Minggu, 28 Februari 2010

Wanita Aloplastis





(dedikasi untuk sahabatku)

Sebetulnya sudah sejak lama kami saling mengenal sebagai rekan kerja, hanya saja baru setahun terakhir kami ditempatkan di desk liputan yang sama. Keadaan ini lantas ‘memaksa’ kami harus saling terus berkomunikasi, sms, membangun relasi kerja sama apik, dan saling mengerti.

Setahun berlalu, penuh dengan keasyikan, curhat-curhatan, lawakan, keceriaan, dan kegalauan. Tak melulu ihwal pekerjaan, tapi rentetan kehidupan luas yang menyambut kami di tanah lapang.

Namun, setelah ia memutuskan akan pindah ke sebuah perusahaan baru, aku merasa begitu kehilangannya. Tak ada obrolan tentang kesemrautan persaingan karir reporter wanita di kantor, tak ada gibah tentang redaktur, tak ada cerita lagi tentang keceriaan anaknya, dan kepolosan rekan reporter media kompetitor kami.

Mau gimana lagi, rasanya sulit memang menahan kepergian seseorang ketika dirinya ingin mendapatkan kehidupan yang lebih sejahtera, memberikan kepastian atas jalannya hidup yang dijalani.

Jujur kuakui, aku salut dengan keputusan besarnya, keluar dari sebuah media ekonomi ternama. Orang mungkin akan berujar, “ngapain pindah ke tempat lain, di kantor ini kan gajinya gede?”, atau cibiran, “wah gaji di tempat lain lebih gede pasti ya?”.

Sah-sah saja demikian, asal ucapan itu tak mengganggu secara privasi dengan lebih tau ditel besaran gaji tempatnya yang baru. Harusnya terdengar ungkapan positif macam, “wah mantap kawan, semoga di tempat baru kamu lebih berkembang,” atau “Ga nyangka kamu bisa dipercaya oleh perusahaan baru itu.”

Aku salut lebih karena dia wanita dan seorang istri dan berhasil memutuskan keputusan besar dalam hidup, hal yang kadang kaum lelaki tak bisa melakukan dengan baik. Banyak lelaki, termasuk aku, kadang menjadi peragu ketika terpampang pilihan yang berat dalam hidup.

Kisahnya mengambil keputusan besar ini seakan membantah ungkapan Simone de Beavior, feminis Prancis, penulis buku The Second Sex, bahwa ketika wanita sudah menikah maka kebebasannya mengambil keputusan terenggut oleh dominasi lelaki. Perkawinan adalah aturan sosial yang gagal, kehidupan rumah tangga adalah kehidupan yang menjemukan dan menyebalkan, dan ungkapan negatif lainnya.

Itu akibat terkurungnya wanita dalam sebuah wilayah sempit yang tidak melebihi tugas-tugas rumah tangga, menjahit, memasak, dan mengurus anak. Ia memporakporandakan tesis dari istri secara polyamory (sepasang suami-istri memiliki lebih dari satu suami/istri ) dari sastrawan Prancis Jean Paul Sartre ini.

Aku tentu sepakat bahwa wanita bukanlah pelayan, ia adalah ibu generasi manusia. Dan ketika perkawinan terjadi, bukanlah wanita yang terkungkung dan tak bisa bebas mengambil keputusan hidup entah itu karir atau lainnya, tetapi wanita justru mampu mengembangkan dirinya. Aku tak setuju kesombongan lelaki menyebabkan wanita tak punya kekuatan untuk tumbuh sebagai dirinya sendiri.

Rekanku ini juga seakan membantah feminis Prancis lainnya, Annie Leclerc yang menganggap lelaki dalam dirinya menyimpan prestise tindak tanduk jaminan penindasan dengan tujuan meminggirkan wanita pada sebuah pengorbanan dan penyerahan diri. Memang kami, kaum lelaki sedominan itu dan tak bisa memberikan ruang luas bagi keputusan istri untuk mengembangkan karirnya? Susah menjawab ini karena aku juga belum menikah.

Membahas wanita dalam mengambil keputusan, aku jadi ingat ketika di kampus dulu, melihat obralan buku The Second Sex seharga Rp50.000 yang isinya memetakan bagaimana perlawanan kamu feminis atas dominasi lelaki padahal jika membandingkan dengan Islam, wanita bukan yang dipersepsikan wanita Eropa.“Suamiku mendukung aku kok untuk memilih apa yang terbaik,” begitu ujar rekanku ini sebagai antithesis Simone dan Anne, lucu memang mengkonter hal ini.

Akan tetapi satu pelajaran berharga bagiku bukan pada argumentasi kaum feminis di atas, tetapi bagaimana wanita ini, rekanku, bisa secara bebas, leluasa, tanpa paksaan, tanpa dikte suami, memutuskan hal yang terasa berat, ia mampu menembus tembok yang selama ini dianggap mengukungnya.

Memang, tak bisa dipungkiri dia keluar dari zona ‘nyaman’ menuju zona yang lebih ‘nyaman’ berikutnya, setidaknya itu baru persepsi awal. Entah di tempat barunya keadaan justru berbalik, semoga saja tidak karena meminjam istilah dalam psikologi sosial, ada istilah autoplastis dan aloplastis. Arti yang pertama manusia bisa mengubah diri sesuai dengan lingkungan, sementara yang kedua berarti mengubah lingkungan sesuai keadaan diri.

Sebagai sahabat, aku hanya berharap ia tak terkontaminasi dengan jabatan barunya. Jabatan baru penuh kekuasaan dan uang cenderung melemahkan manusia pada kerakusan dan kesombongan. Akan tetapi keadaan baru itu penuh dengan kompetisi sehat memungkinkan potensi diri terbuka lebih luas. Semoga kau tetap menjadi seperti yang dulu kawan…

28/2/10
Foto: mita binarti, gum moscow

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer

Penayangan bulan lalu