Minggu, 13 Maret 2016

Pesan dari Pendiri Detikcom


Oleh M Tahir Saleh

UNDANGAN itu datang dari Ratna, seorang teman yang menjadi peserta Banking Journalist Academy. Saya diminta hadir dalam inaugurasi kelulusannya, medio Desember tahun lalu. Pelatihan jurnalistik itu diinisiasi Bank Permata dan AJI Indonesia dengan dukungan Kedubes Australia. Mentornya Bang Hasudungan Sirait dan Mba Feby Siahaan, dua mantan jurnalis senior.

Saya kenal dengan Bang Has karena pernah menjadi anak didiknya, jadi sekalian ingin sowan dengan beliau. Tamu acara itu cukup banyak, selain beberapa pemred, redaktur, dan jurnalis, hadir pula perwakilan penyelenggara. Satu per satu memberikan sambutan, mulai dari perwakilan Bank Permata Julian Fong, Sekjen AJI Indonesia Arfi Bambani, hingga Minister Counselor Bidang Ekonomi Kedubes Australia Steven Barraclough.

Penyelenggara juga mengundang pembicara dari pelaku media. Kali ini mereka menghadirkan Budiono Darsono, salah satu pendiri situs berita online pertama di Indonesia, Detik.com.

Pak Bud bukan hanya pelopor situs berita online, melainkan juga seorang miliarder media setelah pengusaha Chairul Tanjung lewat CT Corp membeli 100% saham Detik pada Agustus 2011, nilainya ditaksir menembus US$60 juta atau setara dengan Rp512 miliar kurs saat itu.

Beruntung saya hadir malam itu karena berkesempatan menyimak presentasi Pak Bud yang menarik, singkat, padat, dan nakal. Presentasinya tidak begitu lama, mungkin kurang lebih 20 menit tapi komprehensif. Dia berbagi pandangannya tentang lanskap media dalam beberapa tahun ke depan.

Pak Bud amat cerdik menarik mata hadirin agar terus menyimak slide demi slide-nya. Saya sendiri tak bisa beralih. Meski uban sudah menjamur di rambutnya, tak kelihatan dia sudah berumur karena tampak masih energik dibalut t-shirt dan celana jeans. Dia mengungkapkan betapa cepat perkembangan internet, bagaimana internet sangat jeli membedakan informasi ketimbang platform lain.

Bahkan satu huruf pun bisa bermakna beda di internet. Contoh, situs Extrajoss dengan “S” dobel adalah situs resmi minuman energi buatan Bintang Toedjoe, tapi ketika mengetik Extrajos dengan satu “S”, terpampanglah situs porno yang untungnya sudah diblok. Hadirin pun tersenyum-senyum sendiri memandang deskripsi pada slide-nya.

Audiens, menurut dia adalah gabungan teknologi media dan data. Dalam arti, internet menjaring data sangat cepat. Jangan heran ketika kita membuka sebuah situs, misalnya, Bank Permata dari Google, ke mana pun kita menjelajah, iklan yang berkaitan dengan bank itu akan menguntit.

Menyoal masa depan media, menurut Pak Bud sebuah media mestinya bukan lagi berkutat pada konten, melainkan lebih dari itu, beyond content.

“Aset kita adalah audiens, media yang harus mengelola audiensnya. Mereka [audiens] adalah bisnis. Soal konten itu sudah final, jangan dibahas lagi,” tegasnya.

Artinya masalah konten sudah selesai—meski saya kurang sependapat soal ini karena banyak media online enggak beres kontennya. Sebab itu, media harus memahami audiens, para pembaca. Sampai kapan pun, katanya, media tetap ada dan tidak akan mati. Namun platform media yang akan berganti mengikuti perubahan zaman lantaran karakter audiens berubah.

Cepatnya penetrasi teknologi informasi mau tak mau memicu penyedia media massa merubah format dalam menyampaikan informasi kepada khalayak. Untuk memudahkan gambaran ini, dia berbagi bercerita soal cepatnya transformasi teknologi yang dirasakan awak Detik. Situs berita ini didirikan pada Juli 1998, dengan modal Rp40 juta, berkembang pesat sampai akhirnya diakuisisi Trans Corporation, anak perusahaan CT Corp.

(Pak Bud, sumber: pengusaha.co)
Pada awalnya Detik dibangun dengan niat menyajikan berita yang cepat, dengan gaya sederhana. Sampai kini gaya itu dipertahankan. Data Alexa per 24 Januari, Detik menjadi situs berita terpopuler di Tanah Air, masuk urutan nomor 6 di Indonesia dan 207 secara global--kendati Detik pernah gagal dalam format harian e-paper, Harian Detik. Dengan kesuksesan Detik yang memaparkan berita-berita yang kadang dipandang remeh tapi justru menarik pembaca, banyak media daring akhirnya mengikuti.

“Saya sebetulnya tak ingin media lain mengikuti gaya Detik,” kata Pak Bud.

Vivanews (kini viva.co.id), kata dia, awalnya punya visi sangat baik dengan menyediakan berita in-depth dan investigasi. Maklum, rerata punggawa Viva saat itu dari majalah Tempo. Sayangnya, kata Pak Bud, peringkat Viva kala itu tidak beranjak. Barangkali pembaca kurang tertarik atau tidak nyaman disuguhkan berita panjang lewat online.

Dirasa kurang sukses, gaya Viva—seperti kita baca sekarang—pun ikut arus dan tak jauh berbeda dengan Detik. Tapi strategi ini justru berhasil mengangkat peringkat Viva ketika itu meski peringkat Alexa saat ini Viva masih di urutan 36, kurang populer dibanding situs berita baru seperti Suara.com (21), Merdeka.com (32), atau situs jurnalisme warga: Kompasiana.com (25). Situs berita lain yang juga punya peringkat bagus yakni Liputan6.com (7), Kompas.com (10), dan Okezone.com (13).

Dari sisi pekerjaan, menurut Pak Bud, tekanan jurnalis saat ini bekerja 24 jam multitasking dan inspektor gadget. Berbeda dengan era sebelum smartphone hadir, jurnalis Detik malah bermodalnya koin telepon umum ketika terjun di lapangan, melaporkan berita dari balik bilik telepon umum.

“Tahun 1998, reporter bawa koin. Dapat berita langsung telpon. Jadi di kantor banyak yang sakit telinganya. Lalu berkembang, di kantor kami pakai handsfree.“

Kepraktisan dan efisiensi menjadi kunci di bisnis media daring. Itu sebabnya dengan peralihan zaman, dia justru heran mengapa ada media online yang masih mewajibkan jurnalis menyetor muka di kantor. Saat ini, 60% wartawan Detik bekerja di lapangan, tidak di kantor. Ke depan, persentasenya bisa 80% wartawan Detik tidak di kantor.

“Kalau sekarang, kita harus minta izin dulu kalau enggak masuk ke kantor. Nanti dibalik, kalau mau ke kantor justru kita harus minta izin dulu karena akan disiapkan meja dan sebagainya,” jelas Pak Bud.

Begitulah perubahan menjalar dalam sistem mobile office. Beberapa media masih setengah mempraktekan ini lantaran menghindari wartawan muda menjadi wartawan karbitan karena tulisannya masih belum rapi dan miskin isu jika tidak berdiskusi dengan redaktur di kantor.

Satu hal juga yang menarik dari presentasi Pak Bud ketika dia bilang:

“Saya ditanya , apakah masih bekerja mengurus redaksi? Saya sudah tidak urus lagi karena memang redaksi harus menyesuaikan dengan perubahan pembaca.”

Pesan yang saya tangkap, bahwa dengan usia yang sudah lebih senior (54 tahun), lebih baik regenerasi. Omongan Pak Bud mengingatkan saya pada presentasi seorang direktur sebuah perusahaan teknologi informasi. Dia menegaskan banyak perusahaan IT gagal mengikuti tren pasar karena tim riset dan pengembangan (litbang) sebagai motor ide justru diisi oleh orang-orang yang tua. Saya tidak mengatakan orang tua harus pensiun, tapi posisi anak muda untuk memahami tren pasar mestinya dikedepankan.

Mengakhiri presentasinya, Pak Bud menjelaskan tiga hal yang merubah budaya global: celana jeans, minuman Coca-Cola, dan web. Selain itu, dia juga memaparkan tiga hal yang bisa menghambat pertumbuhan media ke depan yakni Harmony Culture Error, Seniority Error, dan Old Nation Error. Tiga hal ini juga pernah dikemukakan seorang konsultan manajemen, Yodhia Antarika, dalam tulisannya berjudul “The Death of Samurai: Robohnya Sony, Panasonic, Sharp, Toshiba dan Sanyo”.

Penjelasan singkatnya, Harmony Culture Error lebih pada kebiasaan manajemen mementingkan konsensus sehingga membuat banyak perusahaan lamban mengambil keputusan, sementara kompetitor bergerak lebih cepat. Budaya menjaga harmoni ini menjadi tragedi di era digital lantaran ide-ide kreatif justru tak berkembang. Adapun Seniority Error lebih pada kebiasaan yang selalu mementingkan senioritas, sungkan pada atasan, sehingga inovasi pun terpendam.

Terakhir Old Nation Error, kebiasaan ini masih berhubungan dengan faktor kedua tadi. Banyak karyawan yang sudah bekerja puluhan tahun, menua, biasanya sudah dininabobokan zona nyaman yang pada akhirnya membuat mereka kurang peka dengan inovasi dan cepatnya perubahan. Itu sebabnya inovasi sulit menjadi nafas bagi perusahaan saat berkompetisi di era digital.

Pulang, dari Tere Liye

Oleh M Tahir Saleh

Novel ini gila, jangan tertipu judulnya.

SUDAH lama mendengar nama Tere Liye di dunia sastra, tapi belum pernah membaca novelnya. Hanya sekali saya menonton sebuah film layar lebar berjudul Hafalan Sholat Delisa yang diangkat dari buku Tere Liye dengan judul yang sama.

Suatu hari, istri saya membeli 10 buku, kebanyakan fiksi termasuk novel. Mungkin sedang kesurupan ingin membaca di rumah. Anda dua novel Tere Liye yang dia beli, Pulang dan Rindu. Novel Pulang dirilis pada September 2015, sedangkan Rindu sudah lama dirilis pada 2014. Semula saya belum tertarik, dari judulnya saja kurang menarik, bisa jadi ceritanya biasa saja.

“Bukunya bagus tau,” kata dia meyakinkan.

Keseringan dia bilang begitu, saya jadi ingin tahu, sebagus apa sih. Jangan-jangan dia aja yang lebay. Tapi setelah melihat dia menikmati betul, saya penasaran. Pulang menjadi incaran pertama. Butuh dua hari untuk melahap 400 halaman. Memang sudah banyak yang meresensi buku Tere, tapi tak apalah. Apa salahnya berbagi pendapat, siapa tahu saya bisa menulis seperti Tere Liye.

Tere memulai bab pertama buku ini dengan deskripsi suasana yang begitu menegangkan untuk sebuah buku berjudul sederhana, Pulang:

“Malam itu di tengah hujan lebat, di dasar rimba Sumatra yang berselimut lumut nan gelap, sesosok monster mengerikan telah mengambil rasa takutku. Tatapan matanya yang merah, dengus napasnya yang memburu, dan taringnya yang kemilau saat ditimpa cahaya petir telah membelah dadaku, mengeluarkan rasa gentar. Sejak saat itu, dua puluh tahun berlalu, aku tidak mengenal lagi rasa takut.”

Melihat judulnya, saya mengira novel ini mengambil tema perjalanan, tentang seseorang yang ingin kembali ke kampung halaman atau orang tuanya, kekasihnya atau siapa pun yang dikasihi. Apalagi sampulnya cantik, berwarna biru dengan motif seakan terkelupas, memperlihatkan ada sunrise, seperti novel romantis.

Tidak salah sih sepenuhnya, tema utama memang pulang, tapi bumbunya luar biasa: tauke, mafia, gangster, samurai, sniper, pertempuran, tukang pukul, tembak menembak, kesetiaan, pengkhianatan, dan shadow economy.

Buku ini bercerita tentang tokoh Bujang, seorang anak kampung di pedalaman Sumatra. Ayahnya, Samad, adalah tukang pukul kesohor di Keluarga Tong. Samad pensiun karena kakinya pincang setelah menyelamatkan bosnya. Bujang tak pernah makan bangku sekolah, ia hanya anak dusun yang dididik sendiri oleh Mamaknya, termasuk belajar agama meski ditentang Samad lantaran dendam masa lalu dengan mertuanya. Jalan hidup Bujang berubah.

Suatu ketika, mereka kedatangan Tauke Muda, sahabat Samad yang juga penerus bisnis Keluarga Tong usai Tauke Tua meninggal. Kedatangan Tauke Muda dan rombongannya saat itu ingin menangkap babi hutan yang mengganggu perkebunan warga. Dalam perburuan ini, Tauke mengajak Bujang bergabung, ajakan yang awalnya ditentang sang ibu. Tapi siapa sangka, meski usianya baru 15 tahun, Bujang menjadi penyelamat rombongan dalam perburuan yang mencekam itu. Dia melawan babi hutan raksana seberat sekitar 500 kilogram di hutam rimba, sendirian dengan tombak, sementara yang lain sudah tumbang.

Bab pertempuran dengan babi hutan ini diceritakan dengan ditel sangat mengagumkan. Dan ini menjadi kekuatan besar menarik pembaca:

“Aku menggigit bibir. Aku benar-benar sudah melupakan pesan Mamak.”

“Aku mencengkram tombak pemberian Bapak. Aku berdiri dengan kaki kokoh, menatap ke depan, dan bersitatap dengan monster mengerikan itu. Aku tidak punya pilihan lain, lari sia-sia saja.....”

Usai peristiwa mencekam itu, Bujang kemudian dijuluki “Si Babi Hutan”. Julukan yang terus dipakai hingga dia dewasa dan tumbuh besar di Keluarga Tong. Bujang lalu diajak ke kota, mengabdi pada Keluarga Tong seperti apa yang dilakukan ayahnya dulu.

Mamaknya sangat menentang kepergian Bujang, tapi karena didesak bujukan Samad, dengan berat hati Mamak melepas kepergian Bujang dengan memberi sebuah pesan yang akan menjadi janji hidupnya sampai dewasa.

Di Keuarga Tong, Bujang menjadi anak emas. Diberi guru privat, masuk universitas, hingga membawa gelar sarjana ekonomi dari Amerika. Jejaring bisnis Keluarga Tong juga menyebar hingga internasional. Bisnisnya ilegal tapi dibungkus dengan proyek legal seperti membangun hotel, apartemen, bahkan memiliki bank sendiri dengan uang dari bisnis hitam. Bujang juga dibekali berbagai ilmu beladiri sebagai bekal menjadi tukang jagal nomor satu. Spesialisasinya menyelesaikan konflik tingkat tinggi di keluarga besar shadow economy di Asia Pasifik.

Setelah membuat pembaca berdebaran pada bab-bab awal, bab berikutnya lebih menegangkan seperti menonton film action thriller: tembak menembak, pertempuran, konspirasi dan pengkhianatan. Meski begitu, sisi romantis novel ini tidak hilang dengan adanya bab yang menceritakan tentang kepergian Mamak dan surat terakhir ayah.

Pemilihan alur maju-mundur, menceritakan masa lalu dan masa sekarang juga membuat buku ini begitu mengasyikan, apalagi deskripsinya sangat kuat. Kelebihan lain novel ini ialah dialek kental melayu Sumatra. Kita seakan berada di dusun itu. Penggunaan diksi yang sederhana dan tidak membuai-buai seperti puisi juga memudahkan mencerna pesan. Beberapa kutipan juga menarik, bisa menohok perasaan kita dan memberi pesan mendalam tentang kehidupan:

“Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran.”

“Tapi sungguh, jangan dilawan semua hari-hari menyakitkan itu, Nak. Jangan pernah kau lawan. Karena kau pasti kalah. Mau semuak apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap terbit indah seperti yang kau lihat sekarang. Matahari akan tetap memenuhi janjinya, terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu. Kau keliru sekali jika berusaha melawannya, membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah.”

“Kau tau? Hidup ini sebenarnya perjalanan panjang, yang setiap harinya disaksikan oleh matahari...”

“Benarlah kata orang, meski semua hal itu adalah kenangan menyakitkan, kita baru merasa kehilangan setelah sesuatu itu benar-benar pergi, tidak akan mungkin kembali lagi.”

Dan kutipan ini membuat saya terharu:

“Sungguh, maafkan Bapak yang tidak pernah memelukmu sejak kau beranjak remaja, terlalu besar gengsi yang Bapak miliki untuk melakukannya. Juga maafkan Bapak yang tak pernah surat menyatakan rindu, terlalu tinggi ego yang Bapak tanam sehingga semua sudah terlanjur semakin sulit.”

Tampaknya Tere juga menghabiskan banyak waktu untuk meriset mafia, penembak jitu, pesawat jet, helikopter, dan shadow economy. Bagaimana Tere menggambarkan karakter seorang sniper, ditel pistolnya, tekniknya, cara hidup ninja dan sebagainya.

Dia juga meriset ditel beberapa wilayah di Filipina, Hong Kong, Makau, latar dari peristiwa yang dialami Bujang di luar negeri saat menyelesaikan konflik tingkat tinggi. Novel ini layak difilemkan. Kekurangan novel ini barangkali dari sisi adegan aksi, yang pada beberapa bagian masih agak dipaksakan. Mungkin karena standar saya agak tinggi untuk urusan beginian mengingat saya suka sekali film mata-mata dan thriller.

Bagi saya tokoh antagonis, yang berkhianat juga bisa terdeteksi. Kekurangan lainnya bisa jadi soal narkoba dan seks yang dihilangkan, tak ada cerita polisi, tidak ada keterlibatan pemburu cerita atau wartawan. Yang kurang sempurna juga dari novel ini barangkali percintaaan. Bumbu percintaan Bujang pada lawan jenis tampaknya memang benar-benar dihilangkan oleh Tere. Tapi terlepas dari itu, novel ini gila, seru, dan romantis.

“Sungguh, sejauh apa pun kehidupan menyesatkan, segelap apa pun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang.”


Sabtu, 08 Agustus 2015

HATI-HATI, NAMAMU DISANGKA TERORIS

Oleh M. Tahir Saleh

“SILAKAN ikut kami,” perintah seorang petugas imigrasi dengan suara tegas.

Saya hanya mengikuti mereka dari belakang. Baru beberapa menit sampai di bandara, saya harus menghadapi perlakukan tidak ramah dari petugas; digiring seperti “tersangka kejahatan” menuju ruangan khusus, menjadi sorotan penumpang lain, dengan alasan yang belum saya pahami sama sekali.

Ketika tiba dan diperiksa petugas Bandara Internasional Hong Kong beberapa menit yang lalu, saya memang agak lama diperiksa paspornya dibanding penumpang lain. Petugas membolak-balikkan paspor, melihat cap-cap imigrasi negara lain di paspor saya sambil bertanya tujuan dan akan tinggal di mana nantinya. Dengan sorot mata curiga, tiba-tiba dia memanggil beberapa petugas yang tengah siaga berdiri di pojok.

Saya akhirnya dibawa ke ruangan itu, bersama Mba Pris, rekan saya dari Jakarta.  Baru pertama kali ke negeri ini kok begini ya. Pikir saya dalam hati. Mba Pris juga tak mampu berbuat banyak meski dia sudah berusaha menjelaskan tujuan kami bertandang ke Hong Kong demi menghadiri suatu konferensi. Saat diinterogasi, ketahuanlah bahwa nama saya ternyata mirip dengan nama seseorang yang masuk dalam daftar pantauan petugas imigrasi Hong Kong, mungkin disangka teroris.

Di dalam ruangan, saya diberondong beberapa pertanyaan.

“Anda mau ke mana, tinggal di mana?

“Anda dari Singapura untuk tujuan apa?”

Belum puas dengan jawaban saya, kembali dia bertanya, apakah kenal dengan seseorang yang namanya sama dengan saya, orang tersebut dari Pakistan. Saya katakan tidak kenal. Selain nama Arab, wajah saya memang setengah Arab, setengah Flores. Tapi saya bukan teroris. Teroris adalah orang yang memakai kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik. Dalam USA Patriot Act, kitab teroris Amerika Serikat (AS), penekanan kekerasaan bisa dengan mengancam, mengintimidasi, menculik, membunuh, atau menentang kebijakan pemerintah. Lah, saya ini apa? Menuduh gampang dilakukan oleh orang-orang yang punya kuasa, apalagi didasari stereotip atau prasangka subjektif dan tidak tepat.

Dalam kasus ini, strereotip akan Islam dan terorisme. Kesan pertama, mereka melihat fisik, mulai nama, perawakan, kontur wajah, barang bawaan termasuk dokumen, hingga gerak-gerik mencurigakan. Belum lagi kalau paspor berisi cap imigrasi dari negara-negara yang disinggahi dalam waktu singkat, bisa juga jadi alasan. Kejadian lima tahun yang lalu itu menjadi bukti bahwa prasangka buruk atas orang Indonesia yang Islam belum hilang. Alasannya klise: keamanan nasional.

Nah berselang sekitar tiga tahun dari peristiwa tadi, saya kembali menyambangi Hong Kong, kali ini dari Shenzen, China. Dan lagi-lagi saya disangka teroris. Jika yang pertama saya dibantu pengundang, kali ini agak sulit karena saya hanya bersama salah satu wartawan dari Surabaya. Alasan interogasi masih sama, nama dan wajah saya mirip seseorang yang masuk daftar pantauan. Tapi teman saya ini beda lagi, dia diinterogasi karena petugas bingung dengan tempat lahirnya yang tercatat di paspor: Trenggalek.

“Di mana itu? Kata si pemeriksa setelah kami berdua digiring ke ruangan khusus. Si teman juga bingung menjelaskan wilayah kabupaten di Jawa Timur itu.

“Kalau Ponorogo saya tahu, coba tunjukkan di mana itu [Trenggalek],” perintah si petugas.

Duh sampai dua kali disangka teroris. Saya akhirnya membuka situs Interpol dan mengecek wanted persons. Bukan saya merasa sok penting, tapi ingin tahu saja, jangan-jangan namanya masuk radar.

Setelah mengecek, ternyata nama “Tahir” atau “Taher buanyak yang jadi wanted alias dicari polisi internasional dengan kasus variatif. Ada Tahir Mehmood, 42 tahun, orang Pakistan, diburu Interpol karena merampok. Lalu Tahir Shah, 51 tahun, dari Nepal, kasusnya konspirasi pembunuhan. Selain itu Tahir Nazir, 57 tahun, orang Pakistan, dikejar karena kasus pemerasan, kemudian Tahir Zarlykovich, 57 tahun, orang Kirgizstan, diuber lantaran kasus perdagangan manusia dan pembunuhan. Nama “Muhammad” lebih banyak lagi menjadi buruan Interpol.

**

Terlepas dari nama orang-orang itu yang melakukan kejahatan, stereotip akan orang Islam saat ini belum hilang walau peristiwa serangan bom 11 September 2001 sudah lewat. Justru sejak serangan yang meluluhlantakkan menara kembar World Trade Center di Manhattan, New York, ketakukan berlebihan terhadap Islam (termasuk nama dan muka-muka Arab) tetap tinggi.

Apalagi saat ini kelompok ekstrimis macam Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS)—yang mengedepankan kekesaran yang justru tidak mencerminkan ajaran Islam—kian merajalela. Bukan hanya AS sebagai salah satu negara dengan ketakutan berlebihan terhadap Islam, negara-negara lain—termasuk di Asia—pun sama dengan kadar apriori yang berbeda.

Di AS, pemerintah berpatokan pada dokumen pantauan teroris bernama Watchlisting Guidance yang dirilis pada 2013 oleh 19 agen federal Amerika, termasuk Central Intelligence Agency (CIA) dan Federal Bureau of Investigation (FBI). Tebalnya 166 halaman, berisi kriteria menempatkan seseorang masuk dalam daftar pantauan teroris dan larangan terbang.

World Socialist Web Site melaporkan bahwa pada 2003, pemerintahan George W. Bush sempat memasukkan ratusan ribu nama dalam database Terrorist Screening Center (TSC), yang dioperasikan FBI. Tapi pada 2013, AS memakai panduan baru yang kopian dokumennya berhasil dipublikasikan The Intercept pada Juli tahun lalu. (Ini link-nya: https://firstlook.org/theintercept/document/2014/07/23/march-2013-watchlisting guidance/.

The Intercept adalah publikasi daring yang diluncurkan pada Februari 2014 oleh First Look Media, media yang dikelola pendiri eBay, Pierre Omidyar. Situs ini juga mempublikasikan sejumlah dokumen rahasia yang dirilis Edward Snowden, mantan pekerja CIA dan kontraktor National Security Agency (NSA) yang membocorkan informasi program mata-mata rahasia Amerika.

Banyak dugaan, sumber dokumen Watchlisting dari Snowden. Tapi dokumen ini dinilai berbahaya. Mengapa? Karena seseorang bisa ditandai sebagai ancaman atau berpotensi mengganggu keamanan nasional dengan kriteria versi AS yang kurang valid dalam Watchlisting. Bahkan pada 2013, ada 468.749 orang masuk dalam daftar tersebut lalu diserahkan kepada National Counterterrorism Center. Persentase penolakan nama-nama tersebut hanya 1% dari rekomendasi.

Dokumen tersebut akan dikaji ulang setiap dua tahun sekali atau jika dibutuhkan. Pemerintah AS membagi dua kategori yakni “teroris dikenal” dan “tersangka teroris”. Kalau teroris dikenal itu sudah didakwa tindakan teroris, kriteria tersangka teroris berbeda lagi.

Orang yang diduga teroris adalah individu yang disangkakan terlibat rencana, persiapan, membantu kegiatan terorisme. Kriterianya: dianggap sebagai teroris oleh agensi lain—selain milik AS, terafiliasi dengan jaringan teroris global, fasilitator teroris (termasuk pemalsu dokumen, fasilitator perjalanan, pencucian uang, dan penyandang dana), simpatisan atau pendukung organisasi teroris.

Individu yang dituduh terlibat dengan organisasi teroris, lalu dibebaskan di pengadilan, juga masih potensial masuk daftar daftar, begitu pula keluarga dekatnya. Jika kriteria sesuai, seseorang akan digiring masuk daftar Terrorist Screening Database (TSDB) yang dibuat TSC. Padahal faktanya, dokumen itu tidak sempurna, banyak yang tak sesuai karena pengumpulan data kurang akurat.

Dengan kata lain, seseorang bisa dimasukkan dalam daftar hanya dengan kecurigaan bahwa dia mungkin terlibat. Padahal, perlu evaluasi kredibilitas sumber informasi. Verifikasi ini penting mengingat unggahan di media sosial pun tak luput dari perhatian. “[Kriteria itu] jelas mengejutkan dan luas, penuh dengan pengecualian dan pasti akan menjerat orang yang tidak bersalah,” kata Hina Shamsi, Direktur Keamanan Nasional di American Civil Liberties Union, seperti dikutip The Washington Post, 23 Juli 2014.

Kendati dikritik publik, otoritas National Counterterrorism Center, maju terus. “Dokumen pantauan ini sangat penting sebagai bagian dari pertahanan berlapis kami dalam melindungi AS dari serangan teroris di masa depan,” kata seorang pejabat lembaga itu.

Saya tidak tahu apakah Hong Kong memakai panduan seperti AS atau tidak. Tapi saya beruntung akhirnya masuk ke negeri itu, tidak ditolak seperti dialami dua orang WNI yang akan menjadi pembicara pada acara Tabligh Akbar di Hong Kong, pertengahan Maret lalu. South China Morning Post melaporkan, polisi setempat meningkatkan kewaspadaan karena selebaran bergambar ISIS beredar di kalangan buruh migran Indonesia pada gelaran Tabligh Akbar tersebut.

Kalau pun Hong Kong menerapkan panduan seperti AS, atau berbagi informasi, kriteria dalam dokumen itu tidak efektif. Dokumen Watchlisting dianggap tidak tepat, tak mampu menyapu ribuan orang sekaligus, bahkan gagal menangkap ancaman serius seperti pembom Boston Marathon, Tamerlan Tsarnaev. Malahan beberapa nama orang salah dimasukkan.

Wajar karena dalam lima tahun terakhir, lebih dari 1,5 juta orang ditambahkan dalam daftar. Jadi kesalahan memasukkan nama orang tak terelakkan. Beberapa orang bisa saja masuk dalam daftar itu dengan alasan yang sah—sesuai kriteria AS. Tapi pedoman tadi berpotensi memuat nama orang-orang yang tidak bersalah terjebak dalam daftar.

Imbasnya, dia akan tunduk pada pembatasan, misalnya ketika dia melancong ke negara lain. Saya berharap pengalaman ini tidak berulang bila suatu saat berkesempatan ke AS atau negara lain. Pengalaman ini barangkali kasuistik, tidak bisa digeneralisasi, jadi belum tentu dialami juga oleh penumpang Indonesia dengan nama Islam.


**

Kamis, 09 Juli 2015

PRAM VERSUS HAMKA

Oleh M. Tahir Saleh

SUATU ketika Pramoedya Ananta Toer tahu kalau sebentar lagi dia akan mendapat menantu seorang yang berbeda keyakinan agama. Putri sulungnya, Astuti, bakal menikah dengan Daniel Setiawan, seorang nonmuslim keturunan China.

Sastrawan yang menjadi kandidat peraih Nobel Sastra itu sesungguhnya tak mau mendapatkan menantu nonmuslim. “Saya tidak rela anak saya kawin dengan orang yang secara kultur dan agama berbeda,” kata Pram kepada Dr. Hoedaifah Koeddah, seperti terungkap dalam majalah Horizon terbitan Agustus 2006. Hoedaifah adalah dokter yang pernah mengobati Pram dan dikenal dekat dengan keluarga sastrawan dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) itu.

Karena tak setuju, penulis kelahiran Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925 itu, kemudian mengirim Astuti dan Daniel ke kediaman Haji Abdul Malik Karim Amrullah, sastrawan dan ulama besar yang dikenal dengan nama Hamka, akronim namanya. Pram dan Hamka sempat “berseteru” dalam kesusastraan ketika ideologi komunis berkembang di Indonesia.

Astuti dan Daniel lalu menuju rumah Hamka, waktu itu di Jalan Raden Fatah III Kebayoran Baru, dekat Masjid Agung Al-Azhar. Sesampainya di sana, Buya Hamka—panggilan Hamka—agak terkejut setelah tahu bahwa tamunya hari itu ialah Astuti, putri Pram. Perempuan itu menjelaskan maksud dan tujuan ke sana agar Daniel belajar Islam, ingin menjadi mualaf. Usai memahami maksud, calon menantu Pram langsung dibimbing membaca dua kalimat syahadat.

“Dalam pertemuan itu Ayah [Buya Hamka] tidak pernah menyinggung bagaimana sikap Pram terhadapnya beberapa waktu yang lalu. Benar-benar seperti tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua," kata Irfan Hamka, putra kelima Hamka, saat menceritakan peristiwa kedatangan Astuti dalam buku Ayah, Kisah Buya Hamka (terbitan April 2014).

Sikap Pram itu membuat Hoedaifah bertanya kepada Pram. Apa yang membuat tokoh Lekra itu berdamai dengan Hamka? “Masalah faham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki seiman. Saya lebih mantab mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam pada Hamka,” Pram menjelaskan.

Sebelumnya pada 1963, kedua sastrawan itu di mata publik, terutama sastrawan Indonesia, bersitegang. Pram, ketika itu baru berusia 38 tahun, melalui dua koran berbau komunis yakni Harian Rakjat dan Harian Bintang Timur, melancarkan serangan kepada Hamka. Lembaran Kebudayaan Bintang Timur, Lentera, yang diasuh Pram, memuat ulasan soal Hamka. Ketika itu novel Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dituding merupakan hasil plagiat dari novel berbahasa Arab Magdalena karangan Mustafa Luthfi al-Manfaluthi. Novel itu juga terjemahan dari Sous les Tilleuls karangan Jean-Baptiste Al-Phonse Karr, sastrawan Prancis. Penulis kritikan itu bukan Pram, melainkan Abdullah S.P—tapi banyak yang menduga itu Pram sendiri.

Diberitakan seperti itu, tak membuat Hamka membenci atau sebaliknya menabuh genderang perang dengan Pram. Padahal dalam sastra, plagiat adalah ihwal yang sangat memalukan. Tapi justru HB Jassin-lah yang berada di belakang Hamka. Sastrawan pengelola majalah Sastra itu memutuskan agar novel Magdalena asli diterbitkan supaya publik tahu bahwa Hamka bukan plagiat.

Pada saat itu friksi antara “seni sebagai seni” dan “seni untuk rakyat, politik sebagai panglima” saling beradu tajam. Benturan itu kemudian melahirkan Manifes Kebudayaan, kumpulan seniman yang menolak seni dijadikan alat politik, mereka di antaranya HB Jassin, Taufik Ismail, dan Trisno Sumardjo. Sejarah kemudian mencatat, gesekan itu menempatkan Lekra di posisi seniman kiri “melawan” Manifes Kebudayaan. Pram, tentu seperti kita ketahui, dedengdot Lekra, lembaga kebudayaan yang bukan resmi onderbouw PKI tapi dituduh berafiliasi dengan partai komunis.

Walaupun galak, Pram bukan sastrawan sembarangan. Ketika mengasuh Lentera, ia benar-benar membuat dunia sastra gempar. Meminjam kata-kata majalah Tempo, kalimat yang digunakan Pram kala itu “berani, agitatif, kalau tidak disebut kurang ajar”. Dalam hal karya, Pram merupakan salah satu pengarang yang amat produktif. Lebih dari 50 karya lahir dari otaknya. Karyanya diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Gubahan paling monumental yakni tetralogi Bumi Manusia yang bercerita tentang sejarah keterbentukan nasionalisme pada awal kebangkitan nasional. Empat judul novel tetralogi yang terbit dari 1980-1988—yang kemudian dilarang beredar oleh pemerintah saat itu—yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Saya masih punya PR membaca novel Rumah Kaca.

Begitu pula halnya dengan kreativitas seorang Hamka. Sebagai ulama dan sastrawan, ada sekitar 118 karya tulisan (artikel dan buku) yang dipublikasikan Ketua Majelis Ulama Indonesia pertama ini. Temanya mulai dari agama, filsafat sosial, tasawuf, roman, sejarah, tafsir Al-Quran, hingga otobiografi. Masterpiece-nya novel Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Dua-duanya sudah saya baca berikut juga menonton dua filem tersebut. Satu lagi magnum opus-nya yakni Tafsir Al-Alzhar yang dirampungkan saat dia ditahan rezim Soekarno pada 1964.

Ulama yang lahir di Maninjau, Sumatra Barat pada 1 Februari 1908 ini tak pernah merasa berkonfllik dengan Pram. “Aku sendiri sangat yakin, sesungguhnya Ayah [Buya] tidak sedikitpun merasa bermusuhan dengan Pramoedya,” kata Irfan Hamka.

Sama halnya ketika Hamka dijebloskan ke penjara oleh Soekarno selama dua tahun empat bulan karena dituduh subversif merencanakan pembunuhan presiden, Hamka tak dendam sekali pun. “Apa Buya tidak dendam kepada Soekarno yang telah menahan Buya sekian lama di penjara?” tanya orang-orang ketika Soekarno dalam suratnya meminta Hamka menjadi imam shalat jenazahnya bila kelak Sang Presiden wafat. “Hanya Allah yang mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Yang jelas, sampai ajalnya, dia [Soekarno] tetap seorang muslim. Kita wajib menyelenggarakan jenazahnya dengan baik,” kata Buya. “Saya tidak pernah dendam kepada orang yang menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa.”

Kini sudah 52 tahun peristiwa itu berlalu. Dua orang hebat sudah menemui Sang Khalik. Hamka meninggal pada Jum'at, 24 Juli 1981, dalam usia 73 tahun dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan, sedangkan Pram berpulang pada 30 April 2006 dalam usia 81 tahun dan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat.

Suatu kali saya pernah tidak sengaja melihat pusara Pram ketika berjalan menuju kantor dari Stasiun Karet. Tempat kerja saya saat itu diapit dua kuburan umum, TPU Karet Tengsin di sebelah kiri kantor dan sebelah kanan TPU Karet Bivak. Kuburan Pram rapi dengan rumput hijau yang juga tertata dengan baik. Tapi letak makamnya dekat dengan jalanan, sehingga pejalan kaki bisa dengan mudahnya bisa membaca nama di atas pusara hitam makam itu dari trotoar jalan: Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan. Keduanya sudah tiada, tapi warisan mereka memberi arti dalam dunia sastra Indonesia.

Entri Populer

Penayangan bulan lalu