![]() |
Terapi Drum Circle, by Abcdreams.ca |
Oleh
M. Tahir Saleh
“ADA
yang pernah belajar musik?” tanya Gilang Ramadhan, drummer
ternama Indonesia, di depan sekitar 160 orang yang hadir di balairung
lantai dua main
lobby
The Grand Hyatt Jakarta, Rabu pekan lalu. Hanya tiga orang
mengacungkan jari. Kembali dia bertanya, adakah yang ingin belajar
musik saat masih kecil. Kali ini 20 orang mengangkat tangan.
Tak
puas,
drummer jebolan
Hollywood Professional School, Amerika, ini bertanya lagi, “Siapa
yang tiap hari mendengarkan musik? Saat pertanyaan ini dilontarkan,
hampir semuanya mengangkat tangan. Mereka mengakui menikmati alunan
musik di tengah aktivitas pekerjaan sehari-hari.
Tiga
pertanyaan ini diberondong Gilang sebelum memulai aksi bersama
band-nya
saat memperkenalkan Drum Circle di depan para eksekutif perusahaan
dalam gelaran ‘The Leaders Forum’. Forum ini hasil kerja sama
Nelson Buchanan and Oostergard (NBO Group), lembaga konsultasi
leadership
berbasis di Singapura, dan Rotary Club of Jakarta Menteng.
![]() |
Gilang Ramadhan, by drummerterbaikindonesia.com |
Ketika
Gilang mempertontonkan Drum Circle, hadirin tampak sangat antusias.
Didampingi band
pengiring yakni Rheza Akbar (26), Andika (24), dan Rizki (27) yang
memukul djembe—salah satu alat musik perkusi—suami aktris Shahnaz
Haque ini tidak langsung menggebuk drum. Dia melangkah ke depan
panggung dan interaktif dengan peserta bak motivator ulung.
Seluruh
peserta—ada 16 meja bundar, satu meja terdiri dari 10 kursi—lebih
dahulu dibagikan rebana, gendang pipih bundar yang biasa digunakan
kasidah. Rebana itu akan dipukul sesuai dengan irama ketukan dan
aba-aba dari Gilang di atas pangggung. Instruksi diberikan dengan
sebuah perumpamaan nada dari aktivitas sehari-hari. Dua aktivitas
dipilih menjadi perintah: ‘gosok gigi’ dengan ketukan drum
‘dugdugdug dugdugdug’ tempo cepat, sementara aktivitas ‘menarik
kursi di meja kerja’ diiramakan dengan ketukan ‘dug dug dug dug
dug dug’.
Di
atas panggung, Gilang memberi komando.
Bila kedua tangannya ke atas, pukulan rebana para peserta harus
lantang. Kalau tangannya di dada, tabuhan rebana mulai dipelankan.
Lalu jika tangannya ke bawah, suara tepakan rebana makin lembut,
dan apabila tangan dikepalkan, peserta berhenti memukul. Setelah
peserta lancar, kendali mentor diambil alih oleh Rheza dan Gilang pun
kembali ke drum. Dia menggebuknya dengan sangat apik, membuat suasana
makin harmonis. Peserta pun merasakan semangatnya. “Musik itu juga
disiplin, leadership,
team
work,
dan engagement,”
kata pendiri Gilang Ramadhan Studio Band dan Drum Institute (GRDI)
yang kini memiliki 15.000 murid di Indonesia ini.
Drum
Circle bisa dibilang terapi atau metode baru dalam meningkatkan etos
kerja karyawan. Seperti namanya, Drum Circle dilakukan dengan bermain
alat musik pukul (perkusi),
termasuk drum dan djembe,
secara berkelompok dengan mengikuti ketukan seorang mentor, dalam hal
ini drummer.
Harmonisasi irama dari drum dan alat perkusi lain dinilai bisa
meningkatkan konsentrasi. Efeknya, empat hal yakni kedisiplinan, team
work,
leadership,
dan rasa keterikatan karyawan (engagement)
bisa terdorong.
Dalam
perusahaan, karyawan cenderung bekerja dengan ritme dan arah
berbeda-beda,
dan ini memicu penurunan produktivitas.
Padahal,
mereka berada dalam satu tim yang sama. Penelitian NBO Group
Leadership Survey 2014 bahkan menguak fakta mencengangkan: kebanyakan
responden karyawan di Indonesia kehilangan kepercayaan dari bawahan
kepada atasan atau sebaliknya. “Kami menemukan bahwa lebih dari 70%
responden di Indonesia mengatakan mereka sangat butuh pemimpin yang
bisa menumbuhkan rasa percaya,” kata Michelle Miranda, Executive
Trainer
PT NBO Indonesia.
Survei
kepemimpinan dari NBO itu dihasilkan dari penelitian dengan sebaran
demografi responden mulai dari Singapura, Indonesia, Malaysia, Hong
Kong, Taiwan, hingga Amerika. Tapi,
tiga negara menyumbang responden terbanyak yakni Singapura (35%),
Indonesia (34%), dan Malaysia (21%)—mayoritas dari sektor industri,
keuangan, dan layanan konsumen. Belum ada data detail berapa jumlah
responden dalam survei ini. Di Indonesia, kebutuhan terhadap trust
mencapai 73%, disusul perlunya komunikasi yang efektif (66%), dan
pemimpin yang bisa membangun tim yang efektif (63%). Di Singapura
kepercayaan juga menjadi urutan teratas dalam hal kepemimpinan.
Di
Amerika, Eropa, dan Australia, metode Drum Circle banyak dipakai
perusahaan kelas dunia yang tergabung dalam Fortune Top 500
Companies. Melalui terapi ini, sisi kreatif dan potensi karyawan bisa
distimulus, ujung-ujungnya bisa memperbaiki kinerja. Salah satu
musisi berpengaruh dalam Drum Circle ialah drummer
asal Inggris, Carl Palmer. “Di Amerika sebenarnya sudah lama, di
sini belum. Pertama kali kami mulai 2010, tapi naik turun. Tahun ini
akhirnya kami seriuskan,” kata Rheza, salah satu anggota band
Gilang Ramadhan.
![]() |
by Londondrumcircle |
Di
Indonesia, metode ini masih asing. Barangkali Gilang menjadi drummer
pertama
yang memperkenalkan program ini dalam dunia kerja. “Iya,
ini inisiatif saya,” katanya usai demo Drum Circle berdurasi 30
menit itu. Setelah malang melintang menyosialisasikan Drum Circle,
Gilang akhirnya digandeng NBO Indonesia dan PMC Teamindo. “Sudah
presentasi sana sini akhirnya program itu jadi. Kami gandeng Mas
Gilang, kami melihat metode ini sangat bagus,” kata Chief
Operating Officer
NBO Indonesia Andry Lie.
Sitti
Syahleena Ramadhani, Humas NBO Indonesia, mengatakan persoalan
ketidakpercayaan karyawan itulah yang menjadi landasan program Drum
Circle. Lingkungan yang kolaboratif diyakini bisa membantu karyawan
memperkuat rasa percaya, mengurangi tingkat stres, dan menyalurkan
emosi melalui aktivitas yang positif dan kreatif.
Penggunaan ritme-ritme repetitif itu bersifat menenangkan sehingga
program itu baik guna menyalurkan emosi dan dorongan dalam diri
menjadi kegiatan positif. “Kami harapkan tingkat trust
ini bisa menjadi lebih kuat,” kata Sitti.
Untuk
bisa memanfaatkan program tersebut, satu perusahaan mengucurkan dana
sekitar Rp2 juta per peserta—tergantung parsial atau paket yang
disediakan. Tapi jika ingin lebih murah atau di bawah Rp1 juta,
jumlah peserta mesti ditambah lagi. Perusahaan tentu bebas memilih
program yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Drum
Circle begitu asyik, itu yang tampak di ruangan dan dirasakan oleh
para peserta. “Kebetulan tim kami lagi membangun tim kolaborator.
Kami rencananya akan coba Drum Circle ini, menarik sekali ya,” ujar
Herry Putranto, Asisten Manajer Divisi Learning Development PT Agro
Harapan Lestari (Grup Goodhope), usai mengikuti Drum Circle siang
itu.
Metode
ini sangat menarik, berbeda dengan metode pelatihan lain yang
biasanya lewat verbal. Tapi tentu yang namanya pelatihan, motivasi,
atau training
biasanya punya faedah jangka pendek. Keluar dari pelatihan, karyawan
cenderung kembali ke kondisi semula. Ini yang coba dihindari dan
disadari oleh Gilang dan timnya. Oleh karena itu,
metode Drum Circle juga bakal ditambah dengan sejumput inovasi guna
memperkaya program. Setidaknya,
dengan kombinasi otak kanan dan otak kiri melalui Drum Circle ini
kinerja karyawan bisa ditingkatkan. □
ISU
YANG DIBUTUHKAN DALAM KEPEMIMPINAN
Singapura
Pemimpin
yang memberikan kepercayaan 62%
Pemimpin
yang membangun tim efektif 59%
Pemimpin
dengan komunikasi yang efektif 56%
Indonesia
Pemimpin
yang memberikan kepercayaan 73%
Pemimpin
yang membangun tim efektif 66%
Pemimpin
dengan komunikasi yang efektif 63%
Malaysia
Pemimpin
dengan komunikasi yang efektif 73%
Pemimpin
yang bertransformasi 68%
Pemimpin
yang membangun kepercayaan 66%
Sumber:
NBO Group Leadership Survey 2014
Terbit
di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 03 Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar