![]() |
Ilustrasi, by Benzinga |
Dalam 10 tahun ke depan, minimal diciptakan 1.200
calon pemimpin Indonesia yang bisa berkompetisi secara global. Memang masih
kurang..
Oleh M. Tahir Saleh
HAMPIR seluruh perjalanan karier Hasnul Suhaimi
berlangsung di sektor telekomunikasi. Setelah setahun bekerja di Schlumberger
Indonesia, tahun 1983 Hasnul menjadi karyawan PT
Indosat Tbk. dan saat meninggalkan perusahaan itu pada 2006, jabatannya adalah
direktur utama. Sejak itu Hasnul menjabat sebagai Direktur Utama PT XL Axiata
Tbk sampai saat ini.
Selama di Indosat, dia sempat mendapat penugasan
mengelola Telkomsel dan IM3 serta mengambil program magister di University of
Hawaii, Amerika. Dari pengalaman, Hasnul melihat tak ada perbedaan ketika
berkantor dengan sesama orang Indonesia; tapi saat berkarier di perusahaan yang
berisi orang asing, karyawan lokal cenderung kurang vokal.
![]() |
Hasnul, by Kabar24 |
“Kalau ketemu dengan [karyawan] asing terasa kita
kurang. Apa kurangnya? Kurang berani tampil,” katanya dua pekan lalu. “Secara
teknik bagus, pengalaman bagus, tapi komunikasi kacau. Saya coba perhatikan,
rupanya pola pendidikan juga berpengaruh.”
Sebetulnya isi yang dibicarakan oleh si pekerja
lokal berbobot, tapi kurang sistematis penyampaiannya. Ujung-ujungnya langsung dipotong orang lain.
“Karena itu saya pikir, kayaknya ada
yang perlu diasah, pendidikan kita yang sudah bagus itu layaknya diamond,
kurang dipoles,” ujarnya. Itulah yang mendasari Hasnul bersama tim menggagas
program tanggung jawab sosial atau corporate social repsonsibility (CSR)
XL Future Leaders sejak 2012. Prinsipnya bagaimana agar perusahaan nasional
atau pemerintahan dipimpin oleh leader yang berkarakter, bukan sekadar
hadir lantaran tak ada calon lain.
Apalagi dengan hadirnya ASEAN Free Trade Agreement
(AFTA) pada 2015 yang membuka keran persaingan global, sulit bagi generasi muda
lokal untuk berkompetisi bila tak ada persiapan. “Bisa jadi
perusahaan-perusahaan kita akan dipimpin orang luar. Saya enggak mau itu
terjadi. Bukan berarti anti-asing, tapi kita
harus punya kemampuan, berpikir jernih, dan punya visi,” kata Hasnul tegas.
***
XL Future Leaders bukan program mencari karyawan
XL, tapi komitmen mendukung peningkatan dunia pendidikan dalam negeri dengan
memfasilitasi talenta-talenta muda untuk diasah menjadi calon pemimpin masa
depan, mampu berkompetisi secara internasional. Tak ada ikatan dinas dalam
program yang memakai pengantar bahasa Inggris ini.
Pada Batch I terpilih 121 mahasiswa dari tujuh
universitas, sementara angkatan kedua tahun lalu dipilih 135 mahasiswa dari 13
universitas. Batch 3 tahun ini, yang dibuka sejak 6 Mei-30 Juni mendatang,
diharapkan menjaring 120-135 mahasiswa.
“Rencana kami dalam 10 tahun ke depan, akan hadir minimal 1.200 calon pemimpin
yang bakal benar-benar memimpin bangsa. Ini kami lakukan demi bangsa di masa
depan,” tegas Hasnul saat peluncuran XL Future Leaders 3, pada 6 Mei.
Selama dua tahun, para peserta dididik pelatihan
kepemimpinan yang fokus pada tiga kompetensi utama: komunikasi efektif, jiwa
kewirausahaan dan inovasi, dan kemampuan mengelola perubahan. Dalam laporan keuangannya tahun lalu, XL
mengalokasikan dana CSR pendidikan Rp29 miliar untuk XL Future Leaders dan Komputer untuk Sekolah Interaktif. “Kalau
dana Future Leaders cukup besar, sekitar Rp15 miliar,” kata Yudith S. Hartono, corporate communication bidang CSR XL.
Guna mendesain program ini, perseroan membuka
tender internasional yang dimenangkan oleh Cognition Education, asal Selandia Baru. Mereka kemudian menerapkan kurikulum
dengan menekankan soft skill atau kemampuan, bakat, dan keterampilan.
Program dipersyaratkan bagi mahasiswa tingkat satu dan dua dengan IPK minimal
2,8. Ada tiga cara penyampaian, yakni kelas tatap muka lima kali dalam setahun,
belajar online, dan partisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan agar mengasah
leadership dan empati sosial. “Tahun pertama mereka diwajibkan membuat
proposal bisnis. Tahun kedua, proyek sosial,” jelas Cipto ‘Cippi’ Rustianto,
dosen yang kini menjadi salah satu fasilitator program.
Ada ribuan pendaftar dengan kuota yang hanya
sekitar 120 peserta tiap angkatan. Di Batch I, sekitar 5.000 orang gagal lolos
seleksi dan 7.700 mahasiswa yang tak lulus di seleksi Batch 2. Namun, yang tidak lulus bisa mendaftar dan mengikuti
delapan modul dalam E-Curriculum Class
yang bisa diakses—gratis melalui situs resmi dengan hanya bermodalkan
e-mail. “Tak ada syarat semester tertentu dan IPK di metode E-Curriculum. Metodenya online
dengan sesi tatap muka akan ditentukan tempat dan waktunya,” jelas Vice
President Corporate Communication XL Turina Farouk.
Banyak perubahan dirasakan para peserta dari latar
belakang jurusan yang berbeda. Misalnya Nicola Putri Sasmita, mahasiswi ilmu
gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) dan Fery Sandria,
mahasiswa program studi Rusia Fakultas Ilmu
Budaya UI. Keduanya dari Batch I yang bakal lulus September nanti.
”Saya memang suka ngomong, tapi
kadang dinilai show off saja. Setelah saya ikut program, kualitas
omongan jadi lebih bagus,” kata Nicola, gadis Betawi yang kini mulai membuka usaha
rok batik. “Cita-cita saya bisa bikin klinik gizi,” kata dara kelahiran 8 Mei
1992 ini. Fery pun mengalami perubahan dalam berkomunikasi di publik dan
bagaimana mengatur perubahan. “Tahun depan saya ingin kuliah di Moskow dan
jangka panjangnya ingin menjadi akademisi,” kata pemuda kelahiran 20 Agustus
1992 tersebut. Ferry tipikal
poliglotisme, menuturkan beberapa bahasa dengan mahir. Selain Inggris dan
Rusia, Ferry tengah belajar bahasa Prancis dan Spanyol.
Selain XL Future Leaders, ada program yang digagas
Kedutaan Besar Amerika di Indonesia bernama Program Kepemimpinan Pemuda
Indonesia atau Indonesian Youth Leadership Program. Beasiswa nasional ini
diberikan kepada 20-30 mahasiswa lokal tiap tahun. Peserta menghabiskan satu
bulan di Amerika, mencari teman, berbagi budaya, dan belajar kepemimpinan serta pendidikan masyarakat. Saat ini sudah hampir 300
peserta yang berpartisipasi.
Tak hanya itu, masih ada program pelatihan
kepemimpinan intensif yang lebih dahulu diprakarsai oleh PT McKinsey Indonesia
sejak 2008. Program bernama Young Leaders for Indonesia (YLI) kini menjadi
yayasan independen pada 2010 dan didukung oleh para pemimpin dan tokoh
nasional.
Tercatat dua nama pendiri: Arief Budiman, Direktur
Utama McKinsey Indonesia dan Phillia Wibowo, Direktur McKinsey Indonesia. Di
jajaran pelindung dan anggota ada beberapa nama di antaranya mantan pimpinan
KPK Erry Riyana Hardjapamekas, mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Kepala
UKP4 Kuntoro Mangkusubroto, pengusaha Theodore P. Rachmat, Rektor Universitas
Paramadina Anies Baswedan, dan Sandiaga Uno, co-founder
Saratoga. YLI menggelar dua program setahun, yakni YLI National—melibatkan
mahasiswa dari sekitar 30 universitas di Indonesia, Malaysia, dan Singapura—dan
YLI Satellite. Program yang kedua berkonsep kerja sama dengan universitas untuk
membawa konten materi ke kampus.
Dalam pembukaan The First Young Leaders Indonesia Annual Conference 2014 di Hotel Borobudur, Jakarta, pekan lalu, Wakil
Presiden Boediono mengapresiasi inisiatif membentuk embrio generasi muda
sebagaimana langkah YLI. Mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut
menggarisbawahi bahwa defisit paling besar kini bukan hanya neraca pembayaran
dan anggaran, melainkan negarawan. Keberhasilan perjuangan bangsa karena
dipimpin oleh the best and the brightest dari anak bangsa. “Tanggung
jawab generasi pengganti adalah pada generasi sekarang,” ujar Wapres Budiono. Sampai kini, YLI berhasil mengembangkan 330 calon
pemimpin, beberapa sudah bekerja di pemerintahan, swasta, wirausaha, dan
organisasi sosial.
“Arah program itu bukan hanya jadi chief
executive officer [CEO], pengusaha, atau sosial, tapi menjadi leader
yang baik, apa pun bentuknya,” kata Tyas Ajeng Nastiti,
peserta YLI. Tyas kini pemilik produsen sepatu Klastik Footwear. Awalnya dia
belum yakin ikut serta lantaran seluruhnya berbahasa Inggris, tetapi setelah
bergabung ia mendapatkan banyak faedah terutama jaringan. “Alhamdulillah,
saya juga dapat penghargaan Wirausaha Muda Mandiri 2012 kategori mahasiswa
bidang usaha kreatif,” ujar alumnus desain komunikasi visual Institut Teknologi
Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini.
Namun dengan menjamurnya program kepemimpinan, baik
XL Future Leaders maupun YLI, Direktur Program Master Management CSR
Universitas Trisakti Maria R. Nindita Radyati menekankan dua hal penting guna
memperkuat program itu. Pertama, memasukkan etika dalam kurikulum.
“Etika kita makin parah, lihat di jalanan, orang serobot sana-sini kayak
hukum rimba. Lihat televisi anak kecil membunuh,” katanya. “Program itu bagus
sekali, memotivasi, tapi diperlukan etika untuk membangun karakter, apalagi kurikulum ‘kan
dari Selandia Baru.” Kedua, perlu kolaborasi dengan universitas.
Saat ini belum banyak riset di kampus yang
menggandeng perusahaan, padahal riset juga bermanfaat bagi perusahaan pendonor.
Ia mencontohkan dana filantrofi di Massachusetts Institute of Technology (MIT)
dari alumni dan perusahaan melalui CSR mencapai US$450 juta pada 2010,
sedangkan di Harvard University mencapai US$600 juta pada 2011. “CSR yang
sukses itu enggak bisa sendiri, harus cari mitra.”
Wakil Menteri Pendidikan Musliar Kasim menyambut
baik upaya XL—dan diharapkan juga diikuti oleh perusahaan lain. Langkah
perusahaan selaras dengan kurikulum 2013
yang mulai diterapkan sejak Juni tahun lalu. Kurikulum baru
mengutamakan pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter. Murid
dituntut paham materi, aktif diskusi dan presentasi, disiplin, serta sopan. “Dulu kita belajar matematika, 10+10=20, kini semua
diajarkan sikap. Andai kamu ketemu uang di jalan Rp5.000, kamu apakan uang itu?
Kebayang enggak pelajaran matematika zaman dulu? Enggak ada itu,”
kata mantan Rektor Universitas Andalas ini.
Hasnul berharap program yang dicetuskan itu juga
bisa diadakan oleh perusahaan lain, dan
jauh lebih baik untuk mendukung pendidikan serta menyiapkan CEO atau pemimpin masa depan. Dia pun
memberi bonus program: CEO Challenge untuk menggantikan posisinya sebagai CEO
XL selama seminggu. Kompetisi ini terbuka bagi mahasiswa usia 18-25 tahun dari
semua program, baik diploma maupun strata satu, dan pendaftaran dibuka hingga
Juni. Calon CEO akan aktif pada Desember mendatang dan mendapatkan semua fasilitas yang diperoleh Hasnul.
“Seminggu dululah, baru setelah itu saya berharap ke depan ada yang gantikan
saya di XL, ada yang bisa gantikan Pak Johnny Darmawan di Toyota, Pak Arwin
Rasyid di CIMB Niaga, atau Pak Arief Yahya di Telkom.” □
Terbit di majalah
Bloomberg Businessweek Indonesia, 19 Mei 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar