Jumat, 15 Agustus 2014

Lahan Kartunis Tak Pernah Habis

'
Karikatur Jitet Kompas berjudul "Asing"
raih Karikatur Adinegoro 2011
Derasnya teknologi informasi membuat kartun Indonesia di media cetak menyusut. Seniman kartun dituntut tahan banting dan kreatif membaca zaman.

Oleh M. Tahir Saleh

WAJAH Jitet Kustana mengerut. Kartunis senior harian Kompas itu tak menyangka bakal menghadapi tugas berat saat harus menggambar ilustrasi tentang isu sensitif di halaman koran terbitan esok hari.

“Ini bener temanya sunat perempuan?” tanya Jitet kepada bosnya. “Bener, kowe gawean sana, deadline jam dua,” kata si bos dari seberang telepon dengan logat Jawa kental.

Bagi kartunis kelahiran Semarang 4 Januari 1967 ini, tak ada masalah dengan gambar. Problemnya adalah tema yang sensitif. Sulit mencari ide berkaitan dengan suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA. Apalagi, hal tersebut tabu serta rentan konflik. Alhasil, dia pun memutar otak sambil mengumpulkan data termasuk membuka ayat-ayat di kitab suci. Menjelang jam dua siang, tugas kelar.

“Sunat perempuan itu mengganggu kesehatan, terus aku gambar kertas putih lalu di bawahnya ada lambang kertas digunting, nah dihapus sama gambar tangan perempuan,” kata Jitet ketika ditemui Bloomberg Businessweek Indonesia, akhir Desember.

Bapak empat anak itu tak menyangka hidupnya bakal diabdikan menjadi seorang kartunis. Bahkan, dia memegang rekor dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) sebagai kartunis dengan penghargaan kartun internasional terbanyak pada 1998. Menciptakan sindiran atau satir melalui kartun sudah dianggap sebagai tugas mulia karena membela kepentingan banyak orang. Kekuatan ide dalam bentuk gambar lucu menjadi poin utama dan ciri kartun lokal ialah penampilan rakyat biasa, tapi punya otak cemerlang.

Jitet ‘beruntung’ punya medium tetap mencurahkan kegelisahan. Realitanya, dunia kartunis media cetak saat ini lain dengan masa sebelum 1998. Dulu, media cetak—baik koran maupun majalah—menjadi surga bagi kartunis mengirimkan karyanya dan tentu saja dibayar. Namun, sekarang mereka seolah terpinggirkan.

Bagi pria 47 tahun itu, kaya atau miskin merupakan garis tangan Tuhan. Tapi satu hal penting: bagaimana mental dalam berkreativitas—itu penentu kesuksesan kartunis. Sebenarnya ada banyak ruang yang bisa dimanfaatkan para kartunis. Contohnya membuat komik kartun tentang buku-buku best seller atau buku ekonomi, menjalankan usaha merchandise, dan lain-lain. Jadi, tidak melulu bergantung pada media massa cetak. “Harusnya kartunis itu enggak terlantar karena informasi ada di depan mata. Di depan komputer saja itu artinya di depan dunia. Banyak bahan yang bisa menghidupi kita,” ujar Jitet.

Kartun Apat, kritik terhadap arogansi zionis Israel
Apat Supriyono mungkin lebih merasakan atmosfer 'terpinggirkan'. Kartunis yang sudah 24 tahun berkarya ini merasa lahan kartun di media cetak makin kecil, meski tidak benar-benar hilang. Pemicu utama disinyalir karena menjamurnya media hiburan televisi serta gempuran gadget supercanggih. "Dulu yang namanya hiburan masih terbatas sehingga kartun jadi primadona. Kalau sekarang beda," kata Apat yang juga Bendahara Persatuan Kartun Indonesia (Pakarti).

Dari segi honor pun terbilang minim. Sebuah frame kartun rata-rata hanya dipatok antara Rp200.000-250.000. Sebagai usaha sampingan, kartunis yang pernah bekerja di Harian Pos Kota itu sering menerima pesanan karikatur calon legislatif (caleg). Tarifnya dinaikkan dua kali lipat, biasanya sekitar Rp1 juta lengkap dengan bingkai. “Beda, kalau yang pesan orang biasa yah tarifnya enggak mahal dong,” ujar Apat.

Selain pesanan karikatur caleg, ada pula yang memilih mendirikan studio kartun sendiri seperti Hendrikus David Arie, kartunis di harian Suara Pembaruan. “Itu juga buat bantu anak-anak komplek belajar menggambar,” kata lulusan Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta ini.

Dia juga kadang bekerja sama dengan pelaku industri film atau iklan untuk membuat story board, semacam sketsa gambar yang disusun secara urut berdasarkan naskah. Story board ini juga merupakan salah satu elemen penting dalam produksi film. “Kalau animasi itu untuk film animasi, kalau story board itu untuk iklan dan film,” katanya.

Cara lain ditempuh Gandjar Dewa Artha, kartunis Bloomberg Businessweek Indonesia yang sempat mengisi waktu senggang dengan mengajar seni rupa di Universitas Paramadina periode 1999-2011 ini. Meski sepakat bahwa kreativitas kartunis tak hanya di atas kertas, tapi juga dunia nyata, dia melihat keberpihakan terhadap kartunis di Tanah Air berbeda jauh dengan apa yang dialami kartunis-kartunis dunia semacam Mac Nelly atau Charles M. Schulz, pencipta kartun Peanuts (termasuk kartun Snoopy). “Di luar negeri mereka begitu dihargai, beda dengan di Indonesia. Sejak era reformasi, kartunis makin terpinggirkan,” kata Gandjar.

Karikatur Hendrikus SP berjudul
“Rest in Peace (RIP) Penegakan Hukum"
meraih dinegoro 2013
Kekhawatiran menyangkut eksistensi kartunis rupanya ikut memicu Pakarti menggelar Pesta Kartun Akhir Tahun di ruang Galeri III Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat pada 18-29 Desember 2013. Ada lebih dari 40 kartunis berbagai kota di Indonesia—dari junior, belum pernah dimuat karyanya di media massa, hingga begawan kartun—yang membawa sekitar 60 karya. Sebut saja kartunis senior seperti G.M. Sudarta (Kompas), Pramono R. Pramoedjo (Sinar Harapan), Prijanto Sunarto (Tempo), Jaya Suprana, Joko Luwarso (Matanews), dan Koesnan Hoesie. Nama yang terakhir ini pernah mendapat penghargaan MURI sebagai pembuat kartun terpanjang di dunia.

Jaya Suprana, pendiri Pakarti, mengakui sejak lahirnya dunia maya yang menampilkan media massa elektronik, eksistensi media massa cetak memang merosot. Imbasnya, lahan buat kartun ikut menyusut.

Para seniman kartun tentu diharapkan tidak patah semangat dalam mencari peluang lain. Ruang masih banyak terbuka seperti di industri t-shirt, periklanan, film animasi, pameran, atau media elektronik itu sendiri. “Para kartunis tak boleh menyerah kepada pasar, tapi kreatif dan inovatif menciptakan pasar bagi karya-karya mereka sendiri. Jika mau pasti bisa,” kata Jaya melalui surat elektronik.

Presiden Pakarti Jan Praba memperkenalkan apa yang disebut cartoonpreunership, yaitu tetap berusaha mendapatkan uang dari kartuntapi tidak bergantung pada media massa. Ada banyak lahan mendulang uang. Bisa dengan live karikatur atau jasa pembuatan karikatur online, desain kaus, ilustrasi, komik strip, lukisan kartun, dan lainnya. Intinya mampu menciptakan peluang sendiri. “Jika tak bisa menyikapi, maka akan terseleksi sendiri. Hasil seleksi itu bakal menghasilkan kartunis-kartunis yang kompeten," ujar Jan.

Menjadi kartunis adalah sebuah pilihan hati. Sama seperti orang lain menemukan jalan hidupnya masing-masing. Ketika gempuran teknologi makin hebat, kartunis pun harusnya kian melesat. Mencari celah yang mungkin belum terjamah. □

Tulisan ini terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 13 Januari 2014

Jumat, 18 Juli 2014

Dawai Gitar untuk Indonesia

Aksi Endah N Rhesa, photo by Bentara Budaya Jakarta
“Satu hal yang baik tentang musik adalah ketika musik menyapa, Anda tidak merasakan sakit.” Bob Marley
Oleh M. Tahir Saleh

Alvin Adam dan Ratna Dumila tiba-tiba muncul dari balik pintu panggung Bentara BudayaJakarta (BBJ). Saat itu malam mulai merambat kendati baru pukul tujuh lewat. Kedua pembawa acara ini lantas menyapa hadirin, lalu seketika memanggil 47 gitaris.

Rabu malam pertengahan Februari itu, BBJ nampak dijejali penonton yang hendak menyaksikan aksi gitaris Indonesia dalam pentas amal ‘Dari Gitaris untuk Indonesia’. Perhelatan ini memang digagas oleh sejumlah gitaris dan disokong oleh lembaga kebudayaan BBJ. Puluhan musisi Indonesia dari berbagai genre hadir bersama dengan para donatur yang memenuhi kawasan Palmerah Selatan, Jakarta. Pementasan dimulai pukul tujuh hingga 11 malam. Tapi, tak semua tumplek berbarengan karena mereka dibagi dalam 13 band.

Penampilan band perdana yang apik disuguhkan Irvan Aulia ‘Samsons’, Arif ‘Kerispatih’, Diat ‘Yovie and Nuno’, Marshal ‘Ada Band’, Rama ‘D’Masiv’, dan Arden ‘Tiket’ lewat lagu Pelangi karya Koes plus. Performa band kedua tak kalah rancak. Penonton terkesima dengan lagu reggae milik Bob Marley berjudul One Love yang dibawakan oleh Eross ‘Sheila On 7’, Kin Aulia ‘The Fly’, Denny Chasmala, Qoqo ‘She’, Taraz ‘The Rock Triad’, Riry Silalahi, dan Didit Saad. Usai penampilan ini, sekitar pukul delapan, kedua host mengumumkan donasi sementara terkumpul Rp150 juta, ditambah sumbangan dari Mayapada Foundation melalui Datuk Sri Tahir yang mencapai Rp500 juta.

Selepas aksi trengginas Burgerkill dan duet romantis suami istri Endah n’ Rhesa, donasi langsung bertambah Rp500 juta lagi dari Osman Sapta Odang, pemilik Grup OSO yang turut hadir. “Ini rekor, baru lima penampil sudah dapat Rp1 miliar,” kata Ratna Dumila, presenter Kompas TV.

The musicians, photo by BBJ
Sehabis itu tampil puluhan gitaris lain, baik dengan auman distorsi gitar maupun lewat petikan manis. Jubing Kristianto, John Paul Ivan, Piyu ‘Padi’, Gugun ‘GBS’, Baron, Ovy /rif, Onci ‘Ungu’, Agam Hamzah, Dewa Budjana, hingga Tohpati. Tak ketinggalan musisi lawas Ireng Maulana, Mus Mujiono, dan Ian Antono. Total derma yang terkumpul Rp1,73 miliar dan S$10 dolar.

Bukan kali ini saja konser sukarela menggandeng musisi digelar untuk menghimpun dana bagi korban bencana alam. Pada 5 Februari, sederat musisi Tanah Air juga meramaikan konser amal ‘KOIN: Senandung untuk Negeri (Charity untuk Manado)’ di Hardrock Cafe, Pacific Place, Jakarta. Pegelaran guna menarik dana bagi para korban banjir Manado ini menampilkan sejumlah musisi misalnya Kerispatih, Alexa, Slank, Glenn Fredly, Indah Dewi Pertiwi, dan tak ketinggalan Cherry Belle. Lebih dari Rp430 juta terkumpul dari konser tersebut. Di luar negeri, perhelatan amal oleh pekerja seni juga bukan hal baru. Jumlahnya tak terhitung. Terakhir, para pemusik top dunia tampil dalam konser penghimpunan dana bagi korban Topan Sandy. Nama-nama musisi tersohor dunia itu di antaranya Rolling Stones dan Eric Clapton.

Inisiatif gelaran amal itu dipicu oleh bala yang memang belum menjauh dari Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sejak awal tahun sampai 16 Februari tercatat 282 bencana. Dampaknya 197 orang tewas, 64 luka-luka, 1,6 juta jiwa mengungsi, dan puluhan ribu rumah rusak. Ekses ekonominya sangat besar.

Lembaga negara ini bahkan memperkirakan kerugian dan kerusakan akibat banjir bandang Sulawesi Utara mencapai Rp1,87 triliun, erupsi Gunung Sinabung Rp1 triliun, banjir Pantura Rp6 triliun, dan banjir Jakarta Rp5 triliun. Ini belum termasuk dampak meletusnya Gunung Kelud di Jawa Timur pada Kamis malam (13/2). “Bencana menjadi urusan bersama. Pemerintah dan Pemda menjadi penanggung jawab utama,” ujar Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, dalam siaran persnya.

Konser tak berhenti di BBJ dan Pacific Place. Di tengah bencana yang melanda, tercetuslah konser amal berikutnya yang diselenggarakan oleh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) bekerja sama dengan Hipmi Peduli, Suara Hati Project, Polimoli.com, iPhonesia, dan Tamasya Hati.

Sari W. Pramono, Ketua Hipmi Peduli, mengungkapkan seluruh dana yang dihimpun dari penampilan musisi Tanah Air bakal disumbangkan untuk para korban bencana. “Karena judulnya konser amal, kami perlu artis. Tentunya kalau bersinergi dengan pihak luar lebih baik, kenapa tidak,” kata Sari.

Acara itu bertajuk ‘Suara Hati Peduli Konser Peduli Sesama: Persembahan untuk Indonesia’. Artis-artis papan atas seperti Ari Lasso, Andre Hehanusa,  Andra & The Backbone, Netral, dan Yuni Shara tampil memeriahkan acara tersebut. Konser amal ini berlangsung di Rolling Stone Cafe, Jakarta pada 20 Februari pukul 17:00-23:00 WIB. Harga tiket dipatok Rp300.000, VIP Rp5 juta, dan VVIP Rp10 juta. “Iya dong, artisnya pro bono [latin: bersedia tak dibayar], seluruh penjualan akan kami donasikan,” ujar Sari yang merangkap sebagai Wakil Bendahara Umum Hipmi ini.

Tak bisa ditampik, seni memang menjadi salah satu medium ampuh dalam menggalang dana. Ini yang disadari oleh Benyamin Prayogo, Ketua Departemen UKM dan Pengusaha Kecil Hipmi. Meski kerap menyumbang secara langsung bagi korban bencana, Hipmi kali ini mencoba kreatif dengan menggandeng musisi.

Penampilan musisi; penyanyi dan gitaris tanpa dibayar itu diharapkan menarik uluran tangan agar mendapatkan donasi cukup besar untuk mengurangi beban para korban. Soal anggaran sponsor, pria yang akrab disapa Benny ini belum bisa membuat estimasi. “Biasanya kami kumpulin dari anggota Hipmi lalu sumbang direct ke Jakarta, Bandung, Subang, Manado, hingga Sinabung,” kata Benny. “Tapi, baru kali ini kami kerja sama dengan artis.”

Walau begitu, dia berharap konser-konser yang positif semacam ini tidak seharusnya marak. Sebab bila perhelatan musik amal kerap diadakan, itu artinya musibah masih menghampiri Indonesiapadahal itu tidak diinginkan.

Harapan ini seperti tersirat dalam wejangan Iwan Hasan, pemain gitar harpa yang tampil dalam pementasan amal di BBJ Rabu malam itu. Saking cintanya, Indonesia laiknya rumah, tempat berlindung. “Mari kita yang hadir di sini jadikan Indonesia sebagai tempat berlindung di hari tua,” kata Iwan.

Setidaknya kesedihan masyarakat dan para korban bencana atas musibah bisa dihibur oleh penampilan para seniman melalui musik, seperti kata Bob Marley dikutip situs Magforwoman: “Satu hal yang baik tentang musik, ketika Anda mendengarnya, Anda tidak merasa sakit.”

Kepedulian bisa datang dari siapa saja, profesi apa pun, atas nama kemanusiaan dan solidaritas. Memang dana hasil pertunjukan amal belum bisa menggantikan kerugian materi dan psikologis akibat malapetaka itu, tapi konser amal merupakan wujud sederhana untuk berbagi dan membantu sesama.

Tulisan ini terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 24 Februari 2014
Words: 989


Jumat, 11 Juli 2014

Uang Digital atau Komoditas Virtual?

Pengguna Bitcoin di Tanah Air sudah mencapai 3.000-5.000 orang. Mereka meyakininya sebagai komoditas, bukan mata uang

Oleh M. Tahir Saleh
RedFury, photo by Bloomberg Businessweek

SUARA DI SEBERANG TELEPON mengagetkan Tiyo Triyanto (30). Selang beberapa hari setelah dia menerima kiriman uang dari para pembeli USB Bitcoin Miner, produk buatannya, staf sebuah bank memintanya datang untuk menjelaskan aliran uang berjumlah besar yang mampir ke rekeningnya.

“[Transaksi] disangka mencurigakan, saya dipanggil, ditanya-tanya oleh kepala bank, yah saya buka semua, saya orang bener kok," cerita Tiyo, penambang terbesar Bitcoin di Indonesia, ditemui Rabu malam (22/1).

Pria lulusan Xavier University, Cincinnati Ohio, Amerika, ini hampir setahun menekuni bisnis tambang uang virtual bernama Bitcoin. Sebelumnya dia berbisnis macam-macam, mulai dari restoran hingga usaha lain. Sampai akhirnya uang virtual yang heboh di Amerika, Eropa, dan Asia—termasuk Indonesia—ini menarik minatnya dengan segala manfaat; tanpa biaya transfer, memudahkan transaksi, aman, dan banyak membantu orang. Transaksi itu tanpa fee karena memakai teknologi peer-to-peer atau teknologi pemakaian bersama (sharing) resource dan service antara satu komputer dengan komputer lain.

Bitcoin ini semacam invensi (rancangan) protokol yang terbuka (open-source) sehingga siapa pun bisa turut serta memverifikasi data-data di dalamnya, sebutannya ‘penambang’. Ketika data terpecahkan, Bitcoin pun diperoleh dengan nilai tertentu layaknya menambang emas. Penciptanya Satoshi Nakamoto.

Ada dua cara mendapatkan Bitcoin. Pertama, membeli dari orang atau menukar Bitcoin ke dalam mata uang dolar Amerika di Bitcoin exchange seperti money changer. Kedua, ‘menambang’ atau mining yang membutuhkan software dan hardware tertentu. Konsep sederhananya seperti mengunduh duit dari internet.

Tiyo merancang dan memproduksi apa yang dia namakan RedFury, USB Bitcoin Miner pertama buatan Indonesia. Pengguna tinggal mencolok USB itu ke slot komputer atau laptop, memasukkan ID atau address yang sudah dibuat sebelumnya di beberapa situs (bisa lewat Blockchain.info atau Coinbase.com), mirip seperti membuat e-mail. Memiliki address adalah langkah awal sebelum menambang.

Setelah USB khusus itu dicolok, ikuti saja petunjuk mudah lalu cip itu akan bekerja otomatis 24 jam per hari memecahkan teka-teki matematis (menambang) dan menghasilkan Bitcoin yang bisa ditukar menjadi dolar (1 Bitcoin = US$850). Pembeli tinggal memantaunya berapa lama dan berapa banyak. Bitcoin yang dihasilkan tergantung berapa banyak unit USB khusus ini dipakai. Semakin banyak unit USB dipakai melalui USB Hub, makin bejibun Bitcoin yang dihasilkan.

Tiyo di bengkel kerja,
photo by Bloomberg Businessweek
Produk pertama Tiyo, yang bekerja sendiri tanpa perusahaan, terjual 3.000 unit dalam 20 hari dan batch kedua terjual 7.000 unit dalam lima hari. Omzetnya menembus US$1 juta dengan harga satu Redfury sekitar USD$100-150. Dengan 95% pembeli mancanegara, wajar saja uang yang masuk ke rekening pria kelahiran 25 Januari 1984 ini membuat bank curiga.

Dengan USB ini, pembeli bisa dengan mudah menambang Bitcoin. Tak perlu ribet memusingkan kabel dan spesifikasi teknis komputer. “Ketika memulai dulu memang kompleks sekali, saya sebulan belajar seluk-beluknya,” katanya. “Tapi kini ada teknologi baru, saya buat sedemikian rupa biar orang baru enggak terlalu bingung, software sudah ada, colok USB, tinggal klik kanan, edit ganti jadi Bitcoin address saja.”

Bahkan dengan Bitcoin, dia bersama komunitas Indonesian Bitcoin Community (IBC) menggalang donasi bagi korban Topan Haiyan di Filipina. Hasilnya mengesankan, terkumpul US$60.000 atau setara dengan Rp720 juta. Tapi yang lebih menakjubkan, nilai itu ditarik dari 8 sen dolar. “Nilai minimum Bitcoin itu bisa delapan desimal.”

Diperkirakan pengguna Bitcoin di Indonesia saat ini sudah mencapai 3.000-5.000 orang, baik sebagai trader maupun penambang. Pasokan Bitcoin terbatas hanya sampai 21 juta dan bakal habis dikeruk mesin komputer pada 2140.

Oscar,
photo by Bloomberg TV Ind
Oscar Darmawan, CEO Bitcoin Indonesia, menjelaskan Bitcoin lebih diartikan sebagai komoditas virtual, bukan mata uang digital (virtual currency). Barangkali ini seperti emas digital. Pengguna tinggal barter atau mengonversi Bitcoin menjadi rupiah atau dolar. “Jadi Bitcoin semacam media transfer, lalu ditukar ke rupiah,“ katanya.

Namun, perlu dicatat, perdagangannya pun berisiko. Harga Bitcoin fluktuatif, berubah signifikan dari waktu ke waktu. Berdasarkan informasi situs Bitcoin.co.id milik Oscar, disebutkan dalam transaksi Bitcoin, tak ada nomor kartu kredit yang bisa dikumpulkan oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. Dengan Bitcoin, dimungkinkan transaksi anonim alias tanpa identitas. Berbeda dengan transaksi online konvensional, misalnya transfer bank, yang wajib mencantumkan nama lengkap dan identitas pendukung. Transfer lintas benua juga mudah, layaknya bertransaksi dengan tetangga sebelah. Soal keamanan, transaksi diamankan oleh kriptografi tingkat militer, tak ada yang bisa memakai uang Anda atau membayar atas nama Anda.

Bitcoin Indonesia dipelopori oleh Oscar sejak 2012 sebagai perusahaan pertama yang melayani jual beli Bitcoin online (BTC online) di Indonesia melalui berbagai media Bitcoin online di dalam dan luar negeri. Ribuan orang di Indonesia, katanya, mulai menggunakannya, tapi masih sebatas membuat website, hosting, dan domain. Beberapa restoran diketahui juga memakai Bitcoin, contohnya di Lombok dan Jakarta. Mereka memilih Bitcoin, selain untuk memperluas ekosistem pengguna, juga untuk ekspos media.

Dengan pesatnya pertumbuhan pengguna, Oscar berharap pemerintah ikut mendukung mata uang digital ini. Sokongan bisa berbentuk regulasi atau menerapkan pajak dalam Bitcoinseperti di Singapurakarena ini merupakan komoditas, bukan mata uang. “Di China, untuk finansial dan bank memang enggak boleh, tapi digunakan individu boleh. Kalau mata uang ‘kan dikeluarkan negara, kalau ini komoditas: emas sakti,” kata Oscar yang juga pendiri Yayasan Sosial Dokter Sehat.

Pemerintah memang tak boleh berdiam diri. “Mau tak mau Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) harus siap turun tangan bila jumlah pengguna Bitcoin makin gemuk. Di satu sisi belum ada pengaturan, di sisi lain tak ada pelarangan eksplisit,” kata Dradjad Hari Wibowo, Ekonom Sustainable Development Indonesia.

Masih jauh bila dikatakan Bitcoin bakal menggeser penggunaan uang fisik karena perubahan ini berkaitan dengan tahapan ekonomi sebuah bangsa. Di beberapa daerah, malah masih ada yang memakai sistem barter—meski tak dimungkiri ada kelas menengah yang sudah siap memakai alat tukar ini. Jumlah kelas menengah, dengan penghasilan US$5.000 per bulan atau US$60.000 per tahun, jauh lebih banyak dari Singapura yang jumlah penduduknya hanya sekitar 4 juta. “Masih jauh untuk mengganti uang fisik, teknologi Near Field Communication [NFC] saja belum banyak dipakai. Bitcoin dipakai beli es cendol enggak bisa, tapi ada beberapa transaksi online bisa, saya rasa ada kaum virtual kelas menengah di Indonesia yang sudah siap,” ujarnya.

Meski di Indonesia berlaku UU No.7/2011 tentang Mata Uang, tidak semua transaksi mengacu pada peraturan ini, misalnya di Bali dan pelabuhan internasional yang menggunakan dolar Amerika. “Biar bagaimanapun BI mau tidak mau harus siap. BI saya rasa enggak akan melarang, kalau melarang bisa dikategorikan anti-perkembangan. Tinggal sekarang pengguna aktif jalankan saja, kembangkan seluasnya, nanti negara juga pasti turun tangan,” kata Dradjad.

Gatot S. Dewa Broto, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo, mencatat dua hal terkait Bitcoin. Pertama, layanan ini kian berkembang di luar negeri sehingga akan masuk radar mereka. Pihaknya tidak menutup kemungkinan akan mengatur bila urgent. Meski begitu, dalam UU No.11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan PP No.82/2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik sudah mengatur, tapi masih secara umum.

Kedua, bila terjadi perselisihan (dispute) dan fraud dalam layanan Bitcoin sebetulnya bisa masuk dalam perlindungan UU ITE Pasal 28 Ayat 1 dan kalau ada pengambilan atau pencurian dokumen, masuk Pasal 30-35. “Misalnya saya punya Bitcoin, ternyata diambil oleh seseorang. Itu bisa dijerat, tapi kalau peraturan yang khusus mengatur layanan itu [Bitcoin] sendiri belum ada. Di Amerika pernah ada kejadian, dan dijerat dengan UU yang mirip ITE di pengadilan.”

Lebih jauh, Kementerian akan mengkaji perkembangan Bitcoin, melihat urgensinya, dan bila perlu akan dibuat regulasi khusus. Mereka juga meminta ada terminologi detail dari Otoritas Jasa Keuangan. Hingga saat ini belum ada pengajuan audiensi dari komunitas Bitcoin.

Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacob menegaskan dasar hukum transaksi keuangan di Indonesia sudah jelas, harus menggunakan mata uang rupiah sebagai mata uang sah. Tetapi memang ada pengecualian, misalnya di pelabuhan atau perbatasan. “Intinya begitu. Jadi, kalau ada orang yang mau memakai Bitcoin, siapa yang tanggung jawab kalau enggak laku? Transaksi harus memakai mata uang sah, yaitu rupiah,” katanya.

Tiyo dan Oscar mahfum betul wilayah regulasi ini. Rencana pengajuan penjelasan mengenai Bitcoin kepada pemerintah tengah disusun bersama komunitas Bitcoin. Tujuannya tentu bukan hanya mengejar keuntungan dari menjual komoditas virtual itu, tapi ke depan mereka berharap Bitcoin bisa menjadi alat tukar global.

Banyak celah yang perlu diperbaiki agar Bitcoin bisa dipahami betul oleh masyarakat.  “Sosialisasi terus kami lakukan, terakhir kami buat IBC di kampus Bina Nusantara. Kami berharap pemerintah bisa mendukung. Masa kalah melulu dengan Malaysia, Singapura? Ayo deh kita mulai,” kata Tiyo.

Malam itu, meski di rekeningnya bertumpuk duit miliaran, Tiyo tetap rendah hati. Berbalut kaos oblong abu-abu bertuliskan ‘Newton & Edison & Einstein & Satoshi’, dia dengan santai mengobrol soal visinya terkait Bitcoin dalam 10 tahun ke depan. □

Tulisan ini terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, Senin 27 Januari 2014
Words: 1.502


BAGAIMANA CARA MENDAPATKAN BITCOIN?
1. Membuat ID atau address, semacam akun pribadi untuk menambang komoditas virtual ini. Dua situs yang paling sering digunakan adalah Blockchain.info dan Coinbase.com. Anda hanya perlu memasukkan alamat e-mail dan password.

2.  Address yang Anda miliki tentu saldo Bitcoin-nya masih nol, ada dua cara mendapatkan Bitcoin setelah memiliki akun tersebut:
- Membeli dari orang yang sudah punya Bitcoin atau di money changer khusus Bitcoin. Beberapa situs jual beli Bitcoin: Bitcoin.co.id dan Artabit.com.
- Menambang (mining) dengan hardware dan software khusus. Penyedia hardware dan software asli Indonesia salah satunya Tiyo Triyanto, meski ada beberapa nama lain yang juga membuat USB serupa.

Spiritualitas dalam Goresan Sketsa

Romo Mudji, @Galeri Cipta,
photo by Muniroh, Sinar Harapan
Lewat sketsa-sketsa, dia menuangkan perjalanan spiritualnya dengan warna-warna—mencerminkan keberagaman suku, ras, dan agama di Indonesia yang penuh keindahan

Oleh M. Tahir Saleh

ROHANIWAN, budayawan, ilmuwan, filsuf, dan pelukis sketsa. Lima talenta itu menyatu dalam diri Prof. Dr. Mudji Sutrisno S.J. Maka, bukan hal aneh jika renungan spiritualnya muncul dalam bentuk seni rupa.

Selama sembilan hari (8-17 Januari), pria yang akrab disapa Romo Mudji ini mengekspresikan perjalanan batinnya lewat pameran sketsa bertajuk Dari Stupa ke Stupa di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Barang kali banyak yang bertanya: kenapa stupa? Atau adakah hal menarik dari benda yang biasa kita lihat di Candi Borobudur atau candi-candi Budha lainnya ini?

Bagi Romo Mudji (59), stupa dimaknai sebagai sebuah garba atau rahim yang memiliki arti sama dengan 'cupala' gereja Katedral atau kubah Masjid Istiqlal. Ada keheningan yang sama saat ia berada, baik di kedua tempat ibadah itu maupun di Candi Borobudur. "Saya merasakan spiritualitas, sebuah keheningan yang persis sama. Inilah yang membangkitkan mood saya untuk melukiskannya pada sketsa," katanya usai membuka pameran pekan silam.

Jika goresan sketsa lazim menggunakan kombinasi hitam dan putih, kali ini berbeda. Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dan dosen filsafat di Pasca Sarjana Universitas Indonesia itu mulai berani memasukkan dominasi warna merah, hijau, dan kuning pada 54 sketsa dari total 104 karyanya.

Keberanian tersebut muncul setelah Romo mengadakan perjalanan spiritual bersama wartawan majalah Tempo, Seno Joko Suyono ke Kathmandu, Nepal.

Di sana, batinnya terhenyak melihat ritual suci penyiraman tepung bunga warna-warni di puncak stupa. Masyarakat setempat larut dalam doa syahdu di tengah guyuran bunga dan tali berwarna. Meriah sekali. "Mata saya seperti tak bisa berkedip saking merasa kagum. Ternyata, spiritualitas itu ada di balik warna-warna seperti merah, kuning, dan hijau," ujarnya.

Tidak berhenti di situ, Romo lantas kembali termenung. Bukankah warna-warni tadi persis sama dengan keberagaman suku, ras, dan agama di Indonesia? Bukankah seharusnya perbedaan itu indah?

Pada titik inilah dia berusaha menyampaikan bahasa perdamaian melalui sketsa yang semuanya dibuat berukuran 21 x 29,7 sentimeter. Pemilihan waktunya tepat karena tiga bulan ke depan bakal digelar pemilihan umum. Hampir dipastikan situasi politik akan memanas dan memicu perseteruan. "Saya tahu, 2014 ini tahun politik. Saya ingin mengajak agar semua damai dan menjunjung tinggi perdamaian. Mudah-mudahan sketsa saya bisa menyampaikan pesan itu kepada yang melihatnya.”

Melalui sketsa itu pula Romo mengkritik fenomena Indonesia kini dengan bahasa filosofis dan transendental. Dia dengan lantang mengutip ucapan Attisa Dalai Lama XIV soal inti spiritual, "Pada pagi hari, tolong Anda cermati motivasi Anda. Lalu, pada malam hari sebelum tidur cermati tindakan Anda kemudian satukan dalam rentetan benang putih kesadaran.”

Kesadaran tentang kehidupan ini berdenyar dalam dirinya, mengapa bangsa yang formal dan resmi khusyuk beribadah, tapi korupsi dalam kehidupan sehari-hari? Pertanyaan ini menjadi pekerjaan rumah bagi setiap agama, menghampiri masing-masing pemeluk untuk mau kembali ke sumber asal religi itu sendiri: spiritualitas.

Pergulatan pertanyaan tersebut membuahkan apa yang disebut ‘Ora et Labora’ atau berdoalah dan bekerjalah. Sebab yang nyata saat ini doa masih terpisah dari kerja, altar dilepas dari pasar. Dibutuhkan evolusi kesadaran supaya bisa mengintegrasikan antara doa dan kerja dalam menemukan arti hidup dari Sang Pencipta.

Bagi Arswendo Atmowiloto, sastrawan yang turut hadir malam itu, sketsa Romo lebih mendengar dengan sabar, belajar dari benda menjadi bermakna. Namun menurut sutradara Garin Nugroho, dalam buku komentar sahabat, sketsa yang kuat justru tak sekadar ekspresi bangunan dan landscape. “Ia menjadi suara hati,” kata Garin.

Dalam buku yang sama, aktor monolog Butet Kartaredjasa menilai sketsa Romo ibarat monolog: permainan tunggal untuk mengartikulasikan pikiran dan ‘dunia dalam’ dengan cara yang sederhana. Keberhasilan mencapai kesederhanaan itulah puncaknya. “Soalnya bicara secara sederhana, nyatanya memang tak mudah dimiliki oleh para intelektual atau mereka yang menyangka dirinya filsuf,” katanya. “Selamat bergumam Romo!” □

Tulisan ini terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, Senin 20 Januari 2014
Words: 626

Entri Populer

Penayangan bulan lalu