Perenungan
Seorang Budayawan
“Mas
Putu, bagi saya, bukan sastrawan, aktor, dan sutradara. Beliau adalah
budayawan.” –Butet Kartaredjasa, aktor
Oleh
M. Tahir Saleh
TUBUH seniman besar ini tak lagi tegap. Dia berjalan perlahan ke panggung
sambil dipapah putra lanangnya, Taksu Wijaya. Masih dengan topi baret
putih dan kemeja batik, Putu Wijaya menampilkan salah satu monolognya
berjudul Merdeka
bagi hadirin yang datang pada peluncuran buku Bertolak
dari yang Ada, Kumpulan Esai untuk Putu Wijaya 70 Tahun
di Serambi Salihara, Jumat pekan lalu.
![]() |
Putu dan Taksu, by Sarasvati |
Saat
bermonolog sembari duduk, suaranya masih lantang—tidak ditelan
fisiknya yang lemah. Retorika, diksi, dan intonasinya begitu kuat
seperti masa muda dulu, walau harus diakui agak terbata-bata dalam
beberapa kalimat. Hadirin pun tersihir oleh penampilan sastrawan,
aktor, pelukis, dramawan, dan sineas ini.
Merdeka
ditulis pada 1981 di Jakarta, bercerita tentang seseorang bernama
Merdeka yang ingin mewarisi segala apa yang dimiliki almarhum
ayahnya. Bahkan Merdeka ingin mewarisi alat vital sang ayah yang
terkenal berprinsip antikemubaziran. Merdeka
adalah satu dari sekian banyak gubahan seniman asal Bali bernama
lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya ini. Monolog lain bertajuk Babi
(1979), Iri
(1978), Kalau
Boleh Memilih Lagi
(1978), Memek
(2001), Pian
(1979), dan Kemerdekaan
(1995). Judul-judulnya pendek, isinya kadang di luar nalar, penuh
kritik sosial, keterkejutan, cukup berani—terutama dalam pemilihan
kata yang mampu disuguhkan dengan baik tanpa vulgar.
Bagi
Putu, memasuki usia 70 tahun pada 11 April lalu merupakan titik balik
untuk mengevaluasi apa yang telah dia karyakan selama ini. “Usia 70
tahun, saya harus membuat evaluasi,” katanya malam itu. Seluruh
karyanya—dari teater, puisi, monolog, cerpen,
hingga lukisan—berangkat dari dua prinsip: bertolak dari yang ada
dan teror mental.
Malam
itu Putu merayakan ulang tahun bersama para undangan dari berbagai
kalangan. Perayaan ini bak penanda kelahiran kedua Putu setelah
sebelumnya terserang sakit. Bukan hanya seniman Butet Kertaredjasa,
Sapardi Djoko Damono, Ikranegara, Goenawan Mohamad, Seno Gumira
Adjidarma, dan Iwan Abdurrahman yang datang; hadir pula Menteri BUMN
Dahlan Iskan dan mantan Jaksa Agung Abdul Rachman Saleh. Putu
mengundang pakar, seniman, pengamat, dan para sahabat untuk menulis
esai. Sayang, buku yang disponsori oleh Djarum Foundation, Pentas
Grafika, Salihara, dan Galeri Indonesia Kaya ini hanya dicetak dalam
jumlah terbatas. Tidak dijual, hanya disumbangkan ke perpustakaan
pusat-pusat kebudayaan. Selain peluncuran buku, acara ini juga diisi
dengan pementasan tiga naskah karya Putu: Bila
Malam Bertambah Malam,
Hah,
dan Jpret—oleh
Teater Mandiri.
Dalam
berkarya, hampir semua sejawatnya mengakui bahwa seniman pendiri
Teater Mandiri ini pribadi yang fokus. Goenawan Mohamad, pendiri
majalah Tempo,
memandang Putu sebagai pribadi yang sangat cuek,
cenderung tak peduli sekitar,
tapi mampu fokus dan mencurahkan perhatian pada kerja kreatif. “Dia
tak pernah berhenti mencipta,
termasuk saat antre menunggu panggilan dokter,” kata Goenawan. Putu
mengakuinya. Suatu ketika, saat masih menjadi wartawan Tempo,
Putu bahkan tetap menulis meski ayahnya baru saja berpulang. “Ketika
sedang menulis laporan tentang diskotek, kakak saya menelepon: ayah
saya meninggal. Saya tunda air mata, saya andaikan tak ada yang
terjadi. Setelah laporan selesai, saya baru pulang memasuki duka.”
Di
mata Dahlan Iskan, Putu adalah senior yang pendiam,
tapi produktif. Berkat Putu-lah, Dahlan tertarik nonton teater.
“Sebagai wartawan pemula saya kagum, kok
ada seniman Indonesia yang mendapat kesempatan mempelajari teater di
New York. Pasti hebat dia!” kata Dahlan. Maka ketika berkesempatan
ke New York, sasarannya menonton teater di Broadway. Saat Putu sakit,
bekas Dirut PLN ini berusaha ikut mencari dokter terbaik agar sang
seniman kembali pulih.
Aktor
Butet Kertaredjasa pun bersyukur sastrawan-aktor-sutradara Putu
Wijaya bukan sejenis calo minyak bumi yang berpenghasilan Rp300
miliar per hari. “Berapa tuh
sebulannya? Setahunnya? Lha
kalau sampai seorang Putu penghasilannya macam itu, sangat berbahaya
saat mewujudkan kredo keseniannya.” Bila itu terjadi, properti
teater bakal berganti menjadi tas jinjing Hermes, sepatu bermerek,
dan aktor-aktornya mendadak bertubuh tambun karena timbunan lemak.
Untung saja tidak, sebab bagi Butet yang dilakoni Putu adalah sebuah
ikhtiar menyiapkan manusia yang bisa membaca dan berani mengoreksi
diri, apakah sekadar manusia atau sudah menjadi manusia dalam arti
sebenarnya. “Pada keberhasilan ini, Mas Putu, bagi saya, bukan
sastrawan, aktor, dan sutradara. Beliau adalah budayawan.”
![]() |
Iwan, by Republika |
Lain
lagi dengan Iwan Abdulrachman. Mantan personil grup Bimbo ini
memandang Putu sebagai seniman dengan tingkatan atau maqom
tinggi. Putu rela ke Bandung berboncengan naik Vespa tua dari
Jakarta, menginap di emper Gedung Asia Afrika hanya untuk
mewawancarai Iwan bersama grupnya yang tergabung dalam Pencinta Lagu
Universitas Padjajaran. Putu jualah yang jauh-jauh datang ke tengah
hutan di kaki Gunung Burangrang untuk menyambangi Iwan. “Jangankan
hadir bertatap muka, baru ingat sosoknya saja, beliau sudah sangat
memberi arti kepada saya.”
Malam
itu, dua lagu dimainkan oleh Iwan untuk Putu. Dua tembang indah
dengan petikan gitar, menandai sebuah perenungan usia 70 tahun.
Semoga ini tak sekadar menjadi selamatan ulang tahun, tetapi menjadi
titik kontemplasi juga bagi generasi muda karena gagasan dan pikiran
Putu Wijaya berperan penting dalam proses berbudaya bangsa. “Jangan
bersedih Mas Putu, hidupmu tak sia sia,” begitu Iwan menutup
lagunya. □
Terbit
di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 21
April
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar