![]() |
cessna.com |
Oleh
M. Tahir Saleh
EMPAT
tahun
lalu, Denon Prawiraatmadja bersama mitranya mengakuisisi saham Kura
Kura Aviation milik orang asing. Sejak 2002, perusahaan itu melayani
carter pesawat bagi turis ke Pulau Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah.
Setelah dibeli, dia mengubah nama maskapai tak berjadwal ini menjadi
Whitesky Aviation pada 2010.
“Background
saya arsitek, saya juga punya bisnis IT, tapi saya coba aviasi.
Enggak
ada alasan khusus, cuma ini menantang, apalagi peluangnya besar
ketimbang bisnis airline
berjadwal,” kata Denon yang kini menjabat Direktur Utama PT
Whitesky Aviation ketika ditemui di kawasan Bandara Halim
Perdanakusuma, Jakarta, Senin pekan lalu.
Saat
ini Whitesky punya tiga layanan: evakuasi medis atau medical
evacuation
(medivac),
foto udara, dan VIP. Perseroan juga masuk lini logistik khusus di
Papua. Jumlah armadanya delapan, terdiri dari 3 unit Cessna 402B, 2
unit helikopter Bell 429, dan 3 unit Bell 407. Tiga Cessna dan satu
helikopter milik sendiri, sisanya titipan karena model bisnis air
charter
biasanya pemilik pesawat juga bermitra dengan operator. Investasi
tentu banyak, apalagi mengacu data situs Aircraftcompare,
satu
unit Bell 429 dipatok antara US$4,9-5,4 juta (sekitar Rp54 miliar),
sedangkan Bell 407 US$2,6 juta.
Potensi
jasa carter cukup tinggi seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang
mendorong peningkatan kelas menengah. Penyelenggaraan berbagai
konferensi, seminar, serta pameran nasional dan internasional pun
menjadi katalis positif. Umum diketahui bahwa figur publik seperti
pesepakbola David Beckham bersama istrinya Victoria Beckham,
Christiano Ronaldo, dan pembalap Valentino Rossi, juga menyewa
pesawat jet pribadi ketika datang ke Indonesia. Beckham dan istrinya
pernah menyewa Embraer Legacy 600 dengan rute Singapura, Yogyakarta,
hingga Bali. Penyanyi Christina Aguilera juga menyewa jet untuk
keliling Asia. Momen pemilu pun jadi ajang menjaring klien meski
menyewa pesawat bagi pengusaha, pejabat, politisi memang menjadi satu
kebutuhan, bukan sekadar prestise. Sudah bukan rahasia umum bila
nama-nama seperti Prabowo Subianto, Jusuf Kalla, Oesman Sapta, dan
Aburizal Bakrie juga dikenal memiliki jet pribadi.Sebetulnya layanan ini—VIP, tourism, medivac, logistik—termasuk kategori general aviation atau segmen penerbangan di luar militer dan nonmaskapai berjadwal komersial.
![]() |
desainic.com |
Menurut General Aviation Manufacturers Association (GAMA), tahun lalu tersebar 360.000 armada general aviation di dunia—termasuk helikopter—dan 209.000 unit berbasis di Amerika. GAMA mengungkapkan tipikal owner jet pribadi rata-rata berpenghasilan US$9,3 juta per tahun, aset bersih US$89,3 juta, mayoritas berusia 57 tahun, dan 70% pria.
Selain
Whitesky, menurut data Indonesia National Air Carrier Association
(INACA), terdapat 20 perusahaan penyedia carter pesawat jet di Tanah
Air, di antaranya PT Ekspres Transportasi Antarbenua (Premiair), PT
Airfast Indonesia (Airfast), PT Indonesia Air Transport Tbk, dan PT
Enggang Air Service (OSO Jet). Saking menggiurkannya bisnis ini,
perusahaan taksi Blue Bird Group juga dikabarkan tengah menjajaki
konsep bisnis air
taxi
atau taksi udara berbasis helikopter.
Dalam
situs resminya, OSO Jet didukung 1 unit Embraer Legacy 600, 1 unit
Cessna Citation VII, 5 unit Cessna Grand Caravan, dan 1 helikopter
Agusta AW 109SP. Caravan yang harganya berkisar US$1,75 juta—data
Aircraftcompare—memang
cocok untuk melayani penerbangan ke wilayah terpencil. “Harga sewa
Caravan per jam US$1.750, Legacy US$8.500, dan Cessna dengan
kapasitas tujuh penumpang sewanya US$5.500 per jam,” kata Syafei
Hadi, Senior
Marketing Executive
OSO Jet, pekan lalu. Soal harga sewa sangat tergantung jenis pesawat,
tapi lazimnya tak berbeda jauh antar-operator. Sebab itu, peningkatan
layanan menjadi kunci mengingat sifat layanannya lebih pribadi
sehingga kualitas mesti nomor wahid. Maskapai berjadwal seperti Lion
Air juga kepincut masuk ke segmen ini sejak Juni 2012 melalui Bizjet.
Jasa mereka melayani penerbangan ke Kalimantan, Sulawesi, hingga
Singapura dengan pesawat Hawker berkapasitas tujuh kursi.
Ketatnya
kompetisi tak membuat nyali Denon surut. Dia yakin peluang bisnis
masih besar untuk digali, terlebih segmen ini masih ketinggalan
dibandingkan dengan maskapai berjadwal. Salah satu kendala
pertumbuhan ialah daya beli masyarakat. Whitesky, katanya, sebetulnya
tidak mengkhususkan klien kaya, tapi disebut layanan VIP karena butuh
kocek tebal untuk menyewa pesawat jet atau heli. Sebagai
perbandingan, harga sewa Bell 407 di Amerika US$1.200 per jam atau
sekitar Rp13 juta. Jadi dengan kapasitas enam orang, mereka bisa
patungan masing-masing sekitar Rp2 juta, ini terjangkau bagi yang
butuh transportasi udara darurat. Namun di Tanah Air, sewanya
menembus US$3.000 per jam, tak masuk akal buat kantong orang biasa.
Tapi soal kenyamanan tak diragukan, apalagi setelah menengok interior
helikopter Bell 429 milik Whitesky yang didesain hanya untuk empat
orang—konfigurasi yang sengaja dibuat senyaman hotel.
Ada
tiga penyebab sewanya selangit. Pertama,
kurs rupiah terhadap dolar Amerika masih terlalu tinggi: sekitar
Rp11.000. “Harapannya, siapa pun presiden terpilih, jangan
memikirkan penguatan rupiah dalam jangka pendek, tapi jangka
panjang,” ujar Denon. Kedua,
bahan bakar. Pemerintah mendorong penggunaan avtur lokal lewat
penyedia tunggal Pertamina, tapi praktiknya biaya-biaya lain muncul
dalam komponen fuel.
“Malah ada biaya kerja sama provider
[PT Angkasa Pura], yakni biaya konsesi atau throughput.
Padahal kami tak gunakan itu, tapi memakai kendaraan agar avtur masuk
ke pesawat, ini kan
biaya
tinggi,” tegasnya. Ketiga,
kurangnya perhatian pemerintah.
Bila
Indonesia belum mampu menjelma sebagai produsen ulung pesawat seperti
Boeing dan Airbus, mestinya negara mendorong maskapai lokal agar
mampu bertaraf dunia. Mimpi itu mestinya bukan milik pengusaha
semata, melainkan juga pemerintah. “Kalau pemerintah punya mimpi
yang sama maka dia akan mendukung dengan regulasi, bea masuk, dan
insentif,” katanya. “Pajak suku cadang di Singapura 0%, Malaysia
0%, Filipina 0%. Di sini, mau dikenakan pajak sparepart.
Sudah beli pesawat dari luar, ada biaya pengiriman, sampai sini
dipajakin
lagi.”
Sebab itu, Denon berharap pemerintah bukan hanya soal bea, tapi juga
berkomitmen mendukung aviasi dalam negeri. Apalagi ASEAN Open Sky di
depan mata. Belum lagi belakangan ini beberapa maskapai berjadwal
juga tak mampu bertahan. Contohnya Batavia Air, Tiger Mandala,
Pacific Royale, dan Sky Aviation.
Denon
yang juga Ketua Penerbangan Tidak Berjadwal INACA menyambut baik
rencana masuknya sejumlah perusahaan dalam lini bisnis carter
pesawat. Akan tetapi, dia menekankan perusahaan terkait harus sadar
betul mengenai perawatan dan suku cadang pesawat. Tak ada kompromi
soal sparepart pesawat karena berbeda dengan transportasi
darat. “Kalau bawa mobil lalu akinya habis, saya pinggirin,
beres. Tapi pesawat enggak bisa: aki habis, listrik mati, yah
jatuh. Mindset harus berubah.” Hal lain yang juga mesti
diperhatikan ialah SMS alias safety management system. Salah
satunya ketentuan mengenai batas maksimal jam terbang pilot. “Pilot
pesawat tidak bisa disuruh kejar target.” Bagi Denon, kompetisi
yang terbentuk di pasar bakal menyehatkan industri carter pesawat. □
Terbit
di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 21 Juli 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar