![]() |
By gambarlucu.org |
Oleh
M. Tahir Saleh
REI
(29) uring-uringan di kantor belakangan ini. Bukan lantaran dibebani
setumpuk tugas, melainkan ulah rekan kerjanya. Sebutlah namanya Dono
(37).
Pria yang menjabat sebagai manajer itu kerap dianggap sebagai
'penjilat'. Pernah di hadapan direktur utama, sikap Dono sangat
profesional seakan-akan semua tugas berhasil dikerjakan.
Faktanya,
tak satu pun tugasnya selesai. “Dia malah minta anak buahnya yang
ngerjain
sampai ke urusan yang seharusnya dia handle,”
ujar Rei, karyawan sebuah perusahaan multinasional di Tangerang,
Banten, Senin pekan lalu.
Celakanya
lagi, si bos tak tahu-menahu
tingkah Dono di belakang. Belum ada yang punya nyali melapor ke bos.
Suatu ketika, salah satu staf Dono melakukan kesalahan karena memang
belum ada briefing
atau arahan singkat darinya. Staf itu lalu ditegur oleh direksi. “Si
Dono di depan direksi bilang,
‘Iya,
kamu kan
udah saya bilangin.’ Terus dia bilang lagi ke direksi,
‘Udah saya bilang seperti itu,
Pak.’
Itu contohnya,” kata Rei dongkol.
Dalam
meniti karier, ada saja karyawan macam Dono di sebuah perusahan—tentu
dengan tujuan jabatannya naik, karier cemerlang. Lagi-lagi atasan tak
bisa hanya mendiamkan dan menerima begitu saja laporan dari bawahan,
perlu ada klarifikasi agar informasi tidak sepihak. Tentu saja
karyawan yang ingin meningkatkan karier perlu bekal, tapi bukan
mengandalkan koneksi, selalu menjadi yes
man,
atau suka mencari muka (carmuk) di depan bos.
A.M.
Lilik Agung, fasilitator dan mitra pengelola lembaga LA Learning
menceritakan kisah dua karyawan sebuah perusahaan. Kisah ini untuk
menggambarkan bagaimana cara terbaik dalam meningkatkan karier tanpa
perlu nampang
di depan atasan.
Kedua
sahabat, Arman dan Anto, berkawan sejak sama-sama kuliah di sebuah
universitas di Yogyakarta. Usai lulus, mereka merantau untuk
mengembangkan karier masing-masing. Setelah 10 tahun berkarier, Arman
menjabat supervisor
di perusahaan pembiayaan, sedangkan karier Anto melesat. Kinerja tiga
tahun sebagai area
manager
yang mengesankan membuat Anto disiapkan menjadi vice
president
yang membawahi tiga area
manager,
dia bertanggung jawab langsung kepada direktur operasional. “Mengapa
karier Anto bisa naik sangat cepat, sementara Arman biasa-biasa saja?
Padahal,
keduanya dari kampus yang sama dengan tingkat kecerdasan juga sama?”
tanya Lilik.
Ternyata,
sikap profesional ketika bekerja menjadi perbedaannya. Bagi Arman
bekerja itu identik dengan target yang diberikan perusahaan,
sementara Anto memandang pekerjaannya sebagai sebuah panggilan.
“Karena panggilan, dia memberikan yang terbaik buat pekerjaannya,”
kata Lilik.
Secara
konsep, lanjutnya, ada empat sikap yang layak disebut profesional
paripurna. Pertama,
karakter terpuji. Karakter ini selalu bersinggungan dengan etika dan
moralitas. Layak disebut profesional bila tingkah laku seseorang
berpatokan pada etika. “Moralitasnya nyaris tanpa cacat sehingga
ketika orang berhubungan dengannya, rasa saling percaya dapat
terjalin dengan erat,” kata Lilik yang malang melintang sebagai
instruktur di banyak perusahaan ini.
Kedua,
kompetensi atau penguasaan mendalam atas tanggung jawab pekerjaan.
Ketiga,
kesungguhan hati dalam bekerja. “Kaum profesional selalu
bertanggung jawab terhadap pilihannya. Ketika ia bertanggung jawab,
dapat dipastikan ia punya kesungguhan hati untuk terlibat di
dalamnya.” Kaum profesional ini terlibat dan menjadi contoh peran
bagi anak buah dan karyawan lain.
Keempat,
ketangguhan menuntaskan apa yang menjadi tanggung jawabnya. “Ibarat
pendaki gunung, sebelum mencapai puncak, ia tidak akan menyerah,”
kata Lilik yang menulis setidaknya 12 buku di antaranya Jumping
to the Next Curve dan
Spiritual Leadership ini.
Cherry
Riadi Lukman, konsultan senior Experd—lembaga konsultasi
pengembangan SDM yang berdiri sejak 1989, juga memberi beberapa
wejangan bagaimana meningkatkan karier. Selain meningkatkan performa,
dia menekankan beberapa hal yang perlu dihindari,
misalnya jangan ‘menjilat’ atasan. Trik ini bisa tampak bila
seorang karyawan mulai mencari-cari
atau lebih parah lagi membeberkan kesalahan rekan kerja kepada atasan
untuk mencari muka. “Yang lebih baik itu performa, itu yang membuat
manajemen tertarik dan menyarankan kita dipromosikan,” kata Cherry
yang juga menyarankan karyawan terus meningkatkan kapasitas diri.
Seorang
karyawan mesti proaktif, jangan cuma memberikan ide,
tapi upayakan turut terlibat juga. Berilah umpan balik atau feedback
kepada atasan. Ketika atasan mampu menangani suatu permasalahan, coba
ungkapkan kalimat apresiasi (tak perlu berlebihan) yang bisa membuat
si bos sadar bahwa keputusannya tepat dan berpengaruh.
Menurut
Cherry, karyawan harus tetap fokus dalam bekerja dan memberikan hasil
terbaik. Prestasi kerja itu bisa mendukung keseimbangan kehidupan
kantor dengan kehidupan keluarga. Sikap profesional bisa diwujudkan
dengan melakukan lebih dari yang ditugaskan sehingga atasan
terkesan. Tapi,
dengan catatan tugas tersebut dilakoni dengan memahami kemampuan dan
tidak memaksakan diri.
Karyawan
juga jangan kerap mengeluh soal kantor, jangan terlalu sering meminta
maaf yang berakibat tampak lemah di hadapan si bos. Ketahuilah dulu
masalah atau kesalahan,
lalu memperbaiki diri. Jangan juga sering masuk ke ruangan bos dengan
setumpuk masalah, bukan solusi. Sebaiknya juga hindari merespons
sesuatu dalam keadaan emosi, tunggu sampai emosi mereda.
Membangun
komunikasi dengan atasan bisa juga dengan tidak asal
bertanya—menanyakan hal yang sudah tahu jawabannya. Ada baiknya
tanyakan pada diri sendiri dulu, apakah jawaban atasan bakal sama
atau tidak. “Pengembangan diri, diskusi dengan atasan, bangun
komunikasi, cari feedback.
Itu bisa menjadi masukan yang baik,” kata Cherry. “Kalau kita
sudah dipercaya atasan,
enggak
perlu jilat-jilat. Kalau ada temen
yang suka jilat, tugas kita tidak melakukan hal serupa,
dong.”
□
ILUSTRASI
Kasus
pertama:
Dalam satu tim ada kesalahan dari rekan kerja, bagaimana memberitahu
dia,
tapi tidak menjatuhkan dia di depan atasan. “Mungkin perlu ada yang
diperbaiki dari tugas kita, jadi kita sama-sama cari tahu letak
salahnya di mana.”
Kasus
kedua:
Seorang staf mendapat teguran dari bos, tapi dia memang belum
mendapat arahan dari atasannya langsung. Sebaiknya staf itu punya
argumen kuat untuk menceritakan keadaan sebenarnya. “Maaf Pak/Ibu,
sepanjang pengetahuan saya, saya belum mendapat briefing
apa pun dari Bapak/Ibu.”
Kasus
ketiga:
Kinerjanya biasa saja malah cenderung flat,
tapi kariernya mengilap; kinerjanya baik, sosial baik,
tapi tak mendapat respons atasan. Jangan-jangan atasan terpengaruh
dengan informasi sepihak (negatif) atas diri Anda.
“Maaf Pak/Ibu, sekadar sharing,
menurut Bapak/Ibu apa yang perlu saya perbaiki untuk meningkatkan
kinerja saya?”
Terbit
di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 03 Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar