![]() |
Batu yang mirip penyu di Kepayang, by tina-tinu wisata |
Oleh
M. Tahir Saleh
LAJU perahu motor kami mulai melambat. Sang juru kemudi lalu membuang sauh
ketika sampan hampir sampai di bibir pantai. Perahu masih
bergoyang-goyang, beberapa penumpang siap menggulung celananya.
“Selamat datang di Pulau Kepayang," ujar Julian Aditya,
pemandu wisata yang menemani kami sejak di Belitung. Penumpang
kemudian bergegas turun menjejak pasir putih.
Di
pantai, orang-orang menyambut kami bak tamu agung. Kami diwajibkan
mencicipi ramuan daun sirih satu per satu. Semua ketakutan, ada yang
diam-diam menyelinap kabur melewati para penyambut. Mereka yang
tersisa mau tak mau ‘melahap’ ramuan yang terdiri dari daun
sirih, pinang, kapur, gambir, dan sedikit tembakau itu. Rasanya agak
pedas dan sepet. Residunya berupa ludah berwarna merah dan sisa-sisa
serat dari buah pinang. Upacara kecil itu lazim dilakukan saat
menyambut tamu sebagai rasa persahabatan, kehormatan, dan suka cita.
Inilah
Pulau Kepayang, salah satu pulau incaran wisatawan selain Tanjung
Tinggi yang terkenal lewat film Laskar
Pelangi.
Pulau seluas sekitar 14 hektare yang kami kunjungi pada 23 Agustus
ini dijadikan lokasi penangkaran penyu sisik atau hawksbill
sea turtle
dan konservasi terumbu karang di Bangka Belitung. Kepayang yang
dahulu dinamakan Pulau Babi, juga menjadi pulau terbesar di antara
belasan gugusan pulau-pulau kecil eksotis di utara Belitung.
Untuk
mencapai Kepayang, butuh 15-20 menit perjalanan dengan perahu dari
pelabuhan Tanjung Kelayang, harga sewa perahunya sekitar
Rp350.000-400.000.
Lama perjalanan dari pusat kota Tanjung Pandan menuju pelabuhan
sekitar 30 menit dengan bus carter. Di pulau ini berdiri Pusat
Konservasi Penyu dan Terumbu Karang yang diresmikan pada 22 Juli 2010
oleh Bupati Belitung Darmansyah Husein. Pemerintah lalu memercayakan
pengelolaannya kepada Kelompok Peduli Lingkungan Belitung (KPLB) yang
dibentuk oleh aktivis lokal Budi Setiawan pada 1997.
![]() |
Bersama Adit, by Imaji Tour |
Di
bagian belakang bangunan, pengunjung bisa melihat kolam penangkaran
kura-kura laut. Aditya yang mengelola Wisata Belitung Imaji Tour
mengatakan upaya penangkaran ditempuh guna menyelamatkan tukik atau
anak penyu dari kepunahan. “Setahun dua kali bertelur dan sekali
bertelur ada 1.000 anak penyu,” kata Adit menjelaskan. “Tapi dari
1.000 telur itu yang hidup sampai dewasa paling cuma dua ekor.”
Daya
hidup tukik memang rendah karena reptil ini belum sanggup bertahan di
alam liar sesaat setelah menetas. Biawak juga menjadi alasan terbesar
mengapa populasi anak penyu menyusut—di samping ancaman manusia.
Tukik belia pun belum mampu menyelam sehingga bisa dimangsa burung.
Itulah sebabnya tim KPLB akan menggali telur-telur penyu,
lalu dipindahkan ke tempat aman agar tidak dimakan biawak.
Setelah
tukik dipindahkan ke kolam penangkaran, mereka diberi makan ikan-ikan
kecil dan diperlakukan seperti di habitatnya. Bahkan pengunjung
dilarang memotret dengan cahaya. “Penyu peka terhadap cahaya. Kalau
ada flash,
itu jadi patokan penyu saat dia di alam bebas. Dia bisa merasa
terancam,
lalu pergi dan baru akan kembali beberapa hari kemudian,” kata
Ketua KPLB Budi Setiawan. Penyu berbeda dengan kura-kura yang tinggal
di darat,
meski sama-sama punya batok. Penyu ialah kura-kura laut dan hanya
penyu betina yang sesekali ke daratan saat hendak bertelur di pantai.
“Sebab itu tukik-tukik bisa dilepaskan kalau sudah berusia 3-5
bulan karena pada usia itu anak penyu sudah bisa hidup di alam
mereka,” kata ayah tiga anak ini.
![]() |
Tukik atau anak penyu, by Bahari7 Blog |
Wisatawan
juga ditawari melepas tukik ke laut. Cara pegangnya bukan digenggam,
tapi tukik diletakkan di telapak tangan lalu tangan satunya menekan
lembut batoknya dari atas. “Wah,
dia gerak-gerak nih.
Gimana
nih,
Pak,”
kata Melanie, seorang rekan, kepada Budi ketika empat sirip tukik itu
bergerak-gerak ingin melepaskan diri. Pengunjung juga bisa mengadopsi
tukik dengan membayar Rp50.000 per ekor kepada pengelola.
Program
penangkaran penyu ini bermula pada 2009. Melalui KPLB, Budi
mengajukan proposal pengelolaan Pulau Kepayang kepada pemda. Ia
bertekad menjadikan Kepayang sebagai pusat ekologi nasional. Awalnya
ia resah karena dampak penambangan timah di Bangka, pulau tetangga
Belitung, membuat lautnya keruh dan terumbu karang rusak. Memang ia
sadari eksploitasi itu didorong kebutuhan ekonomi. “Itu sebabnya
saya memilih konservasi alam dan mengombinasikannya dengan wisata
sebagai strategi melindungi alam dan menggerakkan perekonomian
penduduk lokal,” kata alumnus Sastra Jerman Universitas Padjadjaran
ini.
Konsep
pelestarian alam yang baik,
menurut Budi,
harus melibatkan warga dan mampu mendapatkan keuntungan ekonomi.
Tanpa kedua hal itu, kegiatan konservasi berpotensi konflik dengan
kebutuhan hidup warga. “Jadi warga kami libatkan, seperti tiga
pelatih ini,” katanya sambil menunjuk tiga pemuda yang melatih kami
bermain rebana. Dari sisi ekonomi, pulau ini pun dijadikan lokasi
wisata ekologi dan edukasi lengkap dengan dive
center,
restoran, cottage,
dan penginapan.
![]() |
Dari atas mercusuar Pulau Lengkuas, by Blog Hi |
Setelah
cukup lama berupaya, perjuangan Budi dan kawan-kawannya mulai menuai
hasil. Pulau itu kini dikenal sebagai lokasi pelestarian terumbu
karang dan penangkaran penyu tingkat nasional dan internasional.
Pencapaian tersebut membuat organisasi global memberi perhatian.
Tidak ketinggalan perusahaan nasional, termasuk PT Mandiri Sekuritas,
menggelar program tanggung jawab sosial (CSR) di Belitung. “Program
lingkungan kami pilih karena memang cocok untuk Belitung yang sedang
mengembangkan pariwisata alam. Kami baru mulai tahun ini untuk CSR di
Kepayang,” kata Executive
VP Corporate Communication
Mandiri Sekuritas Febriati Nadira. “Kami punya tiga pilar CSR:
pendidikan, ekonomi, dan lingkungan. Dan yang paling cocok di sini
lingkungan,” katanya tanpa memerinci anggaran yang dikucurkan ke
KPLB.
Pesona
pulau ini membuatnya selalu ramai dikunjungi wisatawan. Pasir putih
yang halus, ritual makan buah pinang, mencicipi kelapa muda sambil
bersantai di pinggir pantai, mencoba kopi khas Belitung, snorkling di
tengah laut, dan bersama-sama melepas tukik ke habitatnya. Semua itu
mampu membuat pengunjung berencana datang kembali ke Kepayang. ⫐.
Terbit
di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 08
September 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar