![]() |
ilustrasi by Episerver.com |
Oleh
M. Tahir Saleh
TIGA
tahun lalu, Kepolisian China menangkap 36 tersangka penipuan belanja
online
senilai US$6,6 juta ketika para penjahat itu berpura-pura menjadi
pemasok sah situs alibaba.com dan sejumlah situs online
lain. Nilai tipu muslihat itu setara dengan Rp73 miliar, bukan nilai
remeh untuk ukuran transaksi elektronik.
Penangkapan
kasus-kasus serupa terjadi pula di Indonesia.
Akhir tahun lalu penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim
Polri membekuk para pelaku penipuan online,
warga negara China. Modus paling umum adalah memasang iklan di sebuah
situs, memublikasikan barang palsu, lalu meminta calon pembeli yang
kepincut produk itu untuk mentransfer dana.
Aktivitas
jual-beli di situs memang masih punya celah risiko keamanan. Riset
terbaru perusahaan antivirus Kaspersky Lab bertajuk Financial
Cyber Threats in 2013
yang dirilis awal April ini menegaskan kekhawatiran itu. Sepanjang
tahun lalu, aksi phishing—mencuri
informasi seperti user
ID,
kata kunci, PIN, informasi rekening bank, kartu kredit, dan
lainnya—terhadap toko belanja online
naik dari 5,66% menjadi 6,51%.
Toko
online
masuk dalam kategori Keuangan Online
bersama dengan bank dan sistem pembayaran. Phishing
tertinggi ialah kategori Media Sosial (35,39%), lalu Keuangan Online
(31,45%), dan E-mail
(23,30%).
Amazon.com menjadi situs paling populer menjadi sasaran phishing.
Situs ini mendapat serangan hingga 61%, disusul Apple termasuk iTunes
Store (12,89%), dan eBay (12%). “Phishing
menjadi sangat populer lantaran mudah dilancarkan dan amat efektif.
Sulit bagi pengguna internet, yang jago sekalipun,
untuk membedakan situs palsu dan situs asli karena situs palsu
didesain dengan begitu baik,”
kata Sergey Lozhkin, periset senior bidang keamanan Kaspersky Lab,
dikutip di situs resminya.
Soal
keamanan ini pulalah yang tersingkap dalam riset TNS berkolaborasi
dengan Google Indonesia yang dipublikasikan awal April. Survei
berjudul “Business Insight with Google: Pelanggan Online Indonesia”
ini memaparkan faktor keamanan menjadi hambatan utama bagi pembeli
online.
Selain keamanan data pribadi, konsumen juga khawatir terhadap
kualitas barang yang dijual.
“Dua dari lima responden bilang,
‘Saya tak yakin dengan kualitas produk yang akan saya terima’,”
kata Country
Head
Google Indonesia Rudy Ramawi dalam presentasinya di Jakarta. “Mereka
juga bilang,
‘Saya ingin memegang atau mencoba produk sebelum saya membeli’.”
Ada
empat grup responden yang disurvei: pembelanja online
recent
(pernah berbelanda online
dalam satu bulan terakhir), pembelanja online
non-recent
(pernah belanja online lebih dari 6 bulan lalu), pembelanja
non-online
(tidak
pernah berbelanja online),
dan penjual (pernah menjual secara online).
Jumlah responden yang mencapai 1.300 orang tersebar di 12 kota antara
lain Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Makassar, dan Pontianak
selama Desember 2013-Februari
2014.
Hasilnya,
kualitas produk dan keamanan data atau detail keuangan merupakan
pertimbangan utama dalam berbelanja online.
Dua isu ini menjadi ‘duri’ dalam bisnis online,
selain beberapa persoalan lain. Padahal jika dua hambatan ini
diatasi,
misalnya dengan inovasi atau kemudahan pembayaran, potensi bisnis
belanja online
yang cukup tinggi ini bukan cuma isapan jempol.
Dari
survei itu terungkap, satu dari dua orang Indonesia yang sudah online
tapi belum pernah berbelanja online
akan berbelanja online
dalam 12 bulan ke depan. Informasi lain pun tersibak,
misalnya pakaian menjadi produk pertama yang dibeli secara online.
Sebagian besar mencoba online
karena
menghemat waktu. “‘Menghemat waktu’ disebut empat kali lebih
sering daripada 'harga' sebagai faktor paling penting dalam
berbelanja online,”
kata Rudy.
Sebelum
transaksi, para pembelanja online
melakukan riset terlebih dulu via mesin pencari (41%), media sosial
(37%), situs berita atau majalah, dan newsletter.
Para penjual pun lebih tertarik berdagang lewat online
lantaran potensi industri ini besar, bukan mencari kesempatan menjual
dengan harga tinggi. “Empat dari lima penjual mengatakan bahwa
alasan mereka berjualan online
adalah
karena ada banyak pembelanja online,”
ujar Rudy. “Hanya satu dari lima penjual beralasan ingin
mendapatkan harga tertinggi.”
Sebetulnya
isu keamanan menjadi isu klasik dalam e-commerce,
tapi hingga kini belum ada penyelesaian. Dalam pernyataan resmi,
Asosiasi E-Commerce Indonesia atau idEA pun mengakui isu keamanan
transaksi online
masih menjadi masalah. Pemerintah sudah meminta penggunaan alamat
website
-.co.id
guna menjamin keamanan sebagaimana tertuang dalam PP No.82/2012.
Namun,
faktanya penipuan (fraud)
masih terjadi pada pengguna internet.
Sejumlah
pengelola situs sudah menempuh langkah antisipasi dan perbaikan dalam
meningkatkan layanan. Zalora Indonesia, salah satu situs belanja
online
yang fokus pada produk fesyen, menerapkan kendali kualitas (quality
control/QC)
hingga tiga lapis; meminta pemasok mengirim barang dengan standar
baik. Saat barang sampai pun dijaga dengan QC baik. Lalu,
ketika barang dikirim pun dengan QC yang baik. “Parameternya kami
cek semua detail, kami QC semua kategori, bahan kita lihat, kerapian,
detail,” kata Hadi Kuncoro, Vice
President
Operasional Zalora Indonesia. Mereka bahkan berkomitmen mengembalikan
barang jika konsumen menerimanya sudah jelek dari awal.
Soal
hambatan industri ini, Hadi menitikberatkan ihwal lain di samping
keamanan dan kualitas barang. Baginya pola pikir (mindset)
dan dukungan industri terkait (sistem informasi dan regulasi) menjadi
hambatan. “Gimana
mengubah mindset
orang. Belum banyak SDM paham e-commerce.
Pada tingkatan supporting
terkendala misalnya pembayaran, teknologi informasi, bandwidth
masih belum standar, belum cukup bagus,” katanya. Kendala lainnya,
sistem logistisk yang belum bisa menggarap pengiriman hingga lebih
dari 17.000 pulau di Indonesia.
Namun,
perseroan tetap optimistis terhadap potensi bisnis e-commerce.
Tahun ini, Zalora yakin omzet tumbuh lebih dari dua kali lipat
dibanding tahun lalu—yang naik fantastis hingga 400% meski tak
menyebutkan detailnya.
Setidaknya
survei Google soal perilaku konsumen bisa menjadi patokan bagaimana
seharusnya para pebisnis sektor ini mengarahkan sasarannya. Bukan
hanya itu, berbagai kendala itu mestinya mendorong pelaku industri
berupaya membuat konsumen makin percaya dan nyaman dengan belanja
online.
□
Riset
Sift Science 2013,
mengungkapkan dari 25 negara dengan tingkat penipuan internet
terbanyak, ada empat negara Asia Tenggara yang masuk: Malaysia
(urutan ke-7), Filipina (10), Indonesia (14), dan Singapura (16).
SURVEI
GOOGLE 2014:
-
Pembelanja online recent berkata... ‘Internet menawarkan barang-barang yang lebih murah daripada ritel atau pasar'.
-
Satu dari tiga pembelanja non-online berkata: “Saya lebih suka belanja di pasar atau toko karena ini sudah menjadi bagian dari keseharian saya”.
-
Pakaian dibeli dua kali lebih sering daripada ponsel atau produk elektronik. Tapi, rata-rata nilai pembelian untuk pakaian hanya seperempatnya.
Sumber:
TNS Online Shopper Study – Indonesia
Terbit
di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 14 April 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar