Sabtu, 08 Agustus 2015

HATI-HATI, NAMAMU DISANGKA TERORIS

Oleh M. Tahir Saleh

“SILAKAN ikut kami,” perintah seorang petugas imigrasi dengan suara tegas. Saya hanya mengikuti mereka dari belakang. Baru beberapa menit sampai di bandara, saya harus menghadapi perlakukan tidak ramah dari petugas; digiring seperti “tersangka kejahatan” menuju ruangan khusus, menjadi sorotan penumpang lain, dengan alasan yang belum saya pahami sama sekali.

Ketika tiba dan diperiksa petugas Bandara Internasional Hong Kong beberapa menit yang lalu, saya memang agak lama diperiksa paspornya dibanding penumpang lain. Petugas membolak-balikkan paspor, melihat cap-cap imigrasi negara lain di paspor saya sambil bertanya tujuan dan akan tinggal di mana nantinya. Dengan sorot mata curiga, tiba-tiba dia memanggil beberapa petugas yang tengah siaga berdiri di pojok. Saya akhirnya dibawa ke ruangan itu, bersama Mba Pris, rekan saya dari Jakarta.

Baru pertama kali ke negeri ini kok begini ya. Pikir saya dalam hati. Mba Pris juga tak mampu berbuat banyak meski dia sudah berusaha menjelaskan tujuan kami bertandang ke Hong Kong demi menghadiri suatu konferensi. Saat diinterogasi, .................

lanjutan di Kompasiana:

Kamis, 09 Juli 2015

PRAM VERSUS HAMKA

Oleh M. Tahir Saleh

SUATU ketika Pramoedya Ananta Toer tahu kalau sebentar lagi dia akan mendapat menantu seorang yang berbeda keyakinan agama. Putri sulungnya, Astuti, bakal menikah dengan Daniel Setiawan, seorang nonmuslim keturunan China.

Sastrawan yang menjadi kandidat peraih Nobel Sastra itu sesungguhnya tak mau mendapatkan menantu nonmuslim. “Saya tidak rela anak saya kawin dengan orang yang secara kultur dan agama berbeda,” kata Pram kepada Dr. Hoedaifah Koeddah, seperti terungkap dalam majalah Horizon terbitan Agustus 2006. Hoedaifah adalah dokter yang pernah mengobati Pram dan dikenal dekat dengan keluarga sastrawan dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) itu.

Karena tak setuju, penulis kelahiran Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925 itu, kemudian mengirim Astuti dan Daniel ke kediaman Haji Abdul Malik Karim Amrullah, sastrawan dan ulama besar yang dikenal dengan nama Hamka, akronim namanya. Pram dan Hamka sempat “berseteru” dalam kesusastraan ketika ideologi komunis berkembang di Indonesia.

Astuti dan Daniel lalu menuju rumah Hamka, waktu itu di Jalan Raden Fatah III Kebayoran Baru, dekat Masjid Agung Al-Azhar. Sesampainya di sana, Buya Hamka—panggilan Hamka—agak terkejut setelah tahu bahwa tamunya hari itu ialah Astuti, putri Pram. Perempuan itu menjelaskan maksud dan tujuan ke sana agar Daniel belajar Islam, ingin menjadi mualaf. Usai memahami maksud, calon menantu Pram langsung dibimbing membaca dua kalimat syahadat.

“Dalam pertemuan itu Ayah [Buya Hamka] tidak pernah menyinggung bagaimana sikap Pram terhadapnya beberapa waktu yang lalu. Benar-benar seperti tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua," kata Irfan Hamka, putra kelima Hamka, saat menceritakan peristiwa kedatangan Astuti dalam buku Ayah, Kisah Buya Hamka (terbitan April 2014).

Sikap Pram itu membuat Hoedaifah bertanya kepada Pram. Apa yang membuat tokoh Lekra itu berdamai dengan Hamka? “Masalah faham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki seiman. Saya lebih mantab mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam pada Hamka,” Pram menjelaskan.

Sebelumnya pada 1963, kedua sastrawan itu di mata publik, terutama sastrawan Indonesia, bersitegang. Pram, ketika itu baru berusia 38 tahun, melalui dua koran berbau komunis yakni Harian Rakjat dan Harian Bintang Timur, melancarkan serangan kepada Hamka. Lembaran Kebudayaan Bintang Timur, Lentera, yang diasuh Pram, memuat ulasan soal Hamka. Ketika itu novel Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dituding merupakan hasil plagiat dari novel berbahasa Arab Magdalena karangan Mustafa Luthfi al-Manfaluthi. Novel itu juga terjemahan dari Sous les Tilleuls karangan Jean-Baptiste Al-Phonse Karr, sastrawan Prancis. Penulis kritikan itu bukan Pram, melainkan Abdullah S.P—tapi banyak yang menduga itu Pram sendiri.

Diberitakan seperti itu, tak membuat Hamka membenci atau sebaliknya menabuh genderang perang dengan Pram. Padahal dalam sastra, plagiat adalah ihwal yang sangat memalukan. Tapi justru HB Jassin-lah yang berada di belakang Hamka. Sastrawan pengelola majalah Sastra itu memutuskan agar novel Magdalena asli diterbitkan supaya publik tahu bahwa Hamka bukan plagiat.

Pada saat itu friksi antara “seni sebagai seni” dan “seni untuk rakyat, politik sebagai panglima” saling beradu tajam. Benturan itu kemudian melahirkan Manifes Kebudayaan, kumpulan seniman yang menolak seni dijadikan alat politik, mereka di antaranya HB Jassin, Taufik Ismail, dan Trisno Sumardjo. Sejarah kemudian mencatat, gesekan itu menempatkan Lekra di posisi seniman kiri “melawan” Manifes Kebudayaan. Pram, tentu seperti kita ketahui, dedengdot Lekra, lembaga kebudayaan yang bukan resmi onderbouw PKI tapi dituduh berafiliasi dengan partai komunis.

Walaupun galak, Pram bukan sastrawan sembarangan. Ketika mengasuh Lentera, ia benar-benar membuat dunia sastra gempar. Meminjam kata-kata majalah Tempo, kalimat yang digunakan Pram kala itu “berani, agitatif, kalau tidak disebut kurang ajar”. Dalam hal karya, Pram merupakan salah satu pengarang yang amat produktif. Lebih dari 50 karya lahir dari otaknya. Karyanya diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Gubahan paling monumental yakni tetralogi Bumi Manusia yang bercerita tentang sejarah keterbentukan nasionalisme pada awal kebangkitan nasional. Empat judul novel tetralogi yang terbit dari 1980-1988—yang kemudian dilarang beredar oleh pemerintah saat itu—yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Saya masih punya PR membaca novel Rumah Kaca.

Begitu pula halnya dengan kreativitas seorang Hamka. Sebagai ulama dan sastrawan, ada sekitar 118 karya tulisan (artikel dan buku) yang dipublikasikan Ketua Majelis Ulama Indonesia pertama ini. Temanya mulai dari agama, filsafat sosial, tasawuf, roman, sejarah, tafsir Al-Quran, hingga otobiografi. Masterpiece-nya novel Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Dua-duanya sudah saya baca berikut juga menonton dua filem tersebut. Satu lagi magnum opus-nya yakni Tafsir Al-Alzhar yang dirampungkan saat dia ditahan rezim Soekarno pada 1964.

Ulama yang lahir di Maninjau, Sumatra Barat pada 1 Februari 1908 ini tak pernah merasa berkonfllik dengan Pram. “Aku sendiri sangat yakin, sesungguhnya Ayah [Buya] tidak sedikitpun merasa bermusuhan dengan Pramoedya,” kata Irfan Hamka.

Sama halnya ketika Hamka dijebloskan ke penjara oleh Soekarno selama dua tahun empat bulan karena dituduh subversif merencanakan pembunuhan presiden, Hamka tak dendam sekali pun. “Apa Buya tidak dendam kepada Soekarno yang telah menahan Buya sekian lama di penjara?” tanya orang-orang ketika Soekarno dalam suratnya meminta Hamka menjadi imam shalat jenazahnya bila kelak Sang Presiden wafat. “Hanya Allah yang mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Yang jelas, sampai ajalnya, dia [Soekarno] tetap seorang muslim. Kita wajib menyelenggarakan jenazahnya dengan baik,” kata Buya. “Saya tidak pernah dendam kepada orang yang menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa.”

Kini sudah 52 tahun peristiwa itu berlalu. Dua orang hebat sudah menemui Sang Khalik. Hamka meninggal pada Jum'at, 24 Juli 1981, dalam usia 73 tahun dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan, sedangkan Pram berpulang pada 30 April 2006 dalam usia 81 tahun dan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat.

Suatu kali saya pernah tidak sengaja melihat pusara Pram ketika berjalan menuju kantor dari Stasiun Karet. Tempat kerja saya saat itu diapit dua kuburan umum, TPU Karet Tengsin di sebelah kiri kantor dan sebelah kanan TPU Karet Bivak. Kuburan Pram rapi dengan rumput hijau yang juga tertata dengan baik. Tapi letak makamnya dekat dengan jalanan, sehingga pejalan kaki bisa dengan mudahnya bisa membaca nama di atas pusara hitam makam itu dari trotoar jalan: Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan. Keduanya sudah tiada, tapi warisan mereka memberi arti dalam dunia sastra Indonesia.

Minggu, 14 Juni 2015

BINGUNG1

gambar, putihkucing.blogspot

KADANG-KADANG saya menggumam sendiri: bisa enggak sih saya menjadi penulis, tapi apa yang mau ditulis? Fiksi, nonfiksi, atau apa? Pernah suatu kali saya mau menulis sebuah novel. Ada mungkin sekitar 1.500 karakter sudah saya ketik di laptop, temanya soal cinta..hahaah..tapi kok buntu ya, apa karena saya sudah tak mungkin lagi jatuh cinta untuk yang kedua kali?

Tapi sudahlah, lupakan. Saya akhirnya berhenti menulis tentang cinta, karena tadi itu, saya khawatir kurang mendalami. Barangkali saya bukan seorang pujangga yang pandai merangkai kata, kata Base Jam. Persoalan cinta memang tak mudah diutarakan dengan kata-kata. Maka hebatlah para novelis yang mampu membuat saya terpana, terharu membaca novel mereka, puisi-puisi mereka. Itu yang membuat saya ingin jatuh cinta lagi.

“Setiap hembusan angin membawa harumanmu
Untukku
Setiap kicauan burung mendendangkan namamu
untukku
Setiap mimpi yang hadir membawa wajahmu
untukku
Aku milikmu, aku milikmu
jauh maupun dekat
Dukamu adalah dukaku
seluruhnya milikku
di manapun ia tertambat.”

Gila ini lirik yang ditulis seorang sufi Persia, Hakim Nizami Ganjavi dalam kisah kesohor Laila Majnun.

“Bukankah suatu kegilaan bila kita terbakar selamanya
dalam nyalaan api?
Bukankah suatu kegilaan jika tidak makan dan tidur sedikitpun?
Semakin obat dicari
semakin parah sakitnya
Begitu dekat, namun terasa begitu jauh.”

Saya kadang ingin sekali mengumbar kata-kata asmara sampai tandas seperti Nizami itu. Saya mencoba, misalnya, ‘Ah! Hatiku tak mau memberi...Mampus kau dikoyak-koyak sepi.” Eh ini sajaknya Chairil Anwar. Ah, saya memang tak berbakat menulis novel atau puisi.

“Jika kau tak memberiku hati, berilah nafas ini untuk mencinta”...apa sih...**^^&%*$&...Kayaknya saya kok kurang romantis yah, kurang pintar melumat kalimat asmara seperti kepintaran Habiburrahman El Shirazy menulis novel Ayat-Ayat Cinta.

“Wahai orang yang lembut hatinya, Anggaplah saat ini Aku sedang mencium kedua telapak kakimu, dengan air mata haruku.” Dahsyat ini.


Oke, saya belum sampai ke tahap itu. Lebih tepatnya belum berani memulai. Baiklah, saya berusaha mencoba tema baru. Saya mau menulis tentang perjalanan hidup.

Nama saya Tahir, umur sekian, lahir tanggal sekian, asal Flores.

Bla....bla..
Bla.. bla....Duh garing banget.

Kayaknya terlalu berlebihan, memangnya saya ini siapa. Dan siapa yang mau mengorbankan waktu yang berharga mereka untuk membaca perjalanan hidup saya? Saya cuma butiran debu, cuma riak kecil ombak. Apakah menarik perjalanan hidup saya bagi orang lain? Barangkali menarik, tapi apa? Di situ kadang saya merasa sedih..loh.

Baiklah, saya akan menulis tentang perusahaan tempat saya bekerja. Tapi nanti sajalah. Semua orang punya kisah masing-masing, kenangan-kenangan. Lalu apa yang menarik dari kisahku? Jadi saya benar-benar bingung tema apa yang bisa saya tulis.

Jumat, 24 April 2015

MENCARI AMAN DI DUNIA MAYA

Ilustrasi, by wpchannel
Oleh M. Tahir Saleh

“DANA nasabah Rp30 miliar dibobol.” Begitu bunyi berita utama sebuah koran nasional di Jakarta pada Kamis pekan lalu. Para pelaku diduga sindikat peretas (hacker) internasional yang berbasis di Ukraina. Mereka membobol 300 rekening nasabah tiga bank besar di Indonesia lewat internet banking. Modusnya menyebarkan perangkat lunak perusak sistem komputer atau malicious software (malware). Kasus tersebut kini ditangani Badan Reserse Kriminal Mabes Polri.

Tak hanya perusahaan di Indonesia, lembaga keuangan global juga tak luput dari usaha peretasan. Awal tahun ini, sempat terungkap bagaimana sepak terjang Carbanak, geng kriminal berisi orang-orang Rusia, Ukraina, dan China, yang membobol sekitar 100 lembaga keuangan di 30 negara sejak 2013. Tak tanggung-tanggung, Bloomberg mencatat, uang yang mereka gondol menembus US$1 miliar atau sekitar Rp12 triliun dalam dua tahun beroperasi.

Kejahatan dunia maya atau cybercrime yang dilakukan para hacker seperti itu adalah masalah yang terus-terusan muncul. Seiring dengan kecanggihan teknologi, para hacker pun tak kalah cerdik memanfaatkan celah sistem keamanan dunia maya.

Dua pekan sebelum kejadian di Jakarta tersebut, Fortinet, perusahaan global dalam solusi keamanan dunia maya, menggelar konferensi internasional soal cybersecurity di Seoul, Korea Selatan, selama hampir sepekan. Bloomberg Businessweek Indonesia berkesempatan hadir dalam acara tersebut guna mengetahui bagaimana perusahaan-perusahaan, khususnya di Asia-Pasifik, mengantisipasi serangan kejahatan dunia maya. Beberapa klien Fortinet seperti National Institute of Education Singapore dan Oakwood juga diundang untuk berbicara.

Fortinet juga bekerja sama dengan lembaga riset Frost & Sullivan untuk menghimpun informasi dan data soal kejahatan virtual. Hasilnya, tren serangan dunia maya makin marak. Peretas juga makin “cerdik” dan sudah tahu model bisnis perusahaan yang diincar. Lembaga riset itu mencatat, pada Desember 2014, fasilitas operasi nuklir di Korea Selatan dibobol. Serangan cyber di Jepang juga naik dengan menyasar kerentanan perangkat lunak. “Perusakan situs paling umum terjadi, diperkirakan 295.000 situs dirusak pada 2014,” kata Edison Yu, direktur untuk ICT Practice Frost & Sullivan Asia Pasifik, di Seoul.

Dengan fakta ini, serangan para hacker sebagaimana terjadi di dunia tak luput menjadi perhatian Fortinet. Menurut Country Manager Fortinet Indonesia Jeremy Andreas, peningkatan tren serangan peretas tak terelakkan dan makin berbahaya. Akibatnya, risiko baik finansial maupun reputasi bagi perusahaan menjadi tinggi karena pembobolan data perusahaan yang bersifat rahasia.

Gejala serangan yang kini marak terjadi ialah advanced persistent threat atau APT. Ancaman ini muncul seiring maraknya tren perangkat mobile dan smart-device pekerja yang terhubung dengan jaringan teknologi informasi (TI) perusahaan.

APT adalah serangan jaringan yang bertujuan mencuri data dari perusahaan tempat jaringan tersebut berada. Lazimnya, serangan APT membidik perusahaan seperti jasa keuangan, lembaga pertahanan, dan manufaktur yang punya informasi penting. Parahnya, APT sulit terdeteksi oleh antivirus. Kecanggihan serangan ini juga berkaitan dengan tujuan para peretas. “Dahulu para hacker ingin eksistensi, sekarang arahnya mengeruk keuntungan finansial dari serangan APT itu,” kata Glen Francis, Vice President IT Management  Association (ITMA), asosiasi TI di Singapura. “Di negara kami, hampir semua [organisasi] memakai sistem keamanan,” kata Glen yang mengestimasi bujet terendah untuk keamanan cyber antara 5-10% dari bujet TI perusahaan yang berkisar US$10 juta.

Lubang serangan juga makin menganga karena fragmentasi kelompok APT kian besar sehingga ada potensi bakal lebih banyak lagi perusahaan yang diserang. Bank-bank juga kini dibidik secara langsung. Bahkan, para hacker diprediksi memanfaatkan layanan komputasi awan (cloud) untuk mentransfer data dari komputer secara ilegal.

George Chang, by Fortinet
Fortinet menyadari serangan APT tersebut dan meluncurkan program ATP atau Advanced Threat Protection. Awal April ini, perusahaan yang berbasis di California, Amerika, ini juga merilis framework keamanan terbaru memakai platform teknologi ketiga. “Kami membedakan diri dalam pasar dengan memberi jasa konsultasi strategis yang tidak diberikan vendor lain,” kata George Chang, Vice President Fortinet untuk Asia Tenggara dan Hong Kong.

Tahun lalu, perusahaan yang didirikan oleh Ken Xie ini mencatatkan kinerja cukup baik sejak didirikan pada 2000. Fortinet mencatatkan pendapatan US$770 juta, melesat dari 2003 yang hanya US$13 juta. Saat ini Fortinet terbesar ketiga di dunia dengan market share 7,34% setelah Cisco (Sourcefire) 17,77%, dan Check Point 12,97%. Pesaing lain, yakni PAN, McAfee (Stonesoft), dan Juniper. Di Indonesia, mereka ada di urutan ketiga dengan market share 13,6%. Beberapa klien global mereka di antaranya Oracle, Coca Cola, Yahoo Japan, IBM, Microsoft, Apple, dan Salesforce.

Di tengah ancaman serangan tersebut, Derek Manky, Global Security Strategist Fortinet, mengatakan pihaknya juga bekerja sama lembaga keamanan di antaranya dengan MyCERT (Malaysia Computer Emergency Response Team), Interpol, dan San Francisco Electronic Crimes Task Force guna memitigasi ancaman.

Fortinet tetap mengimbau agar perusahaan memperhatikan betul soal cybersecurity ini. Apalagi, keamanan data telah berkembang pesat tak hanya perlindungan perimeter, tapi juga mencakup upaya penanggulangan malware yang kadung menyusup dan mengakar di jaringan TI perusahaan.

Di Indonesia, beberapa sektor seperti perbankan sudah menyadari serangan virtual. Tapi, kepatuhan perbankan juga didorong oleh regulasi Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia. Namun umumnya, perusahaan nasional baru sebatas mengandalkan software keamanan yang ditanamkan pada server, padahal mestinya dibuat sistem berlapis yang diperbarui secara berkala. “Tapi kami optimistis, dengan sosialisasi berkelanjutan, kesadaran perusahaan soal ini akan meningkat. Kalau di pasar modal sih hampir semua perusahaa efek mengerti,” kata Jeremy.

Selain minimnya kesadaran perusahaan, satu hal yang juga disayangkan ialah infrastruktur TI di Indonesia yang belum
sepenuhnya mendukung, terutama bandwidth. Edison dari Frost & Sullivan menambahkan langkah pencegahan serangan ialah memakai pendekatan teknologi holistik dan integrasi serta keahlian sumber daya manusia (SDM). Eric Chan, Solution Consulting Director Fortinet untuk Asia Tenggara, juga menekankan soal ini mengingat banyak perusahaan berskala global—seperti Adobe, Sony Picture, dan jaringan peritel Target—tak luput dari serangan. “Tentu peran SDM penting karena berkaitan juga dengan integritas,” kata Eric. 


Tulisan ini terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, edisi 20 April 2015

Entri Populer

Penayangan bulan lalu