![]() |
Tambang perseroan, by Vibiznews |
“Kami menilai Bumi adalah
perusahaan yang paling rentan di antara empat produsen batu bara di Indonesia”
Oleh M. Tahir Saleh
DRAMA
lagi-lagi ‘dipentaskan’ oleh direksi PT Bumi Resources Tbk. saat mengadakan
paparan publik insidental guna menjelaskan rights
issue. Dalam forum yang dihelat pada 6 Oktober pekan lalu, Ari Saptari
Hoedaja, orang nomor satu di perusahaan batu bara Grup Bakrie sekaligus salah
satu eksekutif yang paling loyal kepada keluarga Bakrie, menumpahkan
kekecewaannya kepada para pemegang saham Bumi. Pasalnya, penerbitan saham baru
dengan hak memesan efek terlebih dahulu (rights
issue) sebanyak 32,19 miliar saham sepi peminat.
![]() |
Ari, by Antara |
Layaknya
adegan sinetron, ia mencurahkan perasaannya di depan para pemegang saham,
analis, dan awak media karena sebagian penerbitan hak dalam rights issue tersebut kurang diserap,
padahal Bumi membutuhkan uang.
Akibatnya, rights
issue dengan target dana Rp8 triliun hanya menghasilkan Rp3,6 triliun.
Penerbitan saham baru dengan harga Rp250 per saham itu mengalami kekurangan
permintaan (undersubscription) dan
para kreditor tidak bersedia menerima pembayaran pinjaman dalam bentuk saham.
Dari
32,19 miliar saham baru yang semula akan diterbitkan, hanya 15,85 miliar yang
diserap: masing-masing 6,9 miliar saham diambil oleh Long Haul Holding Ltd. dan
Castleford Holding Ltd. lewat mekanisme konversi utang ke saham. PT Danatama
Makmur, broker saham langganan keluarga Bakrie, sebagai pembeli siaga
melaksanakan haknya untuk menyerap 2,04 miliar saham, sedangkan investor publik
hanya menyerap 11,53 juta saham. “Waktu saya sulit di mana mereka [para
pemegang saham]. Berarti pemegang saham tak percaya pada kami,” kata Ari.
Seorang
investor ritel lalu menanggapi dingin pernyataan Ari. Dia malah menyatakan
kesalahan ada pada manajemen Bumi, salah satunya karena mengerek naik harga
pelaksanaan rights issue di atas
harga pasar. “Sekarang harganya merosot terus. Kalau saat itu kami serap, kami
rugi,” katanya. “Kalau kepercayaan investor pada perusahaan tinggi, mungkin
banyak yang mau serap. Kami investor, wajar cari untung.” Investor lain malah
meminta Ari menjelaskan alasan pembatalan rights
issue. “Jelas dibatalkan, karena mereka minta cash. Mau tidak mau ya dibatalkan. Bagaimana toh,” kata Ari.
Bukan
kali ini saja alumnus Institut Teknologi Bandung ini seperti mempertontonkan adegan
drama. Pada 2 Oktober dua tahun lalu, dalam forum paparan publik serupa—soal
investigasi penyelewengan dana Bumi—Ari juga mencurahkan isi hatinya bagaimana
ia memimpin perusahaan batu bara terbesar di Indonesia tersebut. Saat itu, ia
menegaskan betapa besar cita-citanya menjadikan Bumi sebagai perusahaan tambang
dunia.
Mengenai
rights issue, sebetulnya jika
terserap semua, sebesar US$275 juta akan dipakai untuk membayar utang kepada
lima kreditor, yakni Axis Bank Ltd., Credit Suisse, Deutsche Bank, UBS AG, dan
China Development Bank. Dana juga bakal digunakan untuk merealisasikan program
konsesi hidrokarbon milik Gallo Oil (Jersey) Ltd. dan studi kelayakan konsesi
tambang dan emas yang dimiliki oleh PT Gorontalo Minerals. Setelah saham baru
dikembalikan ke portepel, manajemen Bumi kini bernegosiasi dengan para kreditor
untuk mengupayakan pelunasan pinjaman-pinjaman tersebut.
Berdasarkan
data laporan keuangan tahun lalu, Bumi termasuk tiga emiten dari Grup Bakrie
yang mencatatkan nilai ekuitas minus alias defisiensi modal. Dua emiten lainnya
adalah PT Bakrie Telecom Tbk. (-Rp1 triliun) dan PT Bakrie and Brothers Tbk.
(-Rp2 triliun). Artinya, bila semua aset perusahaan dinego dan uangnya dipakai
membayar semua utang, tetap tidak akan cukup. Tahun lalu ekuitas Bumi
-US$302,96 juta dengan total kewajiban US$7,31 miliar atau setara dengan Rp80
triliun—total utang US$4,16 miliar.
“[Ini
bukti] hilangnya kepercayaan investor terhadap kinerja Bumi,” kata Kepala Riset
PT Anugerah Securindo Indah Bertoni Rio. “Kalau dilihat dari kapitalisasi
pasar, hampir sama dengan utangnya.” Harga saham emiten berkode BUMI ini
diperdagangkan pada Rp160 per 8 Oktober dengan kapitalisasi Rp5,9 triliun,
padahal harga pada Oktober 2009 masih sekitar Rp3.200—sahamnya sempat disuspensi
pada 25 September dan dibuka lagi pada 7 Oktober.
“Kalau
rasio 1:6, harga penutupan Rp190, harga teoritis Rp241 per saham. Jika ditebus
Rp250, investor akan rugi. Sebaiknya tidak ditebus, tapi jumlah kepemilikan
berkurang sekitar 91%. Lebih baik membeli saham itu setelah rights issue,” kata Rio menganalisis.
Dia memperkirakan kinerja emiten pertambangan masih suram seiring rendahnya
harga batu bara internasional. Kenaikan performa Bumi pada semester kedua
diharapkan bisa memompa harga saham meski dalam jangka pendek.
Brian
J. Grieser, Vice President-Senior
Analis Moody’s Investors Service Singapore, mengestimasi rendahnya harga batu
bara dunia akan menekan kualitas kredit produsen tambang Indonesia. Kelebihan
pasokan global batu bara thermal akan
menjaga harga tetap tertekan dalam 12-18 bulan ke depan. Kondisi ini bakal
melemahkan arus kas dan margin produsen batu bara di Indonesia. “Kami berharap
harga rata-rata batu bara termal Newcastle US$75-80 per ton tahun ini dan tidak
mengantisipasi rebound yang berarti
tahun depan,” tulisnya dalam riset per Agustus. Tahun lalu, Moody’s mencatat
harga rata-rata batu bara Newcastle US$84 per ton.
Namun,
bagi Brian “Bumi adalah perusahaan yang paling rentan di antara empat produsen
batu bara Indonesia.” Tiga produsen batu bara yang dimaksud adalah Adaro
Indonesia, Indika Energy, dan Berau Coal Energy. Utang/EBITDA Bumi diprediksi
melebihi 10 kali tahun ini, sedangkan Adaro paling tangguh dengan leverage di kisaran 2,5-3.0 kali. Bumi
dinilai tak punya kapasitas internal untuk membayar utang jatuh tempo. “Mereka
hanya memiliki dua pilihan, menjual saham di dua tambang batu bara utama, KPC
[PT Kaltim Prima Coal] dan Arutmin [PT Arutmin Indonesia], atau meminta
kreditor mengubah, atau istilahnya memperpanjang jatuh tempo.”
Kendati
didera analisis pesimistis, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Dileep
Srivastava tetap mengumbar keyakinan mengingat semester pertama tahun ini
perseroan mencetak laba US$168 juta dari rugi US$248,6 juta meski pendapatan
turun 15%. “Target produksi kami 90 juta ton, semester pertama sudah 45 juta
ton. Tahun depan bisa 100 juta ton, tak ada masalah dengan produksi,” katanya
seusai paparan publik hari itu.
Terbit
di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 13 Oktober 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar