Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 November 2014

PESONA NEGERI PENYU

Batu yang mirip penyu di Kepayang, by tina-tinu wisata
Sebuah pulau di Belitung dijadikan basis penangkaran anak penyu dan konservasi terumbu karang. Lokasinya ditargetkan menjadi pusat wisata ekologi
 
Oleh M. Tahir Saleh

LAJU perahu motor kami mulai melambat. Sang juru kemudi lalu membuang sauh ketika sampan hampir sampai di bibir pantai. Perahu masih bergoyang-goyang, beberapa penumpang siap menggulung celananya. “Selamat datang di Pulau Kepayang," ujar Julian Aditya, pemandu wisata yang menemani kami sejak di Belitung. Penumpang kemudian bergegas turun menjejak pasir putih.

Di pantai, orang-orang menyambut kami bak tamu agung. Kami diwajibkan mencicipi ramuan daun sirih satu per satu. Semua ketakutan, ada yang diam-diam menyelinap kabur melewati para penyambut. Mereka yang tersisa mau tak mau ‘melahap’ ramuan yang terdiri dari daun sirih, pinang, kapur, gambir, dan sedikit tembakau itu. Rasanya agak pedas dan sepet. Residunya berupa ludah berwarna merah dan sisa-sisa serat dari buah pinang. Upacara kecil itu lazim dilakukan saat menyambut tamu sebagai rasa persahabatan, kehormatan, dan suka cita.
 
Inilah Pulau Kepayang, salah satu pulau incaran wisatawan selain Tanjung Tinggi yang terkenal lewat film Laskar Pelangi. Pulau seluas sekitar 14 hektare yang kami kunjungi pada 23 Agustus ini dijadikan lokasi penangkaran penyu sisik atau hawksbill sea turtle dan konservasi terumbu karang di Bangka Belitung. Kepayang yang dahulu dinamakan Pulau Babi, juga menjadi pulau terbesar di antara belasan gugusan pulau-pulau kecil eksotis di utara Belitung.

Untuk mencapai Kepayang, butuh 15-20 menit perjalanan dengan perahu dari pelabuhan Tanjung Kelayang, harga sewa perahunya sekitar Rp350.000-400.000. Lama perjalanan dari pusat kota Tanjung Pandan menuju pelabuhan sekitar 30 menit dengan bus carter. Di pulau ini berdiri Pusat Konservasi Penyu dan Terumbu Karang yang diresmikan pada 22 Juli 2010 oleh Bupati Belitung Darmansyah Husein. Pemerintah lalu memercayakan pengelolaannya kepada Kelompok Peduli Lingkungan Belitung (KPLB) yang dibentuk oleh aktivis lokal Budi Setiawan pada 1997.
 
Bersama Adit, by Imaji Tour
Di bagian belakang bangunan, pengunjung bisa melihat kolam penangkaran kura-kura laut. Aditya yang mengelola Wisata Belitung Imaji Tour mengatakan upaya penangkaran ditempuh guna menyelamatkan tukik atau anak penyu dari kepunahan. “Setahun dua kali bertelur dan sekali bertelur ada 1.000 anak penyu,” kata Adit menjelaskan. “Tapi dari 1.000 telur itu yang hidup sampai dewasa paling cuma dua ekor.”
 
Daya hidup tukik memang rendah karena reptil ini belum sanggup bertahan di alam liar sesaat setelah menetas. Biawak juga menjadi alasan terbesar mengapa populasi anak penyu menyusut—di samping ancaman manusia. Tukik belia pun belum mampu menyelam sehingga bisa dimangsa burung. Itulah sebabnya tim KPLB akan menggali telur-telur penyu, lalu dipindahkan ke tempat aman agar tidak dimakan biawak.
 
Setelah tukik dipindahkan ke kolam penangkaran, mereka diberi makan ikan-ikan kecil dan diperlakukan seperti di habitatnya. Bahkan pengunjung dilarang memotret dengan cahaya. “Penyu peka terhadap cahaya. Kalau ada flash, itu jadi patokan penyu saat dia di alam bebas. Dia bisa merasa terancam, lalu pergi dan baru akan kembali beberapa hari kemudian,” kata Ketua KPLB Budi Setiawan. Penyu berbeda dengan kura-kura yang tinggal di darat, meski sama-sama punya batok. Penyu ialah kura-kura laut dan hanya penyu betina yang sesekali ke daratan saat hendak bertelur di pantai. “Sebab itu tukik-tukik bisa dilepaskan kalau sudah berusia 3-5 bulan karena pada usia itu anak penyu sudah bisa hidup di alam mereka,” kata ayah tiga anak ini.
 
Tukik atau anak penyu, by Bahari7 Blog
Wisatawan juga ditawari melepas tukik ke laut. Cara pegangnya bukan digenggam, tapi tukik diletakkan di telapak tangan lalu tangan satunya menekan lembut batoknya dari atas. “Wah, dia gerak-gerak nih. Gimana nih, Pak,” kata Melanie, seorang rekan, kepada Budi ketika empat sirip tukik itu bergerak-gerak ingin melepaskan diri. Pengunjung juga bisa mengadopsi tukik dengan membayar Rp50.000 per ekor kepada pengelola.
 
Program penangkaran penyu ini bermula pada 2009. Melalui KPLB, Budi mengajukan proposal pengelolaan Pulau Kepayang kepada pemda. Ia bertekad menjadikan Kepayang sebagai pusat ekologi nasional. Awalnya ia resah karena dampak penambangan timah di Bangka, pulau tetangga Belitung, membuat lautnya keruh dan terumbu karang rusak. Memang ia sadari eksploitasi itu didorong kebutuhan ekonomi. “Itu sebabnya saya memilih konservasi alam dan mengombinasikannya dengan wisata sebagai strategi melindungi alam dan menggerakkan perekonomian penduduk lokal,” kata alumnus Sastra Jerman Universitas Padjadjaran ini.
 
Konsep pelestarian alam yang baik, menurut Budi, harus melibatkan warga dan mampu mendapatkan keuntungan ekonomi. Tanpa kedua hal itu, kegiatan konservasi berpotensi konflik dengan kebutuhan hidup warga. “Jadi warga kami libatkan, seperti tiga pelatih ini,” katanya sambil menunjuk tiga pemuda yang melatih kami bermain rebana. Dari sisi ekonomi, pulau ini pun dijadikan lokasi wisata ekologi dan edukasi lengkap dengan dive center, restoran, cottage, dan penginapan.
 
Dari atas mercusuar Pulau Lengkuas, by Blog Hi
Setelah cukup lama berupaya, perjuangan Budi dan kawan-kawannya mulai menuai hasil. Pulau itu kini dikenal sebagai lokasi pelestarian terumbu karang dan penangkaran penyu tingkat nasional dan internasional. Pencapaian tersebut membuat organisasi global memberi perhatian. Tidak ketinggalan perusahaan nasional, termasuk PT Mandiri Sekuritas, menggelar program tanggung jawab sosial (CSR) di Belitung. “Program lingkungan kami pilih karena memang cocok untuk Belitung yang sedang mengembangkan pariwisata alam. Kami baru mulai tahun ini untuk CSR di Kepayang,” kata Executive VP Corporate Communication Mandiri Sekuritas Febriati Nadira. “Kami punya tiga pilar CSR: pendidikan, ekonomi, dan lingkungan. Dan yang paling cocok di sini lingkungan,” katanya tanpa memerinci anggaran yang dikucurkan ke KPLB.

Pesona pulau ini membuatnya selalu ramai dikunjungi wisatawan. Pasir putih yang halus, ritual makan buah pinang, mencicipi kelapa muda sambil bersantai di pinggir pantai, mencoba kopi khas Belitung, snorkling di tengah laut, dan bersama-sama melepas tukik ke habitatnya. Semua itu mampu membuat pengunjung berencana datang kembali ke Kepayang. ⫐.
 
Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 08 September 2014

Jumat, 31 Oktober 2014

SATU JAM MENGAKRABI MERAPI

Merapi's track, doc
'Untuk Anda yang terhindar dari bencana, maka syukurilah hidupmu'

Oleh M. Tahir Saleh

DERU mesin Jeep Willys keluaran 1944 mulai terdengar nyaring. Dari balik kemudi, Mesran (30), siap tancap gas membawa saya menyusuri kawasan bekas erupsi Gunung Merapi. Sebuah wisata yang disebut Volcano Tour, menjadi salah satu alternatif pelesiran di Yogyakarta.

Untuk menuju ke sini, butuh sekitar 30-45 menit dari pusat kota menggunakan kendaraan pribadi. Ada pula angkutan umum, tapi harus beberapa kali naik turun. Ketika sampai, saya langsung diberi tiga pilihan. Mau rute pendek, menengah, atau panjang. Inginnya sih langsung rute panjang, tapi karena hari sudah siang, saya pilih rute pendek bertarif Rp250.000 (tarif turis bule Rp300.000). Harga ini bukan perorangan melainkan per satu jip. Sempat kaget juga karena mode transportasinya mobil bekas Perang Dunia II. Namun, begitu tahu medannya penuh liku dan batu, rasanya ini memang ‘makanan’ jip. Di 86 Merapi Jeep Tour Community, salah satu penyedia jasa, juga tersedia mobil four-wheel drive lain seperti Daihatsu Taft, Landcruiser, Suzuki Jimny, dan Land Rover.

Mesran, doc
Mesran mulai menggerakkan kemudi setir ke arah barat kaki Gunung Merapi. Jip beratap terbuka ini memberi sensasi unik karena penumpang bebas menghirup udara, adrenalin pun kian terpacu saat melewati bebatuan besar. Para penyuka petualangan ekstrem mesti mencobanya.

Tujuan pertama kami bekas Dusun Jambu. Kampung ini merupakan salah satu wilayah terdampak erupsi cukup parah. Tak ada lagi sisa 'bangkai' rumah. Hanya tampak sebuah batu besar mirip wajah seorang kakek yang dinamai Batu Alien. “Bagi yang percaya, batu ini dianggap keramat. Sejak muncul pasca-erupsi sudah berbentuk wajah kakek-kakek dan ndak bisa dipindahkan,” cerita Mesran. “Pakai alat apa pun, tetap ndak bisa dipindahkan.” Malahan beberapa penganut kepercayaan tertentu kerap mendatangi lokasi ini untuk berdoa dan menaruh sesajen. Mereka percaya batu tersebut 'hidup' dan wujud penghuni Merapi. “Ya, ada yang meyakini seperti itu. Tapi, diambil sisi positifnya saja bahwa Batu Alien ini kemudian menjadi salah satu objek menarik dalam Volcano Tour.”

Perjalanan dilanjutkan ke bekas bungker di Kampung Kaliadem. Letaknya tak jauh dan masih melewati jalanan curam penuh batu besar. Di tengah jalan, kami sempat berhenti melihat uap panas abadi yang keluar alami. Saya menjajalnya. Ternyata benar. Dari dalam pasir muncul uap halus, terasa hangat. “Sejak erupsi terakhir 2010 lalu, uap ini keluar terus, ndak pernah berhenti. Kalau ditaruh telur, lama-lama matang sendiri,” tuturnya. Pemandangan di dekat uap itu pun sangat indah karena tempat ini paling dekat dari puncak gunung. Banyak orang memanfaatkan spot tersebut untuk berbagai keperluan seperti syuting film atau foto pranikah.

Tak lama kemudian, kami tiba di bekas bungker yang selesai dibuat pada 2005. Bungker ini dulunya digunakan warga untuk berlindung dari ganasnya erupsi Merapi. Namun, sejak 2006 berhenti difungsikan lantaran tak sanggup menahan panas. "Waktu itu ada dua relawan yang tewas karena terjebak di dalamnya. Bungker ini menjadi tempat yang tidak aman karena ternyata panas Merapi bisa tembus,” ujar Mesran.

Kondisi bungker gelap gulita. Ada beberapa bagian ruangan, salah satunya kamar mandi. Ada pula meja bundar berukuran besar, di atasnya ada sesajen. Hawa di dalam terasa dingin dan lembab. Sedikit memunculkan kesan mistis yang menjadi daya tarik banyak orang. “Di sini sering dipakai lokasi uji nyali juga buat acara di televisi. Ya, bagi yang percaya, tempat ini dianggap mistis atau keramat, tapi bagi yang ndak percaya, biasa saja,” katanya. Di sekitar bungker, beberapa warga yang dulu bermukim di kaki Merapi mencoba berwirausaha dengan menyewakan toilet, menjajakan dagangan dari minuman, makanan, hingga bunga Edelweis.

“Saya sama kayak warga lain, sempat mengungsi. Hewan ternak saya mati semua. Saya dapat pinjaman bank Rp1 juta buat usaha,” cerita Yamirah, 42 tahun, penjual bunga Edelweis. “Kalau sedang ramai pengunjung, saya bisa dapat Rp300.000. Kalau sedang sepi, ya seadanya saja sudah alhamdulillah.”

Lokasi tersebut tidak begitu ramai, tapi menjadi pos peristirahatan bagi peserta Volcano Tour. Menjelang siang, Mesran lalu mengarahkan kami ke jalan pulang, tapi bukan langsung kembali ke pos awal, melainkan singgah di Museum Sisa Hartaku. Kalau mengambil rute menengah atau panjang, peserta tur bisa mampir di bekas rumah mendiang Mbah Maridjan, kuncen Gunung Merapi, dan lokasi menarik lain.

Museum, doc
Museum Sisa Hartaku ini unik, bisa dilihat dari struktur bangunan rumah yang dibiarkan asli dan seluruh barang di sana. Rumah yang dijadikan museum ini sebetulnya milik warga korban Merapi, keluarga Riyanto. Isinya berupa barang-barang yang menjadi saksi bisu dahsyatnya erupsi 2010. Tengoklah di bagian teras. Di situ, ada bangkai sapi yang tinggal tulang belulang, motor Suzuki yang hangus terbakar, patahan tembok bertuliskan 'Merapi tak pernah ingkar janji', juga kursi kayu yang tertutup debu.

Masuk ke dalam, pemandangan menyayat hati meninggalkan kesan mendalam. Diiringi lagu Ebiet G. Ade, semua sisa harta warga dibiarkan 'bicara'. Ada jam dinding yang berhenti pada angka 00.05 (waktu erupsi terjadi), sisa pakaian, foto-foto keluarga, alat-alat dapur, radio, televisi yang hangus, dan banyak lagi. Berada di sana seolah mengajak pengunjung kembali ke masa lalu, ketika erupsi dahsyat memorakporandakan kehidupan warga, saat kehangatan keluarga berubah sirna hanya dalam hitungan detik.

Rute pendek Volcano Tour yang hanya sekitar satu jam itu bukan wisata ekstrem semata. Selain dimanjakan panorama Merapi nan indah, beberapa lokasi justru menghadirkan renungan spiritual. Misalnya tulisan di salah satu tembok Museum Sisa Hartaku: 'Untuk Anda yang terhindar dari bencana, maka syukurilah hidupmu'. Erupsi Merapi memang terlalu menyakitkan bagi mereka yang kehilangan, baik keluarga maupun harta benda.

Terbit di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 16 Juni 2014

Minggu, 27 Februari 2011

Buddha Tooth Relic Temple


Pengabdian Sang Buddha
Oleh Tahir Saleh

PUKUL sembilan pagi, saya memutuskan keluar dari kamar 1412 Four Seasons Hotel di bilangan Orchard Boulevard, Singapura, menyusuri belantara hutan beton di negeri Singa itu.

Rencananya, pagi itu saya mau mampir sejenang ke Buddha Tooth Relic Temple & Museum atau Museum & Kuil Relik Gigi Sang Buddha, yah mumpung lokasi situs budaya itu tak jauh dari kawasan bisnis terkenal tempat saya meninginap akhir tahun lalu..
Singapore Mass Rapid Transit atau SMRT jadi pilihan saya untuk ke lokasi itu dari pada naik taksi atau bis. Selain harganya lebih murah, melaju di atas kereta cepat ini terbilang sangat menghemat waktu.

Senin, 18 Oktober 2010

Kapan Indonesia Punya MRT?

Oleh Taher Saleh

Christine duduk sendirian di sisi kanan bangku station SMRT NS27 Marina Bay. Suasana stasiun lengang saat itu karena masih pukul 12.00 siang. Rambutnya agak keriting, kalau ditaksir usianya sekitar 30 tahunan, berwajah Asia selayaknya penduduk lokal Singapura pada umumnya.

Aku bertemu wanita beranak dua ini ketika hendak pulang ke Stasiun SMRT (Singapore Mass Rapid Transit) NS22 Orchard, lokasi hotel tempatku menginap, Four Season Hotel di Orchard Boulevard. Tujuanku ke Marina lantaran Juni tahun lalu aku berkesempatan menyaksikan topping off (penutupan atap menara) gedung berkelas internasional itu.

Selepas melihat secara langsung gedung Marina Bay Sands yang sudah jadi itu, aku putuskan untuk langsung pulang saja ke Orchard. Tak baik lama-lama mengingat aku juga mesti memanfaatkan waktu dengan baik.

Namun, suara Bapakku menari-nari di telingaku seakan ada magnet yang menghentikkan langkahku.

“Er kalau ke Singapura lagi, jangan lupa mampir ke masjid,” kira-kira begitulah pesan Bapakku terngiang-ngiang. Beliau waktu mudanya sempat berkunjung ke sebuah masjid di negeri itu di antar oleh orang Afrika.

Meskipun ibadahku tak begitu bagus, aku coba ikuti nasehat Bapakku. Berbekal satu peta Singapura, hati kecilku akhirnya bagai dituntun mengikuti suara dari Flores itu.

Itulah mengapa ketika sampai di stasiun NS27 aku batalkan pulang ke Orchard tapi langsung kuteruskan perjalanan ke stasiun SMRT EW15 Tanjong Pagar, tentu mesti mampir kembali ke SMRT Marina Bay. Di sinilah, aku bertemu Christine yang mengaku keturunan Baba ini.

“Could you help me how to get this place [sambil kutunjukkan gambar masjid Al Abrar,” tanyaku membuka percakapan.

“You better go to the SMRT EW15 Tanjong Pagar but before that you have to change when you arrived at Raffles Place, the green line,” jelasnya agak kurang jelas.

SMRT yang kunaiki arah Marina Bay ini berada pada jalur merah, sementara Tanjong Pagar ada di jalur hijau. Jadi betul kata Christine aku mesti pindah kereta di stasiun Raffles Place (EW14/NS26). Kode EW singkatan dari east west dan NS ialah north south. Kalau naik TransJakarta (Busway) di Jakarta kita bisa menyebutnya shelter transit seperti Dukuh Atas, Harmoni, dan lainnya.

SMRT ini sebetulnya sebuah sistem transportasi yang terintegrasi khususnya train atau kereta. SMRT juga melayani bus, taxi, juga mengurusi periklanan atau media di bawah bendera SMRT Corporation Ltd. Perusahan ini juga memiliki 100% SMRT Hongkong Ltd dan 49% saham Shenzen Zona Transportation Group Co Ltd. Untuk sistem keretanya, SMRT ini sungguh modern karena sudah mencakup hampir seluruh wilayah negara kecil Singapura.

Sistem ini tak banyak melibatkan sumber daya manusia sebagai pekerja. Untuk beli tiket sudah ada mesinnya, tinggal tekan menu, misalnya pembelian tiket perorangan standard. Pembeli dibimbing dengan mudah karena perintah jelas. Setelah klik menu pembelian, lalu tekan stasiun tujuan lalu muncul nominal harga dalam denominasi dolar Singapura, namanya juga di Singapura. Pembeli lalu masukkan uang dolar, seketika
ploongg..tiket warna hijaun pun brojol.Sebagai informasi, perjalanan dari Orchard ke Marina Bay seharga S$2,20 atau Rp15.400 (asumsi S$1=Rp7.000), sementara ongkos dari Marina ke Tanjong Pagar hanya US$2 karena jaraknya lebih dekat.

Pertama kali memegang tiketnya, aku sempat ragu apakah ini return trip (PP) atau hanya sekali perjalanan pergi. Setelah bertanya ke petugas, nyatanya pembeli mesti membeli kembali tiket perjalanan pulang,,hehe mana ada gratis. Sebetulnya ini sama seperti TransJakarta. Pengguna tak perlu membeli jika ingin kembali dengan catatan tak keluar dari pintu utama.

Keuntungan lain, uang receh pun sangat dihargai karena saat kita mengembalikan tiket hijau tersebut di mesin pembeli tiket (dengan cara yang hampir sama), ada uang kembali S$1, lumayan, lumayan kan?

“Thanks for guide me,” kataku kepada Christine diiringi deru suara kerata bertalu-talu.

Christine tidak mengantarku sampai ke Tanjong Pagar karena mesti melanjutkan perjalanan ke Bugis.

Di dalam kereta aku merenung, kok Singapura, negeri seuprit ini gampang sekali menerapkan SMRT. Pengguna merasa begitu nyaman sekali, kereta bersih, udara sejuk, wangi, tak ada bau kretek dan bau ketek, lajunya pun cepat tanpa hitungan jam seperti di Indonesia. SMRT ini bisa dibilang menjual menit bukan jam. Kampanye perjalanan di atas stasiun pun menarik…dari Orchard ke Marina Bay, only 2 minutes?wow…

Selang beberapa menit, sampailah aku kembali dengan selamat di Orchard setelah mengunjungi Masjid Al Abrar yang dibangun pada 1827, dekat dengan SMRT Tanjong Pagar, bukan Stasiun Tanjung Barat ya.

Sayangnya apes buatku. Saat ke pintu keluar utama aku malah gunakan tiket bekas perjalanan dari Marina Bay ke di Tanjong Pagar yang belum kukembalikan untuk dapatkan S$1. Pantas saja aku ga bisa keluar.

“This old card sir, please check the time when you get this one…blab la bla….” kata petugas. “Uppss sori, salah kartu,” kataku.

Meski agak kaku sebagai orang baru pertama kali naik SMRT ini, aku begitu nyaman. Beberapa kali aku bertanya kenapa masyarakat di sana mengapa lebih memilih SMRT dari pada sepeda motor.

Iya tentu saja, pertama karena begitu mudahnya SMRT dan nyaman. Kedua, sepeda motor masih dipandang berbahaya dan mahal baik dari sisi bensin maupun perawatan. Di Jakarta, sebaliknya. Sistem transportasi yang amburadul membuat orang sepertiku ini lebih memilih sepeda motor. Murah, cepat, meski sangat berbahaya.

Kenapa negara sebesar Indonesia dengan besarnya jumlah PDB tahun iin Rp6.000 triliun tak bisa menerapkan sistem serupa? Orang-orang seperti Chritine tentu seabrek-abrek di wilayah Indonesia sana, yang punya pemikiran nyaman itu nomor satu. Semestinya Indonesia tak kalah dari Singapura, tapi mau bagaimana..transportasi di wilayah pelosok seperti Kalimantan, Papua, dan NTT saja masih susah, apalagi MRT? E

Entah kapan Indonesia punya MRT…tanyakan pada ahlinya…

Gambar: thr


Selasa, 14 September 2010

Indahnya Masjid Rasa Roma di Semarang...

Oleh Taher Saleh

Senja perlahan mengendap di kaki langit saat kami baru sampai di Kota Semarang. Tak berpanjang waktu, perjalanan pun kami teruskan ke salah satu tempat ibadah kebanggaan masyarakat muslim di sana sekaligus objek wisata rohani, Masjid Agung Jawa Tengah.

Ketika tiba menjejakkan kaki di pelataran masjid, sontak kami pun sibuk mencari sudut pandang yang pas buat mengabadikan prasasti sejarah yang mulai dibangun pada 6 September 2002 ini.

Rasanya hilang semua rasa letih perjalanan panjang kami dari Solo, yang tersisa hanya kekaguman atas bangunan yang berdiri di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Sambirejo. Kecamatan Padurungan, Semarang ini.

Masjid Jawa Tengah juga dikenal sebagai obyek wisata rohani selain fungsi utamanya untuk ibadah apalagi di bulan suci seperti Ramadhan tentunya pengunjung bisa bertambah dari bulan biasa. Di masjid ini juga terdapat pusat pendidikan, perpustakaan, museum, dan pusat akltifitas syiar Islam.

Sebelum masuk ke masjid, kita akan melewati gerbang lengkung yang menyerupai colosseum di Romawi, satu bangunan dunia yang dikenal sebagai kuburan bagi para gladiator. Unik memang karena masjid yang diresmikan pada 14 November 2006 ini dibangun dengan desain Jawa-Islam-Romawi yang diarsiteki oleh Ahmad Fanani hasil memenangi sayembara.

Gerbang lengkung ini bernama Al-Qanatir, artinya “megah dan bernilai". Gerbang ini ditopang 25 tiang, simbol bahwa ada 25 Rasul Allah. Setelah melewati gerbang, sudah berdiri dengan pongah enam buah payung hidrolik yang menutup dan membuka secara otomatis, berfungsi sebagai atap halaman utama masjid di mana bisa menampung 10.000 jamaah. Tepat di bawah halaman utama ini tempat parkir.

Belum ada masjid di Indonesia yang mengadopsi payung hidrolik yang mirip di Masjid Nabawi ini selain masjid yang kami kunjungi ini. Sayangnya, saat tiba, payung hidrolik masih menguncup. Tapi untung juga kami tiba sore, bisa dibayangkan kalau berdiri siang bolong karena lantai marmer pelataran masjid masih terasa panas "membakar” telapak kaki. Mungkin saja payung itu dibuka kalau hujan.

Selain berbentuk joglo yang mewakili bangunan khas jawa, masjid ini memiliki kubah putih berdiameter 20 m dengan 4 minaret dengan ketinggian 62 m yang berdiri empat sisi kubah sebagaimana dikutip dari situs resmi masjid. Sebelum naik ke lantai utama masjid (lantai 2) kita mesti ke lantai dasar tempat wudhu.

Di dalam masjid, ornamen-ornamen penghias masjid begitu elok. Di pojok kanan belakang, terdapat bedug raksasa, bernama Bedug Ijo Mangunsari karya KH Achmad Sabri, Tinggarjaya Jati Lawang, Purwokerto. Panjangnya 310 meter. Konon, selama pembuatan, si pembuat (tukang) harus dalam keadaan berpuasa. Adapun alat pemukul bedug diberikan oleh sultan Hasanah Baulqiyah, Brunai Darussalam.

Setelah sibuk ria di dalam masjid, langsung kami beranjak ke salah satu keunikan masjid ini yakni Menara Al Husna. Menyusuri menara kita akan melewati Convention Hall yang berdaya tampung 2000 orang yang biasanya digunakan untuk acara resepsi pernikahan dan rapat para pejabat.

Sesampainya di menara kita mesti merogok kocek Rp3.000 untuk tiket masuk, bonusnya diberikan beberapa makanan ringan. Di menara ini hampir setiap sore ramai dikunjungi masyarakat. Tinggginya 99 meter atau simbol dari asma Allah yang terdiri dari 99 nama. Menara ini terdiri dari 19 lantai dan di puncaknya kita bisa memakai teropong seperti layaknya di Monas Jakarta.

Di lantai satu, kita bisa mendengarkan kajian-kajian Islami di Radio Dakwah Islam (DAIS) lalu di lantai dua dan tiga terdapat museum di mana kita dapat mengetahui perkembangan Islam dari tahun ke tahun. Nah untuk lantai empat sampai 17 belum ada informasi ditel sepertinya hanya lorong kosong.

Di lantai 18 terdapat restoran bertaraf Internasional dan cafe muslim. Tapi jangan kaget jika pelan pelan restoran ini akan berputar 360 derajat layaknya tempat makan Kampus yang terletak di Menara Imperium Jakarta.

Nah sampailah kami di puncak menara lantai 19 yang berdaya tampungnya 80 orang. Ada lima teropong yang bisa dimanfaatkan. Hanya dengan koin Rp500,-per menit kita bisa mengintip sekilas kontur ibu kota Jawa Tengah ini.

Dari atas kita bisa melihat pertokoan yang ada di sebelah kanan masjid, suasana cuaca kota Semarang, dan sekilas pemandangan kapal-kapal yang sedang berlalu-lalang di pelabuhan Tanjung Emas dari kejauhan.

Menikmati pemandangan dari atas lumayan menahan kami di lantai ini lagipula saat kami di sana bulan lalu masjid memang banyak di kunjungi wisatawan yang berasal dari berbagai daerah. Bahkan beberapa turis manca negara, khususnya muslim banyak yang melunangkan waktu berkunjung ke masjid ini. Dan tak terasa hari sudah menjelang magrib. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Lawang Sewu saat senja tak malu lagi menampakkan diri.

foto: taher by nokia e71

Senin, 28 Juni 2010

Desember Ceria di Italia

Oleh Taher Saleh

Foto usang ini tak disangka sudah berumur 34 tahun ketika kutemukan pekan lalu di tumpukan dokumen seseorang. Kalau diibaratkan Mas-mas, mungkin usianya sudah sepantaran dengan beberapa bosku di kantor yang penuh janggut tipis di dagu dan kumisan seperti Mas-mas pada umumnya.

Diambil pada Desember 1976 di Genoa, Italia, foto ini agak menggelitik melihat gaya pakaian pemuda-pemuda yang dipotret ini kalau dibandingkan dengan tren gaya masa kini, 2010. Celana cutbray rumbai-rumbai model 70-an, kaca mata hitam, sepatu panthopel, rambut terurai gondrong.

Coba simak gaya pakaian pemuda baju merah sebelah kiri bersepatu putih berujung tajam. Selintas gayanya mirip icon pria disco 70-an, John Travolta. Bintang filem yang melejit lewat film Face Off ini memang awalnya beken lewat joget disko ditambah gaya trendi dalam film Saturday Night Fever (1977).

Ceritanya dalam foto ini, pemuda-pemuda di atas yang rata-rata berusia tanggung 25-27 tahun ini mencoba sedikit beradaptasi dengan gaya trendi saat itu apalagi mereka menjejakkan kaki di negeri pizza.

Ada juga gaya rambut ‘talang’ mirip Farah Fawcett-bintang film Charlies Angel (1977) dengan guntingan berlapis lembut dan potongan panjang menyamping. Rambut gondrong di foto itu juga agak gelombang terlihat lebih ‘hidup’ dan bertekstur, sehingga lebih dinamis dan feminism khas zamannya. Tak ketinggalan model rambut poni dengan trap pendek dan layer asimetris pada bagian samping.

Kala itu di siang hari bolong pada Desember ceria 34 tahun silam, mereka membeku di atas kilatan kamera manual di Genoa Italia, kota yang lekat dengan sejarah peradaban yang panjang khususnya bagi kaum pelaut, nenek moyang orang Indonesia. Di sana menjadi satu kota persinggahan dari puluhan persinggahan lainnya dari Asia, Eropa hingga Afrika menikmati menjadi diri sendiri.

Tentu mereka sudah akrab dengan Pelabuhan Genoa, salah satu pelabuhan terkenal di Italia yang selalu perlu disebut jika membicarakan sejarah perdagangan di Eropa dan dunia karena mereka pelaut. Namun sayang sekali aku belum dapet sejarah tutur panjang dari salah satu dari mereka, ayahku, yang berdiri kedua dari kanan.

Ternyata benar juga apa kata bang Haji Rhoma Irama, kalau kawula muda itu punya tenaga obesesi dan semangat hidup luar biasa. Dan mereka membuktikan itu berkelana menyeberang samudra, memeras keringat di atas dek kapal atau bersepoi-sepoi ria melempar sauh.

Semoga suatu waktu bisa menyamai rekor mereka dengan jalan hidup yang berbeda, tapi tentu saja aku tak mungkin pakai cutbray lalu memotret diri di Italia seperti mereka. Forza masa muda.

28/6/10

Foto: koleksi pribadi,

Entri Populer

Penayangan bulan lalu