Tampilkan postingan dengan label otomotif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label otomotif. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 November 2014

MIMPI YANG TERBAYAR

Modifikasi, by gambar-kata
Mereka membeli mobil baru, mampir ke bengkel modifikasi, mengubah kendaraan sesuai dengan impian, lalu memacunya ke jalan raya

Oleh M. Tahir Saleh

MOBIL bagus-bagus kok dibuat ceper gitu,” celoteh seorang kawan saat menyaksikan parade modifikasi mobil di area parkir Ocean Ecopark, Taman Impian Jaya Ancol. “Biarin aja Mas, orang banyak duit mah begitu,” timpal Budi, tukang minuman yang mangkal di area parkiran tersebut. Kami istirahat sejenak di bawah pohon sambil menyeruput air mineral yang dijual Budi. Siang yang cukup panas setelah hampir sejam mondar-mandir melihat mobil-mobil modifikasi.

Di depan kami, sekitar 200-an mobil hasil modifikasi berjejer dipamerkan pada Jakarta Modification Festival (Jakmodfest) 2014 di Ancol, Sabtu 9 Agustus. Pelbagai mobil dari segala aliran dijajakan seperti stance, classic, retro, elegant, VIP, Japanese Domestic Market, total body conversion, off-road, extreme, dan lainnya. Mereknya macam-macam, dari yang termurah seperti Toyota Agya dan Daihatsu Ayla hingga premium seperti Mercedes-Benz atau Jeep Rubicon.

Sejak pukul 8.00 pagi, satu per satu mobil berpenampilan unik masuk ke area parkiran. Sampai pukul 11.00, tercatat jumlah kendaraan mencapai 184 dari total terdaftar lebih dari 200 unit. Acara ini melanjutkan kesuksesan dua event tahun lalu, yakni Jakmodfest 2013 dan Street of The Year (#SCOTY). Gelaran tahun ini dinamakan Jakmodfest Cars N Burger dan diklaim menjadi salah satu event mobil modifikasi terunik dan terbesar di Indonesia karena mengakomodasi seluruh daerah. Nama 'Cars N' Burgers' dipilih karena panitia menyediakan burger untuk makan siang. “Para peserta juga dilibatkan di berbagai tantangan yang kami siapkan,” kata Aditya Pradhana, anggota panitia Jakmodfest.

Beberapa tantangan itu antara lain beat-the bump challenge, mobil dengan ground clearance rendah ditantang melewati polisi tidur. Ada juga car limbo, mobil harus melewati tiang yang ketinggiannya dibatasi, jadi mobil harus seceper mungkin. Ada tiga tipe modifikasi: show, wild, dan mild. Kategori modifikasi show di seluruh bagian, wild hanya beberapa bagian, sedangkan mild pada satu bagian saja.

Para peserta sebagian besar anak muda berusia 18-30 tahun. Mereka datang sendiri, bersama teman, atau menggandeng pacar dengan balutan busana cukup berani. Di pojokan parkiran, berdiri Nadhif Pradipta (18), mahasiswa Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Dia tengah membuka kap depan mobilnya. Pemuda kurus ini datang bersama puluhan karibnya yang tergabung dalam ‘keluarga’ Speed Stance dengan total 23 mobil yang digiring langsung dari Kota Kembang. “Kami berangkat Jumat malam, sampai di Jakarta nginep di hotel dulu. Sabtu pagi jalan ke Ancol,” ceritanya.

Mobilnya Mercedes-Benz keluaran 1989. Itu mobil ayahnya yang diwariskan kepadanya. Mesinnya diganti, knalpot diubah lebih sporty, pengapian pun dipasang blue fire. Dua jok belakang diangkat dan dibiarkan lowong. Total dia menghabiskan sekitar Rp55 juta selama dua tahun pengerjaan bertahap. “Uang dari orangtua, tapi saya juga kerja, manajer DJ, bantu-bantu event organizer,” katanya didampingi teman-teman Speed Stance. Hadir pula komunitas modifikasi dari Yogyakarta, Java Flash.

Selain Nadhif, Nabilah (21) juga memendekkan Mazda 2 miliknya. Ia pasangi audio full di bagian belakang. “Lama modifikasi sekitar 4-5 bulan,” kata mahasiswi Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII) Jakarta ini. “Total habis sekitar Rp45 juta, duitnya dari orangtua,” katanya sambil tersenyum.

Berbeda dengan Nadhif dan Nabilah, Derry Wahyu (25) dan Haruns Maharbina (28) mengandalkan kocek sendiri. Derry memiliki PO Metropolitan yang menyewakan bus premium, sementara Haruns fotografer Destination Media Group. Keduanya tinggal di Grand Galaxy Bekasi. Ia ‘menyulap’ habis mobil Toyota Vios 2013 yang dibelinya sekitar Rp270 juta. Cat asli warna hitam diganti merah candy, dipasangi double sunroof—celah terbuka, suspensi udara, jok diganti, velg, dan audio. Semuanya habis Rp200 juta. “Jarang dipakai, ke kantor biasanya pakai [Honda] CR-V,” katanya. “Ini masih kredit lho, kilometer juga belum sampai 1.000,” katanya tertawa.

Kalau Derry sampai Rp200 juta, Haruns masih sekitar Rp100 juta untuk mengubah Honda Freed putihnya. “Warna masih sama, saya ganti jok, velg, ground clearance, dan sunroof. ” ujarnya. Baginya harga tak jadi soal lantaran sejak SMP sudah menggemari mobil dimodifikasi, ibarat mimpi yang kini terbayar. “Pas belum punya uang sendiri, motor saya modif, sekarang sudah bisa kerja,” kata bapak satu anak ini. Biaya perawatan standar sebagaimana merawat mobil sekitar Rp1-2 juta.

Dari ajang ini mereka juga memberi tips memodifikasi di antaranya estimasi alokasi bujet, pastikan bengkel profesional, dan konsultasi dahulu dengan teknisi. Hobi ini memang asyik, tapi sebaiknya tetap berhati-hati memodifikasi karena semua ada risiko. “Aman sih, tapi saya paling bermasalah kalau ke kantor, harus pelan-pelan, mobil pendek bisa kepentok palang parkiran,” kata Haruns tertawa.


Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 18 Agustus 2014

BISNIS MENJUAL MIMPI

Roll-Royce Phantom Coupe, officiall website
Makin jarang mobil mewah itu berseliweran di jalanan Ibu Kota, pertanda makin eksklusif merek superpremium tersebut

Oleh M. Taher Saleh

MOBIL Rolls-Royce hitam diparkir di sisi kanan lapangan Komplek Telaga Bestari, Tangerang, Banten, pada Sabtu, akhir September tahun lalu. Rusdi Kirana, empu kendaraan mewah itu bersiap meluncur pulang setelah hampir seharian merayakan ulang tahun ke-13 Lion Air, maskapai yang didirikannya pada 2000.

Sebagai pengusaha saya sudah melakukan pekerjaan saya dengan limit. Seperti saat ini saya bangun kompleks [untuk karyawan], saya punya keterbatasan,” kata Rusdi sebelum pamit kala itu. Sebagai pemilik maskapai penerbangan berpenumpang terbanyak di Indonesia, wajar bila tunggangan Rusdi adalah Rolls-Royce. Apalagi Lion Air memborong 234 pesawat Airbus A320 dan 230 unit Boeing, yang mesin pesawatnya diproduksi oleh Rolls-Royce.

Di Indonesia, Rusdi bukan satu-satunya pengguna mobil mewah asal Inggris tersebut. Puluhan pengusaha tercatat menjadi ‘langganan’ daftar orang terkaya versi Forbes dan Bloomberg Billionaire. Tentunya kendaraan mewah bernilai miliaran rupiah merupakan barang lumrah bagi para miliarder. Tengok saja dua tahun silam saat pameran perayaan 100 tahun Rolls-Royce di Pacific Place, Jakarta. Seri Phantom Drophead Centenary laris manis, padahal mobil edisi khusus ini hanya dibuat lima unit di dunia, tiga unitnya dijual di Tanah Air dengan harga sekitar Rp14 miliar.

Mobil yang diciptakan oleh Henry Royce pada 1884 ini merupakan satu dari sejumlah merek otomotif superpremium yang konsisten menggarap pasar high-end. Sempat dinasionalisasi, divisi otomotifnya lalu dipisah dari divisi mesin pesawat pada 1973 di bawah bendera Rolls-Royce Motors. Kini induk Rolls-Royce Motors ialah pabrikan asal Jerman, BMW AG—yang juga memproduksi BMW dan Mini Cooper.

Tahun lalu, penjualan Rolls-Royce mencapai 3.630 unit di seluruh dunia. Ini rekor dalam empat tahun terakhir dan hampir semua produknya dipersonalisasi sesuai keinginan pemilik (bespoke). Timur Tengah menjadi pasar bespoke terbanyak, sedangkan 85% permintaan bespoke tipe Phantom ada di Asia. Tahun lalu Indonesia masuk dalam 10 besar penjualan bespoke di dunia. “Kami mengembangkan jasa bespoke dalam tiga tahun terakhir. Kami membuat 100 lapangan kerja bagi para ‘pengrajin’ berbakat di Home of Rolls–Royce,” kata Chief Executive Officer Torsten Müller-Ötvös dalam siaran persnya.

Lamborghini Aventador, by carthrottle
Layanan personalisasi pun dilakoni Porsche dan Lamborghini, dua merek keluaran Volkswagen Group yang berbasis di Wolfsburg, Jerman. (Volkswagen atau VW juga punya 12 brand termasuk VW Passenger Cars, Audi, Bentley, Bugatti, Ducati, dan Scania). Di Indonesia, agen pemegang merek Porsche dipercayakan kepada PT Eurokars Artha Utama—yang juga menjadi sole importer Rolls Royce Motorcars Jakarta. “Yang kami jual ialah mimpi, mobilnya benar-benar customized. Tidak semua mobil sama, tapi sesuai keinginan pembeli,” ujar Salman Farouk Al Hakim, Manajer Humas Eurokars, Selasa pekan lalu.

Soal promosi, konsepnya ditempuh dengan menggelar pameran, branding dengan media, event di showroom, dan bermitra dengan perbankan. Internet pun menjadi media promosi, bahkan saban akhir pekan diselenggarakan acara bersama komunitas. Biaya pemasaran diklaim tak besar dan titik aksentuasinya lebih pada pendekatan personal.

Walaupun berencana ekspansi di kota lain selain Jakarta dan Surabaya, Salman menegaskan merek ini tetap menjaga eksklusivitas. “Kian susah didapat mobilnya, kian tinggi nilai jualnya. Kalau terlalu banyak di jalanan, kurang eksklusif. Jadi, lebih ke persepsi.” Pengaruh kenaikan PPnBM mobil mewah di atas 2.500 cc dari 75% menjadi 125% dinilai tak besar. Namun, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, penjualan tahun ini melorot 5-7%. “Tapi karena kami baru rilis Porsche Macan bulan lalu, kami percaya selepas Lebaran akan baik.”

Porsche Macan, by Dailytech
Awal Juli, Porsche merilis tiga varian New Porsche Macan. Mobil bermesin empat silinder dengan output 233 horsepower ini mampu berakselerasi dari 0 ke 100 kilometer per jam dalam tempo 6,9 detik. “Konsumen benar-benar menjadi ‘raja’. Harga bukan soal kalau sudah suka sama brand. Lebih pada koleksi,” kata Salman. Strategi itu sejalan dengan apa yang disampaikan Matthias Müller, Chairman of the Executive Board Porshce, dalam laporan keuangan 2013, “Misi kami dalam Strategi 2018 ialah memberi kesan yang unik bagi pembeli.”

Tahun lalu, penjualan Porsche mencapai 155.000 unit dari sebelumnya 62.000 unit di dunia; sedangkan merek segrup, Lamborghini, terjual 2.111 unit. Merek-merek superpremium ini tak mau ‘obral produksi’ dan siklus ganti produk barunya cukup lama. Porsche Macan bahkan merupakan model kelima sejak awal perusahaan ini berdiri. “Selama ini yang kami lakukan adalah perubahan minor. Contoh Porsche Carrera ada tipe 911, lalu ada tipe 918,” ujar Salman.

Ferrari, photo by digital-photo
Prinsip itu pula yang dilakoni Ferrari, merek yang didirikan oleh Enzo Ferrari pada 1929 dan kini dikuasai oleh grup Fiat asal Italia. (Fiat juga menangani Alfa Romeo, Lancia, Abarth, Chrysler, Jeep, Dodge, dan Maserati.) Laporan keuangannya mencatat penjualan mobil Ferrari di dunia mencapai 7.124 unit. Paling besar di Amerika Utara dan Timur Tengah, sedang di Asia Pasifik 1.427 unit. Kendati laris, tapi masih merugi €227 juta. “Tahun lalu kami memproduksi kurang dari 7.000 unit, tahun ini juga sebesar itu dan begitu juga di 3-4 tahun mendatang,” kata Gueseppe Cattaneo, Direktur Pelaksana Ferrari Far East Pte. Ltd., dalam wawancara dengan Bloomberg Businessweek Indonesia online. Limitasi produksi dilakukan guna menaikkan nilai eksklusivitas produk dan menjaga nilai jual dari mobil bekasnya. Ferrari kini berupaya menggenjot penjualan di Asia Pasifik dengan mengurangi jumlah penjualan di Amerika dan Eropa.

Keterbatasan itu yang barangkali menjadi alasan mobil mewah tak luput dari bajakan alias KW. Situs Inautonews mencatat, e-Bay menawarkan Lamborghini Reventon hanya US$50.000 atau sekitar Rp550 juta bulan ini, padahal edisi terbatas Reventon dibanderol selangit. Itu bukan Lamborghini sungguhan, tapi modifikasi dari Nissan 300ZX. Reventon yang asli hanya diproduksi 21 unit pada 2008. “Lamborghini didesain untuk memeluk jalanan,” kata Filippo Perini, Direktur Desain Lamborghini dalam laporan keuangan mereka. Perrini juga menjelaskan keindahan desain mobilnya dengan pensil dan kertas. “Beauty is works.”

Soal harga, semuanya enggan bicara. Tetapi situs Truecar mengestimasi harga Porsche Boxster US$63.095, situs Autoguide memperkirakan harga Ferrari F12 Berlinetta mencapai US$318.888, dan situs Motortrend menaksir harga Lamborghini Aventador antara US$397.500-548.800. Harga demikian selangit bukan tanpa sebab. Pabrikan-pabrikan ini menggelontorkan bujet besar untuk riset dan pengembangan. Dalam hal litbang, tahun lalu belanja modal BMW—pemilik Rolls-Royce—mencapai €4,79 miliar, naik 21,3% seperti terungkap dalam laporan tahunan mereka. Jumlah itu mayoritas dari total belanja modal mereka yang mencapai €6,69 miliar, sedangkan pendapatan tahun lalu mencapai €76,06 miliar.

Mobil-mobil itu dikreasikan dengan desain estetika brilian—bukan sekadar mesin pabrik—sehingga produksinya pun butuh waktu lama. Materialnya sangat detail, spesifik, dan mahal. Ada kabin yang memakai kulit banteng dan karpet dari bulu domba. Ban yang digunakan juga bukan ban biasa, melainkan berdiameter 255/50 R21 dan 285/45 R21 yang harga per unitnya ditaksir sekitar Rp150 juta untuk model Rolls-Royce Centenary. Maka tak heran jika bintang sekelas David Beckham pun memboyong Rolls-Royce Phantom Drophead Centenary ke garasi rumahnya.

Tapi sekadar informasi, tak semua membelinya secara tunai. Tawaran kredit lewat bank atau perusahaan pembiayaan (mutifinance) kerap menjadi pilihan. Porsche bermitra dengan perbankan lewat fasilitas kredit misalnya BCA, CIMB Niaga, dan Bank Mandiri. Mekanisme cicil ini juga dipraktikkan oleh Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, tersangka kasus suap pilkada yang diciduk KPK. Lembaga antikorupsi ini menyita 17 mobil Wawan—termasuk sejumlah mobil mewah seperti Lamborghini, Ferrari, Bentley, dan Rolls-Royce—yang sebagian dibeli lewat kredit.

Ada juga multifinance yang cover itu, misalnya CIMB Niaga. Biasanya diberikan kepada nasabah premium mereka. Yang beli sebulan belum tentu satu, down payment juga bisanya 50%,” kata Suwandi Wiratno, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia. “Saya bisa bilang pembelian lewat kredit untuk menjaga arus kas dan pengelolaan pajak, bukan menghindari pajak karena pembeli mobil mewah kan taat pajak,” kata Suwandi yang juga Dirut PT Chandra Sakti Utama Leasing ini.

Di tengah pertumbuhan ekonomi yang terus menanjak, masih ada tantangan sektor otomotif kelas mewah, yakni regulasi, peningkatan harga bahan bakar, dan belum pulihnya pasar Eropa dan Amerika sehingga pasar Asia (termasuk Indonesia) menjadi incaran para produsen merek superpremium. Tapi sekali lagi, konsumen segmented ini tak mempersoalkan harga. Mereka rela merogoh koceknya dalam-dalam demi meraih mimpi. □

Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 21 Juli 2014

TEST DRIVE: TANGGUH NAN STABIL

Subary XV, photo by kompas.com
Menguji keandalan teknologi symmetrical all-wheel drive di beberapa varian mobil Subaru
 
Oleh M. Tahir Saleh
 
TEGANG. Itulah yang dirasakan saat mobil Subaru Forester XT mulai menjajal lintasan dengan kemiringan ekstrem atau side ramp. “Ayo pelan-pelan gas, coba maju lagi, tahan...,” teriak navigator Subaru dari luar. Seketika, mobil ini benar-benar miring sekitar 40 derajat ketika perlahan melewati lintasan. Si pengemudi tampak kikuk, takut mobilnya terjungkir karena kian landai. Tapi, tiga penumpang di dalam mobil santai saja.

Lintasan side ramp hanya satu dari empat simulasi medan yang disediakan oleh PT TC Subaru, distributor resmi Subaru di Indonesia untuk menguji teknologi symmetrical all-wheel drive (SAWD) pada varian Subaru XV dan Forester. Tiga medan uji coba lainnya: cross rollers yang menggambarkan jalanan berlubang, shell pits yang menyimulasi jalanan rusak parah, dan slip rollers sebagai gambaran jalanan berlumpur. Empat rintangan itu mencerminkan kondisi jalan yang sering ditemui di jalanan Indonesia.

Mulai 27-29 Juni, pabrikan mobil asal Jepang ini menggelar Subaru All-Wheel Drive Challenge terbuka untuk umum di pelataran Tribeca Park, Central Park, Jakarta Barat. Inilah kali pertama Subaru menyelenggarakan tantangan serupa di Tanah Air, setelah sebelumnya digelar di Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Taiwan. Keempat lintasan tersebut didesain agar pengemudi dan penumpang bisa merasakan teknologi SAWD yang terdiri dari mesin Boxer dan all-wheel drive. Dengan inovasi itu, traksi atau tarikan diklaim menjadi tak terputus, stabilitas terjaga, dan kendali kendaraan di berbagai kondisi pun lebih baik.

Setelah hanya memandang beberapa peserta tantangan dari kejauhan, saya dan fotografer akhirnya mendapat kesempatan mengetes setangguh apa armada Subaru. Kami memilih Forester XT 2.0 XT automatic, mobil sport utility vehicle (SUV) warna abu-abu yang sudah diperkenalkan di Indonesia International Motor Show tahun lalu. (Disediakan pula varian lain untuk mengetes empat rintangan itu, yakni Subaru XV warna oranye yang dipatok Rp380 juta.) Saat masuk, interiornya ciamik meski tak begitu mewah untuk ukuran mobil yang dibanderol Rp528 juta on the road. Tampilan interior Forester didominasi warna hitam. Ruang geraknya cukup lega untuk ukuran SUV dengan kursi yang nyaman. Setelah celingak-celinguk, kami mulai menjajal mobil ini.

Pada rintangan pertama, side ramp, mobil melaju perlahan. Roda depan mulai naik ke rintangan, roda kanan belakang menggantung. Tapi, mobil tetap merayap stabil karena ditunjang teknologi SAWD. Pihak Subaru mengklaim mobil kompetitor berisiko terguling bila melaju dengan tingkat kemiringan 40-45 derajat. Perlu kehati-hatian menginjak rem karena dengan kemiringan seperti itu, agak tegang juga. “Kalau enggak benar cara belok dan ngegas berlebihan, bisa-bisa nyungsep,” kata kawan memperingati.

Selanjutnya mobil menuju rintangan kedua, slip rollers. Di sini, Forester dijajal seberapa tangguh melewati jalanan licin berkubang air, slip atau tidak. Simulasi pertama ketika roda depan tersangkut putaran licin, bersamaan dengan roda belakang. Mobil tanpa sistem SAWD bisa stagnan bila melewati rintangan ini. Simulasi kedua yakni empat roda mobil terjebak di spot licin, tapi mobil bisa keluar dari spot tersebut tanpa goyang. Slip rollers menyimulasikan jalanan berlumpur yang bisa mengakibatkan ban mobil slip. Komponen ban yang dibuat lebih keras dan tebal cukup tangguh di berbagai medan.

Dua rintangan lain menguji bagaimana suspensi Subaru ketika menaklukkan jalanan berlubang dan medan jalan yang rusak parah. Namun akselerasi Forester saat melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan sepi belum sempat dirasakan lantaran kesempatan terbatas. Setidaknya empat simulasi itu bisa menggambarkan setangguh apa mobil yang didukung mesin DOHC 16-valve horizontally opposed-empat silinder Subaru Boxer ini.

Merek ini memang dikenal dengan produk-produknya yang andal dan berteknologi tinggi di Asia, Eropa, dan Amerika. Subaru adalah divisi otomotif dari Fuji Heavy Industries, perusahaan manufaktur alat transportasi. Pada 1972, Subaru menjadi pabrikan pertama di dunia yang memproduksi mobil AWD dan pelopor mobil station wagon (biasa disebut minivan) di Jepang. Selain Forester dan XV, tipe lain di antaranya BRZ, Exiga, Impreza, Legacy, dan Tribeca. Jaringan distribusi di bawah Motor Image—anak usaha Tan Chong International Limited—mencapai 10 negara, sayangnya pabrik untuk distribusi di Tanah Air masih berada di Malaysia. Tahun ini, perseroan menargetkan penjualan mencapai 2.000 unit di Indonesia setelah tahun lalu naik empat kali lipat dari 2012. “Kami yakin dapat mencapai angka itu sampai akhir tahun. Kami menggelar AWD Challenge agar lebih banyak masyarakat yang mengenal Subaru dan keunggulan teknologinya,” kata Tjahjadi Nirjana, Deputy General Manager Sales TC Subaru.

Marcus Lim, General Manager TC Subaru, menambahkan Subaru merupakan satu-satunya mobil yang memiliki penggerak empat roda di seluruh line-up dibandingkan dengan kompetitor. “Stabilitas kontrol jauh lebih baik, akselerasi lebih. Intinya kami berbeda dengan brand lain, symmetrical system bisa menjawab apa yang diinginkan pengemudi di Indonesia,” ujarnya pekan lalu. Merek ini tidak menyasar pasar multi purpose vehicle (MPV), tapi SUV. Soal kelemahan, Lim diplomatis. “Saya pikir semua brand punya kekurangan, tapi kami unggul dibanding yang lain. Anda bisa cek kompetitor. Intinya selain teknologi, safety menjadi hal utama karena kita tahu di Indonesia orang belum terlalu teredukasi soal keselamatan.” □

Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 07 Juli 2014

Jumat, 31 Oktober 2014

MOGE KLASIK DARI INGGRIS

Tom Cruise in Mission Imposible 2, by superseries.kr
Komplet secara desain, kualitas mesin, dan kenyamanan berkendara, namun branding motor besar tertua di dunia ini belum kuat di Tanah Air.

Oleh M. Tahir Saleh

SALAH SATU adegan film Mission Imposible 2 yang menegangkan ialah aksi kejar-kejaran Ethan Hunt dengan sepeda motor. Ethan, diperankan Tom Cruise, memacu kencang motornya sambil melepaskan tembakan ke arah Sean, agen IMF yang menguber di belakang. Kejar-kejaran di jalanan pun berpindah ke medan off-road. Puncaknya, kedua motor itu beradu dan meledak di udara.

Tom mengendarai Triumph Street Triple warna hitam; sedangkan Dougray Scott, pemeran Sean, menunggangi Triumph Daytona warna merah. Kesuksesan film yang dirilis pada 2000 itu kian memperkuat merek Triumph yang memang sudah menguasai 19% pasar motor gede (moge) di sana. Dua motor tipe roadster 675 cc itu dibuat Triumph Motorcycles, pabrikan motor yang didirikan oleh Siegfried Bettman pada 1884.

Daytona, by motorcycle-usa.com
Secara historis, perusahaan ini baru berproduksi pada 1902 di Coventry, Inggris. Mereka memisahkan unit mobil, lalu fokus membuat motor pada 1935. Dua tahun berselang, motor twin engine Speed Twin dirilis. Tapi dampak Perang Dunia II—yang menghancurkan pabrik Triumph—memaksa mereka pindah ke Meriden, kota di luar Birmingham pada 1940. Setelah itu, Bonneville dirilis pada 1958.

“Varian ini sangat legendaris, ada yang enggak tahu tentang Triumph, tapi kenal Bonneville,” kata Manajer Umum PT Triumph Motorcycle Indonesia Paulus B. Suranto di Jakarta, Selasa pekan lalu. Perusahaan sempat menelurkan motor bermesin 1.200 cc dengan empat silinder, tapi kembali fokus ke tiga silinder karena dinilai lebih komplet, mudah dikendarai, dan memberi pengalaman mengesankan. “Ketika di-gir empat, tiba tiba melambat, ingin overtake, enggak perlu turun gigi rendah, langsung saja kita gas, dia akan dapat torsi akselerasi dan itu sangat diapresiasi,” kata Paulus.

Pada 1982, resesi ekonomi Eropa membuat pabrik tutup. Setahun kemudian Triumph bangkit lagi setelah konglomerat properti John Bloor mengambil alih. Selepas itu, pada 1990 perusahaan ini lahir kembali dan varian-varian kerennya—dari Speed Triple hingga New Bonneville yang dimiliki pesepakbola David Beckham—dijual ke pasar dunia.

Kini Triumph punya 7 pabrik: 2 di Inggris, 3 di Thailand, masing-masing 1 di Brasil dan India. Sampai 2011, total mereka memproduksi 500.000 unit, terjual di 54 negara dengan 26 varian motor. Tahun lalu, ketika pasar moge Eropa anjlok 52%, Triumph malah naik 22% dengan total penjualan 53.000 unit. Tahun ini perseroan membidik target penjualan 57.000 unit di beberapa negara yang diincar, di antaranya China, Yordania, Arab Saudi, Oman, India, dan Indonesia.

Secara kualitas motor bongsor ini sudah teruji karena setiap model dites hingga 35.000 kilometer dan tiap bagian mesin dirampungkan hingga 10 kali agar presisinya sempurna. Desain pun mempertahankan gaya British-nya. Namun, branding motor ini di Indonesia belum sekuat merek ‘bar and shield’ macam Harley-Davidson dari Amerika. “Karena itu kami berupaya meningkatkan brand,” kata Tito Sulistio, Direktur Utama PT Gerai Motor Terpadu, diler resmi Triumph di Indonesia.

Bonneville, by silodrome.com
Mengawali distribusinya di Tanah Air, Triumph bakal meluncurkan 12 model pada 17 September dengan banderol harga antara Rp307-575 juta. Gerai Motor mengincar 10% dari total penjualan moge di Indonesia yang diperkirakan 3.500-4.000 unit per tahun. Paulus optimistis dengan penjualan mengingat keunggulannya. Setiap motor yang keluar dari pabrik, dijamin membuat pengendara nyaman. “Experience penting karena mereka membeli moge, bukan functional bike, tapi emotional bike.

Itu pula yang dirasakan Rudy Sugono, Manajer Bisnis Triumph yang saking sukanya dengan merek itu memodifikasi Triumph Truxton 865 cc. “Dibantu teman, saya modifikasi sendiri, desain sendiri,” katanya seraya menunjuk motornya. Keunggulan lainnya adalah lengkapnya jenis Triumph, yakni Urban Sport (roadster–supersport), Adventure (adventure–touring), dan Icon (classic–cruiser)—meski beberapa kritikus mencermati Triumph kurang fokus pada jenis tertentu sebagaimana merek moge lain. Dengan alokasi 50% SDM di riset, Triumph bahkan memproduksi motor ber-cc terbesar di dunia, yakni Rocket III (2.300 cc), jauh di atas mobil keluarga semacam Avanza dan Ertiga yang hanya 1.300-1.500 cc.

Menyadari kelemahan branding, Tito bakal merangkul pemilik moge melalui komunitas. Semua pembeli langsung menjadi anggota klub Rider Association of Triumph (RAT) yang sudah eksis di beberapa negara. Gerai Motor juga mengalokasikan 1.000 meter persegi untuk lahan safety riding saban Sabtu dan Minggu. “Showroom kami akan menjadi salah satu dari lima terbesar di dunia dengan 420 meter persegi, belum lagi ditambah bengkel dan lahan safety riding,” kata pria berkumis pendiri Harley Owners Group (HOG) Indonesia ini.

Tentu tak mudah, akan terjadi persaingan sengit memperebutkan pasar moge yang cukup kecil dan sangat tersegmentasi ini. Selain Triumph, telah bercokol Harley-Davidson, lalu Indian Motorcycle, pabrikan Amerika yang juga baru masuk. Tapi Tito optimistis, apalagi daya beli masyarakat terus meningkat. “Prioritas kami membangun komunitas. Prinsipnya, orang beli moge bukan untuk dipakai sehari-hari. Dia pengen bergaul kok,” katanya. “Saya bisa klaim rata-rata pembeli moge itu sudah punya rumah dan mobil. Kalau enggak punya, tapi malah beli moge bisa-bisa digebukin sama istri lho.” □

Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 25 Agustus 2014

Entri Populer

Penayangan bulan lalu