![]() | ||
Anjungan Pertamina, Metrosiantar.com |
Program
pemberdayaan masyarakat yang digelar oleh perusahaan mestinya bukan
jangka pendek
Oleh
M. Tahir Saleh
SEORANG
anak
tiba-tiba berteriak ke arah Eko Suryo Broto. Pria yang diteriaki itu
lalu melambai-lambaikan tangan dari jendela mobil. “Kak Eko.., Kak
Eko...” teriak si bocah dari kejauhan. Ia mengenakan seragam SD
lusuh dan rambutnya tak teratur. “Ayo ka
sakola
[ke sekolah],” balas Eko dari dalam mobil, tapi si kecil itu hanya
tersenyum malu-malu. Kami yang berada di mobil mesem-mesem saja
melihat keakraban Eko dengan anak kecil dan penduduk Desa Cilamaya
Girang, Blanakan, Subang, Jawa Barat. Dia seakan sudah mengenal
mereka bertahun-tahun.
Sudah
sekitar tiga tahun Eko bekerja sebagai petugas Community
Development
PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PT PHE ONWJ).
Perusahaan ini merupakan operator Kontrak Kerja Sama Blok ONWJ di
bawah SKK Migas yang dimiliki oleh PT Pertamina sejak Juli 2009.
“Saya sering nginep
di rumah penduduk,” cerita Eko, dua pekan lalu. “Apalagi saya
suka anak-anak.”
Keberadaan
Eko di kampung itu dalam rangka mendukung program tanggung jawab
sosial (CSR) dari PHE di Blanakan. Kecamatan ini terletak di pesisir
utara bagian barat Subang dan berbatasan langsung dengan Karawang.
Wilayahnya terpencil, sulit diakses, dan infrastruktur buruk. Butuh
mobil four-wheels
drive
untuk sampai ke sana lantaran medan jalannya bebatuan.
Sebagai
wilayah terpencil dan dilalui Sungai Cilamaya, daerah ini merupakan
lokasi pendaratan hasil pencurian pipa dan aset di anjungan minyak
(platform). PHE punya wilayah operasi mencakup area sekitar 8.300
kilometer persegi di Laut Jawa. Blok ini sebelumnya dioperasikan oleh
ARCO (1971-2000) dan BP (2000-Juli 2009). Semasa peralihan itu,
besi-besi anjungan marak dicuri. Bahkan dari data BP Migas, sebelum
2010, jumlah pencurian sangat tinggi dan kerap didaratkan melalui
Sungai Cilamaya. “Yang dicuri misalnya pipa anjungan, solar
cell,
baterai,” ungkap Hardiyan Sudarmono, Supervisor
Security
Area Pantura PHE ONWJ. “Karena itu kami susun pendekatan keamanan
Security
Based Community,”
kata Koordinator Community
Development and Relations PHE
ONWJ Agus Sudaryanto.
Di
bidang pendidikan, mereka membangun gedung SDN Cilamaya Girang.
“Sebelum ada sekolah ini, anak-anak nelayan menempuh jarak lebih
dari 6 kilometer ke sekolah,” cerita Uya Surjana, Pengawas SD. “Ada
juga lembaga nonformal guna membantu anak yang belum dapat wajib
belajar sembilan tahun, plus life
skill,”
tambah Ade Tohidin, tokoh pemuda.
PHE
juga menciptakan Hutan Pendidikan Cilamaya Girang,
dengan lahan seluas 2,5 hektare yang digunakan sebagai praktik
pendidikan nonformal. Program keterampilan di lahan ini antara lain
budidaya tambak ikan, peternakan kambing, pupuk organik, pembibitan
mangrove,
dan
keanekaragaman hayati. Kuncen-nya
mantan narapidana Nusakambangan, Kadafi. Ia pernah dipenjara karena
membunuh seseorang dalam penggusuran paksa di Tangerang. “Di mana
ada tanah tidur,
yah
saya hidupin,”
kata bekas jawara berusia 82 tahun ini. Badannya tegap, kulit hitam
legam, kumis tebal dengan tatapan mata tajam.
Dampaknya
mulai terasa. “Tetangga kami itu nelayan,
bukan petani. Dalam Islam juga disebutkan, berbaiklah dengan tetangga
kamu,” kata Hardiyan. “Hasilnya, kini justru kami yang selalu
diinformasikan oleh warga bila ada hal-hal mencurigakan.” Tren
pencurian menurun,
bahkan pada 2010 nihil. Meski pada 2011 sempat ada empat kasus, kini
kembali nihil. Pelaku yang tertangkap pun orang luar Cilamaya—bahkan
ada yang dari Jakarta.
Tak
hanya PHE, BUMN lain juga menerapkan program semacam ini, baik CSR
maupun program kemitraan dan bina lingkungan. Sebut saja PT Pelabuhan
Indonesia II, PT PNM, dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Direktur
Pelaksana A+ CSR Indonesia Noviansyah Manap menegaskan kebanyakan
yang terjadi, saat perusahaan pergi dari lokasi CSR, masyarakat belum
sepenuhnya mandiri. “Tiga kelemahannya adalah kurang pemetaan
masalah, desain program, dan tidak menaikkan kapasitas masyarakat,”
ungkapnya. Oleh sebab itu, menurut Noviansyah perlu analisis
kebutuhan masyarakat, membuat desain program sehingga tidak hanya
intervensi sistematis. “Misalnya tujuan mereka mau menaikkan
pendapatan petani, tapi mereka malah bikin program terpisah-pisah
seperti pameran, seminar, dan yang lain.”
Selama
ini, katanya, perusahaan cenderung fokus pada input,
program, dan output,
bukan outcome
atau dampak. “Input
artinya besaran dana dan dipakai buat apa, berapa miliar dikeluarkan,
tapi outcome
bagi masyarakat kurang dilihat.” Tapi, jika ketiga hal
tersebut—pemetaan kebutuhan, desain, dan meningkatkan kapasitas
masyarakat—dilakukan dengan baik, kemandirian bisa terwujud. □
Terbit
di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 23 Juni 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar