![]() |
Subary XV, photo by kompas.com |
Menguji
keandalan teknologi symmetrical
all-wheel drive
di beberapa varian mobil Subaru
Oleh
M. Tahir Saleh
TEGANG.
Itulah yang dirasakan saat mobil Subaru Forester XT mulai menjajal
lintasan dengan kemiringan ekstrem atau side
ramp.
“Ayo pelan-pelan gas, coba maju lagi, tahan...,”
teriak navigator Subaru dari luar. Seketika, mobil ini benar-benar
miring sekitar 40 derajat ketika perlahan melewati lintasan.
Si pengemudi tampak kikuk, takut mobilnya terjungkir karena kian
landai. Tapi,
tiga penumpang di dalam mobil santai saja.
Lintasan
side
ramp
hanya satu dari empat simulasi medan yang disediakan oleh PT TC
Subaru, distributor resmi Subaru di Indonesia untuk menguji teknologi
symmetrical
all-wheel drive
(SAWD) pada varian Subaru XV dan Forester. Tiga medan uji coba
lainnya: cross
rollers
yang menggambarkan jalanan berlubang, shell
pits
yang menyimulasi jalanan rusak parah, dan slip
rollers
sebagai gambaran jalanan berlumpur. Empat rintangan itu mencerminkan
kondisi jalan yang sering ditemui di jalanan Indonesia.
Mulai
27-29 Juni, pabrikan mobil asal Jepang ini menggelar Subaru All-Wheel
Drive Challenge terbuka untuk umum di pelataran Tribeca Park, Central
Park, Jakarta Barat. Inilah kali pertama Subaru menyelenggarakan
tantangan serupa di Tanah Air, setelah sebelumnya digelar di
Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Taiwan. Keempat lintasan tersebut
didesain agar pengemudi dan penumpang bisa merasakan teknologi SAWD
yang terdiri dari mesin Boxer dan all-wheel
drive.
Dengan inovasi itu, traksi atau tarikan diklaim menjadi tak terputus,
stabilitas terjaga, dan kendali kendaraan di berbagai kondisi pun
lebih baik.
Setelah
hanya memandang beberapa peserta tantangan dari kejauhan, saya dan
fotografer akhirnya mendapat kesempatan mengetes setangguh apa armada
Subaru. Kami memilih Forester XT 2.0 XT automatic,
mobil sport
utility vehicle
(SUV) warna abu-abu yang sudah diperkenalkan di Indonesia
International Motor Show tahun lalu. (Disediakan pula varian lain
untuk mengetes empat rintangan itu, yakni Subaru XV warna oranye yang
dipatok Rp380 juta.) Saat masuk, interiornya ciamik
meski tak begitu mewah untuk ukuran mobil yang dibanderol Rp528 juta
on
the road.
Tampilan interior Forester didominasi warna hitam. Ruang geraknya
cukup lega untuk ukuran SUV dengan kursi yang nyaman. Setelah
celingak-celinguk, kami mulai menjajal mobil ini.
Pada
rintangan pertama, side
ramp,
mobil melaju perlahan. Roda depan mulai naik ke rintangan, roda kanan
belakang menggantung. Tapi,
mobil tetap merayap stabil karena ditunjang teknologi SAWD. Pihak
Subaru mengklaim mobil kompetitor berisiko terguling bila melaju
dengan tingkat kemiringan 40-45 derajat. Perlu kehati-hatian
menginjak rem karena dengan kemiringan seperti itu, agak tegang juga.
“Kalau enggak
benar cara belok dan ngegas
berlebihan,
bisa-bisa nyungsep,”
kata kawan memperingati.
Selanjutnya
mobil menuju rintangan kedua, slip
rollers.
Di sini, Forester dijajal seberapa tangguh melewati jalanan licin
berkubang air, slip atau tidak. Simulasi pertama ketika roda depan
tersangkut putaran licin, bersamaan dengan roda belakang. Mobil tanpa
sistem SAWD bisa stagnan bila melewati rintangan ini. Simulasi kedua
yakni empat roda mobil terjebak di spot
licin, tapi mobil bisa keluar dari spot
tersebut tanpa goyang. Slip
rollers
menyimulasikan jalanan berlumpur yang bisa mengakibatkan ban mobil
slip. Komponen ban yang dibuat lebih keras dan tebal cukup tangguh di
berbagai medan.
Dua
rintangan lain menguji bagaimana suspensi Subaru ketika menaklukkan
jalanan berlubang dan medan jalan yang rusak parah. Namun akselerasi
Forester saat melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan sepi belum
sempat dirasakan lantaran kesempatan terbatas. Setidaknya empat
simulasi itu bisa menggambarkan setangguh apa mobil yang didukung
mesin DOHC 16-valve
horizontally opposed-empat
silinder Subaru Boxer ini.
Merek
ini memang dikenal dengan produk-produknya yang andal dan
berteknologi tinggi di Asia, Eropa, dan Amerika. Subaru adalah divisi
otomotif dari Fuji Heavy Industries, perusahaan manufaktur alat
transportasi. Pada 1972, Subaru menjadi pabrikan pertama di dunia
yang memproduksi mobil AWD dan pelopor mobil station
wagon
(biasa disebut minivan) di Jepang. Selain Forester dan XV, tipe lain
di antaranya BRZ, Exiga, Impreza, Legacy, dan Tribeca. Jaringan
distribusi di bawah Motor Image—anak usaha Tan Chong International
Limited—mencapai 10 negara,
sayangnya pabrik untuk distribusi di Tanah Air masih berada di
Malaysia. Tahun ini, perseroan menargetkan penjualan mencapai 2.000
unit di Indonesia setelah tahun lalu naik empat kali lipat dari 2012.
“Kami yakin dapat mencapai angka itu sampai akhir tahun. Kami
menggelar AWD Challenge agar lebih banyak masyarakat yang mengenal
Subaru dan keunggulan teknologinya,” kata Tjahjadi Nirjana, Deputy
General Manager Sales
TC Subaru.
Marcus
Lim, General
Manager TC
Subaru, menambahkan Subaru merupakan satu-satunya mobil yang memiliki
penggerak empat roda di seluruh line-up
dibandingkan
dengan kompetitor. “Stabilitas kontrol jauh lebih baik, akselerasi
lebih. Intinya kami berbeda dengan brand
lain, symmetrical
system
bisa menjawab apa yang diinginkan pengemudi di Indonesia,” ujarnya
pekan lalu. Merek ini tidak menyasar pasar multi
purpose vehicle
(MPV), tapi SUV. Soal kelemahan, Lim diplomatis. “Saya pikir semua
brand
punya kekurangan,
tapi kami unggul dibanding yang lain. Anda bisa cek kompetitor.
Intinya selain teknologi, safety
menjadi hal utama karena kita tahu di Indonesia orang belum terlalu
teredukasi soal keselamatan.” □
Terbit
di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 07 Juli 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar