelanggar konsekuensinya ketiga anaknya bakal kena penyakit kusta. Dia menindas hasratnya sendiri, walaupun dia hanya nyimpan “Durian” dan ga memakannya tapi ini disebut kemunafikan juga sehingga tetep kena punishment; anak-anaknya terkena kusta.

Tema imajinasi juga tertera pada “Asmoro”, kisah pengarang yang kerasukan menulis, hingga ketika tulisannya akan berakhir, dia mengalami pergulatan antara berlama-lama dengan imajinasinya atau harus nyudahin cerita agar jadi sempurna. Namun “Asmoro” penuh dengan ungkapan-ungkapan yang berlebihan sih (hiperbola gitu), atau Djenar sengaja gunain kalimat hiperbola biar nekanin bahwa imajinasi adalah sesuatu yang ga ada batas (no limits)?.

Cerpen “Melukis Jendela”, tokohnya “Mayra” melukis wajah ayah dan ibunya karena ga pernah ngeliat ibu sekaligus ga pernah ngerasain kasih sayang ayah. Karena itu “Mayra” berproyeksi demikian, namun dia gagal lalu kemudian mencoba melukis jendela yang diharapin bisa jadi ventilasi kebebasan perasaan bahkan dia bisa melakukan balas dendam atas pelecehan seksual yang dilakuin sama teman-teman sekolahnya. Sekali lagi dia gagal, malahan karena terinspirasi lukisan jendela, dia ngambil tindakan nyata membebaskan diri dari kenyataan yang menghimpitnya, dia bunuh diri

“Mayra melukis jendela, ia masuk dan menemukan dirinya berada di sebuah taman indah yang penuh warna-warni. Dua anak perempuan kecil menghampiri dan tersenyum kepadanya…..mereka lebih mirip bidadari ketimbang anak manusia……Mayra menuntun mereka menuju pelangi emas bertahtakan mutiara…Seorang lelaki sudah menunggu di sana, merentangkan tangan untukmemeluk mereka, dan……Mayra tidak pernah kembali.”.(h.41)

Tema sosial antara lain kehidupan masyarakat, rumah tangga orang-orang golongan rendah, di mana rumah ga mampu lagi jadi tempat meneduhkan jiwa (homeless). Tema-tema kaya’ cerpen “Melukis Jendela” juga ditemuin dalam tema-tema cerpen yang terbit antara tahun 1950-1960 (60% tema sosial, 22% masalah moral, sisanya polotik, adat, perburuhan, dan pendidikan).[4] Dalam “Keluarga Gerilya “ Pramoedya Ananta Toer (alm.) juga nyeritain gimana sebuah rumah ga lagi jadi tempat penentram jiwa, tokohnya “sang ibu” mengalami kehilangan dalam rumahnya sendiri, anak laki-laki yang menjadi serdadu, lalu anak perempuannya yang dipermalukan, kemudian suaminya/sang ayah yang di bunuh oleh anaknya sendiri atas nama revolusi.[5]

Dua cerpen lagi adalah “Wong Asu” (anjing) – berbentuk monolog - dan “Waktu Nayla”. “Wong Asu” menegaskan betapa imajinasi cenderung bebas tanpa moral dan norma masyarakat kaya’ anjing “menggonggong” dan “menggigit” realitas yang munafik, dan kerena itu pengarang (tokoh “saya”) sering terpinggirkan kaya’ anjing (Wong Asu). Sedang dalam “Waktu Nayla” berkisah seputar kontemplasi mengenai waktu, perbedaan waktu berdasarkan alam dan waktu objektif (arloji). Tokohnya “Nayla” – nama yang sama Djenar gunakan pada cerpen “Menyusu Ayah/Suckling Fatherversi inggris dalam kumpulan cerpen “Jangan Main-Main Dengan Kelaminmu” - yang divonis terkena kanker berkata apa dia harus mencela atau bersyukur akan nasibnya.

”Manusia sudah menerima hukuman mati tanpa pernah tahu kapan hukuman mati ini akan dilaksanakan”.(h.70)

Bagi “Nayla yang lebih meresahkan bukanlah waktu objektifnya yang tinggal setahun lagi, tetapi terutama adalah waktu subjektif yang terlupakan.

“Nayla ingin menunda waktu. Nayla ingin menunda siang hingga tidak kunjung tiba malam ,Nayla ingin merampas bulan supaya matahari selalu bersinar. Nayla ingin menghantam palu ke arah jam sehingga suara alarmnya bungkam, Nayla ingin menunda kematian.(h.72).

Secara fisik buku ini bagus (dengan cover menarik bergambar pohon sari monyet dan Djenar sendiri). Namun secara substansi (intinya, isinya) seperti yang udah gue deskripsiin singkat di atas banyak mengalami kritikan dari pengamat sastra, ada yang mengatakan akan munculnya kembali estetika LEKRA (neo-lekra, newlek), ada juga yang men-cap sastra murahan – namun, menghadirkan adegan-adegan seks atau mengupas problema seks memang ga berarti sebuah karya bisa dicap murahan tentunya.

Dalam kritik sastra cerpen ini dapat dikategorikan dengan apa yang dikenal dengan istilah L’ecriture F’eminine (tulisan perempuan) Istilah yang biasa digunakan dalam arti yang lebih luas untuk menyebut karya tulis perempuan mengenai pandangan mereka tentang kondisi perempuan dalam masyarakat..[6] Yah pada tau kan kebayakan dari penulis-penulis tema seks ini adalah berkelamin, atau punya kelamin wanita (tau kan apa namanya?) uah aha jadi viktor gini.

Bila diperhatiin ragam bahasa lisan dalam kumpulan cerpen MBSM maka akan keliatan amat beda (baca: beda banget) ama novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy atau buku-buku prosa Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, (Mba Asma ini favorit gue cing, tulisannya dari hati banget), Izzatul Zannah, dan novelis atau cerpenis Islam lainnya. Yah memang ga bisa disamain coz genrenya juga beda.

Dengan hadirnya MBSM ini memang memperlihatkan terkembangnya layar “estetika baru” dalam khazanah sastra Indonesia kontemporer coz lahirnya sebuah karya sastra punya sejarahnya sendiri-sendiri dan tentu aja Djenar ga hanya mengekspresikan riwayat dan pengalaman hidupnya atau bagaimana ia “menjual” imajinasinya, tapi juga udah merepresentasikan carut-marut zamannya, zaman kita.

Terakhir buat nutup tulisan ini, gue kutip kata-kata Cak Nun:
”…..persoalan pertama dalam kesusastraan adalah apakah karyamu dan karyaku bagus atau tidak, persoalan kedua, ialah bagus atau tidak menurut apa/siapa. Artinya menurut ukuran apa, dan akhirnya siapa yang menilai [7]
DAFTAR PUSTAKA
Ø Ainun Najib, Emha, 1994. Terus Mencoba, Budaya Tanding. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.
Ø Husen, Ida Sundari, (Penyunting), 2001. Meretas Ranah (Bahasa, Semiotika, dan Budaya. Yogjakarta: Yayasan Bentang budaya
Ø Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa DEPDIKBUD, 1986. Tema Cerita Pendek Indonesia tahun 1950-1960. Jakarta: Sinar Kwitang
Ø Sarjono, Agus R, 2001. Sastra Dalam Empat Orba. Yogjakarta: Yayasan Bentang Budaya
Ø Toer, Pramoedya Ananta, 1950. Keluarga Gerilya, Jakarta: Yayasan Pembangunan.





[1] Tema yang sama, dapat dibaca dalam cerpen AA.Navis “Datangnya dan Perginya” di mana terjadi incest. Agus S Sarjono, Sastra dalam Empat Orba, (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 2001), Cet.ke-1, h.274
[2].www.cybersastra.net//Petualangan “sunyi” Perempuan Bersayap dan Bertanduk
[3] http://www.sinar-harapan.net/ Ketika Seks (lagi-lagi) Menjadi Bumbu Sastra
[4] Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa DEPDIKBUD, Tema Cerita Pendek Indonesia tahun 1950-1960, (Jakarta: Sinar Kwitang, 1986), H.62
[5] Pramoedya Ananta Toer, Keluarga Gerilya, (Jakarta: Yayasan Pembangunan, 1950).
[6] Ida Sundari Huse (Penyunting), Meretas Ranah (Bahasa, Semiotika, dan Budaya), (Yogjakarta: Yayasan Bentang budaya, 2001), h.449
[7] Emha.Ainun Najib, Terus Mencoba Budaya Tanding, (yogyakarta; Pustaka Pelajar, 1994), h.3

Entri Populer

Penayangan bulan lalu