Buku
ini menjawab pertanyaan mengapa ada perusahaan yang bisa menjual tiga
kali lebih mahal,
tapi justru menjadi rebutan pelanggan
Oleh
M. Tahir Saleh
Hendrik
Ronald memulai bukunya dengan cerita pengunduran dirinya sebagai
manajer di bridal
terbesar di Indonesia. Dia lalu kembali ke Pekanbaru untuk mengurus
sebuah hotel tua berumur 25 tahun. Jauh sebelumnya, dia ingat pernah
memukul kecoak dengan tangan karena saking banyaknya serangga di
hotel uzur itu.
Tugasnya
berat lantaran status tanah hotel juga bukan milik sendiri. Namun
lima tahun kemudian, tekadnya ketika memimpin rapat perdana hotel itu
menjadi kenyataan. Mereka meninggalkan hotel lama dan pindah ke hotel
bintang tiga yang baru dengan suasana garden
nan manis. Dalam dunia bisnis, katanya, ada dua tipe manajer:
autocratic
yang mementingkan hasil dan democratic
yang mementingkan hubungan antarmanusia. “Dulu saya tipe
autocratic.
Saya tak peduli.
Bila harus teriak, ya teriak, yang penting kerjaan selesai. Namun,
hasil yang diinginkan ternyata tak datang dengan sendirinya,” tulis
Hendrik.
Makin
lama dia menyadari bahwa hanya lewat pendekatan manusialah hasil
positif bisa datang. Dia pun belajar menjadi pengelola manusia yang
baik. “Saya mulai membangun kultur dan hasil baik pun membanjiri.
Kami punya 56 kamar di sana. Saat ramai kami bisa menolak sampai 200
kamar dalam sehari. Itu luar biasa karena biasanya menolak 20 kamar
saja sudah hebat banget.”
Ternyata
hal utama yang dia terapkan ialah bagaimana memberi pelayanan prima
(service
excellent)
dan menjadi budaya. Hasil baik muncul bila kita lebih dulu melayani
staf, atasan harus duluan melayani. Servis prima itu berdampak besar
menguatkan bisnis—dan berpotensi menurunkan pamor pesaing. Itulah
yang dituangkan dalam buku berjudul The
Power of Service, Bagaimana Cara Menjual 3 Kali Lebih Mahal dan
Pelanggan Justru Berebut
terbitan Gramedia Pustaka Utama.
Layanan
prima itu yang membedakan mengapa ada perusahaan obral harga malah
‘mati’ di pasaran. Sudah promo pontang-panting, tapi tak jua
berhasil. Ada pula yang menjual dengan harga modal,
tapi tetap saja sepi pembeli. Namun,
ada bisnis yang memasarkan harga standar, bahkan tiga kali lipat
lebih mahal,
tapi justru menjadi rebutan pelanggan. Sebenarnya bagi pelanggan,
faktornya bukan harga melainkan nilai atau value.
“Pelanggan dengan senang hati akan membayar lebih asal mereka
mendapat value
yang sangat banyak. Value
itu servis atau unsur manusia,” kata Hendrik.
Dalam
buku setebal 309 halaman terbitan 2013 ini, Hendrik yang juga seorang
certified
firewalk & breakthrough instructor
dari TDW Institute dan belajar dari pelatih ulung Tung Desem Waringin
ini memaparkan lima bab: customer
contact, service mindset, service design, service recovery,
dan terbaik di dunia. Contoh-contoh dalam buku ini begitu sederhana,
mudah dicerna, tapi menohok. Kekurangannya barangkali desain yang
terlalu resmi dan kaku, ilustrasi yang hitam putih, serta ketiadaan
indeks.
Pada
bab customer
contact,
dia mencontohkan bagaimana seorang konsultan dipanggil membenahi
perusahaan perkapalan dengan tingkat kesalahan supertinggi. Setelah
dipelajari, dia mengusulkan mengubah nama panggilan karyawan, pekerja
kasar yang biasa dipanggil “trucker”
diubah menjadi “craftsman”,
artinya kurang lebih orang yang punya keahlian tertentu. Hendrik
heran mengapa banyak perusahaan melabeli karyawan baru dengan
“trainee”,
disuruh memakai baju putih, dan langsung diminta melayani tamu.
Harapannya, kalau mereka membuat kesalahan tamu akan mahfum. “No!
Kalau belum pantas, jangan disuruh menghadapi tamu. Tak perlu membuat
mereka malu dan akhirnya menodai citra perusahaan,” kata pria yang
belajar langsung dari Ron Kaufman, guru servis terbaik di dunia.
Contoh
lain bagaimana seorang bapak dibuat malu karena membawa makanan
sendiri untuk anaknya ketika makan di restoran. Si manajer restoran
berpatokan pada standard
operating procedure
(SOP) yang justru seakan-akan menjadi alasan mengusir pelanggan.
Jangan sampai ketidakmampuan dalam membuat SOP membuat pelanggan bak
seorang kriminal. Banyak contoh riil,
tapi dekat dengan keseharian yang menarik disimak: mulai dari perang
harga, produk pamungkas, kesan pertama, hingga soal servis itu pilih
kasih. Buku ini pun kaya dengan ilustrasi kartun satir yang menambah
daya pikat dan membuat kita tak sadar senyum-senyum sendiri.
□
The
Power of Service, Bagaimana Cara Menjual 3 Kali Lebih Mahal dan
Pelanggan Justru Berebut, Oleh Hendrik Ronald, PT
Gramedia Pustaka Utama, 2014
Terbit
di majalah Bloomberg Businessweek Indonesia, 31
Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar