![]() |
| Batu yang mirip penyu di Kepayang, by tina-tinu wisata |
![]() |
| Bersama Adit, by Imaji Tour |
![]() |
| Tukik atau anak penyu, by Bahari7 Blog |
![]() |
| Dari atas mercusuar Pulau Lengkuas, by Blog Hi |
![]() |
| Batu yang mirip penyu di Kepayang, by tina-tinu wisata |
![]() |
| Bersama Adit, by Imaji Tour |
![]() |
| Tukik atau anak penyu, by Bahari7 Blog |
![]() |
| Dari atas mercusuar Pulau Lengkuas, by Blog Hi |
![]() |
| Merapi's track, doc |
![]() |
| Mesran, doc |
![]() |
| Museum, doc |

Aku bertemu wanita beranak dua ini ketika hendak pulang ke Stasiun SMRT (Singapore Mass Rapid Transit) NS22 Orchard, lokasi hotel tempatku menginap, Four Season Hotel di Orchard Boulevard. Tujuanku ke Marina lantaran Juni tahun lalu aku berkesempatan menyaksikan topping off (penutupan atap menara) gedung berkelas internasional itu.
Selepas melihat secara langsung gedung Marina Bay Sands yang sudah jadi itu, aku putuskan untuk langsung pulang saja ke Orchard. Tak baik lama-lama mengingat aku juga mesti memanfaatkan waktu dengan baik.
Namun, suara Bapakku menari-nari di telingaku seakan ada magnet yang menghentikkan langkahku.
“Er kalau ke Singapura lagi, jangan lupa mampir ke masjid,” kira-kira begitulah pesan Bapakku terngiang-ngiang. Beliau waktu mudanya sempat berkunjung ke sebuah masjid di negeri itu di antar oleh orang Afrika.
Meskipun ibadahku tak begitu bagus, aku coba ikuti nasehat Bapakku. Berbekal satu peta Singapura, hati kecilku akhirnya bagai dituntun mengikuti suara dari Flores itu.
Itulah mengapa ketika sampai di stasiun NS27 aku batalkan pulang ke Orchard tapi langsung kuteruskan perjalanan ke stasiun SMRT EW15 Tanjong Pagar, tentu mesti mampir kembali ke SMRT Marina Bay. Di sinilah, aku bertemu Christine yang mengaku keturunan Baba ini.
“Could you help me how to get this place [sambil kutunjukkan gambar masjid Al Abrar,” tanyaku membuka percakapan.
“You better go to the SMRT EW15 Tanjong Pagar but before that you have to change when you arrived at Raffles Place, the green line,” jelasnya agak kurang jelas.
SMRT yang kunaiki arah Marina Bay ini berada pada jalur merah, sementara Tanjong Pagar ada di jalur hijau. Jadi betul kata Christine aku mesti pindah kereta di stasiun Raffles Place (EW14/NS26). Kode EW singkatan dari east west dan NS ialah north south. Kalau naik TransJakarta (Busway) di Jakarta kita bisa menyebutnya shelter transit seperti Dukuh Atas, Harmoni, dan lainnya.
SMRT ini sebetulnya sebuah sistem transportasi yang terintegrasi khususnya train atau kereta. SMRT juga melayani bus, taxi, juga mengurusi periklanan atau media di bawah bendera SMRT Corporation Ltd. Perusahan ini juga memiliki 100% SMRT Hongkong Ltd dan 49% saham Shenzen Zona Transportation Group Co Ltd. Untuk sistem keretanya, SMRT ini sungguh modern karena sudah mencakup hampir seluruh wilayah negara kecil Singapura.
Sistem ini tak banyak melibatkan sumber daya manusia sebagai pekerja. Untuk beli tiket sudah ada mesinnya, tinggal tekan menu, misalnya pembelian tiket perorangan standard. Pembeli dibimbing dengan mudah karena perintah jelas. Setelah klik menu pembelian, lalu tekan stasiun tujuan lalu muncul nominal harga dalam denominasi dolar Singapura, namanya juga di Singapura. Pembeli lalu masukkan uang dolar, seketika ploongg..tiket warna hijaun pun brojol.Sebagai informasi, perjalanan dari Orchard ke Marina Bay seharga S$2,20 atau Rp15.400 (asumsi S$1=Rp7.000), sementara ongkos dari Marina ke Tanjong Pagar hanya US$2 karena jaraknya lebih dekat.
Pertama kali memegang tiketnya, aku sempat ragu apakah ini return trip (PP) atau hanya sekali perjalanan pergi. Setelah bertanya ke petugas, nyatanya pembeli mesti membeli kembali tiket perjalanan pulang,,hehe mana ada gratis. Sebetulnya ini sama seperti TransJakarta. Pengguna tak perlu membeli jika ingin kembali dengan catatan tak keluar dari pintu utama.
Keuntungan lain, uang receh pun sangat dihargai karena saat kita mengembalikan tiket hijau tersebut di mesin pembeli tiket (dengan cara yang hampir sama), ada uang kembali S$1, lumayan, lumayan kan?
“Thanks for guide me,” kataku kepada Christine diiringi deru suara kerata bertalu-talu.
Christine tidak mengantarku sampai ke Tanjong Pagar karena mesti melanjutkan perjalanan ke Bugis.
Di dalam kereta aku merenung, kok Singapura, negeri seuprit ini gampang sekali menerapkan SMRT. Pengguna merasa begitu nyaman sekali, kereta bersih, udara sejuk, wangi, tak ada bau kretek dan bau ketek, lajunya pun cepat tanpa hitungan jam seperti di Indonesia. SMRT ini bisa dibilang menjual menit bukan jam. Kampanye perjalanan di atas stasiun pun menarik…dari Orchard ke Marina Bay, only 2 minutes?wow…
Selang beberapa menit, sampailah aku kembali dengan selamat di Orchard setelah mengunjungi Masjid Al Abrar yang dibangun pada 1827, dekat dengan SMRT Tanjong Pagar, bukan Stasiun Tanjung Barat ya.
Sayangnya apes buatku. Saat ke pintu keluar utama aku malah gunakan tiket bekas perjalanan dari Marina Bay ke di Tanjong Pagar yang belum kukembalikan untuk dapatkan S$1. Pantas saja aku ga bisa keluar.
“This old card sir, please check the time when you get this one…blab la bla….” kata petugas. “Uppss sori, salah kartu,” kataku.
Meski agak kaku sebagai orang baru pertama kali naik SMRT ini, aku begitu nyaman. Beberapa kali aku bertanya kenapa masyarakat di sana mengapa lebih memilih SMRT dari pada sepeda motor.
Iya tentu saja, pertama karena begitu mudahnya SMRT dan nyaman. Kedua, sepeda motor masih dipandang berbahaya dan mahal baik dari sisi bensin maupun perawatan. Di Jakarta, sebaliknya. Sistem transportasi yang amburadul membuat orang sepertiku ini lebih memilih sepeda motor. Murah, cepat, meski sangat berbahaya.
Kenapa negara sebesar Indonesia dengan besarnya jumlah PDB tahun iin Rp6.000 triliun tak bisa menerapkan sistem serupa? Orang-orang seperti Chritine tentu seabrek-abrek di wilayah Indonesia sana, yang punya pemikiran nyaman itu nomor satu. Semestinya Indonesia tak kalah dari Singapura, tapi mau bagaimana..transportasi di wilayah pelosok seperti Kalimantan, Papua, dan NTT saja masih susah, apalagi MRT? E
Entah kapan Indonesia punya MRT…tanyakan pada ahlinya…
Gambar: thr
.jpg)
Oleh Taher Saleh
Senja perlahan mengendap di kaki langit saat kami baru sampai di Kota Semarang. Tak berpanjang waktu, perjalanan pun kami teruskan ke salah satu tempat ibadah kebanggaan masyarakat muslim di sana sekaligus objek wisata rohani, Masjid Agung Jawa Tengah.
Ketika tiba menjejakkan kaki di pelataran masjid, sontak kami pun sibuk mencari sudut pandang yang pas buat mengabadikan prasasti sejarah yang mulai dibangun pada 6 September 2002 ini.
Rasanya hilang semua rasa letih perjalanan panjang kami dari Solo, yang tersisa hanya kekaguman atas bangunan yang berdiri di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Sambirejo. Kecamatan Padurungan, Semarang ini.
Masjid Jawa Tengah juga dikenal sebagai obyek wisata rohani selain fungsi utamanya untuk ibadah apalagi di bulan suci seperti Ramadhan tentunya pengunjung bisa bertambah dari bulan biasa. Di masjid ini juga terdapat pusat pendidikan, perpustakaan, museum, dan pusat akltifitas syiar Islam.
Sebelum masuk ke masjid, kita akan melewati gerbang lengkung yang menyerupai colosseum di Romawi, satu bangunan dunia yang dikenal sebagai kuburan bagi para gladiator. Unik memang karena masjid yang diresmikan pada 14 November 2006 ini dibangun dengan desain Jawa-Islam-Romawi yang diarsiteki oleh Ahmad Fanani hasil memenangi sayembara.
Gerbang lengkung ini bernama Al-Qanatir, artinya “megah dan bernilai". Gerbang ini ditopang 25 tiang, simbol bahwa ada 25 Rasul Allah. Setelah melewati gerbang, sudah berdiri dengan pongah enam buah payung hidrolik yang menutup dan membuka secara otomatis, berfungsi sebagai atap halaman utama masjid di mana bisa menampung 10.000 jamaah. Tepat di bawah halaman utama ini tempat parkir.
Belum ada masjid di Indonesia yang mengadopsi payung hidrolik yang mirip di Masjid Nabawi ini selain masjid yang kami kunjungi ini. Sayangnya, saat tiba, payung hidrolik masih menguncup. Tapi untung juga kami tiba sore, bisa dibayangkan kalau berdiri siang bolong karena lantai marmer pelataran masjid masih terasa panas "membakar” telapak kaki. Mungkin saja payung itu dibuka kalau hujan.
Selain berbentuk joglo yang mewakili bangunan khas jawa, masjid ini memiliki kubah putih berdiameter 20 m dengan 4 minaret dengan ketinggian 62 m yang berdiri empat sisi kubah sebagaimana dikutip dari situs resmi masjid. Sebelum naik ke lantai utama masjid (lantai 2) kita mesti ke lantai dasar tempat wudhu.
Di dalam masjid, ornamen-ornamen penghias masjid begitu elok. Di pojok kanan belakang, terdapat bedug raksasa, bernama Bedug Ijo Mangunsari karya KH Achmad Sabri, Tinggarjaya Jati Lawang, Purwokerto. Panjangnya 310 meter. Konon, selama pembuatan, si pembuat (tukang) harus dalam keadaan berpuasa. Adapun alat pemukul bedug diberikan oleh sultan Hasanah Baulqiyah, Brunai Darussalam.
Setelah sibuk ria di dalam masjid, langsung kami beranjak ke salah satu keunikan masjid ini yakni Menara Al Husna. Menyusuri menara kita akan melewati Convention Hall yang berdaya tampung 2000 orang yang biasanya digunakan untuk acara resepsi pernikahan dan rapat para pejabat.
Sesampainya di menara kita mesti merogok kocek Rp3.000 untuk tiket masuk, bonusnya diberikan beberapa makanan ringan. Di menara ini hampir setiap sore ramai dikunjungi masyarakat. Tinggginya 99 meter atau simbol dari asma Allah yang terdiri dari 99 nama. Menara ini terdiri dari 19 lantai dan di puncaknya kita bisa memakai teropong seperti layaknya di Monas Jakarta.
Di lantai satu, kita bisa mendengarkan kajian-kajian Islami di Radio Dakwah Islam (DAIS) lalu di lantai dua dan tiga terdapat museum di mana kita dapat mengetahui perkembangan Islam dari tahun ke tahun. Nah untuk lantai empat sampai 17 belum ada informasi ditel sepertinya hanya lorong kosong.
Di lantai 18 terdapat restoran bertaraf Internasional dan cafe muslim. Tapi jangan kaget jika pelan pelan restoran ini akan berputar 360 derajat layaknya tempat makan Kampus yang terletak di Menara Imperium Jakarta.
Nah sampailah kami di puncak menara lantai 19 yang berdaya tampungnya 80 orang. Ada lima teropong yang bisa dimanfaatkan. Hanya dengan koin Rp500,-per menit kita bisa mengintip sekilas kontur ibu kota Jawa Tengah ini.
Dari atas kita bisa melihat pertokoan yang ada di sebelah kanan masjid, suasana cuaca kota Semarang, dan sekilas pemandangan kapal-kapal yang sedang berlalu-lalang di pelabuhan Tanjung Emas dari kejauhan.
Menikmati pemandangan dari atas lumayan menahan kami di lantai ini lagipula saat kami di sana bulan lalu masjid memang banyak di kunjungi wisatawan yang berasal dari berbagai daerah. Bahkan beberapa turis manca negara, khususnya muslim banyak yang melunangkan waktu berkunjung ke masjid ini. Dan tak terasa hari sudah menjelang magrib. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Lawang Sewu saat senja tak malu lagi menampakkan diri.
foto: taher by nokia e71

Oleh Taher Saleh
Foto usang ini tak disangka sudah berumur 34 tahun ketika kutemukan pekan lalu di tumpukan dokumen seseorang. Kalau diibaratkan Mas-mas, mungkin usianya sudah sepantaran dengan beberapa bosku di kantor yang penuh janggut tipis di dagu dan kumisan seperti Mas-mas pada umumnya.
Diambil pada Desember 1976 di Genoa, Italia, foto ini agak menggelitik melihat gaya pakaian pemuda-pemuda yang dipotret ini kalau dibandingkan dengan tren gaya masa kini, 2010. Celana cutbray rumbai-rumbai model 70-an, kaca mata hitam, sepatu panthopel, rambut terurai gondrong.
Coba simak gaya pakaian pemuda baju merah sebelah kiri bersepatu putih berujung tajam. Selintas gayanya mirip icon pria disco 70-an, John Travolta. Bintang filem yang melejit lewat film Face Off ini memang awalnya beken lewat joget disko ditambah gaya trendi dalam film Saturday Night Fever (1977).
Ceritanya dalam foto ini, pemuda-pemuda di atas yang rata-rata berusia tanggung 25-27 tahun ini mencoba sedikit beradaptasi dengan gaya trendi saat itu apalagi mereka menjejakkan kaki di negeri pizza.
Ada juga gaya rambut ‘talang’ mirip Farah Fawcett-bintang film Charlies Angel (1977) dengan guntingan berlapis lembut dan potongan panjang menyamping. Rambut gondrong di foto itu juga agak gelombang terlihat lebih ‘hidup’ dan bertekstur, sehingga lebih dinamis dan feminism khas zamannya. Tak ketinggalan model rambut poni dengan trap pendek dan layer asimetris pada bagian samping.
Kala itu di siang hari bolong pada Desember ceria 34 tahun silam, mereka membeku di atas kilatan kamera manual di Genoa Italia, kota yang lekat dengan sejarah peradaban yang panjang khususnya bagi kaum pelaut, nenek moyang orang Indonesia. Di sana menjadi satu kota persinggahan dari puluhan persinggahan lainnya dari Asia, Eropa hingga Afrika menikmati menjadi diri sendiri.
Tentu mereka sudah akrab dengan Pelabuhan Genoa, salah satu pelabuhan terkenal di Italia yang selalu perlu disebut jika membicarakan sejarah perdagangan di Eropa dan dunia karena mereka pelaut. Namun sayang sekali aku belum dapet sejarah tutur panjang dari salah satu dari mereka, ayahku, yang berdiri kedua dari kanan.
Ternyata benar juga apa kata bang Haji Rhoma Irama, kalau kawula muda itu punya tenaga obesesi dan semangat hidup luar biasa. Dan mereka membuktikan itu berkelana menyeberang samudra, memeras keringat di atas dek kapal atau bersepoi-sepoi ria melempar sauh.
Semoga suatu waktu bisa menyamai rekor mereka dengan jalan hidup yang berbeda, tapi tentu saja aku tak mungkin pakai cutbray lalu memotret diri di Italia seperti mereka. Forza masa muda.
28/6/10
Foto: koleksi pribadi,