![]() |
Modifikasi, by gambar-kata |
Oleh
M. Tahir Saleh
“MOBIL
bagus-bagus kok
dibuat ceper gitu,”
celoteh seorang kawan saat menyaksikan parade modifikasi mobil di
area parkir Ocean Ecopark, Taman Impian Jaya Ancol. “Biarin aja
Mas, orang banyak duit mah
begitu,” timpal Budi, tukang minuman yang mangkal
di area parkiran tersebut. Kami istirahat sejenak di bawah pohon
sambil menyeruput air mineral yang dijual Budi. Siang yang cukup
panas setelah hampir sejam mondar-mandir melihat mobil-mobil
modifikasi.
Di
depan kami, sekitar 200-an mobil hasil modifikasi berjejer dipamerkan
pada Jakarta Modification Festival (Jakmodfest) 2014 di Ancol, Sabtu
9 Agustus.
Pelbagai mobil dari segala aliran dijajakan seperti stance,
classic, retro, elegant, VIP, Japanese Domestic Market, total body
conversion, off-road,
extreme,
dan
lainnya. Mereknya macam-macam, dari yang termurah seperti Toyota Agya
dan Daihatsu Ayla hingga premium seperti Mercedes-Benz
atau Jeep Rubicon.
Sejak
pukul 8.00 pagi, satu per satu mobil berpenampilan unik masuk ke area
parkiran.
Sampai pukul 11.00,
tercatat jumlah kendaraan mencapai 184 dari total terdaftar lebih
dari 200 unit. Acara ini melanjutkan kesuksesan dua event
tahun lalu,
yakni Jakmodfest 2013 dan Street of The Year (#SCOTY). Gelaran tahun
ini dinamakan Jakmodfest Cars N Burger dan diklaim menjadi salah satu
event
mobil
modifikasi terunik dan terbesar di Indonesia karena mengakomodasi
seluruh daerah. Nama 'Cars N' Burgers' dipilih karena panitia
menyediakan burger untuk makan siang. “Para peserta juga dilibatkan
di berbagai tantangan yang kami siapkan,”
kata Aditya Pradhana, anggota panitia Jakmodfest.
Beberapa
tantangan itu antara lain beat-the
bump challenge,
mobil dengan ground
clearance
rendah ditantang melewati polisi tidur. Ada juga car
limbo,
mobil harus melewati tiang yang ketinggiannya dibatasi, jadi mobil
harus seceper mungkin. Ada tiga tipe modifikasi: show,
wild,
dan mild.
Kategori modifikasi show
di seluruh bagian, wild
hanya beberapa bagian, sedangkan mild
pada satu bagian saja.
Para
peserta sebagian besar anak muda berusia 18-30 tahun. Mereka datang
sendiri, bersama teman, atau menggandeng pacar dengan balutan busana
cukup berani. Di pojokan parkiran,
berdiri Nadhif Pradipta (18), mahasiswa Universitas Kristen
Maranatha, Bandung. Dia tengah membuka kap depan mobilnya. Pemuda
kurus ini datang bersama puluhan karibnya yang tergabung dalam
‘keluarga’ Speed Stance dengan total 23 mobil yang digiring
langsung dari Kota Kembang. “Kami berangkat Jumat malam, sampai di
Jakarta nginep
di hotel dulu. Sabtu pagi jalan ke Ancol,” ceritanya.
Mobilnya
Mercedes-Benz keluaran 1989. Itu mobil ayahnya yang diwariskan
kepadanya. Mesinnya diganti, knalpot diubah lebih sporty,
pengapian pun dipasang blue
fire.
Dua jok belakang diangkat dan dibiarkan lowong. Total dia
menghabiskan sekitar Rp55 juta selama dua tahun pengerjaan bertahap.
“Uang dari orangtua, tapi saya juga kerja, manajer DJ, bantu-bantu
event
organizer,”
katanya didampingi teman-teman Speed Stance. Hadir pula komunitas
modifikasi dari Yogyakarta, Java Flash.
Selain
Nadhif, Nabilah (21) juga memendekkan Mazda 2 miliknya. Ia pasangi
audio full
di bagian belakang. “Lama modifikasi sekitar 4-5 bulan,” kata
mahasiswi Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII) Jakarta
ini. “Total habis sekitar Rp45 juta, duitnya dari orangtua,”
katanya sambil tersenyum.
Berbeda
dengan Nadhif dan Nabilah, Derry Wahyu (25) dan Haruns Maharbina (28)
mengandalkan kocek sendiri. Derry memiliki PO Metropolitan yang
menyewakan bus premium, sementara Haruns fotografer Destination Media
Group. Keduanya tinggal di Grand Galaxy Bekasi. Ia ‘menyulap’
habis mobil Toyota Vios 2013 yang dibelinya sekitar Rp270 juta. Cat
asli warna hitam diganti merah candy,
dipasangi double
sunroof—celah
terbuka, suspensi udara, jok diganti, velg, dan audio. Semuanya habis
Rp200 juta. “Jarang dipakai, ke kantor biasanya pakai [Honda]
CR-V,” katanya. “Ini masih kredit lho,
kilometer juga belum sampai 1.000,” katanya tertawa.
Kalau
Derry sampai Rp200 juta, Haruns masih sekitar Rp100 juta untuk
mengubah Honda Freed putihnya. “Warna masih sama, saya ganti jok,
velg, ground
clearance,
dan sunroof.
” ujarnya. Baginya harga tak jadi soal lantaran sejak SMP sudah
menggemari mobil dimodifikasi, ibarat mimpi yang kini terbayar. “Pas
belum punya uang sendiri, motor saya modif,
sekarang sudah bisa kerja,”
kata bapak satu anak ini. Biaya perawatan standar sebagaimana merawat
mobil sekitar Rp1-2 juta.
Dari
ajang ini mereka juga memberi tips memodifikasi di antaranya estimasi
alokasi bujet, pastikan bengkel profesional, dan konsultasi dahulu
dengan teknisi. Hobi ini memang asyik, tapi sebaiknya tetap
berhati-hati memodifikasi karena semua ada risiko. “Aman sih,
tapi saya paling bermasalah kalau ke kantor, harus pelan-pelan, mobil
pendek bisa kepentok
palang parkiran,” kata Haruns tertawa.
Terbit
di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 18 Agustus 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar