![]() |
Movie capture by the marketeers |
Oleh
M. Tahir Saleh
“Piye
kabare,
enak zamanku toh?”
Begitu kata mendiang Presiden Soeharto dengan senyum khasnya. Sapaan
imajiner dalam gambar yang kerap ditempel di belakang bak truk-truk
besar ini bisa dibilang cermin kegelisahan masyarakat.
Publik
gerah dengan tingginya harga sembako, susahnya mencari pekerjaan dan
membuka usaha, korupsi menjamur, dan biaya pengobatan yang tak
terjangkau. Ekspresi kebosanan ini seolah membuat mereka ingin
kembali ke zaman Pak Harto yang memimpin negeri ini selama 32 tahun.
Masyarakat juga kerap membandingkan perekonomian era Orde Baru dengan
era setelah Reformasi 1998.
Gambaran
ini pula yang tampak dalam film dokumenter besutan Xia Lee dan Amanda
Mooney berjudul Words
of Generation.
Dalam film produksi perusahaan public
relations
Edelman ini, 10 orang saksi era Reformasi 1998—dengan latar
belakang berbeda—bicara soal negara ini dalam perspektif mereka.
Maka yang terjadi adalah kejujuran, penyajian fakta sesungguhnya.
“Kami ingin memperlihatkan pandangan kepada masyarakat seperti apa
sebenarnya kondisi Indonesia di mata mereka,” ujar CEO Edelman
Indonesia Stephen Lock.
Words
of Generation
merupakan proyek Edelman di berbagai negara dari China, Malaysia,
Singapura, Vietnam, hingga India. Pandangan penduduk di tiap negara
dieksplorasi dengan latar isu berbeda. Di Indonesia, mengambil tema
dimulainya reformasi setelah kejatuhan Soeharto.
Ada
tujuh video dalam film ini: Work,
Consume, Connect, Love, Play, Explore,
dan Dream.
Tapi tak semua judul diputar dalam gelaran nonton bareng pada 25
Maret di Plaza Senayan, Jakarta. Film yang bisa diakses online
tersebut berusaha memotret kehidupan pribadi lewat wawancara
berdasarkan tujuh tema tadi dengan perspektif masa lalu, masa kini,
dan masa depan.
Sepuluh
narasumber dalam film itu adalah generasi yang lahir pada rentang
1975-1985. Memang tidak mewakili semua,
tapi setidaknya generasi yang merasakan Reformasi 1998 ketika
huru-hara anti-China
dan kejatuhan rezim Soeharto terjadi. “Kehidupan di Indonesia ini,
ya morat-marit. Kau tengoklah, semrawut, yang kaya tambah kaya. Lebih
enak zaman Soeharto, tapi bedalah. Zaman Soeharto bercakap dikit
diculik,”
kata Ardinal (31), salah satu narasumber film.
Narasumber
lainnya, Alfin Budi Pramono (36), mengatakan para mantan aktivis 1998
yang kini menjadi anggota dewan pun sama saja dengan apa yang mereka
demontrasikan dulu kala masih mahasiswa. “Itu yang saya sayangkan,”
kata Alfin.
“Pemerintahan yang sekarang sudah dua periode,
tapi justru rupiah terpuruk,” kata pegawai swasta ini.
Hendy Hermawan (37), staf teknologi informasi, memandang kepemimpinan
seperti Soeharto masih dirindukan. “Soeharto cara mikirnya
jelas, santun, ngomongnya soleh dan tidak berapi-api. Tapi
kroni-kroninya sering bawa nama dia,
lalu dia dijatuhkan. Kroni-kroninya kini ingin berkuasa,” katanya.
“Kita butuh pemimpin model Soeharto yang tidak klemer-klemer.”
Generasi
ini juga mengusung pemimpin idaman, yakni Joko Widodo, Prabowo
Subianto, dan Jusuf Kalla. “Impian mereka bila ditarik garis
merahnya sama: mereka memprioritaskan anak-anak agar kelak bisa
menikmati pendidikan dan kehidupan lebih layak daripada saat ini,”
kata tim produksi Mario Patrick.
Boni
Triana, sejarawan dari majalah Historia,
menilai kerinduan era Pak Harto bukan ingin membalikkan keadaan.
“Sejarah itu berulang, tapi kondisinya tak bisa sama. Ini cuma
untuk merestorasi kekuasaan segelintir orang untuk memanfaatkan
ingatan publik sehingga orang ingin kembali,” katanya. Ketika Orde
Baru, publik akan bilang Orde Lama lebih enak. Sebaliknya ketika era
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, publik menilai lebih baik zaman
Orde Baru dan begitu seterusnya. “Zaman Soeharto bisa jadi korupsi
sedikit, tapi kebebasan pers dikekang.”
Shafiq
Pontoh, konsultan perencanaan strategi dan pelopor Gerakan Indonesia
Berkebun dan Ayah ASI, yang turut hadir dalam bedah film itu
menganggap paradigma kehidupan era dahulu lebih enak tak semuanya
benar. Itu ditegaskan pula dalam film karena barang-barang masih
terbeli walau harganya konstan naik. Memang kalimat bernada
penyesalan dan ratapan kerap muncul,
tapi baginya lebih enak zaman sekarang. “Zaman Soeharto enggak
enak
banget,
enggak
ada Whatsapp, enggak
ada Twitter.” Pesan film ini sampai, tapi sayangnya agak
membosankan ditonton lama karena hanya berbentuk wawancara, tanpa
visualisasi huru-hara. □
Terbit
di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 07 April 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar